
Ponsel Alfred berdering …
Alfred terbangun karena mendengar ponselnya berbunyi.
“Hallo Ibu, ada apa?”
“Alfred Ibu dan Ayah akan pergi ke Singapura sekarang ini. Kami sudah berada di bandara. Apa kau bisa menyusul?”
“Kenapa mendadak sekali, ada apa?”
“Ada acara amal, kau menyusul bersama Liz jika kau bisa.”
“Sepertinya aku tidak bisa, Ayah Lily akan operasi mata besok. Kabarnya pendonor mata itu dari acara amal yang Ibu adakan satu tahun yang lalu.”
“Benarkah? Ada apa dengan mata Ayah Lily?”
“Ceritanya panjang, akan aku ceritakan jika kita bertemu.”
“Baiklah kalau begitu. Jaga dirimu di sana baik-baik. Sampai jumpa lagi”.
“Iya Ibu terima kasih, semoga perjalanan Ayah dan Ibu menyenangkan.”
Jennifer kemudian menutup teleponnya.
Alfred melihat ke arah Lily yang sedang tertidur. Alfred membelai lembut rambut Lily. Lily kemudian terbangun.
“Kau sudah bangun ya?”
“Aku baru saja bangun karena Ibuku menelepon.”
“Ada apa Alfred?”
“Tidak ada apa-apa, kau akan pergi lagi ke rumah sakit atau tidak?”
“Entahlah, malam ini aku harus pergi bekerja. Besok paginya aku harus ke rumah sakit. Membayangkan saja membuatku sangat lelah.”
“Kau tidak usah pergi bekerja malam ini, istirahat saja.”
“Kau ini mudah sekali bicara seperti itu, lalu bagaimana aku bisa mendapatkan uang jika aku tidak pergi bekerja?”
“Kau kan hanya libur satu hari saja, lagi pula kau harus menjaga kesehatanmu. Aku tidak ingin nantinya kau jadi sakit.”
“Yasudah nanti aku akan menghubungi Frans untuk meminta izin.”
“Tidak baik kau terus membantah calon suamimu ini.”
Alfred tersenyum manis menggoda Lily lalu mencium keningnya.
Alfred bangun dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi.
“Apa kau bisa siapkan handuk untukku, aku mau mandi.”
“Baiklah akan kusiapkan handuk untukmu.”
Lily keluar dari kamarnya menuju ke dapur untuk mengambil segelas air. Lily melihat isi kulkasnya namun bahan makanan sudah habis.
__ADS_1
Karena tidak ada makanan, Lily hanya menyeduh kopi saja. Lily kemudian berjalan ke taman belakang dan duduk di sana untuk menikmati kopi buatannya.
Tak lama Alfred pun menghampiri Lily yang sedang duduk di taman belakang.
“Kau sedang apa di sini Lily?”
“Kau sudah selesai mandi ya, aku sedang minum kopi. Kau mau kubuatkan juga?”
“Tidak usah.”
Lalu Alfred duduk di samping Lily dan meletakkan tangannya di pundak Lily.
“Lily, bagaimana jika aku tidak bisa menghilangkan kebiasaanku minum bir? Apa kau akan tetap bersamaku?
“Kau kan sudah berjanji padaku, kau akan mengurangi minum bir. Apakah sesulit itu ya?”
“Entahlah Lily, tapi sepertinya aku tidak bisa.”
“Aku akan membantumu sampai kau bisa bena-benar berhenti minum bir.”
“Jika kau tidak berhasil bagaimana? Apakah kau akan masih tetap bersamaku?”
“Jika kau mencintaiku, kau pasti akan berhenti minum.”
“Itu dua hal yang berbeda Lily, pertanyaanku mudah saja tolong jawablah.”
“Aku mengenalmu sudah seperti ini kan? Lalu apa lagi yang harus dipertanyakan?”
Alfred hanya terdiam mendengar jawaban dari Lily dan melepaskan tangannya dari pundak Lily. Alfred membungkukkan badannya serta menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Sampai kapanpun aku akan selalu bersamamu, asalkan kau jangan pernah mengkhianatiku. Jika aku tahu kau bersama wanita lain, aku akan benar-benar pergi dari hidupmu.”
“Kau belum mengenalku dengan baik Lily. Kau tidak tahu bagaimana kehidupanku sebelum aku bertemu denganmu.”
