
Keesokan harinya, Alfred terbangun dari tidurnya karena mendengar alarm dari ponselnya berbunyi. Alfred segera meraih ponselnya dan mematikan alarmnya. Dia melihat Lily tidak berada di sampingnya. Alfred segera beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamar.
Alfred mencari di setiap sisi rumah namun tidak menemukan Lily. Segera dia mengambil ponselnya yang masih berada di kamar dan menghubungi Lily. Alfred mendengar bunyi ponsel Lily yang ternyata berada di meja dekat almari bajunya.
Alfred bertambah panik karena Lily pergi tidak membawa ponselnya dan juga tidak meninggalkan pesan sama sekali. Dia menuju ke luar rumah juga mendapati mobil Lily juga tidak ada.
"Sebenarnya kau pergi kemana, Lily! Kau membuatku panik pagi-pagi begini!" gerutu Alfed.
Alfred duduk di teras depan rumah Lily sambil menunggu Lily datang. Dia begitu kesal karena Lily pergi meninggalkan rumah tanpa pamit. Sekitar 1 jam menunggu di teras, terlihat mobil Lily datang. Alfred segera berdiri dari tempat duduknya dengan wajah yang sangat kesal.
Lily yang terkejut melihat Alfred sudah berada di depan rumah segera turun dari mobil dan berjalan mendekati Alfred. Lily tahu jika Alfred sedang marah karena terlihat dari raut wajahnya.
"Kau sudah bangun ya? Maaf ya jika aku pergi tanpa memberi tahu. Aku tidak tega jika membangunkanmu karena kau terlilhat sangat pulas." kata Lily dengan memelas.
"Kau dari mana saja? Kenapa kau pergi tanpa memberi tahu aku? Kenapa kau juga meninggalkan ponselmu?" tanya Alfred dengan kesal.
"Sebaiknya kita masuk ke dalam dulu, nanti akan aku jelaskan."
Mereka berdua kemudian masuk ke dalam kamar. Alfred duduk di tempat tidur dan siap mendengarkan penjelasan dari Lily. Lily menarik kursi dan duduk di depan Alfred. Dia memegang erat tangan Alfred mencoba untuk meredam amarahnya.
"Kau jangan marah seperti itu, aku benar-benar minta maaf padamu." ucap Lily ketakutan.
"Sudah cepat jelaskan padaku, kau dari mana saja?" bentak Alfred.
"Aku akan menjelaskan padamu hanya jika kau sudah merasa tenang."
"Terserah padamu saja! Aku pulang dulu!."
Alfred bangun dari duduknya dan keluar dari kamar, Lily mengikuti Alfred berusaha untuk menghalangi Alfred pergi dari rumahnya.
"Kau jangan pergi! Kau dengarkan dulu penjelasan dariku! Ini masalah kecil kenapa kau malah memperbesarnya?" ucap Lily dengan nada yang sedikit kesal.
Lily mengajak Alfred untuk duduk di ruang tamu, namun Alfred hanya diam dan berdiri saja. Lily menatap wajah Alfred yang sedang marah itu. Dia menggoda Alfred dengan mengedipkan matanya berharap Alfred akan tertawa. Nampaknya usaha Lily gagal, Alfred tetap diam dan malah memandang wajah Lily dengan begitu senis.
__ADS_1
"Baiklah akan kukatakan padamu. Tadi Shera menghubungiku, dia memintaku untuk mengantarnya ke rumah sakit. David sedang pergi ke luar kota sejak kemarin. Maka dari itu dia memintaku untuk mengantarnya. Aku terburu-buru sehingga aku lupa tidak membawa ponselku. Saat ini Shera sedang hamil, aku senang sekali. Akhirnya setelah beberapa tahun dia menanti." ucap Lily panjang lebar.
"Kenapa kau tidak membangunkanku?" tanya Alfred dengan singkat.
"Tadi sudah kukatakan padamu, aku tidak tega jika membangunkanmu. Aku juga saat itu terburu-buru. Sudah kujelaskan semua alasannya, sekarang jika kau ingin pergi tidak apa-apa. Kau pergilah saja."
Alfred kemudian duduk di samping Lily sambil memeluknya. Dia mengarahkan wajah Lily menghadap wajahnya, Alfred tak kuasa menahan tawanya karena melihat wajah Lily yang memelas.
"Aku sudah tidak sanggup lagi menahan tertawa hahaha. Lihatlah wajahmu di cermin, kau juga pasti akan tertawa hahaha." canda Alfred sambil terus tertawa terbahak-bahak.
