
Di rumah sakit militer angkatan udara …
Alfred dan Lily mengurus administrasi pendaftaran terlebih dahulu sebelum Ayahnya memasuki kamar rawat inap. Sekitar sepuluh menit, mereka sudah menyelesaikan pendaftarannya. Kemudian mereka diminta untuk menunggu mendapatkan kamar.
Alfred dan Lily menghampiri Andy dan Gwen yang sedang duduk menunggu di ruang tunggu.
“Ayah … Ibu … Pendaftarannya sudah selesai tinggal menunggu kamarnya saja, jika sudah nanti akan dipanggil oleh petugasnya. Kita tunggu saja” ucap Lily.
“Baiklah kita akan menunggu, kalian pergilah membeli beberapa makanan dan minuman. Kalian belum sarapan kan?” tanya Gwen.
“Nanti saja setelah Ayah mendapatkan kamarnya, aku dan Alfred akan membeli makanan. Apa Ayah dan Ibu sudah makan?” tanya Lily.
“Ya kami sudah sarapan tadi di rumah.” jawab Gwen.
“Sebaiknya aku menunggu di sana saja supaya ketika dipanggil terdengar jelas.” kata Alfred.
Alfred kemudian berjalan ke ruang tunggu di dekat tempat pendaftaran. Sementara Lily, Gwen dan Andy menunggu di ruang tunggu lainnya.
Sekitar dua puluh menit menunggu, terdengar nama Andy Anderson dipanggil oleh petugas rumah sakit. Alfred kemudian mendekat ke loket administrasi.
“Permisi, atas nama Andy Anderson.” kata Alfred.
“Baik, Tuan Andy Anderson mendapatkan kamar kelas reguler nomor 531. Kamarnya ada di lantai lima, mari saya antarkan.” kata salah satu petugas rumah sakit.
“Apakah kamarnya bisa diubah ke kamar VIP?”
“Bisa saja Tuan. Sebentar saya akan mengecek kamar VIP terlebih dahulu apakah ada yang kosong atau tidak.”
Setelah lima menit mengecek di komputer, kamar VIP hanya tersisa satu kamar saja.
“Baiklah Tuan, setelah saya cek masih ada satu kamar VIP yang tersisa. Apakah ingin berpindah ke kamar VIP?”
“Ya … Tolong ubah kamarnya ke kamar VIP saja. Apakah saya bisa memberikan deposit untuk kamarnya?”
“Ya silahkan. Saya akan buatkan estimasi deposit untuk tiga hari. Jika rawat inapnya lebih dari tiga hari nanti pembayarannya bisa diselesaikan ketika rawat inapnya sudah selesai.”
“Baik terima kasih banyak.”
Alfred kemudian memberikan deposit untuk kamarnya.
“Baiklah, kamarnya nomor 756. Ada di lantai tujuh. Mari saya antar.”
Alfred beserta petugas rumah sakit itu berjalan menghampiri Andy, Gwen dan Lily yang sedang duduk di ruang tunggu. Mereka kemudian menuju lift ke lantai tujuh.
“Silahkan, nanti siang Dokter akan berkunjung untuk mengecek kondisi Tuan Anderson. Apa ada yang bisa saya bantu lagi?” tanya petugas rumah sakit.
“Sudah cukup terima kasih banyak.” jawab Alfred.
“Baiklah … Jika anda membutuhkan bantuan silahkan tekan tombol merah itu nanti perawat jaga akan membantu anda. Selamat beristirahat.” kata petugas rumah sakit seraya keluar meninggalkan kamar.
“Alfred kenapa kau memilih kamar VIP? Biayanya pasti sangat mahal.” kata Gwen.
“Tadi diinformasikan jika kamar reguler penuh, daripada harus menunggu lama lebih baik pindah ke kamar VIP saja. Lagi pula lebih nyaman di kamar VIP.” kata Alfred.
“Baiklah kalau begitu, terima kasih Alfred kau sudah membantu kami.” ucap Gwen.
Lily kemudian mengajak Alfred keluar dari kamar itu.
__ADS_1
“Kau bohong ya?” tanya Lily.
“Bohong apa? Soal kamar? Iya aku meminta pindah ke kamar VIP saja. Aku nanti yang akan membayar biayanya, kau tenang saja. Demi calon Ayah mertuaku hehehe.” canda Alfred.
“Kau ini … aku jadi merasa banyak berhutang budi padamu.”
“Sudahlah tidak apa-apa. Kenapa kau tidak membalas pesanku kemarin?”
“Hmmm … Nanti akan kuceritakan tapi tidak di sini.”
“Lalu dimana?”
“Di rumahku saja ya, bagaimana?”
“Yasudah, ayo kita pamit ke Ayah dan Ibumu. Aku tidak sabar mendengar ceritamu.”
“Tapi aku tidak mau jika kau marah-marah nantinya setelah aku menceritakan padamu.”
“Itu tergantung apakah alasanmu masuk akal atau tidak.”
“Kau ini benar-benar keras kepala sekali.”
Alfred dan Lily kembali masuk ke kamar untuk berpamitan.
“Ayah … Ibu … Aku dan Alfred akan pulang sebentar. Nanti aku akan kembali lagi.” kata Lily.
