Falling In Love Dengan Pemabuk

Falling In Love Dengan Pemabuk
Episode 22


__ADS_3

Esok harinya di apartemen Alfred …


Alfred mengundang teman-temannya untuk datang ke apartemennya malam ini. Alfred ingin merayakan keberhasilan proyek barunya. Seperti biasa Alfred menyiapkan puluhan bir untuk mereka.


Tak lupa Alfred mengajak Lily untuk datang, dia segera menghubungi Lily.


“Hallo Lily, aku berencana mengundang teman-temanku untuk datang ke apartemenku. Kau bisa datang juga kan?”


“Ada acara apa kau mengundang teman-temanmu? Kau berulang tahun?”


“Tidak, aku hanya ingin merayakan keberhasilanku mendapatkan proyek baru. Kau bisa datang kan nanti malam?”


“Entahlah Alfred, aku harus bekerja. Tapi jika masih sempat, aku akan datang.”


“Baiklah kalau begitu, kuharap kau bisa menyempatkan waktumu untuk datang. Aku juga ingin mengenalkanmu pada teman-temanku.”


“Aku tidak bisa berjanji padamu, tapi akan kuusahakan untuk datang.”


“Yasudah, jika kau tidak bisa datang juga tidak apa-apa.”


Alfred langsung menutup teleponnya karena merasa kesal Lily tidak tahu apakah dia akan datang atau tidak.


Sementara di rumah Lily …


“Pasti dia marah padaku. Seperti anak kecil saja.” gumam Lily.


Lily kemudian mengirimkan pesan kepada Alfred.


“Kau marah padaku ya? Aku minta maaf, aku kan harus bekerja untuk menghidupi keluargaku. Aku mohon pengertianmu.” tulis Lily.


“Aku tidak marah padamu. Kau tidak usah datang saja kalau memang kau harus bekerja. Besok kita bertemu lagi.” balas Alfred.


Lily terpikir untuk membeli hadiah untuk Alfred. Dia menghubungi Shera untuk menemaninya membeli hadiah.


“Hallo Shera.” sapa Lily.


“Hallo Lily, ada apa kau menelepon?” tanya Shera


“Apa kau sedang sibuk saat ini?”


“Tidak, aku tidak sibuk. Ada apa?”


“Aku ingin kau menemaniku ke mall, aku ingin membeli hadiah untuk Alfred.”


“Alfred berulang tahun hari ini?”


“Tidak, dia baru saja mendapatkan proyek baru. Dia mengadakan pesta nanti malam. Jadi aku ingin membeli hadiah untuknya.”


“Baiklah aku akan menemanimu. Kau akan datang menjemputku atau kita bertemu di mall?”


“Aku akan menjemputmu setelah ini. Kau bersiap-siaplah.”

__ADS_1


“Baiklah, kau hati-hati di jalan ya.”


Lily menutup teleponnya dari mengambil kunci mobil Ayahnya yang berada di kamar. Segera Lily berangkat ke rumah Shera.


20 menit perjalanan, Lily sudah sampai di rumah Shera. Terlihat David sedang berbincang dengan seseorang.


“Hai David, Shera ada di dalam kan?” sapa Lily.


“Hai Lily, Shera ada di dalam. Kau masuk saja.”


Lily masuk ke dalam dan langsung menuju ke kamar Shera.


“Shera, aku sudah datang. Apa kau sudah siap?” tanya Lily.


“Ya, aku sudah siap. Ayo kita pergi sekarang.”


Lily dan Shera kemudian berpamitan pada David dan langsung pergi ke mall untuk membeli hadiah.


“Sebenarnya proyek apa yang sedang dikerjakan oleh Alfred?” tanya Shera.


“Alfred sepertinya sedang mendapatkan proyek untuk mendesain hotel. Tapi entahlah aku tidak begitu paham.” jawab Lily.


Jalanan menuju ke mall kali ini terlihat padat.


“Apa kau sudah tidak takut lagi menyetir?” tanya Shera.


“Iya aku terpaksa menyetir karena aku harus menjemputmu agar kau bisa menemaniku hehehe.” canda Lily.


Dulu Lily pernah mengalami kecelakaan mobil sekitar setahun yang lalu. Dan itu membuat Lily agak trauma untuk menyetir.


“Kau ingin membeli apa untuk Alfred?” tanya Shera.


“Rencananya aku ingin membeli jam tangan untuknya, bagaimana menurutmu?”


“Ide bagus. Kau beli saja jam tangan untuk hadiah Alfred. Akan kubantu pilihkan untukmu nanti.”


