
HARI KE-2, KEDIAMAN LINGGA
Aiden duduk di taman belakang rumahnya menatap rerumputan yang bergoyang tertiup angin sembari menikmati sebatang rokok berserta secangkir kopi panas kepulan asap yang terbang di udara menuntunnya pada langit malam yang bertabur bintang, aiden yakin jiran menjadi salah satu bintang yang paling bersinar diantara yang lainnya disana.
Gemerisik tapak kaki datang mendekatinya, se-sensitive ini indra pendengaran aiden terhadap sesuatu yang datang mengganggu nya.
Matanya menangkap laki-laki paruh baya disana datang bergabung diatas kursi yang membentang panjang di sebelah nya.
"Tempat yang gelap nan sunyi? Masih jadi ciri khas seorang aiden!" Aiden hanya mendengus mendengar penuturan yang di lontarkan ayah nya seolah ia merasa paling mengenal sosok pria di sebelahnya ini.
"Basi banget!"
"Aiden, menetaplah disini!"
"Kamu gak berhak atur aku mau tinggal dimana!" Cetus aiden dengan tajam.
"Ayahmu sudah berusia lebih dari setengah abad, apa kamu gak takut bila aku mendadak mati?"
"Sebagai tuan besar keluarga lingga, apa ucapan mu itu gak terlalu kasar?"
"Yahh.. Mau gimana lagi? Punya seorang putra tampak tak perduli padaku?"
"Kalau aku tidak perduli padamu, aku tak perlu repot-repot kembali pulang ke kota gurry dan langsung di kurung disini seperti seorang tawanan!"
"Biarpun aku tahu kamu bisa melangkahkan kaki dari sini kapanpun tetapi aku merasa agak tersentuh oleh kehadiranmu yang dapat bertahan sedikit lebih lama di kediaman lingga!"
"Jangan terlalu gembira, aku disini bukan demi kamu!" Ayahnya tersenyum mendapati putra sulungnya yang berusaha menutupi kebenaran yang tampak jelas tergambar dari raut wajahnya.
"Aku tahu, walau begitu aku tetap berterima kasih padamu setelah beberapa tahun ini akhirnya kamu menerima permintaanku untuk kembali ke kota gurry!"
"Itu juga bukan karena mu!" Aiden terus berdalih.
"Baiklah-baiklah! Anggap saja aku tak tahu apa-apa!"
"Aku kesini hanya sekedar ingin melepas rindu!" Ayahnya mengangkat sebelah alisnya seraya meneguk teh di cangkirnya.
__ADS_1
"Sudah lama!" Aiden menatap daun kering yang jatuh lalu mendarat di tanah.
"Ekhemm.. Mari! Besok pergi ke makam ibumu?" Ayahnya berdehem memudarkan suasana hati putranya yang terasa muram.
"Apa kamu masih ada muka untuk datang ke pemakaman ibu?"
"Aku akan bertebal muka demi menebus kesalahan di masa lalu!" Aiden menatap pria di sebelahnya lingga buana dapat menerka raut wajah putranya yang kurang setuju pada rencana yang dikemukakan ayahnya. Tuan besar menghembuskan nafasnya.
"Aiden, hidup ini gak cuma tentang konflik terkadang kita harus bisa meredamnya demi sebuah kedamaian dalam hidup. Itu pilihanmu! Semua keputusan ada di tanganmu, nak!" Aiden mendengus mendengar penuturan yang sampaikan ayah kandungnya itu.
"Kesambet apa? Gayamu gak cocok sama bicaramu!" Sindiran yang dilemparkan aiden pada ayahnya justru membuat lingga buana merasa puas ia bertanggapan sebentar lagi pasti dapat memenangkan hati putra sulungnya itu.
"Ya, di matamu ini. Aku hanya seekor serigala licik yang berusaha menyembunyikan taringnya didepan anaknya sendiri!"
