
Setelah kurang lebih 1 jam 30 menit, Lily sudah selesai memasak ayam kecap. Segera dia menata makanannya di meja makan.
Kemudian Lily masuk ke dalam kamar untuk memanggil Alfred, namun ternyata Alfred sedang tertidur lelap. Lily merasa tidak tega jika harus membangunkan Alfred. Dia mendekati Alfred dan mengusap lembut pipinya. Karena terkejut, sontak tangan Alfred menampik tangan Lily yang sedang mengusap pipinya itu. Tidak sengaja Lily tertampar oleh tangannya sendiri.
"Awww ... Sakit. Kau ini!" gertak Lily.
"Lily, maafkan aku. Aku tidak sengaja. Kau membuatku terkejut tadi. Maafkan aku." kata Alfred.
"Iya, yasudah kalau begitu kita makan dulu saja. Makanannya sudah siap di meja makan."
"Benarkah? Aku sudah lapar sekali ini. Ayo kita makan sekarang."
Alfred dan Lily kemudian keluar dari kamar dan berjalan menuju ke meja makan. Lily sudah menyiapkan ayam kecap, beberapa makanan ringan dan juga minuman soda.
"Semoga ini saja cukup ya untuk merayakan hehehe." canda Lily.
"Ini sudah lebih dari cukup, Lily. Terima kasih banyak ya sayang. Kau memang wanita terbaik di dunia ini."
"Kau mulai lagi membuatku besar kepala. Jangan seperti itu."
"Yasudah, ayo kita mulai makan. Aku sudah tidak sabar menikmati ayam kecap buatanmu ini."
Mereka kemudian menikmati makanannya.
"Hmmm ... Enak juga ternyata masakanmu. Kau benar-benar hebat. Tidak salah kan jika aku memujimu?" ucap Alfred.
"Aku kan memang hebat. Aku tidak menyalahkanmu jika memujiku, tapi terkadang kau sangat berlebihan. Itu membuatku tidak nyaman."
"Tapi jika aku berada di sampingmu, membuatmu nyaman tidak?"
Lily kemudian menggetok kepala Alfred ...
"Kau jangan menggodaku terus." ucap Lily.
"Kenapa wajahmu memerah? Kau malu ya?" goda Alfred
"Ahhh ... Alfred! Kau jangan seperti itu."
Lily mencubit tangan Alfred hingga Alfred kesakitan.
"Awww ... Sakit. Lily berhenti mencubitku. Sakit sekali ini."
Lily kemudian melepaskan cubitannya. Terlihat tangan Alfred memerah bekas dari cubitan Lily.
"Ini belum seberapa, jika kau terus saja menggodaku maka aku akan memukulmu dengan balok kayu."
"Lily, kau ini sangat berbahaya sekali. Cuma menggoda saja kau akan memukulku dengan balok kayu? Bagaimana jika nanti aku mati karena kau pukul?"
"Ahhh ... Jangan ... Kau tidak boleh mati. Kau harus tetap bersamaku."
__ADS_1
"Maka dari itu, kau jangan memukulku dengan balok kayu hehehe."
"Sudahlah jangan membicarakan hal ini lagi. Kita ganti topik berbicara yang lain saja."
"Kau takut kan kehilangan aku? Mengaku saja hehehe."
"Ahhh ... Alfred! Kau mulai lagi."
"Iya ... Iya ... Maafkan aku."
Telepon Lily berdering ...
"Hallo Lily, bagaimana kabarmu?" tanya Jonathan.
"Hai Jonathan, kabarku baik. Bagaimana denganmu? Apakah ada kabar baik untukku?" tanya Lily.
Lily melihat ke arah Alfred, wajahnya berubah menjadi kesal.
"Kabarku juga baik. Apa aku bisa bertemu denganmu sekarang, Lily?"
"Hmmm ... Apakah ada hal penting?"
"Iya, ini sangat penting sehingga aku harus bertemu denganmu."
"Bisakah aku menghubungi lagi nanti? Mungkin 5 menit lagi aku akan menghubungimu kembali."
"Baiklah, Lily. Aku tunggu."
"Jonathan menghubungiku. Pria yang kau pukul di kedai kopi itu. Dia adalah produser musik. Beberapa waktu lalu, aku melakukan demo rekaman menyanyi di studio miliknya. Dia meminta bertemu denganku sekarang, sepertinya ada hal penting yang ingin dia bicarakan padaku. Kau tidak marah kan? Apa kau mau menemaniku bertemu dengan Jonathan?"
