Falling In Love Dengan Pemabuk

Falling In Love Dengan Pemabuk
Episode 7


__ADS_3

Sesampainya di apartemen, Alfred segera mengemasi beberapa barang yang akan dibawanya pergi ke luar kota. Tak lupa Afred menghubungi Lily terlebih dulu sebelum pergi.


“Hallo Lily, aku sudah selesai berkemas. Besok pagi-pagi sekali aku harus berangkat. Jaga dirimu baik-baik ketika aku sedang tidak berada di sini.”


“Baiklah Alfred, jaga dirimu juga. Aku akan menunggumu kembali.”


“Aku akan pulang akhir pekan, kita bertemu lagi nanti.” kata Alfred kemudian menutup teleponnya dan segera berangkat.


Lily pergi untuk bekerja seperti biasanya. Dia datang lebih awal karena ingin menemui Lucas.


“Hai Lucas.” sapa Lily


“Oh hai Lily, kenapa kau datang sore begini?”


“Iya aku sengaja datang lebih awal karena ingin berbicara denganmu?”


“Bicara soal apa?”


“Aku hanya ingin meminta maaf soal kemarin, kau dan Alfred bertengkar seperti itu.”


“Lupakanlah, kau tidak perlu meminta maaf. Lagi pula itu bukan kesalahanmu.”


Lily dan Lucas kemudian melanjutkan percakapan mereka.


“Hallo Liz, ada apa menelepon?” kata Alfred.


“Hallo kak maaf mengganggu sebentar, aku hanya ingin memberi tahu kalau Ayah dan Ibu akan pulang nanti malam. Setelah dari luar kota, kau pulanglah ke rumah.”


“Baiklah aku mengerti, sampai jumpa nanti.” kata Alfred kemudian menutup teleponnya.


Orang tua Alfred adalah pebisnis sukses di bidang properti. Daniel dan Jennifer Hernandez. Mereka sering melakukan perjalanan ke luar negeri untuk menemui beberapa klien. Mereka akan datang setelah melakukan perjalanan bisnis dari Paris.


Malam harinya …


Daniel dan Jennifer telah sampai di rumah mereka. Elizabeth menyambut bahagia kedatangan orang tuanya. Elizabeth dan Alfred memang tergolong jarang sekali bertemu dengan orang tuanya karena memang mereka selalu sibuk dan lebih sering berada di luar negeri.


“Dimana kakakmu, Liz” tanya Daniel.


“Kakak sedang berada di apartemennya besok dia harus pergi ke luar kota karena ada beberapa pekerjaan. Tapi aku sudah memberi tahu jika Ayah dan Ibu datang.” jelas Elizabeth.


“Baiklah kalau begitu, Ayah dan Ibu istirahat dulu. Kami sangat lelah.” kata Daniel


Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Lily dan teman-temannya bersiap untuk pulang. Lily mengirimkan pesan kepada Alfred.


“Aku sudah selesai bekerja. Aku merindukanmu.” tulis Lily.


Lily kemudian pulang bersama David.


Sesampainya di rumah, Lily memeriksa ponselnya namun tidak ada balasan pesan dari Alfred. Lily masih mencoba berfikir positif.


“Ah mungkin Alfred sedang sibuk atau mungkin dia sudah tidur karena harus pergi pagi-pagi sekali.” gumam Lily.


Lily melihat Ayahnya yang sedang duduk di halaman belakang.


“Ayah sedang apa di sana, kenapa Ayah belum tidur?”


“Ayah sedang tidak bisa tidur Lily. Kau baru pulang?”


“Iya Ayah, aku baru saja datang. Apa yang sedang Ayah pikirkan?”


“Mengenai pria yang kau ceritakan pada Ayah, siapa namanya? Ayah lupa.”


“Namanya Alfred, kenapa Ayah?”


“Alfred anak yang sopan, tapi kau bilang dia pemabuk berat?”


“Ayah jangan terlalu memikirkan itu. Alfred pria yang baik jadi Ayah tidak perlu khawatir.”


“Bagaimana Ayah tidak memikirkannya? Kau anak kami satu-satunya! Ayah ingin kau mendapatkan pasangan yang baik.” bentak Andy dengan nada marah dan kemudian pergi meninggalkan Lily.


Lily terdiam karena Ayahnya membentaknya. Lily masuk ke dalam kamarnya setelah itu. Di dalam kamar Lily menangis sedih. Di satu sisi Lily begitu menghormati dan menyayangi orang tuanya. Tapi di sisi lain dia juga sangat menyayangi Alfred.


