European Sky King

European Sky King
DOMAINIC VAN WESTON


__ADS_3

Aiden tidak menunda kepulangan nya lagi selepas perkara mayat hirotaka yang lupa di hilangkan jejaknya.. mereka beserta bawahan nya berhasil menenggelamkan potongan tubuh hancur nya itu ke laut lepas mikasahama.


Pemilik tacenda brothel ini masih dalam perjalanan pulang ke kampung halamannya.. morgan berupaya menahan kepulangan bos besar nya tapi baginya ini sudah cukup.. masih ada seseorang yang menantinya di kota gurry.


Memakan waktu 10 jam lebih cepat dari tranportasi udara umum yang lain nya.. helikopter pribadi yang di tumpangi nya mendarat di landasan utama rumah tersembunyi nya dikota gurry.. kediaman pribadi yang sengaja di bangun aiden di kota secara diam-diam.. anggota keluarga lingga tak ada yang tahu menahu perihal kediaman pribadinya di pusat kota ini.


Aiden turun ke lantai bawah menggunakan elevator.. keluar melalui lorong garasi mobil pribadinya yang tertata rapih dan terawat.. aiden memasuki hall utama kediaman nya yang luas.


"Tuan, anda kembali! Tuan Domainic menanti anda di ruang baca!" Aiden melepaskan jas yang di kenakan menyerahkan nya pada pembantunya yang telah lama mengabdi pada keluarga Weston.. sudah tak heran bila ayah angkat nya itu datang mendadak kesini.


Aiden menghampirinya ke ruang baca mendapati lelaki sangar itu tengah memperhatikan buku-buku yang tertata rapih di rak buku yang membentang tinggi ke atas.


"Memangnya kamu bakal membaca semua buku ini?" Seru domainic yang mendengar suara denyitan pintu terbuka.. aiden duduk di atas sofa yang berhadapan langsung dimana ayah angkatnya berdiri sambil menyusuri satu-persatu buku yang di jamahi jemari ayah angkatnya.


"Ayah, aku buru-buru pulang kemari supaya dapat beristirahat, apa kamu tega membiarkan aku mati muda karena kecapean?" Domainic menoleh memastikan putra semata wayangnya masih dapat di ajak sedikit berbincang.. wajah nya tampak masih segar.. jadi ayah angkat nya mengabaikan alibi yang di gunakan putranya itu.


Aiden tahu ini tak bekerja pada ayah angkat nya yang pandai memahami kondisi putra semata wayangnya ini.. itu juga penyebab aiden lebih sayang pada ayah angkatnya ketimbang lingga buana yang bahkan tak mengenali baik soal karakteristik nya.


"Aku dengar kamu bawa satu gadis ke villa!"


"Ayah, kamu bahkan meneliti kehidupan pribadi aku?" Domainic menarik satu buku dari deretan buku legenda urban.. dan membuka halaman pertama nya.


"Mana tahu! Dapat calon menantu yang cocok, kamu harus kenalkan padaku, bukan?"


"Hah! Lingga buana menjodohkan aku dengan nya.."


"Benarkah? Gak buruk juga si!" Domainic duduk di seberang kursi yang di tempati putranya sembari membaca buku yang berada di tangannya.


"Monna.. putri tunggal bangsawan keluarga pietro.. " Aiden tak melanjutkan bicaranya soal latar belakang gadis bangsawan yang tengah mengungsi di villa pribadinya itu.. yang ia inginkan adalah reaksi ayah angkatnya.

__ADS_1


Domainic menahan tangan nya yang hendak membalik halaman berikutnya dari buku yang sedang di bacanya, mendengar apa yang di sampaikan putra semata wayangnya.. ia sama sekali tak bergeming.


"Terus kenapa?" Domainic melanjutkan aktivitas membacanya.. ia tahu aiden tak dapat memprediksi perubahan emosi dari ayah angkatnya.


"Ayah.. aku gak bisa lagi sama gadis bangsawan!"


"Mencoba lagi gak ada salahnya!" Aiden menghembuskan nafasnya kasar mendengar penuturan ayah angkatnya yang setuju pada ide lingga buana perihal perjodohan putra semata wayangnya.. domainic tahu apapun bahayanya aiden pasti dapat menghadapinya.. sekalipun badai menerjangnya.. itu gak seberapa kuat bagi putranya yang ganas begini.


"Kita lihat nanti saja!" Sahut aiden memutuskan.. belum kelihatan ke depan nya akan bagaimana juga bersama monna.. walaupun keduanya saling memberi perhatian satu sama lain.. gak menutup kemungkinan juga kalau mereka gak cocok.


