European Sky King

European Sky King
MELEPAS RINDU


__ADS_3

Lepas dari pelarian panjang nya selama satu tahun.. aiden mendarat pulang di kota kelahiran nya.. siapa bilang benci belum tentu rindu.. banyak kenangan terukir di kota gurry.. melepas kerjaan sementara di eropa.. anggap saja dirinya berlibur disini.


"Oke! Mari jalani kehidupan manusia normal yang membosankan ini!"


Andai ia dapat memutar kembali waktu ke masa itu. Aiden takkan menyia-nyiakan kesempatan supaya dapat segera membawa jiran ke tepi pantai ini bersamanya, moment indah bersama kekasih nya dahulu melintas di lamunan nya.


Jiran tewas beberapa tahun lama nya.. sebelum bisa menyelamatkan nyawa nya.. sepulang ke kota gurry hanya tersisa sebait nama di atas papan nisan.


Rambutnya tertiup angin membuat pesona pria itu tak luput dari pandangan setiap orang disekitarnya. Aiden menghembuskan nafas lemah kakinya mengacak pasir putih yang diinjak nya.


"Tuan muda, sudah waktunya pergi!" Sahut bu retno, tangan kanan lingga buana.


"Hmm!" Aiden melangkah pergi meninggalkan pesisir pantai.


Aku akan kembali nanti!


"Tuan muda, kita kembali ke kediaman lingga hari ini!"


"Ke Fortune House saja!" Villa pribadi aiden yang biasa jadi singgasana nya selepas pulang dari eropa.


"Maaf tuan muda, ini perintah tuan besar!"


"Apalagi rencananya kali ini?!"


"Anda dapat bertanya langsung pada tuan besar nanti. Saya hanya melaksanakan tugas!"


Aiden geleng-geleng kepala pada orang kepercayaan ayah kandungnya ini begitu setia sampai tak bisa memalingkan pandangan nya pada orang lain, selain majikan nya.


Matanya terus menyapu tiap sudut pemandangan yang dilintasinya melalui jendela kaca mobilnya aiden termangu bernostalgia pada beberapa ingatan nya dari masa lampau.

__ADS_1


30 Menit Kemudian..


Mobil pribadinya terparkir dipekarangan yang luas dari kediaman keluarga lingga. Aiden menginjakkan kakinya, memerlukan keberanian untuk kembali kesini setelah pelarian panjangnya.


Para pelayan menyambut hangat kepulangan tuan mudanya setelah sekian lama inilah keputusan akhirnya.


"Selamat datang kembali, tuan muda!" Aiden mengangguki kepalanya kakinya jenjang nya melangkah memasuki ruangan tamu kediaman matanya seperti mencari-cari sosok yang menantinya pulang.


"Sebelah sini, tuan muda!" Bu retno memandunya ke ruangan kerja ayahnya.


Kreakkk


Aiden berada didalam ruangan kerja ayahnya yang begitu luas tanpa berniat menyapa ayah kandungnya aiden memilih duduk sembari menanti kalimat pertama yang akan dilontarkan laki-laki tua diatas kursi kerjanya disana, tuan besar lingga memutar kursinya.


"Selamat datang kembali, anakku!" Sambut tuan lingga pada putra sulungnya aiden memasang senyum kecut mendengar perkataan yang diucapkan ayahnya.


"Diwaktu begini baru ingatkah kalau aku anakmu?" Tuan lingga mendekati anaknya yang memasang raut wajah masam disana.


"Dasar tak tahu malu!" Cerca aiden menatap betapa sejahtera nya kehidupan ayah kandung nya setelah kematian istrinya sendiri.


"Rupanya hidupmu jauh lebih baik dari yang aku bayangkan! Tsk.. Buat apa aku mencemaskan mu!" Aiden menatap ayahnya dengan pandangan mata sengit.


"Aiden! Lepaskan, apa yang selama ini telah membebani hatimu!"


"Berhenti bergurau!" Aiden bangkit dari kursinya dengan cepat ia pergi meninggalkan ruang kerja ayahnya.


Brakk


Aiden membanting pintu dengan keras, ayahnya hanya dapat tersenyum dalam menghadapi tempramen buruk putra sulungnya itu.

__ADS_1


"Dia belum berubah sama sekali!" Senyuman terukir dari wajah tua ayah kandungnya.


KAMAR TIDUR


Aiden menanggalkan jaket yang dikenakannya ia bergegas merapihkan barang bawaannya kemudian dilanjut membersihkan diri.


Betapa bagusnya bila masih ada jiran yang dapat menyambut kepulangannya aiden menyunggingkan senyumnya tangannya meraih bingkai foto gadis muda yang sengaja dibawa supaya dapat aiden pajang dikamar tidurnya selepas menyelesaikan tugasnya aiden bergegas menuju kamar mandi hari yang benar-benar panas membuatnya tak tahan pada suhu ruangan kamar tidurnya.


A few moment laters..


Jam menunjukkan pukul tujuh malam waktu makan malam sudah datang lagi tak terasa waktu berjalan begitu cepat hanya berdiam diri dikamar sembari menatap layar televisi rasanya sama seperti satu tarikan nafas.


Kreakkk


Aiden turun dari kamar tidurnya mengenakan piyama nampak beberapa anggota keluarganya yang tak asing di penglihatan nya sudah berkumpul dimeja makan.


Ayahnya tersenyum mendapati putranya sulungnya yang tampak dari kejauhan, aiden bergabung dimeja makan mengabaikan tatapan aneh yang ditunjukan ayahnya pada aiden.


"Kami menyiapkan nya spesial untuk menyambut kedatangan mu kembali ke kediaman lingga!" Ibu tirinya tersenyum mendapati putra sulung lingga buana berada ditengah-tengah keluarganya.


"Sudah lama rasanya!" Aiden sama sekali tak memperdulikan omong kosong yang terus keluar dari mulut ibu tirinya ia menyendoki nasi ke atas piring mengambil beberapa lauk yang dapat dengan mudah dicerna.


Tanpa aiden sadari adik tirinya melemparkan tatapan kebencian padanya sorot matanya yang tajam seolah dapat melubangi seluruh bagian tubuh aiden.


Seandainya aku bisa menendang mu keluar dari sini!


Selama lebih dari enam tahun yang lalu lea telah mengubur rasa cinta yang sempat tumbuh untuk kakak tirinya sendiri tetapi lambat laun ia menyadari tatkala cinta yang lea berikan pada kakak tirinya ternyata bertepuk sebelah tangan dari sana lea mulai merasa geram karena terus terusan diabaikan oleh kakak tirinya.


Lea tertangkap basah oleh aiden karena terus menatapnya tanpa bersuara kakak tirinya mengucapkan beberapa patah kalimat lea mencoba menangkap mimik mulutnya matanya memicing.

__ADS_1


"******!" Lea terperanjat menangkap apa yang dilontarkan melalui mulut tajam kakak tirinya itu, emosinya meluap rasa ingin lea mengarahkan pisau didepan mata aiden.


Aiden menyeringai merasa senang berhasil memprovokasi adik tirinya disana, biarpun marah lea tak bisa berbuat apapun didepan keluarga besarnya.


__ADS_2