“Jika kau lelah besok saja kau datang lagi, nanti malam kan kau harus bekerja.” kata Andy.
“Baiklah. Kami pulang dulu.” ucap Lily.
Alfred yang merindukan kebersamaannya dengan Lily langsung memeluk dan mencium Lily. Sambil tetap berciuman, Alfred mengarahkan Lily untuk masuk ke dalam kamar. Mereka kemudian menjatuhkan diri di atas tempat tidur.
Alfred mulai membuka bajunya. Tubuhnya yang atletis menimpa tubuh mungil Lily. Alfred mulai mencium telinga hingga sampai ke leher Lily.
“Alfred hentikan!” teriak Lily
“Ada apa?”
“Aku … Aku belum siap.”
Alfred menuruti permintaan Lily, kemudian dia memakai kembali bajunya dan duduk di tepi tempat tidur.
“Apa kau marah padaku?”
“Untuk apa aku marah padamu Lily? Jika kau belum siap untuk melakukannya, aku akan menghormati keputusanmu.”
Lily memeluk tubuh Alfred dari belakang. Tangan mungil Lily melingkah di perut Alfred. Kepala Lily disandarkan dipunggung Alfred.
“Alfred … Apa kau bertemu dengan Julie kemarin?”
“Tidak aku tidak bertemu dengannya. Kenapa?”
“Kau jangan bohong padaku.”
“Sebenarnya dia datang ke apartemenku kemarin, dia datang membawa beberapa bir dan kita minum bersama.”
“Kau minum lagi?”
__ADS_1
“Iya aku minum lagi, maaf ya.”
“Lalu apa kau mabuk?”
“Sepertinya iya, entahlah aku tidak mengingatnya.”
“Aku menghubungimu kemarin dan Julie yang menjawab. Dia kembali memintaku untuk menjauhimu. Dia bahkan mengirimkan fotomu saat kau sedang tertidur bertelanjang dada. Kalian sudah berbuat apa saja kemarin?”
“Benarkah? Berani-beraninya dia berbuat seperti itu. Aku berani bersumpah atas nama Ibuku, aku tidak melakukan apa-apa dengannya.”
“Aku marah dan kecewa padamu saat aku mengetahui kau sedang bersama dengan Julie. Itu sebabnya aku tidak mengangkat panggilan darimu dan tidak membalas pesanmu.”
Lily kemudian mengambil ponselnya dan menunjukkan foto Alfred yang sedang telanjang dada dan tertidur itu.
“Sepertinya aku harus bicara pada Julie, aku tidak ingin ada orang yang menggangu hubungan kita. Dia sudah benar-benar kelewatan.”
“Tidak usah biarkan saja. Aku tidak ingin kau jadi bertengkar dengannya.”
“Hal seperti ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, Lily. Kau tidak mengenal Julie. Dia bisa melakukan segala cara agar keinginannya terpenuhi.”
“Yang dia inginkan adalah dirimu. Mungkin dia masih menyimpan perasaan padamu.”
“Persetan dengan keinginan bodohnya itu. Aku akan menemuinya.”
“Tolong jangan menemuinya. Aku tidak ingin kau bertemu dengannya lagi. Aku mohon padamu tetaplah di sini. Temani aku.”
“Baiklah kalau kau meminta seperti itu. Aku jadi lapar sekarang. Apa kau bisa memasak sesuatu untukku?”
“Apa kau mau omelet?”
“Apa saja terserah kau, aku akan makan apapun masakanmu.”
“Baiklah kau tunggu di sini, aku akan memasak untuk kita.”
Lily kemudian pergi ke dapur untuk memasak. Di tengah-tengah Lily sedang memasak, Alfred datang dan memeluknya dari belakang. Tangan Alfred melingkar di pinggang Lily, kepalanya bersandar di bahu Lily.
“Kau ini sungguh calon istri idaman, semua serba bisa. Aku tidak salah memintamu menjadi istriku.”
“Kau bisa saja. Selain galak ternyata kau juga bisa manja seperti ini ya hehehe.”
Alfred berjalan menuju ke halaman belakang dan duduk di sana sambil menunggu Lily yang sedang memasak.
Setelah selesai memasak, Lily segera menghampiri Alfred.
“Makanan sudah siap, ayo kita makan dulu.”
Alfred dan Lily menuju ke meja makan untuk menikmati sarapan pagi mereka berdua. Dengan lahap Alfred memakan omelet buatan Lily. Tak lupa juga Lily menyiapkan susu untuk mereka.
“Aku sudah kenyang sekarang. Lily … Aku masih mengantuk.”
“Kau ini setelah makan jangan tidur.”
“Tapi aku benar-benar mengantuk, aku sudah tidak tahan lagi.”
Alfred kemudian berjalan ke kamar Lily dan membaringkan badannya ke tempat tidur. Sementara Lily membereskan alat makan yang barusan mereka gunakan dan mencucinya.
Setelah selesai mencuci alat makan, Lily menuju ke kamarnya. Terlihat Alfred sudah tertidur pulas. Lily pun kemudian berbaring di sebelah Alfred. Dengan cepat Lily juga tertidur karena kelelahan.
__ADS_1