
Alfred sampai di rumah beserta dengan keluarganya. Alfred duduk di dekat kolam renang sementara Ayah dan Ibunya pergi ke kamar untuk beristirhat. Melihat Alfred sedang melamun, Elizabeth menghampirinya dan duduk di sampingnya.
"Hai Kak, apakah kau akan tinggal bersama kami lagi?" tanya Elizabeth.
"Sepertinya sementara begitu Liz, sampai aku mendapatkan apartemen baru." jawab Alfred.
"Memang kenapa dengan apartemenmu saat ini?"
"Tidak apa-apa, aku hanya bosan saja. Ingin berganti suasana yang baru. Ngomong-ngomong bagaimana dengan acara amalnya? Apakah semuanya berjalan lancar?"
"Ya, semuanya berjalan lancar. Sebaiknya Kakak tinggal di sini saja bersamaku. Kadang aku merasa kesepian tinggal di sini jika Ayah dan Ibu sedang pergi."
"Kasihan sekali kau, Liz."
Alfred memeluk adik semata wayangnya itu.
"Apakah Kakak mau menemaniku tinggal di sini?"
"Baiklah, Liz. Aku akan menemanimu."
"Hmmm ... Bagaimana dengan kabar Lily?"
"Aku sudah tidak bersamanya."
"Benarkah? Ada masalah apa?"
"Hanya beberapa kesalah pahaman saja. Sudahlah jangan membicarakannya lagi."
Alfred kemudian meninggalkan Elizabeth menuju ke kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan kembali teringat Lily.
"Walau aku tahu akan susah untuk melupakanmu, tapi aku akan mencobanya." batin Alfred.
Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang. Natasha sudah sampai di apartemen Alfred. Karena tidak kunjung dibukakan pintu, Natasha menghubungi Alfred.
"Hallo Alfred, kau ada di mana? Aku sudah di depan apartemenmu." ucap Natasha.
"Baiklah, kau tunggu dulu. Aku akan segera ke sana."
Alfred menutup teleponnya dan bergegas pergi ke apartemennya untuk menemui Natasha.
"Baiklah, sandiwara akan segera dimulai. Setelah ini aku yakin kau tidak akan pernah bisa lepas dariku. Tak akan kubiarkan siapapun memilikimu kecuali aku." gumam Natasha.
Di rumah Lily ...
"Kenapa rumah tampak sepi? Kemana ya Ayah dan Ibu?" batin Lily.
Lily mengelili rumahnya untuk mencari orang tuanya, namun mereka tidak ada di rumah. Karena panik dan takut terjadi hal yang buruk, Lily menghubungi Ibunya.
"Hallo Ibu dan Ayah di mana?" tanya Lily dengan panik.
__ADS_1
"Ayah dan Ibu ada di markas militer angkatan udara untuk memenuhi undangan. Tadi mendadak sekali jadi Ibu tidak sempat untuk memberi tahu." jawab Gwen.
"Ada masalah apa, Ibu? Kenapa Ayah dan Ibu diundang ke sana?"
"Ibu juga tidak tahu, kami baru saja sampai sekitar 10 menit yang lalu. Kami masih menunggu mantan komandan Ayahmu."
"Mudah-mudahan tidak terjadi hal yang buruk. Ibu, aku punya kabar baik. Aku diterima untuk bekerja di Dragon Kafe walaupun sebagai pelayan. Aku akan mulai bekerja besok malam."
"Kau yakin mengambil pekerjaan itu? Apa lebih baik kau mencari pekerjaan lain saja?"
"Aku yakin Ibu, Ibu tenang saja yang penting aku bisa bekerja. Mungkin hanya sementara aku bekerja di sini. Lebih baik dari pada aku tidak punya pekerjaan."
"Baiklah kalau begitu. Lily ... Ibu tutup dulu ya teleponnya mantan komandan Ayahmu sudah datang. Sampai jumpa di rumah."
"Sampai jumpa."
Gwen segera menutup teleponnya dan memasuki ruangan kerja mantan komandan suaminya itu.
"Duduklah dulu Andy dan Gwen Anderson. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan kalian. Aku mendapatkan informasi jika kau mendapatkan donor mata dan sudah dapat melihat kembali. Selamat ya." ucap John White.
"Terima kasih banyak pak, kalau boleh kami tahu ada hal penting apakah sehingga anda mengundang kami kemari?" tanya Andy.
"Santailah dulu, kalian mau minum apa?"
"Apa saja, asal tidak merepotkan."
"Baiklah tunggu sebentar."
"Apa kabar kalian sekarang?" tanya John.
"Kami baik-baik saja pak. Berada di tempat ini seperti mengenang beberapa waktu lalu ketika saya masih aktif di militer." jawab Andy.
Pintu ruangan John diketuk dari luar, anak buahnya datang membawakan kopi untuk mereka.
"Lalu apa kesibukanmu saat ini, Andy?"
