
Setelah Bianca dan Julie pergi, Alfred menghampiri Lily di kamar.
“Mereka sudah pergi?” tanya Lily.
“Iya, baru saja mereka pergi. Aku sungguh tidak tahu Julie datang bersama dengan Bianca.”
“Aku percaya padamu. Aku baru ingat wanita itu yang datang ke rumah beberapa hari lalu. Dia yang mengatakan kalau aku harus menjauhimu.”
“Benarkah? Bagaimana dia bisa mengetahui alamat rumahmu? Pasti karena Bianca.”
“Yasudah biarkan saja, mungkin Bianca tidak menyukaiku.”
“Julie dan Bianca memang bersahabat semenjak mereka kuliah di Australia. Aku akan bicara pada Bianca nanti.”
“Tidak perlu, biarkan saja. Apa kau bisa mengantarku pulang?”
“Baiklah, aku akan mengantarmu pulang. Aku minta maaf atas sikapku. Tolong maafkan aku.”
“Sudahlah lupakan saja. Aku tidak mau terus menerus memikirkan itu.”
Alfred dan Lily berangkat menuju ke rumah Lily. Di tengah perjalanan hujan pun turun dengan lebat. Tiba-tiba mobil Alfred terhenti.
“Ada apa ini? Kenapa mobilmu tiba-tiba berhenti?”
“Aku tidak tahu, kau tunggu dulu di sana. Aku akan turun memeriksa mobilku.”
Alfred turun dari mobilnya, hujan yang sangat lebat seketika membasahi tubuhnya. Tak lama Alfred pun kembali ke dalam mobil.
“Ada masalah apa?”
“Bannya kempes, tunggu ya aku akan ganti bannya dulu.”
“Apa kau butuh bantuan?”
“Tidak, tidak perlu. Kau tunggu saja di dalam. Aku tak akan lama.”
Alfred kemudian mengganti bannya yang kempes. Setelah sekitar 20 menit, Alfred pun selesai mengganti bannya.
“Sudah selesai, ayo kita jalan lagi.”
“Tubuhmu basah, kau bisa sakit nanti. Apa kau tidak menyimpan baju di mobilmu?”
“Tidak, tidak baju di mobilku. Jangan khawatirkan aku. Yang terpenting kau sampai rumah dulu.”
Sekitar 25 menit perjalanan Alfred dan Lily sudah sampai. Lampu rumah Lily masih menyala.
Lily melihat ke arah Alfred, wajahnya sudah pucat dan menggigil. Kemudian Lily memegang dahi Alfred.
“Badanmu panas, wajahmu juga pucat. Masuklah dulu ke rumah.”
Alfred dan Lily pun turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu terlihat Andy dan Gwen sedang menonton televisi.
“Lily kau baru pulang? Ibu dan Ayah mengkhawatirkanmu. Malam ini hujan sangat lebat.” kata Gwen.
“Ibu… Ayah… Alfred mengantarku pulang. Tapi sekarang badannya panas dan wajahnya pucat.”
“Bawalah dia ke kamarmu, kasihan dia.” kata Andy.
“Baik Ayah, terima kasih.”
__ADS_1
Lily membawa Alfred ke kamarnya.
“Aku akan bawakan baju ganti untukmu. Kau tunggu di sini ya.”
Lily keluar kamar dan mendapati Ibunya sudah mempersiapkan baju ganti untuk Alfred.
“Ibu bawakan baju Ayahmu untuk dipakai Alfred sementara.”
Lily masuk kembali ke kamarnya dan meminta Alfred segera mengganti bajunya.
“Kau bisa sendiri kan?”
“Iya aku masih bisa mengganti bajuku sendiri. Terima kasih.”
Lily lalu keluar dari kamarnya dan menemui Ayah dan Ibunya.
“Alfred sedang ganti baju sekarang. Aku akan buatkan sup untuknya.”
“Jangan lupa kau kompres dahinya agar panasnya cepat turun.” kata Andy.
“Baik Ayah.”
Lily menuju ke dapur untuk membuatkan sup dan teh hangat.
Setelah selesai, Lily kemudian masuk ke kamar. Alfred terlihat sudah berbaring.
“Alfred, ini aku buatkan sup dan teh hangat untukmu. Makanlah dulu.”
Lily membantu Alfred untuk duduk.
“Aku suapi ya, kau harus makan setelah itu aku akan membantu kompres dahimu agar panasmu turun.”
“Aku tidak marah padamu. Sudah jangan banyak bicara. Habiskan dulu supnya.”
