
Setelah selesai bekerja, Lily segera menuju ke bar untuk menemui Alfred.
“Kau sudah selesai? Bagaimana kalau kita makan di luar?”
“Maaf Alfred sepertinya aku harus segera pulang. Ayahku berpesan seperti itu tadi sebelum aku berangkat kerja.”
“Lalu bagaimana denganku? Aku menunggumu sejak tadi.”
“Aku bingung sebenarnya harus berbuat apa”.
“Kau bingung kenapa, tolong jelaskan padaku. Sebenarnya apa yang kau pikirkan?”
“Aku ingin bercerita padamu tapi aku bingung harus bagaimana memulainya.”
“Kau katakan saja sejujurnya, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Alfred dengan nada agak kesal.
“Tolong kau jangan marah padaku. Beri aku waktu untuk sendiri dulu.”
“Baiklah terserah kau saja.”
Kemudian Alfred pergi meninggalkan Lily. Lily sangat merasa bersalah pada Alfred. Lily benar-benar tidak tahu harus berbuat apa kali ini.
Lily kemudian pergi mencari David.
“David, kau mau pulang sekarang?”
“Iya, aku mau pulang sekarang. Kau mau ikut pulang denganku? Bukannya kau bersama dengan Alfred?”
“Iya tadi aku bersama Alfred tapi dia sudah pulang. Apa aku bisa menumpang pulang bersamamu?”
“Tentu saja boleh, ayo kita pulang sekarang saja.”
Lily kemudian pulang bersama David. Di perjalanan Lily hanya terdiam. David merasa ada sesuatu yang tidak beres.
“Lily … Apa kau sedang ada masalah?”
“Tidak, aku tidak ada masalah. Memangnya kenapa?”
“Wajahmu murung dari tadi. Kupikir kau sedang ada masalah.”
“Tidak, aku tidak apa-apa.”
Sampailah Lily di rumah. Lily langsung masuk ke dalam rumah. Terlihat Ayahnya sedang duduk di ruang tamu.
“Ayah kenapa belum tidur?”
“Ayah baru saja terbangun. Kau baru pulang?”
“Iya Ayah, aku baru saja sampai. Aku lelah sekali hari ini, aku tidur dulu.”
Lily melangkahkan kakinya menuju ke kamar. Lily merebahkan badannya dan memejamkan matanya. Lily mencoba untuk tidur tapi tidak bisa. Segera Lily mencari ponselnya dan menelepon Alfred.
“Hallo Alfred, kau dimana?”
“Kenapa kau meneleponku? Aku sedang sibuk sekarang.”
Alfred menutup teleponnya. Lily tak kuasa menahan tangisnya. Hatinya benar-benar hancur karena sikap Alfred berubah begitu cepat.
Dari luar Andy mendengar Lily menangis terisak-isak. Andy mengetuk pintu kamar Lily.
“Nak, apa Ayah boleh masuk?”
“Iya Ayah, masuk saja. Pintunya tidak terkunci.”
__ADS_1
“Kenapa kau menangis malam-malam begini? Pasti gara-gara pria pemabuk itu kan?”
“Ayah, pria pemabuk itu punya nama. Setidaknya panggil dia dengan namanya.”
“Persetan dengan nama pria itu. Ayah tidak peduli dengannya.”
“Tapi aku peduli dengannya, Ayah. Aku sangat mencintainya.”
“Sampai kapan kau akan menangis karena pria itu?”
“Sampai Ayah benar-benar menerima Alfred dengan baik. Andai saja Ayah tahu bagaimana keluarga Alfred memperlakukanku, pasti Ayah akan malu.”
“Memang bagaimana mereka memperlakukanmu?”
“Keluarga Alfred menerimaku dengan sangat baik, mereka begitu ramah padaku. Aku mohon pada Ayah, tolong biarkan aku bersamanya.”
