Falling In Love Dengan Pemabuk

Falling In Love Dengan Pemabuk
Episode 20


__ADS_3

Keesokan harinya di apartemen Alfred …


Waktu menunjukkan pukul 5 pagi, Alfred terbangun karena mendengar alarmnya berbunyi. Segera Alfred mempersiapkan diri untuk rapat dengan Ryan Jones di Blue Pasific Hotel.


Alfred langsung mandi dan menyiapkan berkas-berkas yang perlu dibawanya. Tepat pukul 6 pagi Alfred meninggalkan apartemennya.


Tak lupa Alfred menghubungi Lily sebelum berangkat.


“Hallo Lily, maaf mengganggumu pagi-pagi.”


“Hallo Alfred. Kau tidak menggangguku, tenang saja. Ada apa?”


“Aku akan berangkat ke Blue Pasific Hotel untuk rapat. Mungkin aku akan mematikan ponselku. Walau ponselku mati, kau kirim pesan saja mengenai perkembangan operasi Ayahmu nanti. Aku akan membacanya setelah aku selesai rapat nanti.”


“Baiklah Alfred. Semoga sukses dengan proyek barumu ini. Doa terbaik untukmu.”


“Terima kasih banyak Lily, aku doakan juga semoga operasi Ayahmu berjalan lancar.”


“Terima kasih, yasudah kau pergi sekarang jangan sampai terlambat. Hati-hati di jalan ya.”


“Kau juga hati-hati jika nanti pergi ke rumah sakit.”


Alfred menutup teleponnya dan segera pergi dari apartemennya.


Alfred hanya menempuh perjalanan 20 menit saja untuk sampai ke Blue Pasific Hotel. Karena masih ada waktu, Alfred menyempatkan pergi ke kedai kopi di seberang hotel itu.


Alfred memesan kopi espreso panas dan roti lapis untuknya. Terdengar wanita yang berada di belakangnya sedang kebingungan.


“Dimana ya dompetku, kenapa tidak ada di tas. Perasaan aku sudah memasukkannya ke dalam tas. Aduh bagaimana ini.” gumam wanita itu.”


“Ada apa Nona, apa ada masalah?” tanya Alfred.


“Dompetku sepertinya tertinggal dan aku harus buru-buru karena harus mempersiapkan rapat.” kata wanita itu.


“Anda pesanlah saja, biar saya yang akan membayarnya.” ucap Alfred.


“Benarkah? Anda baik sekali, maaf jadi merepotkan seperti ini.” kata wanita itu.


Wanita itu kemudian mulai memesan, setelah selesai Alfred segera membayarnya.


Setelah berterima kasih kepada Alfred, wanita itu pun pergi meninggalkan kedai kopi itu. Sementara Alfred duduk di sana untuk menghabiskan kopi dan roti lapisnya.


Alfred segera berjalan menuju Blue Pasific Hotel setelah selesai.


“Selamat pagi. Saya Alfred Hernandez, saya ada janji temu dengan Tuan Ryan Jones pukul 7 pagi ini. Dimana saya bisa bertemu dengannya?” tanya Alfred pada resepsionis hotel.


“Selamat pagi Tuan Hernandez, mohon ditunggu sebentar saya akan coba menghubungi asisten pribadi Tuan Jones terlebih dahulu.” jawab resepsionis itu.


Resepsionis itu kemudian menghubungi Natasha Smith untuk konfirmasi.


“Permisi Tuan Hernandez, anda sudah ditunggu oleh Tuan Jones dan Nona Smith. Mari saya antarkan anda.” kata resepsionis.


“Baik, terima kasih.” ucap Alfred.


Mereka kemudian menaiki lift menuju ke lantai 5. Alfred segera mematikan ponselnya agar tidak ada yang menggangunya ketika bertemu dengan Ryan Jones.


Setelah sampai di lantai 5, Alfred bertemu dengan wanita yang tadi ada di kedai kopi. Dia sedang berdiri di depan pintu.


“Permisi Nona Smith, ini Tuan Hernandez.” kata respsionis.


