
Keesokan harinya, Alfred dan Lily bersiap untuk pergi ke studio Jonathan. Lily diantar oleh Alfred menuju ke studio Jonathan lalu Alfred pergi ke bar terdekat di sana.
"Jika kau sudah selesai, kau hubungi aku saja. Aku akan segera menjemputmu." kata Alfred.
"Baiklah, kau jangan terlalu banyak minum." ucap Lily.
"Iya, aku mengerti. Kau masuk saja mungkin mereka sudah menunggumu."
"Baiklah, aku masuk dulu. Ingat pesanku padamu."
Setelah melihat Lily sudah masuk ke dalam, Alfred segera meninggalkan studio itu dan pergi ke bar. Alfred menunggu Lily di sana sambil menikmati beberapa makanan ringan dan juga tak lupa dia memesan beberapa botol bir untuknya.
Di studio Jonathan ...
"Baiklah, Lily. Karena kau sudah datang mari kita mulai saja latihan kali ini. Apa kau sudah mempelajari lagu yang diberikan Sean padamu?" tanya Jonathan.
"Maaf, kemarin aku terlalu sibuk jadi aku belum sempat mempelajari lagu itu. Aku juga ingin meminta izin padamu, akhir pekan ini aku dan Alfred akan bertunangan dan kemungkinan aku tidak bisa berlatih sampai acaranya selesai. Tidak apa-apa kan?" tanya Lily.
"Lily ... Seharusnya kau lebih fokus untuk menjadi penyanyi. Tapi jika sudah seperti ini mau bagaimana lagi."
"Maafkan aku, aku juga tidak tahu jika orang tua Alfred akan mengadakan perayaan."
"Untuk kali ini tidak masalah, tapi lain kali kau seharusnya memberi tahu kami terlebih dahulu."
"Baiklah, lain kali aku akan memberi tahu kalian sebelumnya. Ayo kita mulai saja."
Lily kemudian memulai berlatih menyanyi untuk acara bulan depan, serta dia juga belajar lagu baru untuknya yang sudah diciptakan oleh Sean. Lily begitu menghayati setiap lagu yang dia nyanyikan, ini membuat Jonathan dan rekan-rekannya semakin yakin untuk mengorbitkan Lily.
Setelah kurang lebih 3 jam, Lily sudah selesai. Dia langsung menghubungi Alfred agar dia datang menjemputnya. Beberapa kali Lily mencoba menghubungi Alfred namun tidak juga ada jawaban. Jonathan yang juga akan meninggalkan studio miliknya, melihat Lily berdiri dan seperti terlihat kebingungan.
"Lily ... Kau belum pulang?" tanya Jonathan.
"Aku sedang mencoba menghubungi Alfred untuk datang menjemputku, tapi dia tidak juga menjawab panggilanku." jawab Lily dengan nada memelas.
"Apa kau mau kuantar pulang?"
"Tidak perlu, terima kasih tawarannya."
"Kau coba hubungi kembali saja tunanganmu itu, aku akan menemanimu sampai dia datang menjemputmu."
__ADS_1
"Baiklah, aku akan coba hubungi dia kembali, maaf jika merepotkanmu."
"Tenang saja, kau tidak merepotkanku sama sekali. Aku senang jika bisa membantumu."
Lily kemudian mencoba menghubungi Alfred kembali, namun masih saja tidak ada jawaban. Lily benar-benar kebingungan karena Alfred tidak kunjung mengangkat teleponnya.
"Jonathan, apa kau tahu bar di dekat sini?" tanya Lily.
"Ya aku tentu saja aku tahu. Ada apa?" tanya Jonathan.
"Apakah kau bisa mengantarku ke sana? Tadi Alfred bilang akan menungguku di bar dekat sini, mungkin dia berada di sana."
"Baiklah, ayo kuantar kau kesana."
Lily dan Jonathan segera menuju ke bar terdekat dengan studio milik Jonathan itu. Terlihat mobil Alfred terparkir di sana. Lily sedikit merasa lega namun juga penasaran kenapa Alfred tidak menjawab panggilannya.
"Terima kasih kau sudah mengantarku kemari." ucap Lily.
