
Sesampainya di rumah orang tua Alfred, Lily tambah gugup.
“Alfred aku takut, bagaimana kalau aku pulang saja?”
“Lily kau ini apa-apaan. Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja. Ada aku yang akan selalu berada di sampingmu.”
Alfred dan Lily kemudian masuk ke dalam rumah. Lily begitu cantik dan anggun mengenakan gaun pilihan Alfred.
“Aku takut jika orang tuamu tidak menyukaiku.”
“Lily tenanglah, mereka pasti akan menyukaimu.”
Alfred terus menggandeng tangan Lily berjalan mendekati orangtuanya.
“Hai Ibu.” sapa Alfred.
“Oh hai Alfred, kau baru datang?” tanya Jennifer.
“Iya aku baru datang, Ibu perkenalkan ini Lily kekasihku.”
Jennifer melihat ke arah Lily dan tersenyum padanya.
“Hallo Tante, saya Lily. Senang bertemu dengan anda.” sapa Lily.
“Hallo Lily, senang juga bertemu denganmu. Kalian duduklah dulu.” ucap Jennifer.
Jennifer meninggalkan mereka berdua dan memanggil suaminya. Jennifer dan Daniel berjalan menuju ke arah Alfred dan Lily duduk.
“Alfred, kau baru datang? Siapa ini?” tanya Daniel.
“Ayah, perkenalkan ini Lily kekasihku. Cantik kan?” canda Alfred.
“Hallo Om, Saya Lily. Senang bertemu dengan anda.” sapa Lily
“Hallo Lily, kau memang sangat cantik. Selamat datang di keluarga kami.”
Daniel memanggil semua anggota keluarganya untuk berkumpul di meja makan.
“Ayo semuanya berkumpul, kita segera memulai acara makan malam kita.” teriak Daniel.
Semua keluarga besarnya segera berkumpul di meja makan.
“Baiklah, semuanya sudah berkumpul. Mari kita berdoa sebelum menikmati makan malam yang lezat ini.” kata Daniel.
“Untuk kesuksesan dan keharmonisan keluarga besar kita, mari kita rayakan.”
Semua asyik menikmati makanan yang sudah disajikan. Lily berbincang hangat dengan Daniel dan juga Jennifer.
“Lily, kau bekerja dimana?” tanya Jennifer.
“Saya bekerja di Lion Kafe Tante, setiap harinya saya bernyanyi di sana untuk menghibur pengunjung yang datang.”
“Lion Kafe? Bukannya itu milik Shemma dan Ricard?”
“Iya benar Ibu, Lily bekerja disana.”
Kemudian Jennifer memanggil Shemma.
“Shema, kemarilah.”
“Iya Tante, ada apa?”
“Apakah kau sudah bertemu dengan Lily? Dia bekerja di Kafe milikmu.”
“Ya, tadi Alfred berbicara denganku dan juga Ricard untuk meminta izin agar Lily tidak bekerja malam ini. Tapi baru kali ini aku bertemu dengannya.”
Ricard pun mendekat ke arah mereka yang sedang asyik berbincang.
“Ada apa ini? Sepertinya seru sekali obrolan kalian.” kata Ricard.
”Ricard, ini Lily kekasih Alfred yang bekerja di tempat kita.”
“Oh benarkah, hai Lily senang bertemu denganmu.” sapa Ricard.
“Hallo Pak, senang juga bertemu dengan anda disini.”
“Apakah aku setua itu kau panggil Pak? Panggil saja Ricard.”
Dari kejauhan, Lily melihat wanita yang bersama Alfred di festival. Dia datang mendekat ke arah Lily yang sedang berkumpul.
“Hai semuanya.” tegur Bianca.
“Bi, kau masih ingat dengan Lily?” tanya Alfred.
“Tentu saja aku ingat, yang kau rusak ponselnya itu kan?”
“Kau merusak ponsel milik Lily? Memangnya kenapa?” tanya Jennifer.
“Ah tidak apa-apa, hanya salah paham saja.” jelas Alfred.
Keluarga besar Alfred sangat menerima Lily dengan baik. Mereka orang-orang yang menyenangkan. Lily pun merasa senang bertemu dengan mereka semua.
