European Sky King

European Sky King
FILOSOFI RUMAH


__ADS_3

Monna mulai beradaptasi pada lingkungan kediaman rumah pribadi aiden.. ia sudah memberitahunya bahwasanya tak ada orang lain yang datang kesini.. monna yang pertama.


"Aku kira gadis di lukisan itu sempat kamu bawa kesini!" Antara pertanyaan dan sindiran.. aiden terkekeh mendengar penuturan monna dengan nada suara rendah nya itu.. berupaya memberitahu aiden tetapi seolah enggan prianya mendengar juga.


"Ada.. satu orang!" Aiden menghentikan langkah kakinya ingin melihat reaksi apa yang di buat wanitanya setelah mendengar faktanya.. marahkah?


"Siapa?" Aiden melangkah pergi.. membiarkan monna menerka-nerka siapa orang nya.. mana tahu dia bakal secemburu apa pada gadis-gadis yang sempat dekat dengan nya dahulu.. masalalu pertama yang diketahui monna adalah lukisan gadis bangsawan yang terpajang di dinding kamarnya.. itupun monna sekedar bertanya.. dia siapa? Tak pernah lebih dari itu.


Seperti ingin tahu tetapi bila aiden enggan memberitahunya ya sudah.. monna pasrah.. menyerah pada posisinya yang bisa saja gadis bangsawan itu memiliki kedudukan yang lebih tinggi di hati aiden di banding dirinya.. sebagai kekasihnya.. sekaligus wanita masa depan nya.

__ADS_1


Monna memberikan aiden hak untuk bersuara dan tetap diam.. jika aiden memilih bungkam akan masalalu nya.. sebagai kekasih yang pengertian.. monna tak akan ikut campur lebih jauh ke dalam kehidupan nya.. monna menganggap dirinya belum punya tempat yang istimewah di hati pasangan nya.. ia hanya berusaha aiden dapat menerima kehadiran nya dengan baik.. beserta memperlakukan nya dengan baik pula.. entah sekarang hingga ke depannya nanti.


Aiden tak mendengar monna bersuara lagi.. ia jemarinya menjamahi foto di atas meja.. mendiang ibunya bersamanya semasa kecil.. pantas gadis ini tak kembali mengeluarkan suara.. aiden menghampiri nya mendekat.


"Ini kamu?" Aiden menatap sedih.. pada potret masa kecilnya yang di tinggal ibu kandungnya.. ayah kandungnya pun membuang nya layak sampah kala itu.


"Iya.. " Suaranya terdengar sendu.. suasana hatinya berubah mendapati sosok ibu kandungnya tengah di tatap sang menantu.


"Hallo.. tante!" Monna menghayati sandiwara itu bersama kekasihnya.. aiden senang monna dapat menghormati orang tua nya.. andai mama nya masih hidup.. betapa senang hati garini dapat bersua dengan calon menantunya yang cantik dan berbakat ini.. mereka pasti bisa cepat akrab.

__ADS_1


"Mama suka masak juga seperti kamu.. setiap hari meja makan beserta camilan gak pernah di biarkan kosong melompong!" Aiden tersenyum mengingat hari-hari yang telah di lewati bersama mendiang ibundanya.. monna dapat merasakan kesedihan yang di pendam dalam hati pria nya.. ia gak tahu ada masalah apa antara paman lingga dengan putra sulungnya.. yang pasti disini adalah rumah yang sungguh-sungguh jadi rumah tempat nya berpulang.


Kehidupan tragis macam apa yang sudah di lalui aiden semasa kecilnya.. monna juga gak tahu lebih.. mau mengungkit tetapi takut menyinggung nya juga mengenai mendiang orang tua nya.. apa masih perlu di bahas.. sebagai calon istrinya.. haruskah monna mengetahui seluk beluk latar belakang calon suaminya.. lebih dari sekedar kehidupan sehari-hari nya bersamanya.


Monna akan sabar menunggu.. sampai aiden yang buka suara.. untuk memberitahu monna segalanya perihal kehidupan nya di masa lampau.. ia siap menampung segala keluh kesahnya.. sejak hari ini.. hingga suatu saat nanti.


Monna memeluk lengan kekar pria di samping nya.. wajah murung aiden membuat hatinya terkikis pilu.. tak tega membuat aiden bersedih begini.. prianya membalas memegang tangan monna yang bertengger di lengan nya.


"Ke ruang kerja atau ruang baca?" Aiden melemparkan pertanyaan namun pandangan matanya seolah tak bisa berpaling dari foto ibundanya yang masih terpatri di depan nya.

__ADS_1


"Emm.. bagaimana dengan ruang baca!" Monna mengusulkan pendapatnya.. penasaran pada ruang baca yang di maksud kekasihnya.. apa yang terdapat disana.. berinisiatif menyingkirkan pemikiran gundah yang menerpa kekasihnya ini.. semua orang pasti punya masa kelam nya sendiri tetapi adakala nya untuk meredam kesedihan itu sendiri.. gak selamanya harus di rundung duka.


__ADS_2