Lily kembali mengecek ponselnya, tapi tetap saja Alfred tidak membalas pesannya. Lily yang sedang kalut akhirnya memblokir nomor ponsel Alfred.


4 pun berlalu begitu cepat …

__ADS_1


Pagi ini Lily berencana pergi bersama teman-temannya ke festival.


“Ibu, aku akan pergi bersama David dan teman-teman lainnya.” kata Lily


“Kau mau kemana?” tanya Gwen


“Kami akan pergi ke festival, Ibu mau kubelikan sesuatu?”


“Tidak usah Lily, kau pergilah bersenang-senang.”


“Ibu, apakah Ayah masih marah padaku?”


“Ibu tidak tahu. Kau cobalah berbicara dengan Ayahmu.”


“Ayah tidak mau berbicara padaku beberapa hari ini, aku bingung.”


“Kau tenanglah Lily, Ibu nanti yang akan bicara pada Ayahmu. Belakangan ini Alfred tidak terlihat, dimana dia?”


“Alfred pergi ke luar kota karena ada pekerjaan, aku juga tidak berbicara dengannya beberapa hari ini.”


“Memangnya kenapa? Kau ada masalah dengannya?”


“Tidak Ibu, aku hanya tidak tahu harus bagaimana. Ayah melarang hubunganku dengan Alfred. Aku jadi bingung.”


“Yasudah kau pergilah dulu saja dengan teman-temanmu, biar Ibu yang bicara pada Ayahmu.”


“Baiklah Ibu, aku pergi dulu.”


“Hati-hati Lily, jaga dirimu baik-baik.”


Lily kemudian pergi ke festival bersama teman-temannya. Di sana Lily melepaskan penatnya dengan menaiki wahana roller coaster bersama dengan teman-temannya.


“Rasanya seperti hampir meninggal ya hahaha” canda Lily bersama teman-temannya.


“Bagaimana kalau kita pergi mencari gulali, sepertinya tadi aku melihat ada orang berjualan gulali di dekat trampolin.” ajak Lily.


Setelah membeli gulali, Lily beserta teman-temannya mencari tempat duduk untuk menikmati gulali yang baru saja mereka beli.


Saat asyik memakan gulali, Lily melihat sosok yang tidak asing baginya. Setelah rombongan itu mendekat, ternyata memang benar itu Alfred bersama teman-temannya. Alfred terlihat merangkul seorang wanita sambil berjalan ke arah Lily yang sedang duduk.


Alfred yang mendengar namanya dipanggil mencoba mencari-cari siapa yang memanggil namanya. Betapa terkejutnya Alfred melihat Lily berada di sana juga.


Seketika Alfred melepaskan tangannya dari pundak wanita yang bersamanya itu dan kemudian menarik tangan Lily.


“Sedang apa kau di sini?” tanya Alfred.


“Menurutmu jika orang-orang pergi kemari untuk apa?” jawab Lily dengan ketus.


“Dimana ponselmu? Kenapa tidak bisa dihubungi?” tanya Alfred dengan membentak.


“Kau pikir saja sendiri!”


“Kau ini apa-apaan!”


Dengan marah Alfred meraih tas Lily dan mencari ponsel Lily. Alfred membanting ponsel milik Lily hingga remuk.


Lily seketika diam melihat ponselnya dirusak oleh Alfred. Dengan tangan yang gemetar, Lily mengambil ponselnya yang sudah hancur. Tanpa berkata-kata Lily berlari menuju pintu keluar dan menaiki taksi untuk pulang ke rumah.


Selama di perjalanan Lily terus menatap ponselnya yang hancur. Lily tidak habis pikir dengan perlakuan Alfred padanya. Tak sadar air mata Lily menetes membasahi pipinya.


“Nona, apakah anda baik-baik saja?” tanya sopir taksi itu.


“Hmmm aku tidak apa-apa. Anda menyetir saja.” jawab Lily.


Sesampainya di rumah, Lily langsung menuju kamarnya dan mengunci pintunya. Lily berbaring di tempat tidurnya dan menutupi wajahnya dengan selimut. Lily menangis di balik selimutnya itu.


“Kenapa dia begitu tega padaku. Sebenarnya salah apa aku padanya?” batin Lily.