Hanya saja Lily masih teringat Ayahnya. Lily masih memikirkan bagaimana caranya agar Ayahnya menerima Alfred dengan baik seperti keluarga Alfred menerimanya.
Malam semakin larut dan perlahan satu per satu pergi ke kamar untuk beristirahat. Tinggallah Alfred, Lily, Shemma dan juga Ricard.
“Aku sungguh terkejut ternyata pemilik Lion Kafe adalah kalian, sepupu Alfred. Alfred tidak pernah mengatakan padaku soal itu.” ucap Lily membuka obrolan.
“Lagi pula untuk apa aku mengatakannya padamu.” canda Alfred.
“Lily, aku harap kau bisa tahan dengan pemabuk kelas berat ini.” sambung Ricard.
“Selain pemabuk kelas berat dia juga sangat pemarah.” tambah Lily.
“Kau benar, Alfred juga orang yang tidak mau kalah. Benarkan Shemma?” kata Ricard.
Shemma kemudian tertawa mendengarnya.
“Lily ayo ku antar kau pulang, sudah larut.” kata Alfred.
“Baiklah, Shemma Ricard aku izin pulang ya. Senang sekali bisa bertemu dengan kalian semua.”
“Senang juga bertemu denganmu Lily. Hati-hati di jalan ya. Kapan-kapan kita perlu bertemu lagi.” kata Ricard dan Shemma.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, Lily diantar pulang oleh Alfred.
__ADS_1
“Terima kasih kau sudah mengajakku mengenal keluarga besarmu, mereka semua sangat baik padaku.” ucap Lily.
“Ku bilang juga apa, mereka pasti menerimamu dengan baik.” jawab Alfred.
“Ibumu cantik ya, wajahmu sekilas mirip dengan Ibumu.”
“Oh ya? Banyak yang mengatakan seperti itu hehehe.”
Tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah Lily.
“Kita sudah sampai.” kata Alfred.
Alfred menoleh ke samping dan mendapati Lily sudah tertidur. Alfred tidak tega membangunkannya. Alfred masih tetap berada di dalam mobil dan tidak membangunkan Lily yang sedang tertidur.
Dari arah rumah Lily, terlihat Gwen berjalan menuju ke mobil Alfred. Melihat Gwen mendekati mobilnya, Alfred kemudian turun dan menyapanya.
“Hai Tante, kami sampai sekitar 10 menit yang lalu. Tapi Lily tertidur di dalam. Saya tidak tega untuk membangunkannya.”
“Baiklah biar Tante bangunkan Lily, ini sudah larut kau sebaiknya langsung pulang.”
“Baik Tante.”
Gwen mencoba membangunkan Lily dengan mengusap pipinya dan memanggil nama Lily. Tak lama Lily membuka matanya dan terkejut melihat Ibunya.
“Ibu, aku dimana ini?”
“Kau masih di dalam mobil Alfred. Ayo kita masuk ke dalam rumah.”
Kemudian Alfred berpamitan untuk pulang.
Esok paginya Gwen membangunkan Lily karena ada seseorang yang mencarinya.
“Lily, bangunlah ada yang mencarimu.” kata Gwen.
“Memang siapa yang datang Ibu? Menggangu orang tidur saja.” kata Lily dengan penasaran.
“Ibu tidak tahu, Ibu juga belum pernah bertemu dengan wanita itu sebelumnya.”
Karena penasaran Lily kemudian beranjak dari tempat tidurnya. Lily mencuci muka terlebih dulu dan mengganti pakaiannya. Kemudian Lily pergi untuk menemui wanita yang mencarinya.
“Maaf anda siapa ya?” tanya Lily.
“Kau Lily?” tanya wanita itu.
“Iya benar saya Lily. Anda siapa?”
“Baik langsung saja, saya tidak akan berlama-lama disini. Saya ingatkan padamu segera jauhi Alfred dan jangan pernah bertemu dengannya lagi.”
“Memang anda ini siapa? Kenapa berbicara seperti itu?”
Wanita itu kemudian pergi meninggalkan rumah Lily.
“Siapa dia Lily?” tanya Gwen.
