
Alfred sudah tertidur dengan lelap. Karena tidak ingin mengganggu Alfred, Lily kemudian memutuskan untuk pulang ke rumah.
Lily sedikit merasa lega karena Alfred akan mencoba mengurangi kebiasaannya meminum bir.
Setelah sampai rumah, Ayah dan Ibunya ternyata sudah pulang dan terlihat sedang berbincang dengan beberapa orang. Ternyata mereka adalah teman-teman Ayah ketika di Militer.
“Andy, ini Lily? Wah sudah besar ya anakmu. Dulu aku masih ingat Lily baru bisa berjalan waktu pertama kali kau mengajaknya ke markas.” kata salah satu teman Andy yang bernama Edward.
“Oh Lily sudah datang ya. Lily sudah besar sekarang. Tidak terasa waktu cepat berlalu.” kata Andy.
“Kau beruntung sekali mempunyai anak secantik Lily, coba saja anakku belum menikah. Mungkin Lily akan kujodohkan dengannya” imbuh Erick.
Lily kemudian menyapa satu per satu teman-teman Ayahnya itu. Kemudian Lily masuk ke dalam kamar untuk beristirahat sejenak. Lily kemudian mengirimkan pesan kepada Alfred.
“Sayang, maaf aku pulang tanpa pamit padamu. Kau tertidur nyenyak dan aku tidak ingin membangunkanmu. Jaga dirimu baik-baik. Ingat pesanku kurangi minum bir nya ya.” tulis Lily.
Lily kemudian merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
“Andy, kemungkinan operasimu akan dilakukan minggu ini. Kau bersiap lah.” kata Erick.
“Aku siap kapan saja, besok pun juga aku sudah siap hahaha.” canda Andy.
Tak lama kemudian mereka semua berpamitan untuk pulang.
“Terima kasih kalian telah mencarikan pendonor mata untukku. Aku tidak tahu harus bagaimana untuk membalas kebaikan kalian semua.” ucap Andy.
“Kau tidak perlu berterima kasih pada kami. Kami juga banyak berhutang nyawa padamu saat kita masih aktif di militer.” balas salah seorang teman Andy.
“Baiklah kalau begitu kita pamit dulu. Sampai jumpa lagi.” kata mereka.
“Hati-hati di jalan kalian.” kata Andy dan Gwen.
2 jam kemudian, Lily terbangun dari tidurnya. Lily mengecek ponselnya, namun tidak ada pesan maupun panggilan dari Alfred.
“Aku harus berpikir positif, mungkin saja dia masih tidur.” gumam Lily.
Kemudian Lily mencuci muka dan berjalan ke luar kamar. Lily mendapati Ibunya sedang menonton acara di televisi.
“Ibu sedang apa di sini?”
“Ini Ibu sedang menonton acara komedi.”
“Ayah dimana?
“Ayah sedang ada di kamar, kemarilah Lily duduk di samping Ibu. Ibu ingin memberi tahu kabar baik.”
Lily kemudian duduk di dekat Ibunya karena penasaran dengan kabar baik apa yang akan disampaikan oleh Ibunya.
“Ada apa Ibu, aku jadi penasaran.”
“Ayahmu mendapatkan pendonor mata, rencananya operasi akan di lakukan minggu ini.”
“Benarkah Ibu? Aku tidak percaya ini. Sebentar lagi Ayah bisa melihat kembali.”
__ADS_1
Lily kemudian berjalan menuju kamar Ayahnya. Lily mengetuk pintu dan tak lama Andy membuka pintunya. Lily kemudian memeluk erat Ayahnya.
“Ada apa ini Lily?” tanya Andy.
“Aku sangat senang sekali akhirnya Ayah mendapatkan donor mata”
“Siapa yang memberi tahumu?”
“Tentu saja Ibu, siapa lagi. Ayah, aku benar-benar sangat bahagia. Ayah akan bisa melihat kembali. Aku doakan nanti operasinya lancar.”
“Baik, terima kasih doanya. Ayah minta maaf karena terlalu keras padamu.”
“Ayah tidak perlu meminta maaf padaku. Aku lah yang seharusnya meminta maaf pada Ayah. Aku harap Ayah memaafkan aku.”
