European Sky King

European Sky King
COWO MESUM


__ADS_3

Aiden menyingkir membawa nona muda pietro ke pekarangan taman air mancur yang berada di depan restoran. Ia melepaskan tangannya.


"Apa ini?"


"Apa maksudmu?" Monna mengerenyitkan dahinya bingung akan pertanyaan yang dilemparkan tuan muda padanya. Monna bersedekap dada seraya memandangi air mancur didepan nya.


"Kamu tidak tahu arti, kenapa mereka merancang pertemuan antara kedua keluarga kita?" Aiden berkacak pinggang menatap nona muda disana yang tampak tenang bagaikan air. Monna menggedikan bahunya.


"Sebentar! Biar aku mencerna semuanya dengan tenang!" Aiden menarik nafasnya.


"Oke! Pertama, jangan sebut aku pria mesum didepan keluarga kita!"


"Kamu memang pria mesum yang sembarang masuk ke toilet perempuan barusan!"


"AKU TIDAK SENGAJA" Aiden menekankan kata 'tidak sengaja' pada akhir kalimatnya.


"Cihh.. Alasan klasik!" Monna mendengus mendengar alasan yang diberikan aiden padanya. Aiden mendekatinya.


"Hei! Aku sudah biasa berhadapan dengan gadis seperti kamu, kalau kamu berani katakan bahwa itu hanya sebuah alasan maka aku akan membuatnya jadi terasa lebih nyata!" Aiden menyentuh dagu monna membuat nona muda itu terkejut menerima perbuatan yang dilakukan aiden pada dirinya. Monna melangkah mundur.


"Aku tahu!" Monna hendak pergi melangkahkan kakinya tetapi aiden mencekal pergelangan tangannya. Monna menatap aiden penuh tanya.


"Sepertinya kita akan lebih sering berurusan, nona monna!" Monna terus menjaga jarak dari aiden yang tampak tidak biasa. Bisa disebut buas.


"Apa yang kamu mau dariku?" Sarkas monna mengupayakan agar secepatnya dapat menghindari perseteruan antara dia dan dirinya.


"Kamu terlalu polos rupanya!" Aiden tersenyum menatap wajah imut monna yang terlihat begitu lugu dimatanya.


"Baiklah!" Aiden melepaskan cengkraman tangannya yang bertengger dipergelangan tangan monna.


"Jangan takut padaku! Oke?" Aiden menaikan alisnya menunggu jawaban yang keluar dari mulut monna, monna berusaha mempercayai aiden tetapi hatinya tetap terasa cemas jika harus terus bersamanya disini.

__ADS_1


"Kamu mau mendiskusikan apalagi?"


"Ini bukan semacam kerja kelompok, monna! Aku cuma minta jangan bertindak didepan kedua keluarga kita apapun yang mereka katakan biarkan aku yang buat keputusannya! Bagaimana?" Aiden membungkukan badannya agar dapat melihat wajah monna lebih jelas. Monna ragu tapi apa boleh buat.


"Iya!" Aiden tersenyum memang tak salah lagi monna ini anak yang patuh pada perintah.


"Anak baik!" Aiden mengelus pucuk kepala monna seperti kucing, monna merasakan jantungnya berdegup begitu jemari aiden mendarat di kepalanya.


"Ayo!" Aiden memberikan tangannya pada monna, mereka bergandengan tangan seraya memasuki lobby restoran.


Rupanya kedua orang tua mereka masih menunggu kehadiran putra dan putrinya ditengah meja makan.


"Bagaimana?" Ayahnya bertanya pada aiden. Aiden menaikan sebelah alisnya.


"Tampaknya kalian berdua cukup akrab?" Sahut tyson pietro menerka-nerka hubungan yang terjadi sebelumnya diantara kedua putra dan putri mereka.


"Ahh.. Kami hanya tanpa sengaja bertemu dan begini seperti yang kalian lihat!" Aiden membual tentang pertemuan yang dijadikan alasan sebenarnya itu sebuah tragedi yang amat tak menyenangkan baginya. Apa boleh buat?