“Entahlah Ibu, aku tidak tahu siapa wanita itu.”
“Lalu apa yang dia katakan padamu?”
“Dia memintaku untuk menjauhi Alfred. Aku akan coba bertanya pada Alfred.”
Ponsel Lily berdering, itu panggilan dari Alfred.
“Hallo Lily, selamat pagi.” sapa Alfred.
“Hallo selamat pagi, siang ini apakah kau sibuk? Kalau tidak, bisakah kita bertemu?” ajak Lily.
“Ya tentu saja bisa, aku akan menjemputmu nanti.”
“Baiklah, kau sedang apa?”
“Aku baru saja selesai berbincang dengan Shemma dan Ricard.”
“Tentang apa?”
“Tentang kau, hehehe. Aku hanya bercanda.”
“Yasudah, aku mandi dulu ya. Jangan lupa siang ini kita bertemu.”
“Iya aku tidak akan lupa. Tenang saja. Sampai jumpa nanti.” Alfred kemudian menutup teleponnya.
Andy dan Gwen berencana pergi untuk menemui teman lamanya hari ini.
“Lily … Lily … Kau dimana?” teriak Gwen mencari Lily.
Lily yang mendengar teriakan Ibunya kemudian pergi menemui Ibunya.
“Ada apa Ibu? Kenapa teriak-teriak. Mengagetkanku saja.”
“Ibu mencarimu dimana-mana tapi tidak ada.”
“Aku berada di taman belakang. Ibu mau kemana?”
“Ibu dan Ayah akan pergi menemui teman kami. Kebetulan mereka baru datang dari luar negeri.”
“Baiklah, sebentar lagi aku juga akan pergi bertemu Alfred.”
“Yasudah Ibu dan Ayah pergi dulu, kau jaga diri baik-baik ya.”
“Iya Ibu, hati-hati di jalan.”
Andy masih tetap tidak ingin berbicara dengan Lily. Lily mencoba masuk ke kamar orang tuanya. Aroma parfum Ayahnya masih tecium di kamarnya.
Lily kemudian teringat masa kecilnya, setiap kali Ayahnya menyemprotkan parfumnya dan aroma parfumnya tercium oleh Lily, Lily pasti merengek ingin ikut Ayahnya bekerja.
“Ayah, maafkan aku. Aku tidak bisa menuruti permintaan Ayah untuk menjauhi pria yang benar-benar aku cintai.” batin Lily.
Lily kemudian mengambil foto Ayahnya yang tepasang di dinding. Lily memandangi foto itu untuk beberapa saat. Foto ketika Ayahnya mengenakan seragam militer sambil membawa senjatanya.
Tak lama Lily mendengar ponselnya berdering. Lily segera mengambil ponselnya, itu panggilan dari Alfred.
“Hallo Lilly aku akan menjemputmu sekarang. Apa kau sudah siap?” kata Alfred.
“Ya baiklah aku akan siap-siap dulu.” ucap Lily.
Kemudian Lily segera berganti baju dan menunggu Alfred datang menjemputnya. Sekitar 20 menit kemudian Alfred sudah sampai di rumah Lily. Lily mendengar ketukan pintu, segera dia membukanya.
__ADS_1
“Kau sudah datang, ayo kita berangkat sekarang.” ajak Lily.
“Rumahmu terlihat sepi, dimana Ayah dan Ibumu.” tanya Alfred.
“Mereka pergi keluar, aku tidak tahu mereka kemana.”
“Baiklah, kita mau pergi kemana?”
“Ke apartemenmu saja, aku ingin berbicara beberapa hal denganmu.”
“Baiklah kalau begitu, ayo kita jalan sekarang.”
Tak lupa Alfred mampir untuk membeli bir di minimarket.
“Kau mau minum lagi?”
“Hari ini aku belum minum. Kepalaku jadi pusing.”
“Bisakah sehari saja kau berhenti minum.”
Alfred mengabaikan Lily dan keluar menuju minimarket. Tak lama Alfred kembali tentu saja dengan beberapa botol bir.
“Begini kan jadi enak.”
“Kau ini keras kepala sekali ya, tidak bisa menahan diri sedikit saja.”
