
TOKYO, JEPANG
Aiden dalam perjalanan bisnis di jepang terpaksa berangkat meninggalkan gadis kaya itu di villa nya.. di tambah lagi sendiri.. aiden hanya berpesan melalui secarik kertas yang sengaja di tempel di pintu lemari es.
Berharap monna baik-baik saja atas kepergian mendadak nya.. ia hanya takut kesan nya buruk di mata monna akibat melupakan kata-kata yang belum di penuhi nya semalam.
Abaikan.. sekarang aiden harus fokus pada pekerjaan yang tengah di hadapi nya.
Siapa sangka.. aiden berupaya memperluas usaha rumah bordil nya yang cukup sukses sampai ke asia.. seorang anggota parlemen mengundang pembisnis besar yang populer baru-baru ini di eropa.. kalangan kelas atas menggagumi kemampuan nya.. mereka sempat mendengar desas-desus perihal aiden yang berhasil lolos dari pemburu kriminal kelas internasional.
"Terima kasih atas undangan nya.. tuan hirotaka!"
"Dengan senang hati, silakan duduk!" Aiden duduk menerima secangkir sake yang di suguhkan tuan rumah.. mereka bersulang.
"Saya dengar kemajuan bisnis anda semakin pesat."
"Kami hanya menjunjung tinggi keterampilan para anggota personel beserta attitude dalam bekerja mereka.. anda pasti sudah dengar cara kerja saya?"
"Tentu, siapa yang tak mengenal sosok aiden mavericko dari keluarga weston" Aiden mengulas senyum.. berusaha rendah diri di hadapan anggota parlemen jepang ini.
"Saya dengar anda akan memperluas jaringan sampai ke asia, jika tidak keberatan saya dapat membantu anda!"
"Syaratnya?"
"Jadi, kita ke point inti nya? Betul rupanya bila anda orang yang cekatan dalam berbinis." Aiden tersenyum mendengar pujian sekaligus sindiran itu dari mulut hirotaka.
"Pergerakan anda leluasa disini, di bawah kendali keamanan saya. Syarat nya cuma mau saham dari bisnis anda sebesar 50%."
Aiden memasang senyum miring pada tipu muslihat yang di mainkan hirotaka, ia tahu tak dapat keluar dari sini hidup-hidup sebelum menyetujui kesepakatan di antara kedua belah pihak.. bagi orang lain itu bisa jadi kelemahan nya.. hirotaka terlalu meremehkan musuh.
"Aku bisa mati kalau harus memberikan saham senilai triliunan itu padamu, ini tanah pertama di asia yang aku pijak. Masih banyak yang lain loh, kalau kamu bisa janjikan dengan 50% saham sekaligus menyebar luaskan cabang di wilayah asia. Bisa aku bicarakan!" Hirotaka geram pada kemauan yang di sampaikan aiden pada nya, mana mungkin ia mampu memperluas cabang rumah bordil nya di seluruh tanah asia.. aiden tahu itu pusat kelemahan hirotaka.
Anak buah hirotaka menodongkan senjata api padanya.. morgan memberi isyarat pada pengawal yang lain.. mereka gencatan senjata di tengah permufakatan bisnis.
Jangan pancing aiden untuk mengadu skill strategi bisnisman nya.. otak bodoh hirotaka terlalu gamblang terbaca di wajah nya.. mata nya terpancar kebusukan.. keserakahan nya.
"HAHAHA.. Mari kita bermusyawarah baik-baik. Tak di sangka kamu cukup hebat!"
"Anda bukan saingan saya, tuan hirotaka!" Mereka bersulang.. keputusan akhir.. hirotaka hanya mendapat 10% saham dari perundingan akhir ini dengan jaminan keamanan yang ketat.
Aiden beranjak keluar dari restoran pertemuan di kawal hirotaka beserta anak buah nya.. tentara militer jepang.
__ADS_1
"Terimakasih aiden, anak muda yang patut di segani." Hirotaka menjabat tangan aiden.