"Sebelum saya mendapatkan donor mata, saya hanya bisa diam diri saja di rumah pak. Lalu sekarang ini saya sedang tidak melakukan apa-apa."
"Baiklah, aku kujelaskan padamu. Aku secara khusus memintamu kembali lagi bersama militer angkatan udara. Kau akan langsung berada di bawah komandoku. Tenang saja kau tidak akan terjun ke lapangan. Bagaimana? Apakah kau bersedia?"
Andy terlihat sangat senang dan bersemangat sekali. Dia menoleh ke arah Gwen yang raut mukanya terlihat sedih.
"Apakah saya meminta waktu untuk memikirkannya? Saya rasa, saya perlu membicarakan hal ini terlebih dahulu dengan keluarga saya."
"Baiklah, kau pikirkan saja dulu. Jika kau bersedia segera kabari aku dan datanglah kemari."
"Baik pak. Siap laksanakan."
"Rencanya aku akan menugaskanmu untuk ditempatkan di London, Inggris. Kau juga bisa membawa keluargamu ke sana untuk tinggal di sana."
__ADS_1
"Baik pak, akan saya diskusikan terlebih dahulu."
"Maksimal 2 hari ke depan aku sudah mendapatkan jawaban darimu. Sekarang kalian pulang dulu dan silahkan pikirankan tawaran dariku."
Kemudian Gwen dan Andy berpamitan untuk pulang ke rumah untuk berdiskusi tawaran kerja ini.
Sementara di apartemen Alfred ...
"Kau sudah lama menunggu? Maaf ya tadi jalan sangat ramai." tanya Alfred.
"Tidak apa-apa, cepatlah kau buka pintunya. Aku lelah dari tadi hanya berdiri saja." ucap Natasha.
Alfred segera membuka pintu dan mempersilahkan Natasha masuk. Natasha langsung menuju ke kamar untuk berbaring dan disusul oleh Alfred.
"Kemana barang-barangmu? Kenapa kau kosongkan?" tanya Natasha.
"Rencana aku akan mencari apartemen baru. Jika sudah dapat aku akan kuberi tahu." jawab Alfred.
"Semoga kau tidak ada niat untuk lari dari tanggung jawab."
"Jadi kau hamil? Kau sudah pergi ke dokter untuk memastikan?"
"Aku belum pergi ke dokter."
Natasha mengeluarkan alat pendeteksi kehamilan yang dia simpan untuk ditunjukkan kepada Alfred.
"Ini kau lihat saja sendiri." kata Natasha.
"Baiklah kalau begitu kita pergi ke dokter kandungan saja sekarang untuk memastikan. Jika memang kau hamil, akan akan bertanggung jawab."
"Baik, ayo kita pergi sekarang."
Alfred dan Natasha pun pergi ke dokter kandungan untuk memastikan kehamilan Natasha. Natasha merasa senang karena Alfred menemaninya untuk pergi ke dokter kandungan.
Setelah menempuh perjalanan 30 menit, akhirnya mereka sampai ke rumah sakit. Dengan sabar Alfred mengurus administrasi pendaftaran untuk Natasha. Setelah selesai Alfred menghampiri Natasha yang sedang duduk menunggu di ruang tunggu.
Pada saat yang bersamaan datanglah Shera dan juga David. Shera yang melihat Alfred sedang bersama wanita lain di poli kandungan segera mengambil gambar mereka secara diam-diam.
"David, bagaimana kalau kita cari rumah sakit lain saja." pinta Shera.
"Memangnya ada apa? Kita sudah sampai tapi kau meminta mencari rumah sakit lain." jawab David
"Sudahlah kita ke rumah sakit lain saja."
Shera menarik tangan David untuk segera meninggalkan rumah sakit itu. Di perjalanan, Shera mengirimkan pesan gambar kepada Lily yang berisi gambar Alfred sedang bersama wanita lain di poli kandungan.
"Lily, apakah kau mengenal wanita itu? Aku melihat Alfred bersama dengan wanita itu sedang menunggu di poli kandungan rumah sakit universal." tulis Shera.
Lily segera membuka pesan gambar yang dikirimkan Shera padanya. Lily begitu terkejut melihat Alfred bersama dengan wanita lain, terlebih lagi wanita itu adalah wanita yang sama yang dia temui di kedai kopi beberapa hari lalu.
__ADS_1
"Ya, aku sepertinya tidak asing dengan wanita itu. Dia wanita yang bersama dengan Alfred di kedai kopi ketika dia menamparku saat aku bertemu dengan Jonathan. Jika memang dia hamil karena Alfred yasudah biarkan saja. Aku sudah tidak ada urusan lagi dengannya." balas Lily.
Lily menangis sambil memandang gambar Alfred sedang bersama wanita lain yang dikirimkan oleh Shera. Lily tak menyangka jika Alfred sudah berbuat sejauh itu dengan wanita lain. Lily benar-benar kecewa pada Alfred, dia memblokir kembali nomor ponsel Alfred dan kemudian menghapus nomornya.