Aiden bangkit dari atas sofa.. ayah angkatnya masih termangu membaca buku legenda yang di dapat dari rak buku di ruang baca putra semata wayangnya.


"Aku pulang ke fortune house malam ini!"


"Terburu-buru, mau menemui calon istri kah?" Aiden berhenti melangkah mendengar ucapan yang di lontarkan ayah angkatnya.


"Terserah apa katamu!" Aiden melanjutkan langkah nya keluar dari ruang baca membiarkan ayah angkatnya menikmati waktu sendiri di kediaman pribadi putranya.


Aiden berjalan ke ruang kamarnya berniat mengganti setelan yang telah di gunakan, hampir seharian ini dalam perjalanan bolak-balik eropa-asia.


"Tuan muda, anda mau makan malam dulu?"


"Tak perlu! Aku pulang ke Fortune House sekarang!"


Brakk


Aiden memasuki garasi mobilnya membawa satu buah mobil yang biasa di gunakan.. menghalau kecurigaan monna terhadapnya bila gonta-ganti mobil terlalu sering.


Garasi mobilnya terbuka, aiden mengeluarkan mobil yang di kendarainya melintasi pekarangan rumah pribadinya yang terbentang luas.. domainic menatap kepergian putra semata wayangnya yang sudah melaju bersama mobil sport nya.

__ADS_1


"Periksa latar belakang gadis bangsawan itu!"


"Baik tuan!" Tangan kanan domainic mulai bergerak menyelidiki latar belakang monna.. di depan mungkin tampak tenang tapi setelah mendengar dari mulut putranya bila gadis itu salah seorang putri bangsawan.. ia takut tragedi di masa lampau terulang kembali menimpa putranya.


JALANAN KOTA


Jalanan yang selalu di padati warga kota gurry.. cukup ramai.. banyak orang yang berlalu lalang di jalanan menganggu pengguna jalanan umum.


Kemacetan membuatnya menahan stres.. kata siapa kota maju.. jalanan saja masih di padati penduduk yang tak karuan menggunakan jalan raya sebagai alternatif utama penyebrangan.. andai aiden yang mengambil alih wilayah asia.. semua akan berada di bawah kedaulatan-nya.. seluruh dunia akan terasa aman dan damai.


Apa yang tengah di lakukan gadis bangsawan itu di villa nya.. sudah dua minggu berlalu.. fajar hampir terbit lagi.. aiden belum menyentuh tempat tidur selama dua hari.. apa monna masih berada di kediaman.. jika itu aiden.. ia pasti sudah mati kebosanan.. mengurung diri di dalam hunian pribadi.. walaupun semua kebutuhan tersedia.. rasa jenuh pasti dapat melandanya kapanpun.


Dan lagi monna hanya seorang diri disana.. aiden tersenyum tapi hatinya kasihan pada gadis yang beberapa hari terlampau khawatir pada kondisi dirinya belakangan ini.. mungkin cara bicaranya pada monna waktu itu kelewatan.. untuk apa dia mengungkit perihal kematian pada gadis polos itu.


Mobilnya melesat dengan kecepatan tinggi di jalanan kota.. semua pasang mata menatap keberadaan mobil mewah yang melintas kencang di jalanan kota dini hari.


Brakk


Aiden turun dari mobil pribadinya masih belum tampak gerak-gerik dari gadis polos yang menumpang tinggal di hunian pribadinya selama beberapa pekan ini.. masih betah ternyata di atas tempat tidur.


Jam menunjukan pukul 4.45 pagi.. terlihat jelas lingkaran hitam di bawah mata nya.. belum tidur dua hari tapi masih sanggup membuka mata lebar-lebar.


Klik


Aiden memasuki kediaman nya.. pertama yang di lihat kondisi ruang tamu yang tertata rapih.. bersih.. ada rasa puas tersendiri bagi tuan rumah ini.. aiden melangkah menuju kamar tidur tamu.


Membuka perlahan berusaha tak mengeluarkan suara yang dapat menganggu tuan putri yang masih tertidur lelap di atas tempat tidurnya.. aiden mengulas senyum mendapati monna yang masih terpejam di atas ranjang nya.. kaki jenjang nya memasuki kamar tidur tamu.. menarik selimut yang tersibak tangan monna.


"Kamu jago menunggu rupanya.. " Aiden menyingkap rambut yang menutupi wajah cantik monna.. tanpa di sadari aiden tersenyum menatap gadis bangsawan yang tengah terlelap ini.

__ADS_1


Dalam hati ada rasa gembira mendapati monna masih setia menunggu kepulangan nya.. betul saja.. monna masih tetap berada di kediaman pribadinya.


__ADS_2