"Jadi pria yang bersamamu waktu itu produser musik?"
"Iya benar. Jadi bagaimana? Kau mau menemaniku bertemu dengannya atau tidak?"
"Baiklah aku akan menemanimu, dimana kau akan bertemu dengannya?"
"Aku belum tahu, aku akan menghubunginya untuk menanyakannya."
"Baiklah."
Lily kemudian menghubungi Jonathan kembali ...
"Hallo Jonathan, kita akan bertemu di mana?" tanya Lily.
"Bagaimana kalau kau datang ke studioku saja? Atau mungkin kau mau bertemu di luar? Kedai kopi mungkin atau kafe?"
"Kita ke kedai kopi yang kemarin saja, bagaimana?"
"Baiklah, aku akan berangkat ke kedai kopi itu sekarang."
__ADS_1
"Aku siap-siap dulu dan segera menyusulmu ke sana."
Lily kemudian menutup teleponnya ...
"Kita pergi ke kedai kopi yang dulu kau bertemu dengan kami." kata Lily.
Lily tampak takut karena wajah Alfred masih terlihat sangat kesal.
"Alfred ... Jika kau tidak ingin menemaniku, aku bisa pergi sendiri saja. Wajahmu tampak kesal seperti itu, aku jadi takut." ucap Lily.
Alfred kemudian tersenyum kepada Lily dan memeluknya.
"Aku akan menemanimu. Kau tenang saja, aku tak akan memukul pria itu lagi hehehe." canda Alfred.
"Apa kau serius?" tanya Lily
"Iya, aku serius. Kita buktikan saja nanti ketika aku bertemu dengannya."
"Baiklah kalau begitu. Bagaimana kalau kita pergi sekarang?"
"Apakah kau tidak ingin mengganti bajumu dulu? Kau harus terlihat rapi. Biar aku saja yang membereskan meja makannya"
"Yasudah aku ganti baju dulu. Terima kasih ya sudah membantuku."
"Ayo cepatlah ganti bajumu dulu."
Lily masuk ke dalam kamar untuk berganti baju sementara Alfred membereskan meja makan serta mencuci alat makan yang kotor.
10 menit kemudian, Lily sudah siap untuk pergi. Mereka kemudian berangkat menuju kedai kopi yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Lily.
Hanya 15 menit saja, Alfred dan Lily sudah sampai. Terlihat Jonathan sudah menunggu Lily. Jonathan tampak terkejut melihat Lily datang bersama dengan pria yang memukulnya waktu itu.
"Lily, kau sudah datang. Mari silahkan duduk. Ini sudah kupesankan cokelat hangat untukmu. Maaf jika aku hanya memesan 1 saja. Aku tidak tahu jika Lily tidak sendiri."
"Tidak apa-apa, Jonathan. Aku dan Alfred masuk ke dalam dulu, memesan kopi untuk Alfred."
"Baiklah, Lily. Aku tunggu di sini."
Alfred dan Lily kemudian masuk ke dalam untuk memesan kopi. Seperti biasa, Alfred memesan kopi espresso hangat untuknya. Setelah selesai kemudian mereka kembali untuk menemui Jonathan.
"Jadi kabar penting apa yang ingin kau sampaikan padaku?" tanya Lily.
"Setelah berdiskusi dengan rekan kerjaku, kau mendapatkan kesempatan untuk bernyanyi di festival musik yang akan diadakan bulan depan nanti. Di sana juga akan ada beberapa penyanyi pendatang baru, dan tak lupa puncak acara festival itu akan dihadiri oleh Michael Buble dan Katy Perri yang juga akan bernyayi dengan para penyanyi pendatang baru yang terpilih itu." jelas Jonathan.
"Benarkah? Aku senang sekali. Semoga ini menjadi langkah awal yang baik untukku. Aku akan terus melatih teknik bernyanyiku. Aku tidak akan mengecewakanmu."
"Baiklah, untuk lebih detailnya akan kukirimkan melalui email. Kau bisa membacanya nanti."
"Baik. Terima kasih banyak Jonathan. Kau sangat membantuku."
__ADS_1
"Aku tidak bisa berlama-lama di sini, aku pergi dulu ya. Sampai jumpa lagi."
Jonathan segera meninggalkan kedai kopi itu. Sementara Alfred dan Lily masih ingin berada di sana untuk menikmati minuman yang sudah mereka pesan.