"Betul. Paman!" Sahut monna dengan lantang tanpa ragu-ragu itu cukup mengesankan dimata aiden ia tampak sama sekali tak terancam dengan apa yang telah dikatakan aiden padanya barusan. Aiden tersenyum manis menatap monna.


Keanggunan nya tampak jelas membawa citranya sebagai sosok gadis bangsawan, aiden tersadar dari lamunannya. Apa yang dia pikirkan? Aiden menepis bayangan monna yang ada didalam pikirannya.


"Ingat jiran! Aiden!" Rupanya aiden masih belum bisa melepaskan bayang-bayang jiran didalam benaknya, benar sosok yang dahulu sempat mewarnai hari-harinya mana bisa aiden melengserkan kedudukan jiran secepat itu. Cepat? Ini sudah tujuh tahun setelah kematian kekasihnya tapi aiden terus merasa bersalah.


Setelah acara perjamuan kedua belah pihak memutuskan kembali untuk mengadakan pertemuan kedua nanti.


DI DALAM MOBIL


"Sebenarnya apa yang kamu inginkan dari mereka?" Aiden menerjang ayahnya yang baru masuk ke dalam mobil dengan pertanyaan.


"Biar aku jelaskan nanti dirumah!" Ayahnya tampak sengaja menarik ulur jawaban atas pertanyaan yang aiden berikan pada tuan besar lingga. Aiden menyipitkan matanya curiga.

__ADS_1


Sampai di kediaman lingga aiden terus mengikut langkah kaki ayahnya dari belakang ia terus menuntut jawaban atas pertanyaannya tadi. Lingga buana mendaratkan kaki di ruang kerjanya membiarkan putra sulungnya duduk disofa.


"Aku harus mulai darimana?" Lingga buana berpura-pura berpikir seolah tak tahu tatkala anaknya yang sudah mengendus latar belakang orang yang barusan mereka temui di acara perjamuan apalagi aiden sendiri mengenal putri tunggal dari keluarga pietro artinya dia tahu siapa monna beserta keluarganya.


"Mereka keluarga pietro!" Aiden mengangguki kepala sama seperti apa yang telah ayahnya mainkan jadi mari kita ikut bermain.


"Tyson pietro cukup mengenalku dengan baik!"


"Lanjutkan!"


"Kami berencana menjodohkan kalian berdua!"


"Lalu?" Ayahnya menebak aiden belum sadar tentang apa yang baru saja diucapkannya. Lingga buana menunggu responnya yang agak terlambat ini.


"APA????" Aiden terlonjak bangkit dari atas sofa tempatnya duduk. Inilah reaksi yang diharapkan lingga buana dari putra sulungnya.


"Kamu tahu apa yang aku bilang sebelum berangkat ke perjamuan?"


"Kebebasan?" Aiden menaikan sebelah alisnya menatap ayah kandungnya. Tuan besar mengangguki nya sebagai jawaban.


"Kamu harus menerima monna dan perlakukan nona muda itu dengan baik. Maka kebebasan yang kamu harapkan perlahan akan menghampirimu!"


"Aku justru berharap malaikat maut yang datang menghampiriku daripada perjodohan sialan ini!" Aiden bangkit dari kursinya meninggalkan ruang kerja ayahnya dengan kondisi tidak senang.


Brakk


"Persetan dengan perjodohan!" Aiden memukul tembok disebelahnya, darel menatap tuan mudanya yang bertindak aneh disana.


"Apa yang kamu lihat?" Darel menundukan kepalanya membiarkan tuan mudanya yang sedang dalam suasana hati buruk itu pergi dari lokasi.


Aiden berencana pergi berkumpul bersama teman-temannya di Bar & Caffe Lavato bersama joy beserta wigen si pemilik bar, ini akan jadi malam yang panjang setelah hari sebelumnya itu. Ia berencana meluapkan semua amarah yang dipendam dalam hati akibat ulah licik ayahnya.

__ADS_1


"Aku akan pergi ke Fortune House! Hah!" Lagi, aiden berencana melarikan diri dari perjodohan yang telah ditetapkan ayahnya untuk aiden. Inilah Si Tuan Muda Aiden.


__ADS_2