European Sky King

European Sky King
NASI GORENG SEAFOOD


__ADS_3

"Pelan-pelan.. " Monna meringis kesakitan saat lukanya terkena antiseptik. Aiden sampai menahan nafas sewaktu berusaha membersihkan luka dikaki monna tetapi gadis itu tidak dapat bersikap tenang sebentar saja supaya aiden bisa dengan cepat menyelesaikan tugas menyebalkan ini.


"Kamu tenang sedikit dong!"


"Ukhh.. " Monna menutup sebelah matanya sembari menahan kesakitan. Kakinya bergetar begitu obat merah menetes diatas lukanya.


"Begitu sakit kah?" Aiden ikut-ikutan linu menatap reaksi yang monna tunjukan. Samar-samar monna mengangguk.


Aiden menatap jam dinding yang tergantung didepan matanya waktu hampir menunjukan tengah malam. Matanya beralih menatap monna yang masih berusaha menetralkan nafasnya akibat rasa sakit luka gores dikaki nya.


"Kamu tak pernah terluka atau bagaimana? Sangat sakit kah rasanya sampai merintih begini?" Mata monna berkaca-kaca sebentar lagi bulir air mata akan menetes dari kedua matanya yang sayup itu. Aiden tak habis pikir dibuatnya. Aiden menarik monna ke dalam peluknya berharap upayanya dapat menetralisir rasa sakit yang dirasakan gadis bangsawan itu.


"Aku akan memberitahu papimu, tinggalah disini malam ini!" Aiden mengelus pucuk kepala monna yang masih terdengar melengguh ia menariknya makin erat ke dalam pelukan. Monna sama sekali tak dapat bersuara kecuali rintihan kesakitan yang terus keluar dari mulut nya.


"Tidurlah!" Aiden mengelus punggung monna terasa kulit halus tubuhnya di jemari aiden.


15 menit kemudian..


Monna tertidur didalam pelukan aiden ia mengangkat tubuh monna untuk memindahkannya ke atas tempat tidur.


Selepas menyelesaikan pekerjaannya akibat keberadaan tamu tak di undangnya itu aiden bergegas mencari ponselnya berniat memberikan informasi tentang kabar putri tunggal keluarga pietro yang sedang bersama dengan calon suaminya.


...[Telepon Berdering]...


^^^"Malam, paman!"^^^


"Selamat malam, aiden!"


^^^"Malam ini monna sepertinya akan tinggal di tempatku sementara!"^^^

__ADS_1


"Hmm.. baiklah! Aku percayakan dia padamu!"


^^^"Aku akan menjaganya! Besok pagi aku antar monna untuk segera kembali ke kediaman!"^^^


"Tak perlu terburu-buru, aiden!" Sayup-sayup terdengar suara tawa diseberang telepon.


^^^"B-baik, paman!"^^^


"Terimakasih aiden sudah memberikan kabar padaku!"


^^^"Dengan senang hati, paman!"^^^


"Istirahatlah!"


...[Telepon Terputus]...


Aiden menatap layar ponselnya ayah beserta papinya monna sama-sama menjengkelkan nya rupanya. Aiden menatap pintu kamar tidur. Ia bergegas naik ke lantai dua menuju kamar tidurnya sendiri.


Aiden menatap langit-langit dari atas tempat tidur ia masih memikirkan rencana cadangan tampaknya monna tak bisa merelakan untuk pergi selamanya dari kota gurry. Jelas alasannya karena disini kota kelahiran monna sulit baginya untuk melepaskan tempat yang telah mengukir banyak kisah dalam kehidupan nya selama 26 tahun ini.


Disisi lain bukannya itu jauh lebih baik daripada monna terkekang dalam cengkraman papinya secara naluriah manusia pasti tetap memiliki keterikatan batin biarpun nampak gamblang dimata monna menggambarkan kebencian pada orang tua kandungnya.


"Apa itu urusanku?" Aiden bergumam akibat tak bisa tidur dengan tenang. Ini semua karena bayangan monna yang menumpahkan kepedihan hidupnya terus menghantui pikiran aiden.


"Sudahlah! Tidur dulu!" Aiden menutupi kepala nya dengan selimut.


Suara nyaring jarum jam yang berdentum memenuhi ruangan gelap yang sunyi didalam kamar tidur aiden, hari yang berat telah berakhir waktunya menikmati istirahat nya.


PAGI HARI

__ADS_1


Aiden meregangkan badannya diatas tempat tidur ia menutupi wajahnya dari sorotan sinar matahari yang menelusup masuk melalui celah gorden kamarnya.


Didapur monna sudah bangun jauh lebih pagi sebelum aiden ia memasak nasi goreng terendus aroma masakan yang menyeruak indra penciuman aiden, si tuan rumah bergegas turun ke lantai bawah mendapati monna sudah berada didapur.


"Ooyy.. selain bisa merintih kesakitan rupanya handal didapur juga!?" Sindiran dilemparkan pada monna. Monna hanya menanggapinya dengan senyuman.


"Papiku seorang perfeksionis. Semua yang ada dalam diriku harus selalu sempurna dimatanya, aku menjalani kursus masak sampai masakan khas italia pun aku juga bisa!"


"Ohh.. terlalu sempurna juga gak baik padahal. Takutnya para pria minder deketin kamu tahu!" Monna lagi-lagi tersenyum mendengar apa yang diucapkan aiden.


"Pergi sikat gigi sana!"


"Cihh.. baru tinggal semalam sudah bertindak seperti nyonya rumah!" Tapi aiden tetap pergi ke kamar mandi. Monna tersenyum biarpun aiden melemparkan banyak sindiran padanya dia juga menuruti segala yang diucapkan monna.


Monna menyajikan dua piring nasi goreng seafood diatas piring saji yang sudah dihiasnya supaya aiden bisa merasa makan di restoran. Ini juga kali pertama aiden menyicipi masakan monna ia akan membuat kenangan yang sulit dilupakan aiden pada masakan nya. Monna tersenyum selepas meletakan dua piring nasi goreng diatas meja makan. Tak lupa satu cangkir kopi americano kesukaan aiden beserta susu favorit monna semua dilakukan monna dengan sempurna.


Aiden duduk diseberang meja makan monna. Monna menunggu aiden makan terlebih dahulu ia menyuapi suapan pertama nasi goreng seafood ala monna kemudian berlanjut ke suapan kedua sampai ketiga.


"Emm.." Aiden manggut-manggut menikmati nasi gorengnya. Monna tersenyum melihat aiden yang tampak sangat menikmati nasi goreng buatannya. Monna meneguk susunya sebelum makan.


"Selain cengeng rupanya jago masak juga!"


"Kamu bisa berhenti menyindirku atau tidak? Setidaknya ini adalah upayaku balasan atas budimu semalam telah menolongku!" Monna merengut sembari terus menyuapi nasi goreng ke dalam mulutnya dengan kasar. Aiden terkikik mendapati tingkah lucu monna.


"Iya-iya. Aku bercanda! Enak nasi gorengnya kok!"


"Benarkah?" Monna memasang raut wajah sumringah mendengar pujian yang dilontarkan aiden pada masakan yang telah dibuatnya. Tak sia-sia.


Monna menatap aiden dalam diam senyuman nya memudar mengingat semua yang telah dilalui bersamanya akan hilang selamanya. Ini hanya sementara.

__ADS_1


Aku berharap waktu dapat berhenti disini selamanya. Wajahmu. Tingkah lakumu. Perhatianmu.


Bila monna menetap disini sebagai calon istri masa depannya. Bisakah monna mendapatkan perhatian perhatian kecil ini dari aiden?


__ADS_2