Mereka berdua berjalan menuju ke toko jam tangan. Segera pegawai toko jam tangan itu melayani mereka. Setelah berdiskusi dengan Shera dan dibantu dengan pegawai toko itu, Lily memilih jam tangan warna hitam untuk hadiah Alfred.


Setelah membeli hadiah untuk Alfred, Lily dan Shera segera pulang karena Lily akan bersiap untuk berangkat kerja.


“Terima kasih ya kau mau menemaniku.” ucap Lily.


“Kau tidak perlu berterima kasih, seperti dengan orang lain saja.” jawab Shera.


Sampai di rumah Shera, Lily langsung berpamitan untuk pulang. Terlihat David sudah tidak ada di rumah.


Lily melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumahnya.


“Kau pasti akan terkejut melihatku datang nanti malam, semoga kau menyukai hadiah yang kuberikan.” batin Lily.


Sesampainya di rumah, Lily segera mandi dan bersiap untuk pergi ke Lion Kafe.

__ADS_1


Sementara di apartemen Alfred …


Alfred sudah mulai menata makanan dan minuman yang akan disuguhkan untuk teman-temannya. Alfred memesan pizza, membeli beberapa makanan ringan dan juga minuman kaleng. Tak lupa juga mengeluarkan beberapa botol bir yang sudah dibelinya tadi.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Teman-teman Alfred pun mulai berdatangan.


“Sudah lama sepertinya kita tidak berpesta, ini saat yang tepat untuk kita minum bersama.” ucap salah satu teman Alfred.


“Iya benar. Terakhir kita minum bersama di Lion Kafe waktu acara ulang tahunmu.” jawab Alfred.


Alfred segera membuka bir untuk diminum bersama.


Malam itu Alfred dan teman-temannya menghabiskan puluhan bir. Membuat mereka menjadi mabuk.


Bel pintu pun berbunyi. Dengan berjalan sempoyongan Alfred membuka pintu. Begitu pintu terbuka Lily terkejut melihat Alfred yang sudah dalam kondisi mabuk.


“Lily oh Lily akhirnya kau datang juga.” ucap Alfred.


Alfred kemudian menarik tangan Lily dan mengajaknya masuk ke dalam.


“Hai teman-teman apakah kalian ingat dengannya? Dia penyanyi Lion Kafe yang waktu itu bernyanyi di acara ulang tahun. Aku sedang kencan bersamanya saat ini.” ucap Alfred.


Merasa situasi tidak baik, Lily segera melepaskan tangan Alfred yang sedari tadi memegangnya.


Lily sangat kesal melihat Alfred mabuk-mabukan seperti ini.


“Siapa namanya?” tanya salah seorang teman Alfred.


“Lily … Nama wanita cantik ini Lily. Kalian pasti sangat iri padaku kan? Aku bisa mendapatkan wanita secantik dia.” ucap Alfred.


Alfred kemudian mencoba untuk mencium bibir Lily. Dengan cepat Lily menghindar.


“Kenapa kau tidak mau kucium? Bukannya aku sering kali menciummu? Ayo kemarilah cium aku.” ucap Alfred.


Lily yang sangat marah kemudian menampar pipi Alfred. Seketika semuanya terdiam. Lily merasa harga dirinya direndahkan oleh Alfred di hadapan teman-temannya.


Lily melemparkan hadiah yang dibelinya tadi dan segera meninggalkan apartemen Alfred.


Teman-teman Alfred yang melihat Alfred ditampar oleh Lily kemudian menertawakan Alfred.


“Kau ini payah sekali, kau ditampar dan kau hanya diam saja? Kau sangat payah.”


“Ahhhh … Kalian yang payah. Pergi kalian semua! Acara sudah selesai! Aku mau tidur!” bentak Alfred.


Mereka kemudian meninggalkan apartemen Alfred sambil terus menertawakannya.


Setelah mereka pergi, Alfred mengambil hadiah dari Lily. Kemudian dia berjalan ke arah kamarnya sambil memeluk hadiah itu. Alfred membuka hadiahnya dan lalu memakainya.


Alfred terus memandang jam tangan pemberian Lily itu sambil berbaring di tempat tidur. Tanpa sadar Alfred pun menangis hingga tertidur.


Di rumah Lily …

__ADS_1


Lily menangis di dalam kamarnya karena perlakuan Alfred padanya. Dia merasa tak pernah direndahkan seperti itu sebelumnya. Lily kemudian meraih ponselnya dan memblokir nomor Alfred serta menghapus nomornya.


“Aku tidak akan pernah memaafkan perbuatanmu kali ini padaku. Kukira aku akan membuatku terkejut dengan kedatanganku, tak kusangka justru aku yang mendapat kejutan” gumam Lily sambil terus menangis.


__ADS_2