
LISBON, PORTUGAL
Domainic menatap kedatangan tamu yang tak di undang ke kediaman nya.. disana putra semata wayangnya tampak akan mendekatinya yang sedang berduduk ria di meja luar ditemani koran beserta secangkir kopi.. entah mengapa ada yang menganggu pemandangan nya mendapati seonggok gadis muda yang mengintil putranya menerobos masuk ke kediaman nya.. menilai dari penampilan nya pasti putri dari keluarga konglomerat di eropa.. siapa lagi kali ini yang terjerat pesona putra semata wayangnya ini.
"Ohh.. kamu pulang?" Domainic berdiri menyambut hangat kepulangan putranya.. aiden mendesuh lemah.. dengan sigap memutar balik tubuhnya.. gadis yang terus mengejarnya terhenti mendapati sorotan mata tajam dari pria di depan nya.
"Kamu, Bisa Berhenti Sekarang?" Aiden menekannya nada bicaranya seolah akan menerkam gadis itu hidup-hidup.
"Kenapa kamu terus mengusirku sih?" Gadis itu mendekati aiden malah bergelayut di lengan nya.. sama sekali tak menghiraukan kehadiran ayah angkat aiden di antara keduanya.. domainic bisa menebak putranya tak mengharapkan kehadiran gadis konglomerat itu..aiden memijat pelipisnya yang pusing .. datang ke eropa demi menuntaskan perkara yang sudah lalu namun alhasil menanamkan masalah baru.
"Lepaskan!" Aiden berusaha keras melepaskan tautan tangan gadis itu di lengan nya.. ayahnya hanya bersedekap dada sambil menunggu bagaimana putranya akan mengurus gadis yang terus menempel pada dirinya.. lagipula kenapa putranya harus tunduk pada gadis tersebut.. memangnya dia pikir.. dia dapat membuat aiden tunduk padanya semudah itu.
"Ihh.. sebel deh.. " Megan mendengus kesal menerima perlakuan tak menyenangkan dari pria yang di anggap kekasihnya walaupun ini hanya cinta yang bertepuk sebelah tangan.. aiden benar-benar benci pada kondisi ini bila bukan hanya karena tuntutan negosiasi singkatnya.. ia akan menolak megan mentah-mentah di depan ayahnya yang justru mendorong putrinya sendiri untuk menjatuhkan harga dirinya di depan pria seperti aiden.. wanita murahan mana yang gak bisa di dapatkan nya.. di dalam hatinya sudah terpatri satu nama.. gadis manapun gak akan bisa melengserkan kedudukan nya di dalam relung hatinya.. apalagi cuma sampah masyarakat yang di anggap remeh olehnya seperti megan.
__ADS_1
"Sudah berapa kali aku peringatkan kamu, megan.. jangan merendahkan diri di depanku! Itu gak akan pernah merubah keputusanku!" Aiden berkacak pinggang sembari melemparkan kalimat pedas yang dapat meruntuhkan usaha megan demi memenangkan hatinya.. apa megan sungguh-sungguh mengira aiden akan jatuh pada pesona nya.
"Aku cuma mau kamu, aiden.. kenapa kamu terus menolak ku?" Aiden mengabaikan omong kosong yang keluar dari mulut megan.. tentu, ada alasan yang lebih logis.. mempertimbangkan megan lalu menyia-nyiakan monna.. hanya orang bodoh yang akan membuat keputusan begitu.. kesabaran nya mencapai batas akhir.. aiden memperintahkan penjaga kemanan di kediaman ayah angkatnya untuk membantu aiden menyeret megan keluar darisana.. merusak pemandangan taman di pekarangan rumahnya saja.
"AIDEN!! AKU TAK AKAN MENYERAH.. " Megan terus berteriak histeris membuat keributan di kediaman ayah angkatnya.. membuat si tuan rumah geleng-geleng kepala.. ayahnya merangkul putra semata wayangnya yang teramat populer di kalangan gadis-gadis muda.
"Jangan di ambil pusing.. nikmatilah masa mudamu yang gak bakal terulang lagi di masa depan!" Ayahnya tersenyum pada aiden.. putranya menoleh lalu mengembangkan senyuman nya.. apa yang di sampaikan ayahnya padanya.. ada betulnya juga.. ini cuma akan berlangsung selama ketampanan nya belum luntur dari wajah fenomenal aiden yang sekarang.
"Ayo! Masuk aku akan memasak untuk menyambut kepulanganmu!" Ayahnya merangkul aiden.. menggiring putra semata wayangnya masuk ke dalam kediaman nya setelah menyaksikan drama penolakan gadis konglomerat yang di tolak mentah-mentah oleh putranya ini.. membuatnya tak habis pikir.. semempesona itu putra semata wayangnya.