Setelah menghabiskan supnya, Lily mengompres dahi Alfred dengan air hangat dan membiarkannya istirahat.
“Kau tidurlah sekarang, semoga demammu cepat turun. Aku tidak tega melihatmu sakit begini karena mengantarku pulang kau jadi seperti ini. Maafkan aku ya.”
“Kau tidak perlu minta maaf, ini kan bukan kesalahanmu.”
“Tapi tetap saja aku merasa bersalah padamu.”
“Yasudah aku tidur dulu ya.”
“Baiklah kau istirahatlah, aku akan menjagamu.”
Lily duduk di kursi samping tempat tidurnya. Rasa kantuk Lily pun tak tertahan. Lily kemudian memejamkan matanya dan tertidur sambil tangannya memegang tangan Alfred.
Esok paginya, Alfred terbangun dan mendapati Lily tertidur di kursi serta masih memegang tangannya. Dengan sangat hati-hati Alfred memindahkan tubuh Lily ke tempat tidur.
Alfred kemudian keluar dari kamar Lily. Alfred berjalan mendekati Gwen yang sedang membersihkan halaman depan rumah.
“Selamat pagi Tante.” sapa Alfred.
“Ohh selamat pagi Alfred, kau sudah bangun ya. Dimana Lily?” tanya Gwen.
“Lily masih tertidur, maaf saya jadi merepotkan.”
“Kau sama sekali tidak merepotkan kami, kau kan sedang sakit. Bagaimana sekarang keadaanmu? Apakah sudah membaik?”
__ADS_1
“Saya merasa lebih baik sekarang, Lily merawat saya dengan baik semalam.”
“Syukurlah kalau begitu.”
“Maaf kemarin saya tidak bisa datang.”
“Tidak apa-apa. Jika kalian sedang ada masalah tolong selesaikanlah baik-baik. Salah satu diantara kalian harus ada yang mengalah.”
“Baik Tante, terima kasih atas sarannya.”
“Mungkin sebaiknya kau bangunkan saja Lily, sarapannya sudah siap dari tadi. Kita makan bersama-sama.”
“Baiklah Tante, aku akan segera membangunkan Lily.”
Sementara Alfred membangunkan Lily, Gwen memanggil Andy dan membantunya duduk di meja makan.
“Lily … Lily … Bangunlah. Ayo kita sarapan dulu. Semua sudah menunggumu. Ayolah bangun jangan malas-malasan seperti ini.”
Lily membuka matanya perlahan-lahan.
“Aku masih mengantuk, kau ini mengangguku saja. Jam berapa ini sekarang?”
“Sudah jam 7 pagi, ayo bangunlah.”
Lily beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi untuk cuci muka.
“Rasanya baru sebentar aku tidur, ternyata sudah pagi saja.”
Alfred hanya tersenyum. Kemudian Lily memeriksa dahi Alfred.
“Syukurlah demammu sudah turun. Kau terkena hujan langsung demam. Lemah sekali ternyata kau ini, pasti sewaktu kau kecil tidak pernah main hujan ya?”
“Terima kasih ya sudah merawatku.”
“Iya sama-sama, ayo kita keluar.”
Lily dan Alfred menuju ke meja makan untuk menikmati sarapannya.
“Lily, operasinya akan dilakukan empat hari lagi.” kata Andy.
“Benarkah? Semoga semua berjalan lancar. Aku sudah tidak sabar.” kata Lily.
“Maaf jika saya menyela, kalau boleh tahu operasi apa Om?” tanya Alfred.
“Ayah mendapatkan donor mata, Ayah akan bisa melihat kembali.” kata Lily.
“Ya benar, Ayah akan melihat wajah pria yang membuat anakku ini terus menerus menangis.” ucap Andy.
Semuanya seketika terdiam.
“Hahahaha, kenapa kalian diam saja. Maaf Ayah hanya bercanda.” ucap Andy.
“Ayah… mengagetkanku saja. Bercanda Ayah sungguh tidak lucu sama sekali.” ucap Lily.
“Tapi Om benar, memang Lily sudah sering menangis karena aku. Aku juga sebenarnya ingin meminta maaf pada Om dan Tante karena kemarin tidak bisa datang.” ucap Alfred.
“Tidak apa-apa, hari ini kan kau sudah datang. Lupakan saja yang lalu-lalu.” kata Andy.
Mereka kemudian berbincang panjang lebar. Andy perlahan sudah mau menerima Alfred kembali. Itu dilakukannya demi kebahagiaan Lily. Lily tampak begitu bahagia dengan perubahan sikap Ayahnya.
__ADS_1