"Kau sengaja mempermainkan aku ya? Lihat saja nanti, aku akan membalasmu." ucap Lily dengan kesal.
"Aku tidak mempermainkanmu, aku memang awalnya sangat kesal karena kau meninggalkan rumah tanpa pamit. Tapi melihat sikapmu begitu, aku tidak tahan untuk tertawa hahaha." canda Alfred.
"Bagaimana jika hari ini kita pergi ke taman kota?" ajak Lily.
"Taman kota? Untuk apa? Aku tidak mau ke sana, cari tempat lain saja." ucap Alfred.
"Hmmm ... Bagaimana jika kita ke taman bermain? Kita bisa menaiki beberapa wahana di sana, pasti seru sekali."
"Kau payah sekali! Tidak asyik! Kau membosankan!"
"Terserah apa katamu, aku tidak akan pergi ke sana."
"Tapi dulu kau pergi ke festival kan? Kenapa sekarang kau tidak mau pergi ke taman bermain?"
"Dulu itu berbeda. Aku pergi bersama dengan beberapa orang. Ini kita cuma berdua saja, tidak seru."
"Kau itu yang tidak seru! Kau membosankan! Aku malas denganmu!"
"Bagaimana kalau kita membeli cincin yang baru untuk pertunangan kita?"
"Yang lama masih kau simpan kan? Kenapa tidak memakai yang itu saja?"
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, tapi untuk cincin pernikahan kita harus membeli yang baru. Kau tidak boleh menolaknya. Ibuku pasti sudah mempersiapkan acara pertunangan kita dengan meriah. Aku tak sabar sampai kita berdua menikah nanti."
"Aku tidak bisa membayangkan jika mempunyai suami yang sangat pemarah sepertimu ini."
"Sudahlah, kau buatkan aku sarapan saja sekarang. Aku sangat kelaparan. Tolong buatkan sosis panggang untukku."
Lily kemudian berjalan ke dapur untuk menyiapkan sarapan mereka berdua. Tak butuh waktu lama untuk Lily mempersiapkan sarapan pagi ini. Alfred pun turut membantu menyiapkan. Alfred merasa dirinya menjadi lebih hidup jika bersama dengan Lily. Hubungannya dengan Lily membuat perubahan dalam hidupnya, Alfred menjadi lebih dekat kembali dengan keluarganya.
Sementara di rumah orang tua Alfred ...
Jennifer meminta bantuan Elizabeth untuk mempersiapkan pesta pertunangan Alfred dan Lily. Dia dan Daniel menetapkan jika akhir pekan ini pesta akan diselenggarakan. Segera dia menghubungi Alfred untuk memberi tahu lebih rinci mengenai pesta itu.
"Hallo, Alfred ... Apa kau sedang sibuk saat ini?" tanya Jennifer.
"Aku sedang sarapan bersama Lily, ada apa Ibu?" tanya Alfred balik.
"Ibu hanya ingin memberi tahu jika pesta pertunangan kalian akan diadakan akhir pekan ini. Tolong kau beri tahu Lily. Ibu, Ayahmu dan Liz sudah mempersiapkan dengan baik untuk kalian berdua."
"Iya, Ibu... Aku akan memberi tahu Lily. Jika sempat nanti kami berdua akan datang ke rumah."
"Baiklah kalau begitu, Ibu tutup dulu teleponnya. Kalian berdua jaga diri baik-baik. Sampai jumpa lagi."
Kemudian Alfred melanjutkan menikmati sarapan paginya bersama dengan Lily.
"Ada hal penting apa?" tanya Lily.
"Acara pesta pertunangan kita akan diadakan akhir pekan ini, kita diminta untuk bersiap. Mereka semua sudah mengaturnya untuk kita." jawab Alfred.
"Aku jadi merasa tidak enak pada mereka karena terlalu merepotkan."
"Kau tidak merepotkan mereka sama sekali. Justru karena mereka menyukaimu dan sayang padamu jadi mereka peduli pada hubungan kita."
"Andai saja Ayah dan Ibuku bisa hadir menyaksikan pesta pertunangan kita, pasti aku lebih merasa bahagia."
__ADS_1
Tak terasa air mata Lily menetes karena teringat dan merasa rindu pada kedua orang tuanya. Alfred dengan cepat memeluk Lily dengan erat agar dia tidak merasa sedih.