"Taraa.. masakan spesial untukmu!" Aiden menatap lucu ayahnya yang sangar tetapi terlihat lucu begitu mengenakan celemek.. runtuh sudah harga diri tuan domainic yang paling di segani dalam sejarah dunia hitam yang di jalaninya.. apalagi domainic terus memperlakukan aiden bagai bocah kecil yang masih berusia 12 tahun.. dimana domainic pertama kalinya menjumpai aiden.. di tepi jalan.. terlantar.. kedinginan.. dan penuh rasa sakit yang di derita.
"Kemarilah ayah! Duduk bersamaku.. " Aiden menarik pergelangan tangan ayahnya mendekat untuk duduk di kursi makan sebelahnya.. biarpun terlihat tua termakan usia gayanya gak kalah necis dari putranya yang teramat fenomenal ini.. dia gak mau di singkirkan dari muka publik karena aiden yang terus-terusan mencuri perhatian massa.
__ADS_1
Domainic menuruti permintaan putranya.. menarik kursi di sebelah aiden.. membiarkan putranya menyuapi masakan yang di buatnya ke dalam mulutnya.. suapan pertama harus selalu ayah angkatnya yang memakan.. lebih menghormati orang tuanya saja menurutnya.
Kemudian aiden menyuapi suapan keduanya ke dalam mulutnya sendiri.. sesendok daging lobster mendarat di atas lidahnya.. aiden mengunyah makanan nya di dalam mulut secara ragu-ragu.. ayahnya masih menanti pendapat dari putranya akan masakan nya.. masih samakah rasanya dengan dahulu.
"Emm.. " Ayahnya terus menunggu aiden membuka suara tentang cita rasa masakan nya.. berharap rasa yang di bubuhkan pada hidangan nya gak pernah merubah segalanya.. rasa yang pernah tersaji di tiap suapan makanan nya.. ayahnya selalu masak sendiri demi menjaga makanan yang sehat dan layak bagi putranya.. hingga sekarang aiden bersyukur masih bisa terus merasakan hidangan yang dibuat oleh tangan ayah angkatnya sendiri.
"Enak!" Domainic bernafas lega mendengar penuturan pendapat dari putra semata wayangnya.. terdengar tulus.. aiden melanjutkan suapan demi suapan ke dalan mulutnya.. ayah nya menatap putranya dengan bahagia.. aiden masih gak berubah.. menggangap aiden sebagai putranya sendiri.. memang keputusan yang tepat.
"Jadi, bagaimana kelanjutan kisah asmaramu?" Ayahnya tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan nya ke arah sana.. aiden meletakan sendok makan nya di atas meja.. menyeka tepi bibirnya yang meninggalkan sisa-sisa makanan disana.
"Aku masih belum ada rencana apa-apa, cuma menjalani apa yang sudah semustinya. Ikuti alurnya saja!" Aiden tersenyum pada ayahnya.. ia tahu ayahnya selalu mensupport apapun keputusan yang dibuat aiden karena domainic tahu.. aiden gak pernah salah mengambil langkah kakinya selanjutnya.
"Hidupmu, kamu yang harus mengaturnya. Jangan biarkan orang lain merengutnya, jika kamu butuh bantuan. Jangan sungkan panggil aku.. aku akan selalu datang buatmu, putraku." Domainic menepuk-nepuk bahu putranya.. aiden tersenyum senang dengan apa yang ayah nya katakan.. gak ada cinta yang setulus ayah angkatnya ini.. ia juga rela mengorbankan nyawanya demi melindungi ayahnya.. sampai akhir hayatnya.
__ADS_1
"Terimakasih, ayah!" Aiden menatap lekat kedua manik mata ayahnya.. wajah itu yang semakin menua.. pertama kali bertemu dengannya.. domainic masih seluar biasa aiden saat ini.. mengingat domainic menghabiskan banyak waktu demi dirinya.. separuh hidupnya di habiskan untuk merawat putra yang sengaja di sembunyikan domainic di dalam keluarga weston.. sampai hari dimana domainic memperkenalkan aiden putra gagah nan menawan nya ini pada dunia menjadikan nya bahan gunjingan di seluruh penjuru dunia.. menarik perhatiannya pada aiden.. putra semata wayang keluarga weston.. keturunan ke-15 nya.. dengan penampilan nya yang fantastis.. banyak konglomerat yang menaruh perhatian serta harapan pada bisnisman muda yang akan meneruskan bisnis ayah angkatnya.