“Anda yang tadi di kedai kopi itu kan? Tidak menyangka ternyata anda Tuan Hernandez. Baiklah silahkan masuk.” kata Natasha


Alfred tersenyum lalu masuk ke dalam ruang rapat.


“Tuan Jones, ini Tuan Alfred Hernandez sudah datang.” kata Natasha.


“Selamat pagi Tuan Alfred Hernandez. Silahkan duduk.” kata Ryan


“Selamat pagi Tuan Ryan Jones, senang sekali bertemu dengan anda.” ucap Alfred.

__ADS_1


Alfred kemudian memulai presentasinya.


Sementara di rumah sakit militer angakatan udara …


“Permisi Tuan Anderson, apakah anda sudah siap?” kata salah seorang perawat rumah sakit.


“Ya saya sudah siap.” jawab Andy


“Baiklah, kami akan membawa anda ke ruang operasi.”


Lily dan Gwen mengikuti mereka dari belakang.


Sampai di depan ruang operasi, Lily dan Gwen diminta untuk menunggu.


“Semoga operasinya berjalan dengan lancar.” ucap Gwen.


“Iya Ibu, mudah-mudah semua berjalan dengan lancar. Aku masih tidak menyangka Ayah akan bisa melihat lagi setelah ini.” ujar Lily.


“Kau datang sendirian tadi, dimana Alfred?”


“Alfred sedang ada pertemuan penting. Jika sudah selesai dia akan menyusul kemari.”


Lily mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Alfred.


“Maaf aku terlambat mengirim pesan padamu. Saat ini Ayah sudah masuk ke ruang operasi. Doakan semoga operasinya berjalan dengan lancar. Bagaimana dengan pertemuanmu pagi ini?” tulis Lily


Kembali ke Blue Pasific Hotel …


Tak terasa sudah 2 jam lebih Alfred menjelaskan mengenai desainnya.


“Seperti yang disampaikan oleh Natasha, saya sangat menyukai desain anda untuk proyek hotel baru saya. Ini kontraknya silahkan anda baca dan pelajari terlebih dahulu.” kata Ryan sambil menyodorkan berkas kontrak kerjanya.


“Baik Tuan Jones, saya akan membacanya terlebih dahulu.” ujar Alfred.


“Baiklah, saya rasa cukup untuk pertemuan hari ini. Jika sudah anda pelajari silahkan berikan tanda tangan anda dan serahkan kontrak itu kepada Natasha.”


“Baik Tuan Jones.”


Tinggal Natasha dan Alfred yang berada di ruangan itu. Sementara Alfred sedang mempelajari kontraknya, Natasha menyuguhkan segelas teh untuk Alfred.


“Ini teh untuk anda Tuan Hernandez.” ucap Natasha.


“Terima kasih, panggil saja Alfred.”


“Baik Alfred. Apa kau tinggal di sekitar sini?”


“Aku tinggal di Golden Apartemen. Letaknya tak jauh dari sini.”


Natasha terus memandangi Alfred yang sedang fokus mempelajari kontraknya itu.


“Tak ku sangka pria yang aku temui di kedai kopi tadi adalah tamu Tuan Jones. Dilihat-lihat pria ini tampan juga. Dia sepertinya pria yang baik, seorang arsitek pula. Ini kesempatan yang bagus untuk aku mendekatinya.” batin Natasha.


“Baiklah aku sudah selesai mempelajarinya, aku akan langsung memberikan tanda tangan.” kata Alfred.


“Baik, akan aku sampaikan kepada Tuan Jones nanti. Sekali lagi senang bertemu denganmu.” ucap Natasha.


“Terima kasih, aku pamit dulu.”


“Mari ku antar kau sampai ke bawah.”


Natasha dan Alfred segera menaiki lift menuju ke lantai dasar.


“Aku akan beri tahu jika sudah ada kelanjutan dari Tuan Jones. Sekali lagi senang bertemu denganmu Alfred. Hati-hati di jalan. Semoga harimu menyenangkan.”


“Terima kasih juga Natasha. Senang juga bertemu denganmu. Sampaikan salamku pada Tuan Jones. Aku pergi dulu.”