"Saya bisa besar kepala bila terus di sanjung!" Aiden menerima uluran tangan hirotaka.
"Kita bicarakan rencana pembukaan cabang pertama di Hiroshima lusa nanti!"
"Saya amat menantikan nya! Kalau begitu saya pamit undur diri!" Morgan bersiap membuka pintu mobil mempersilahkan bos besar nya masuk.
"Ya, hati-hati dalam perjalanan!" Mobil yang di tumpangi aiden melaju bersama tiga mobil anak buah nya yang lain di belakang.
"Laki-laki licik!" Gumam morgan.. aiden tersenyum pada kejengkelan yang tampak dari raut wajah beringas anak buah nya itu.
"Ini, bukan pengalaman pertama buat kamu juga kan?"
"Aku benci, bos. Pada tipu daya yang di mainkan berani nya mereka menikam anda!"
"Tenanglah! Kamu tahu aku ini bukan orang yang mudah di jatuhkan."
"Iya bos. Saya tahu!"
"Wajahmu jelek kalau marah. Bersikaplah sehening yang kamu bisa!" Morgan tercengang pada hinaan yang di lontarkan bos besar nya secara terang-terangan.. selama berapa tahun ini baru sekarang morgan mendengar kata 'jelek' yang membuat tumbang kepercayaan diri nya.
"Saya tahu bos. Mana bisa mengalahkan ketampanan anda!"
BLOSSOM HOTEL
Tok tok
"Masuk!" Morgan tampak dari ambang pintu masuk membawa satu set pakaian untuk bos besar nya.
"Baju yang anda inginkan bos!"
"Taruh di atas sana!" Aiden menunjuk ke arah meja terdekat yang berada dari tempat morgan.. saat itu aiden masih mengenakan mantel mandi di atas balkon menikmati semerbak aroma asap rokok yang di hembuskan.
Matanya tajam tersirat satu nama yang terbayang di benak nya.. haruskah aiden menghubungi nya.. sampai detik ini saja masih belum memberitakan kabar nya pada aiden.
"Sampai kapan dia berencana mengabaikan aku? Cihh.. monna, jangan harap setelah aku pulang bisa mendapat peluang lagi." Aiden menatap layar ponsel nya sepi.. tak ada barang seutas notifikasi pesan masuk dari sana.
Apa monna marah padanya??? Aiden bertanya-tanya ada apa gerangan pada perubahan sikap nya ini.. persetan dengan gengsi.
Aiden menekan nomer telepon di layar ponselnya 'monna'
__ADS_1
Kirim pesan
Panggil
...[Pesan Keluar]...
^^^Kamu masih di fortune house?^^^
Hmm.. masih.
Aiden mengepalkan tangan nya ke udara.Yes Dibalas. Dalam hatinya bersorak sorai.
^^^Aku butuh waktu dua pekan^^^
^^^untuk menyelesaikan kerjaan.^^^
^^^Kamu bagaimana disana?^^^
Aku? Aku
baik-baik saja.
Selesaikan lah dulu
jangan terburu-buru!
Tentram rasa nya. Dengan begini aiden dapat bernafas lega sementara menjalani perjalanan bisnis nya disini.
^^^Jaga baik-baik^^^
^^^rumahku! Ada apa-apa,^^^
^^^kamu bisa langsung kabari aku!^^^
Baiklah! Cerewet!
^^^Monna.. tunggu!^^^
^^^Sampai aku pulang.^^^
Aiden terpukau, akan apa yang di ucap monna selalu berbeda dengan tindakan nyata yang di lakukan nya.. aiden tahu monna tak sungguh-sungguh benci padanya.
__ADS_1
Apa yang di rasakan monna sekarang.. apa bocah itu punya perasaan semacam rindu bila kehilangan kehadiran sosok tuan rumah nya yang rupawan ini.
Menggadang-gadang sesuatu yang tak pasti.. aiden memilih tidur.