"Kau tidak perlu sungkan seperti itu kepadaku, jika aku bisa membantumu pasti akan kubantu sebisaku. Yasudah kau masuk saja, mungkin dia masih berada di dalam sana."
"Baiklah, sekali lagi terima kasih banyak atas tumpangannya."
"Alfred ... Apa kau sedang sibuk?" tanya Lily dengan nada ketus.
Alfred sangat terkejut melihat Lily sudah berdiri di sampingnya.
"Lily ... Kenapa kau kemari? Kau sudah selesai? Kenapa tidak menghubungiku?" tanya Alfred.
"Kau coba periksa saja ponselmu, sudah berapa kali aku menghubungimu tapi kau tak menjawab." jawab Lily dengan nada kesal.
Alfred kemudian mengambil ponselnya di dalam tas dan memang Lily sudah menghubunginya beberapa kali.
"Maafkan aku, ponselku berada dalam mode hening jadi aku tidak mendengarnya. Maaf ya. Ini perkenalkan teman-temanku sewaktu aku kuliah dulu."
Lily kemudian menyapa mereka dengan senyuman ramah. Alfred rupanya mengundang mereka untuk menghadiri pesta pertunangannya dengan Lily.
"Baiklah, teman-teman. Aku pergi dulu. Jangan lupa kalian harus datang akhir pekan ini." kata Alfred pada teman-temannya.
Alfred kemudian menggandeng tangan Lily untuk pulang ke rumah. Di dalam mobil, Lily hanya diam karena merasa kesal pada Alfred. Sementara Alfred yang mengetahui jika Lily sedang marah, dia juga diam karena tidak ingin Lily bertambah marah padanya.
__ADS_1
"Kenapa kau diam saja?!" bentak Lily.
"Kau juga kenapa diam saja? Aku kan sudah minta maaf padamu tadi." jawab Alfred dengan memelas.
"Tapi aku merasa kesal padamu! Kau harus membuatku tersenyum!"
"Kau pikir aku ini seorang badut? Ada-ada saja kau, Lily. Hmmm ... Bagaimana jika kita pergi ke taman kota?"
Mendengar Alfred mengajaknya ke taman kota, Lily sangat bersemangat. Dia sudah lama tidak pergi ke taman kota, cuaca hari ini juga cukup cerah.
"Taman kota? Boleh saja. Tapi kau harus membeli ice cream untukku." kata Lily.
"Hanya ice cream saja? Kau tidak sekalian meminta memindahkan taman kota ke rumahmu?" canda Alfred.
"Dasar! Jika kau tidak mau membeli ice cream untukku yasudah tidak masalah! Aku bisa membeli sendiri!"
"Siapa yang bilang aku tidak mau membelikan ice cream untukmu? Kau jangan marah terus, kau terlihat jelek jika sedang marah seperti itu."
"Terserah apa katamu!"
Alfred hanya bisa tersenyum melihat tingkah Lily yang sedang marah seperti anak kecil. Lily yang melihat Alfred tersenyum menjadi bertambah kesal.
"Kau tersenyum begitu mengejekku ya?" tanya Lily dengan nada membentak.
"Mengejek bagaimana? Aku hanya tersenyum saja." jawab Alfred.
"Apa kau sudah gila tersenyum tidak jelas begitu?"
"Iya, aku memang sudah gila. Aku tergila-gila padamu."
Lily memukul tangan Alfred dengan sangat kencang sehingga membekas warna merah di tangan Alfred. Alfred yang kesakitan hanya bisa meringis saja.
"Jika kita sudah menikah nanti, apakah kau akan tetap menjadi Alfred yang seperti ini?" tanya Lily.
"Tentu saja, aku akan selalu membuatmu tersenyum. Bahkan jika kau sedang marah padaku, aku akan tetap membuatmu tersenyum."
"Kurasa kau memang benar-benar sudah gila hahaha."
Mereka berdua sudah sampai di taman kota, Lily segera mengajak Alfred untuk membeli ice cream sesuai permintaannya tadi. Lily memesan ice cream rasa vanilla dan cokelat, begitu pun dengan Alfred. Kemudian mereka duduk di taman sembari menikmati ice cream.
__ADS_1