“Aku tidak peduli tentang bagaimana masa lalumu itu, semua orang berbuat kesalahan. Begitu pula denganku. Aku juga bukan wanita suci yang tidak mempunyai dosa.”
“Kau wanita yang baik, sedangkan aku hanya pria brengsek yang suka sekali minum bir. Bagaikan langit dan bumi.”
“Alfred … Sudahlah kau jangan berkata seperti itu. Kenapa kau ini sebenarnya? Tiba-tiba menjadi seperti ini.”
“Aku hanya merasa takut jika kau pergi dariku. Aku benar-benar menyayangimu.”
Di tengah pembicaraan mereka, ponsel Alfred berdering. Nomor tidak dikenal menghubungi Alfred.
“Hallo, siapa ini?” tanya Alfred.
“Hallo, apakah ini benar dengan Alfred Hernandez?” tanya penelepon itu.
“Iya benar, maaf dengan siapa ini?”
“Perkenalkan saya Natasha Smith. Saya asisten pribadi dari Tuan Ryan Jones pemilik Blue Pasific Hotel. Tuan Ryan Jones menyukai desain anda dan ingin bertemu dengan anda untuk membahas mengenai kerjasama. Apakah kami bisa bertemu dengan anda?”
“Tentu saja bisa, kapan dan dimana kita bisa bertemu?”
“Besok pukul 7 pagi di Blue Pasific Hotel. Setelah ini saya akan mengirimkan alamat lengkapnya.”
__ADS_1
“Baiklah saya akan datang besok. Tolong segera anda kirimkan alamatnya.”
“Baik Tuan Hernandez, terima kasih.”
Alfred menutup teleponnya dan menunggu wanita itu mengirimkan pesan untuknya.
“Siapa yang meneleponmu?”
“Salah satu klien, mereka menyukai desain yang beberapa waktu lalu aku kirimkan. Aku diundang untuk rapat besok.”
“Wah selamat ya Alfred. Aku turut senang mendengarnya.”
Ponsel Alfred berdering … Alfred menerima pesan dari Natasha Smith. Dia mengirimkan alamat hotel tempat mereka akan bertemu besok.
“Lily, aku akan bertemu dengan mereka besok pagi. Kemungkinan aku tidak bisa menemanimu ke rumah sakit. Tidak apa-apa kan?”
“Tentu saja, tidak masalah. Ini kan urusan pekerjaan, apalagi ini proyek barumu. Kau justru harus datang dan jangan terlambat.”
“Baiklah, terima kasih atas pengertianmu Lily.”
“Semoga sukses ya, aku bangga sekali padamu. Kau memang hebat hehehe.”
“Kau belum mandi kan? Sebaiknya kau segera mandi dan kita mencari makan di luar, aku lapar sekali.”
“Kau juga lapar ternyata. Maaf ya aku tidak memasak untukmu. Bahan makanan di rumahku habis, aku belum sempat berbelanja.”
“Tidak masalah kita bisa pergi mencari makan di restoran.”
“Baiklah aku mandi dulu, ayo kita masuk ke dalam.”
Mereka berdua kemudian masuk ke dalam rumah. Sementara Lily mandi, Alfred menyalakan televisi dan menonton film kartun.
15 menit kemudian Lily keluar dari kamar dan sudah siap untuk pergi.
“Alfred, ayo kita berangkat sekarang. Aku sudah siap.”
“Baiklah, ayo kita pergi. Kau mau makan apa?”
“Boleh tidak kalau kita makan sushi di restoran yang waktu lalu kita pernah datangi?”
“Boleh boleh saja. Ayo berangkat, aku sangat lapar.”
Selama di perjalanan menuju ke restoran sushi, Alfred terus saja tersenyum. Hatinya sedang senang karena mendapatkan proyek baru.
“Kau ternyata lumayan pintar juga ya, menjadi arsitek kan tidak mudah.”
“Lumayan pintar katamu? Justru aku ini sangat pintar. Malah lebih pintar darimu hehehe.”
“Terus saja kau mengejekku. Iya iya aku tahu, aku tidak lebih pintar darimu.”
“Aku hanya bercanda, kau jangan marah seperti itu. Cantikmu bisa hilang nanti.”
“Apa katamu? Cantikku bisa hilang? Kecantikanku itu kan dari lahir jadi tidak mungkin bisa hilang hahaha.”
“Ya kau benar. Lily wanita cantik satu-satunya di dunia ini.”
__ADS_1
“Hahaha kau seperti sedang berbicara dengan anak kecil saja.”