"Kalau kamu gak bicara begitu aku akan meragukan otakmu yang cetek, aku berniat membelikan sebuah kaca besar supaya dapat kamu melihat wajah asli dirimu sendiri bagaimana!" Sepasang ayah dan anak yang bertemu hanya untuk saling melemparkan argumen ini bukan situasi yang mudah dihadapi tetapi ayahnya berusaha mengalah mendengarkan segala keluh kesah beserta hinaan yang terus dilemparkan putranya pada lingga buana. Aiden menyeruput kopinya hingga tetes terakhir. Haus rupanya berdebat panjang dengan ayahnya.
"Kurangi konsumsi rokokmu! Tidurlah!" Ayahnya hanya dapat menasihatinya, itu juga bila dapat dicerna oleh aiden jika tidak yasudah hanya sekedar omong kosong yang melintas melalui indra pendengaran putranya.
Ayahnya masuk ke ruangan tamu setelah menepuk bahu putranya seraya membawa cangkir teh tadi.
"Cihh.." Aiden mengeluarkan ponselnya mencari-cari nama seseorang dilayar ponselnya.
^^^"Hallo!"^^^
"Astaga! Panggilan yang sangat tidak diduga!"
^^^"Dimana kau?"^^^
"Menurutmu dimana lagi?"
^^^"Aku ke bar sekarang!"^^^
"Tentu, kutunggu kedatangan mu!"
^^^"Hmm!"^^^
__ADS_1
...[Telepon Terputus]...
Aiden bergegas ke kamar tidurnya berniat berganti pakaian lalu pergi menghampiri si pemilik bar.
BAR & CAFFE LAVATO
Kelap-kelip lampu menjadi penghias dunia malam aiden belakangan ini, ia sudah tampak akrab dengan suasana disini yang paling penting aroma alkohol yang tercampur bau keringat terendus di indra penciumannya.
"Aiden!" Seorang pria melambaikan tangan nya ia menghampiri aiden yang masih melihat-lihat tiap sudut bar yang terasa makin luas rupanya.
"Sejak kapan kau kembali ke kota?"
"Baru kemarin!"
"Aku tak menyangka setelah sekian lama!"
"Apa kamu tak akan mempersilahkan tamu duduk?"
"HAHAHA! Aku sudah mempersiapkan ruangan VIP untukmu!" Wigen menuntun jalan aiden menuju ruangan VIP yang telah di sediakan khusus untuknya. Aiden tertegun mendapati dua gadis seksi di dalam sana ia melemparkan tatapan pada pria di sebelahnya.
"Kamu ini!" Seru aiden menepuk bahu si pemilik bar ia mendatangi gadis gadis disana membiarkan mereka bergelayut di tubuh kekar aiden.
"Apa ini keputusan yang telah kamu buat?"
"Wigen, kamu tahu disini terlalu banyak luka yang telah aku kubur?" Wigen mengangguki kepalanya seraya mengoyak isi wine di dalam cangkirnya.
"Gak mungkin juga kamu terus-terusan menghindar, aiden!" Seru wigen mendengar pernyataan yang terkuak dari mulut aiden.
"Setidaknya aku akan menunggu sampai luka ini sepenuhnya menghilang!"
"Apa mungkin?" Wigen menatap ragu pada sahabatnya.
"Siapa yang tahu?" Aiden menggedikan bahunya tangan nya menyambar rokok diatas meja gadis di sebelahnya menyalakan pemantik untuknya. Wigen menatap sahabatnya yang tampak menyedihkan itu.
"Aku cuma gak mau luka ini terbuka kembali setelah sekian lama aku berusaha keras menguburnya dalam-dalam! Kamu juga tahu banyak penderitaan yang telah aku lalui selama beberapa tahun ini!" Wigen terus memasang raut wajah kasihan pada nasib tragis yang telah menimpa sahabatnya.
__ADS_1
"Lepaskan aiden!" Wigen hanya berharap aiden bisa melepaskan segala yang telah ditahannya selama beberapa tahun silam ini gak bisa dibiarkan berlalu begitu lama gak mungkin aiden akan menghabiskan sisa hidupnya dalam ke-nelangsaan.
Aiden tersenyum pada sahabatnya..