“Sudahlah Lily jangan seperti itu. Kau kan tahu aku tidak bisa sehari saja tanpa minum.”
“Lalu sampai kapan kau seperti ini?”
“Entahlah.”
Sepanjang perjalanan ke apartemen, Alfred hanya diam saja. Suasana menjadi tidak enak, itu membuat Lily ingin mengurungkan niatnya berbicara pada Alfred.
“Kalau seperti ini lebih baik aku tidak berbicara dengannya!” batin Lily.
Sampailah mereka berdua di apartemen Alfred.
“Baiklah, kau ingin membicarakan apa Lily?”
“Hmmm bisakah kau mengambilkan segelas air untukku?”
Alfred segera mengambilkannya untuk Lily. Alfred membaringkan tubuhnya di pangkuan Lily. Alfred kemudian memejamkan matanya.
“Kenapa kau malah tidur!” kata Lily sambil memencet hidung Alfred.
“Kau katakan saja apa yang ingin kau katakan, tenanglah aku akan mendengarkanmu.”
“Terserah kau saja!”
“Jangan marah-marah terus, cepat katakanlah.”
“Tadi pagi ada wanita yang tidak kukenal mendatangi rumahku.”
“Lalu?”
“Dia hanya bilang bahwa aku harus menjauhimu.”
Mendengar itu Alfred langsung bangun dari pangkuan Lily.
“Siapa dia? Kau tidak pernah bertemu dengannya?”
“Aku kan sudah bilang aku tidak mengenalnya!”
“Setelah itu apa lagi yang dia katakan padamu?”
“Hanya itu saja kemudian dia pergi begitu saja. Mungkin itu kekasihmu.”
“Jangan asal bicara begitu, kekasihku itu namanya Lily.”
Alfred masih santai dan menanggapi dengan bercanda.
“Ada hal lain yang juga aku mau bicarakan, tapi tolong seriuslah jangan bercanda terus.”
Alfred kemudian berdiri dan mengambil botol bir yang baru saja dibelinya.
Alfred menghabiskan satu botol birnya dengan cepat. Kemudian dia kembali berbaring di pangkuan Lily. Lily mengusap lembut kepala Alfred.
“Ayahku tidak suka hubungan kita dilanjutkan karena kau terlalu sering minum bir.”
“Oh jadi soal itu? Kau bicara apa saja dengan Ayahmu tentang aku?”
“Awalnya aku ingin Ayah mengetahui hubungan kita, aku mengatakan hal yang sejujurnya jika kau peminum.”
“Jelas saja Ayahmu marah, kenapa kau sepolos itu Lily!”
“Kau ini dengarkan dulu aku bicara!”
“Baiklah lanjutkan.”
“Aku tetap meyakinkan Ayah bahwa kau adalah pria baik. Dan meminta Ayah untuk membiarkan aku tetap berhubungan denganmu.”
“Pantas saja Ayahmu menodongkan pistolnya padaku. Mengerikan sekali ya hehehe.”
“Kenapa kau masih bisa bercanda seperti ini?” Lily yang kesal langsung berdiri dan membuat kepala Alfred sedikit terbentur.
“Kau ini ingin menyelakaiku ya?”
“Itu tidak sebanding dengan sakitnya perasaanku, tolonglah serius sedikit. Aku mohon padamu.”
Alfred kemudian mengajak Lily untuk masuk ke kamar sambil dia meraih 1 botol bir lagi. Lily duduk di tempat tidur sementara Alfred duduk berlutut di hadapan Lily sambil tetap menenggak birnya.
“Kau ingin aku bagaimana?”
“Aku hanya memohon padamu hentikan semua ini, sudah cukup kau mabuk-mabukan.”
Alfred kemudian menghabiskan sisa bir yang dipegangnya.
“Mungkin itu kelemahanku Lily, aku tidak bisa kalau harus berhenti meminum bir.”
“Kau pasti bisa, aku yakin. Paling tidak kurangilah. Cukup 1atau 2 botol saja setiap hari. Pasti lama-lama kau akan terbiasa dan malah bisa berhenti.”
“Baiklah akan aku coba demi kau.”
Alfred kemudian bangun dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan memejamkan matanya.
__ADS_1