“Ayah, aku sudah berbicara pada Alfred. Aku memintanya untuk mengurangi meminum bir. Dia pun setuju dan berjanji kepadaku. Aku harap Ayah bisa menghargai usahanya.”
“Lily, bisakah kau berhenti membahas pria itu di depanku?”
“Baiklah Ayah, maafkan aku.”
Lily kemudian masuk ke kamarnya dan melihat ponselnya kembali. Lily belum juga menerima pesan atau pun panggilan dari Alfred. Karena tak sabar, Lily menelepon Alfred.
“Hallo Alfred, kau dimana?” tanya Lily.
“Hallo Lily, aku di apartemen. Aku terbangun karena kau meneleponku.”
“Oh jadi kau masih tidur ya, maaf kalau mengganggu tidurmu.”
“Kau sudah pulang?”
“Lain kali jika aku tertidur, kau bangunkan saja aku. Tidak masalah.”
“Baiklah kalau begitu, malam ini kau ada acara kemana?”
“Aku tidak akan kemana-mana sepertinya. Kau bekerja malam ini?”
“Iya tentu saja. Yasudah aku mau mandi dulu. Jaga dirimu baik-baik ya. Aku menyayangimu.”
“Kau juga jaga diri baik-baik. Aku juga sangat menyayangimu.”
Kemudian Lily menutup teleponnya.
Lily kemudian mandi untuk bersiap-siap berangkat kerja.
“Ayah … Ibu … Aku berangkat kerja dulu. Makanan sudah aku siapkan di meja.”
“Setelah selesai bekerja, kau langsung pulang. Jangan menemui pria itu.” kata Andy.
Lily tidak menjawab dan langsung pergi.
Sesampainya di Lion Kafe. Lily mencari Lucas di bar.
“Lucas, apa kau bisa memberi ku sebotol bir?”
__ADS_1
“Ada apa denganmu Lily? Kau tak biasanya memesan bir.”
“Hari ini entah kenapa aku ingin minum bir, bisakah kau berikan padaku.”
“Baiklah, akan aku ambilkan.”
Lily menjadi tidak bersemangat karena perkataan Ayahnya tadi. Ayahnya tetap tidak bisa menerima Alfred.
“Entah bagaimana aku harus meyakinkan Ayah. Aku benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa”. gumam Lily.
Tak lama bir pesanan Lily pun datang.
“Ini bir untukmu.”
“Terima kasih Lucas. Apa kau sudah melihat David datang?”
“Sepertinya David belum datang.”
Lily kemudian menghabiskan sebotol bir itu dengan cepat. Setelah itu Lily pergi ke belakang untuk bersiap-siap.
Lily mengirim pesan kepada Alfred.
“Kalau kau sempat, datanglah ke Lion Kafe. Aku merindukanmu.” tulis Lily.
Tak lama, Alfred membalas pesannya.
“Baiklah, setelah ini aku akan ke sana. Tunggu aku di sana.
Lily dan teman-temannya bersiap ke atas panggung. Setelah menyanyikan beberapa lagu, Lily melihat Alfred datang dan langsung menuju ke meja bar.
Dari kejauhan Lily melihat Alfred sedang berbicara dengan Lucas. Tampaknya mereka sudah baik-baik saja. Lily merasa tenang melihatnya.
Setelah sekitar 30 menit, Lily beristirahat dan menemui Alfred di bar.
“Maaf ya kau menunggu lama.” kata Lily.
“Tidak masalah, ada apa denganmu? Kenapa wajahmu murung?”
“Tidak apa-apa. Apa kau sudah makan?
“Belum, aku belum begitu lapar. Apa kau sedang ada masalah?”
Lily kemudian memeluk Alfred dan tak sadar meneteskan air mata.
“Semoga kau selalu diberikan kesehatan ya.” kata Lily.
Kemudian Alfred melepaskan pelukan Lily.
“Kau kenapa menangis? Ada masalah apa? Bicara padaku. Kau jangan membuatku khawatir seperti ini. Jika ada masalah kau bisa cerita kepadaku.”
“Tidak ada masalah apa-apa, aku hanya merasa sangat merindukanmu saja.”
“Tidak mungkin. Merindukanku bagaimana? Kau jangan bohong padaku. Katakan ada apa?”
__ADS_1
Lily tak menjawab dan memilih pergi kembali ke panggung.