Falling In Love Dengan Pemabuk

Falling In Love Dengan Pemabuk
Episode 24


__ADS_3

Ketika Alfred sampai di apartemennya, dia mengeluarkan semua bir yang ada di lemari pendingin. Satu per satu botol bir dia buka dan diminum hingga habis. Alfred benar-benar patah hati sekarang ini. Keadaannya sangat kacau.


Sementara Lily, dia juga bersedih atas perpisahannya dengan Alfred. Hatinya juga hancur ketika harus mengakhiri hubungannya dengan pria yang dia sayangi itu. Dalam amarahnya, Lily juga merasa tidak tega dengan Alfred karena memutuskan hubungan mereka secara sepihak.


“Apa aku sejahat itu padanya? Tapi aku tidak bisa melupakan kejadian itu. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.” gumam Lily.


Lily membaringkan tubuhnya di tempat tidur dan mengambil ponselnya. Dia mencoba menghubungi Alfred namun dia sudah menghapus nomornya.


“Aku lupa sudah menghapus nomor ponsel Alfred. Apa aku datang saja ke apartemennya ya? Tapi apa dia mau menerimaku? Aku jadi bingung begini.” gumam Lily.


Lily kemudian menghubungi Shera untuk meminta nasehatnya.


“Hallo Shera, apa kau sedang sibuk sekarang?”


“Hallo Lily, ada apa memangnya? Aku sedang tidak sibuk saat ini.”


“Aku ingin bercerita padamu sekaligus meminta saranmu.”


“Soal apa?”


“Soal Alfred.”


Lily kemudian menceritakan panjang lebar mengenai apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Alfred.


“Sebaiknya kau jujur saja pada dirimu sendiri, jika kau masih mencintainya kenapa kau memutuskan hubunganmu dengannya? Alfred memang salah tapi dia sudah berusaha meminta maaf padamu.” ucap Shera.


“Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku sudah tidak bisa berkomunikasi lagi dengan Alfred. Apa aku harus datang ke apartemennya?”


“Itu terserah padamu saja. Tapi jika kau ingin melanjutkan hubunganmu dengan Alfred, kau jangan mudah berpikir untuk mengakhiri hubungan kalian. Jika kalian saling menyayangi, aku yakin kalian akan terus bersama apapun masalahnya.”


“Baiklah Shera, terima kasih sudah mau mendengarkan ceritaku. Kapan-kapan aku akan berkunjung ke rumahmu. Sampai jumpa.”


Lily menutup teleponnya.


“Sebaiknya besok saja aku menemui Alfred. Kepalaku kenapa jadi pusing begini.” gumam Lily.


Sementara di apartemen Alfred …


Alfred sudah minum belasan botol bir yang tersisa di apartemennya. Alfred terus memikirkan Lily dan memandangi jam tangan pemberian Lily.


“Kalau ini yang kau mau baiklah, aku tidak akan menganggumu lagi. Semoga kau bahagia tanpa aku.” gumam Alfred.


Alfred melepaskan jam tangan itu dari tangannya kemudian menghancurkannya. Tiba-tiba ponsel Alfred berdering. Itu panggilan dari Natasha


“Hallo Alfred, kau ada dimana sekarang?” tanya Natasha.


“Ada apa menghubungiku? Apa ada hal penting?” tanya Alfred.


“Tidak ada hal penting, aku hanya ingin bertemu denganmu. Apakah kau ada waktu?”


“Datanglah ke apartemenku sekarang.”


“Baiklah, aku akan kesana. Tolong kau kirim pesan saja lantai berapa unitmu.”


“Baiklah. Aku tunggu kau datang.”


Natasha kemudian menutup teleponnya.


Alfred segera mengirim pesan pada Natasha untuk memberi tahu unit apartemennya.


Tak sampai 10 menit Natasha sudah di depan pintu, segera Alfred membuka pintu dan mempersilahkan Natasha masuk. Natasha agak terkejut karena keadaan Alfred yang berantakan. Banyak sisa-sisa botol bir yang berserakan di lantai.