Alfred berjalan menuju ke tempat parkir. Alfred menyalakan kembali ponselnya. Pesan dari Lily langsung masuk. Segera Alfred membaca pesan yang dikirimkan Lily padanya. Setelah membacanya, Alfred menghubungi Lily.


“Hallo Lily, aku baru saja selesai bertemu dengan klien. Bagaimana dengan operasi Ayahmu?”

__ADS_1


“Hallo Alfred. Operasinya belum selesai. Aku dan Ibu masih menunggu di depan ruang operasi. Bagaiman tadi pertemuanmu? Apakah berjalan lancar?”


“Ya semuanya berjalan lancar, aku juga sudah menandatangani kontraknya. Aku akan ke rumah sakit sekarang.”


“Aku turut senang mendengarnya. Kau hati-hati di jalan ya, sampai jumpa.”


Alfred kemudian menutup teleponnya dan segera berangkat menuju rumah sakit.


“Ibu … Alfred sudah selesai bertemu dengan kliennya dan dia sedang menuju kemari.” kata Lily


“Bagaimana dengan pertemuannya?”


“Semua berjalan dengan baik, Alfred mendapatkan kontrak itu. Aku turut senang mendengarnya. Lain kali Ibu harus melihat desain Alfred, dia pintar sekali membuat desain.”


“Benarkah? Ibu tidak tahu jika Alfred pintar membuat desain.”


“Hehehe Ibu pasti juga akan menyukainya.”


Teman-teman Andy baru saja tiba di rumah sakit, mereka langsung menghampiri Gwen dan Lily yang sebelumnya sudah memberi tahu mereka.


“Apakah operasinya sudah selesai?” tanya Erick.


“Belum, sudah 2 jam lebih kami menunggu di sini.” jawab Gwen.


“Jika kalian lelah beristirahatlah, kami yang akan jaga di sini.” kata Erick.


“Kami tidak lelah, kita menunggu saja di sini bersama-sama.” ucap Gwen.


Tak lama kemudian Alfred pun datang.


“Hai semuanya. Operasinya masih belum selesai ya?” tanya Alfred.


“Belum, kami semua masih menunggu.” jawab Lily.


“Darimana kau Alfred? Rapi sekali.” tanya Erick.


“Saya baru saja selesai bertemu dengan klien.” jawab Alfred.


Setelah 30 menit, pintu ruang operasi pun terbuka.


“Dokter, bagaimana operasinya?” tanya Gwen.


“Operasinya berjalan dengan lancar, pasien sedang kami observasi terlebih dulu. Jika hasilnya bagus, kami akan membawanya ke kamar.” jawab Dokter yang menangani operasi Andy.


“Syukurlah, terima kasih banyak Dokter.” kata Gwen.


Lily kemudian memeluk Alfred yang sedang berdiri di sampingnya.


“Aku tidak sabar bagaimana reaksi Ayah ketika dia membuka matanya nanti.” ucap Lily.


“Aku juga tidak sabar melihat reaksi Ayahmu ketika melihatku nanti. Pasti dia akan segera mengizinkanku untuk menikahmu hehehe.” canda Alfred.


“Dasar kau ini besar kepala sekali.” kata Lily sambil tertawa.


30 menit kemudian Andy sudah selesai diobservasi dan dibawa ke kamarnya.


“Maaf penunggu pasien hanya boleh 1 orang yang masuk. Dan jam kunjungan pasien bisa anda lihat di papan pengumuman.” kata perawat seraya meninggalkan kamar.


“Baiklah kalau begitu Ibu saja yang akan menunggu.” ucap Gwen.


“Yasudah kita pamit dulu Gwen.” kata Erick.


“Terima kasih kalian sudah datang, akan kubari lagi jika Andy sudah sadar.” ucap Gwen.


Teman-teman Andy kemudian berpamitan untuk pulang.


“Kau dan Alfred pulang saja, nanti sore kalian bisa datang kembali.” kata Gwen pada Lily.


“Baiklah Ibu, aku dan Alfred pamit pulang dulu. Jika Ibu butuh sesuatu kabari aku saja.” ucap Lily.

__ADS_1


Alfred dan Lily juga kemudian pergi meninggalkan rumah sakit.


__ADS_2