Di sela-sela tangisnya, Lily mendengar pintu kamarnya di ketuk.


“Lily, apa kau di dalam?” tanya Gwen.


“Iya Ibu, ada apa?” jawab Lily


“Keluarlah, Alfred ada di luar ingin bertemu denganmu.”

__ADS_1


“Tolong Ibu katakan padanya aku tidak ingin menemuinya.”


“Ada apa dengan kalian berdua?”


“Tidak ada apa-apa Ibu, tolong biarkan aku sendiri dulu.”


Gwen kemudian pergi menemui Alfred di luar.


“Maaf Alfred, Lily sepertinya sedang tidak ingin diganggu. Mungkin kau bisa datang lain waktu.” kata Gwen


“Tante, saya mohon izinkan saya masuk untuk menemui Lily.” ucap Alfred.


“Sebenarnya ada apa dengan kalian berdua?”


“Saya mengaku bersalah pada Lily, saya ingin meminta maaf padanya. Tolong izinkan saya masuk menemui Lily.”


Karena tidak tega dengan Alfred. Gwen membiarkan Alfred masuk ke dalam.


“Lily, apa kau bisa membuka pintunya sebentar saja?” pinta Alfred dari balik pintu kamar Lily.


“Pergilah! Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi!” teriak Lily.


“Jangan bicara seperti itu, tolong buka pintunya sebentar saja.”


“Ku bilang pergi saja! Jangan ganggu aku lagi!”


Andy yang mendengar ada kegaduhan, mencoba mencari-cari pistol miliknya yang dia simpan di laci dan kemudian Andy keluar kamar. Dengan mengacungkan pistolnya, Andy berjalan ke arah kamar Lily.


“Kau pergi atau kutembak!” kata Andy dengan marah.


Alfred kemudian berjalan mendekati Andy. Alfred mengarahkan pistol yang dibawa Andy ke kepalanya.


“Silahkan anda tembak kepala saya dan biarkan saya mati.” ucap Alfred.


Mendengar Andy berteriak, dengan cepat Lily membuka pintu kamarnya dan mendapati pistol milik Ayahnya sudah berada di kepala Alfred.


“Ayaaaahhhhh ….” teriak Lily.


Lily berlari ke arah Ayahnya dan merebut pistolnya.


“Kenapa kau merebut pistol Ayahmu? Kau bilang kau tidak ingin bertemu denganku lagi kan? Biarkan saja Ayahmu menembak kepalaku!”


“Aku mohon kau pulanglah, aku berjanji akan menemui setelah ini. Tapi tolong kau pulanglah dulu.”


Dengan memelas Lily meminta Alfred untuk pulang. Gwen kemudian meraih tangan Andy dan menuntunnya masuk ke dalam kamar.


“Kau tahu Lily, aku tidak bisa hidup tanpamu. Kau sudah berjanji padaku kan kalau kau akan terus bersamaku dalam kondisi apapun?”


“Tolonglah Alfred kau pulang dulu, besok aku akan menemuimu.”


“Temui aku malam ini, tolonglah Lily aku mohon padamu.”


“Baiklah baiklah, aku akan menemuimu malam ini.”


“Aku tunggu kau di apartemenku pukul tujuh malam nanti.”


“Baiklah, sekarang kau pulanglah dulu.”


“Aku akan menunggumu sampai kau datang.”


Kemudian Alfred pergi meninggalkan rumah Lily. Lily segera masuk ke dalam rumah untuk menemui Ayahnya.


“Ayah, tolong jangan berbuat seperti itu.”


“Pria itu sudah membuat keributan di rumah ini, Lily Ayah mohon padamu jangan dekati pria itu lagi.” bentak Andy.


Sambil memegang tangan Ayahnya, Lily menangis dan tidak tahu harus berbuat apa.


“Ayah, aku tidak pernah benar-benar jatuh cinta dengan seorang pria manapun hingga aku bertemu dengannya. Tolong mengertilah Ayah.” pinta Lily dengan terisak-isak.


“Ayah yakin pasti suatu saat kau akan menemukan pria yang jauh lebih baik daripada pria itu.”


“Aku mohon Ayah jangan berbicara seperti itu. Tolong beri dia kesempatan, aku akan membantunya untuk berubah. Aku mohon pada Ayah.”


Andy hanya terdiam dan melepaskan tangan Lily. Gwen yang tidak tega melihat Lily menangis kemudian membawa Lily masuk ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2