“Kau meminum ini semua?” tanya Natasha.


“Ya, benar. Maaf jika kau harus melihatnya.”


“Tidak apa-apa. Kau sedang ada masalah?”


“Ya, aku kehilangan wanita yang aku sayangi. Dia memutuskan hubungannya denganku. Aku benar-benar kacau sekarang.”

__ADS_1


Natasha mendekati Alfred dan memeluknya. Alfred yang terbawa suasana kemudian mencium bibir Natasha. Natasha tak menolak ciuman dari Alfred.


“Kau tidak usah sedih, ada aku di sini.”


Alfred membawa Natasha ke kamar dan mereka melanjutkan berciuman. Natasha membuka baju Alfred dan kemudian melepaskannya. Mereka kemudian melakukan hubungan badan.


“Apa kau menikmatinya?” tanya Natasha.


“Maaf jika aku harus berbuat begini padamu.”


“Tidak masalah, lagi pula aku juga menyukaimu sejak pertama kali aku bertemu denganmu.”


“Benarkah?”


“Ya, benar. Jika kau mau aku bisa menemani hari-harimu.”


“Baiklah kalau begitu. Tapi jangan sampai Tuan Jones tahu mengenai hal ini. Aku tidak ingin dia berpikiran buruk padaku.”


“Tenang saja Alfred, itu bisa diatur.”


Natasha kemudian membersihkan diri dan berpamitan untuk pulang. Sementara Alfred masih terbaring di tempat tidurnya.


“Jika kau ingin melakukannya lagi, hubungi aku.”


“Baiklah Natasha, sampai jumpa lagi.”


Natasha meninggalkan apartemen Alfred dengan perasaan senang karena berpikir dia bisa mendapatkan Alfred.


Setelah Natasha meninggalkan apartemennya, Alfred kembali teringat pada Lily.


“Aku harus menahan diri, jika aku memaksakan bertemu dengannya pasti dia akan semakin membenciku.” gumam Alfred.


Keesokan harinya …


Pagi-pagi sekali Lily sudah bangun karena tidak bisa tidur dengan nyenyak. Lily meraih ponselnya dan menghubungi Lucas.


“Ada apa Lily?”


“Apa kau punya nomor ponsel Alfred?”


“Ya, aku punya. Kenapa memangnya?”


“Tolong kirimkan padaku, aku ingin menghubunginya tapi aku sudah menghapus nomor ponselnya. Setelah ini tolong kirimkan padaku.”


“Baik, akan segera aku kirim.”


Lily menutup teleponnya. Tak lama dia mendapatkan pesan dari Lucas yang berisi nomor ponsel Alfred. Tanpa berpikir panjang, Lily segera menghubungi Alfred.


“Hallo Alfred, bagaimana kabarmu?”


“Ada apa kau menghubungiku?”


“Aku ingin bertemu denganmu, apa kau ada waktu?”


“Lily, kau jangan mempermainkan aku. Kau memutuskan hubungan kita. Kau juga memintaku untuk tidak mengganggumu. Dan sekarang kau ingin bertemu denganku?”


“Kalau kau tidak bisa juga tidak apa-apa.”


“Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu? Jika kau hanya ingin melukai hatiku sebaiknya kita tidak perlu bertemu. Aku tidak sanggup melihat wajahmu, itu membuatku semakin terluka.”


“Baiklah tolong maafkan aku, aku tidak akan mengganggumu lagi.”


“Lily … Kau ingin aku berbuat apa? Katakan padaku apa yang kau inginkan dariku?”


“Aku tidak menginginkan apapun darimu. Aku hanya ingin bertemu denganmu. Siapa tahu setelah ini kita bisa menjadi teman baik.”


“Teman baik katamu? Kau jangan bodoh Lily. Aku tidak ada keinginan untuk berteman denganmu. Aku menginginkan kau menjadi milikku.”


Tanpa berkata apapun, Lily menutup teleponnya. Alfred mencoba untuk menghubungi Lily kembali namun Lily tidak mengangkat teleponnya. Alfred mencoba mengirim pesan pada Lily.

__ADS_1


“Kau ingin bertemu denganku dimana? Kapan? Atau sekarang aku ke rumahmu?” tulis Alfred.


“Tidak perlu. Aku harus ke rumah sakit nanti menjemput Ayahku untuk pulang ke rumah.”


“Benarkah? Ayahmu sudah boleh pulang? Apa boleh aku ikut bersamamu menjemput Ayahmu?” tulis Alfred.


Alfred menunggu balasan pesan dari Lily, namun Lily tak kunjung membalas pesannya. Alfred memutuskan untuk datang ke rumah sakit saja.


Segera dia mandi dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Alfred bertemu dengan Gwen yang sedang berada di depan kamar.


“Apa kabar Tante?”


“Alfred … Kau sendirian? Dimana Lily?”


“Aku datang sendiri, maaf baru sempat menjenguk lagi. Kabarnya Om sudah bisa pulang hari ini?”


“Iya benar, nanti sore kita bisa kembali ke rumah. Kenapa kau tidak datang dengan Lily?”


“Lily mengakhiri hubungan kami, karena kebodohanku.”


“Apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian?”


“Ceritanya panjang Tante, aku tidak bisa memberi tahu sekarang.”


“Baiklah kalau begitu, kau mau masuk?”


“Boleh saja jika aku diizinkan untuk masuk.”


Alfred dan Gwen kemudian masuk untuk bertemu dengan Andy. Mereka berbincang santai selama di dalam kamar. Tak lama ada seorang perawat yang masuk.


“Permisi Tuan dan Nyonya Anderson, untuk administrasi dan pembayaran sudah bisa dilakukan sekarang. Silahkan pergi ke bagian administrasi untuk menyelesaikannya. Terima kasih.” kata perawat itu kemudian meninggalkan kamar.


“Biar aku saja yang mengurus.”


Alfred turun ke bawah untuk menyelesaikan administrasi dan pembayarannya. Setelah selesai, Alfred kembali naik ke atas. Saat Alfred masuk, ternyata Lily sudah ada di sana.


“Alfred … Kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Lily.


“Ya aku datang sekitar 1 jam yang lalu. Aku baru saja menyelesaikan administrasi. Jika ingin pulang sekarang sudah bisa, tadi petugas rumah sakit menginformasikan seperti itu.” jelas Alfred.


“Terima kasih banyak Alfred, sebaiknya kita pulang sekarang saja. Tadi Dokter sudah mengatakan untuk kontrol 3 hari lagi. Perban akan dibuka setelahnya.” ucap Gwen.


“Terima kasih, kami jadi merepotkanmu.” kata Lily.


Kemudian Lily menarik tangan Alfred keluar dari kamar.


“Kenapa kau kemari tanpa memberi tahu aku?” tanya Lily.


“Aku sudah berjanji akan membantu untuk membayar semua tagihan rumah sakit. Saat kau beri tahu jika Ayahmu sudah bisa pulang, aku segera kemari.” jawab Alfred.


“Kau tidak perlu repot-repot seperti itu, aku akan mengganti seluruh biaya rumah sakitnya. Anggap saja aku berhutang padamu. Sekarang kau pulang saja, terima kasih sudah datang.”


Tanpa menjawab, Alfred segera meninggalkan rumah sakit karena permintaan Lily.


Lily kembali masuk ke dalam kamar.


“Ayah … Ibu … Ayo kita pulang sekarang.”


“Alfred kemana?” tanya Andy.


“Tadi dia berpamitan pulang karena ada hal penting mendadak. Dia menitip salam untuk Ayah dan Ibu.”


“Oh begitu, yasudah ayo kita pulang.” ucap Andy.


Gwen tahu jika Lily sedang berbohong padanya dan Andy. Tapi Gwen sengaja tidak menegur Lily karena tidak ingin mencampuri urusan mereka berdua.


Mereka segera berkemas dan pulang ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2