“Baiklah kalau itu membuatmu senang. Besok suruh dia datang bertemu Ayah.”
“Apa Ayah benar-benar akan menerima Alfred dengan baik jika dia datang besok?”
“Ayah akan mencoba yang terbaik demi kebahagianmu.”
Lily langsung memeluk Ayahnya dan mencium tangannya.
“Terima kasih Ayah, aku akan memberi tahu Alfred.”
Andy kemudian meninggalkan Lily dan menuju ke kamarnya.
Lily mencoba menelepon Alfred lagi.
“Hallo Alfred, aku ingin bicara padamu.”
“Kau ini bodoh atau bagaimana? Sudah kubilang aku sedang sibuk. Jangan menggangguku lagi.” bentak Alfred.
“Tolong jangan tutup dulu teleponnya. Aku ingin bicara sebentar saja.” pinta Lily memelas.
Karena kekecewaannya pada Lily, Alfred memilih melampiaskan amarahnya dengan pergi ke bar untuk minum-minum.
Karena Alfred tidak mau mendengarkannya bicara, Lily mengirim pesan padanya.
“Alfred, aku minta maaf jika aku bersalah padamu. Aku hanya ingin memberi tahu bahwa Ayahku memintamu untuk datang ke rumah besok. Aku harap kau bisa datang.” tulis Lily.
Setelah menunggu sekitar 30 menit tidak ada balasan dari Alfred, Lily pun memilih untuk tidur. Namun lagi-lagi dia tidak bisa untuk tidur nyenyak. Lily terlalu mengkhawatirkan Alfred. Lily sadar bahwa dia telah menyakiti perasaan Alfred.
Waktu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Lily sama sekali belum bisa tidur. Lily terus menunggu balasan pesan dari Alfred.
Lily kemudian mengirimkan pesan lagi padanya.
“Alfred, tolong balas pesanku. Aku membutuhkan jawabanmu. Apa kau bisa datang ke rumah besok? Ayahku benar-benar ingin bertemu denganmu.” tulis Lily.
Lily menunggu dan menunggu balasan pesan dari Alfred. Sampai tak terasa waktu menunjukkan pukul 6 pagi. Mata Lily begitu berat karena tidak tidur semalaman.
Lily keluar kamar untuk mencari makanan. Lily melihat Ibunya akan bersiap untuk pergi.
“Ibu mau kemana?”
“Lily, kau sudah bangun Nak? Ibu akan pergi belanja. Kata Ayahmu dia mengundang Alfred untuk datang ke rumah. Jadi Ibu diminta untuk memasak. Apa kau tahu makanan kesukaan Alfred?”
“Terserah Ibu saja mau memasak apa. Alfred pasti akan menyukai apa pun masakan Ibu hehehe.”
Gwen pun berangkat untuk berbelanja. Sementara Lily mengambil beberapa roti dan susu lalu membawanya ke kamar.
Setelah menghabiskan sarapannya, Lily mengambil ponselnya dan mengirim pesan lagi pada Alfred.
__ADS_1
“Alfred, Ibuku akan memasak untuk menyambutmu nanti. Aku tidak tahu makanan kesukaanmu apa, jadi aku meminta Ibuku untuk memasak sesuai yang Ibuku bisa. Semoga kau menyukainya.” tulis Lily.
Lily merasa matanya sangat berat karena tidak tidur semalaman. Akhirnya Lily pun tidak bisa menahan rasa kantuknya. Lily menarik selimut dan tidur.
Waktu menunjukkan pukul 11 siang. Alfred yang mabuk berat semalam terbangun karena ponselnya berbunyi. Alfred meraih ponselnya dan melihat Ibunya ternyata menelepon.
“Hallo Alfred, kau ada dimana sekarang?” tanya Jennifer.
“Hallo Ibu, aku ada di apartemen. Ada apa Bu?” tanya Alfred.
“Ibu hanya ingin memberi tahumu, Ayah dan Ibu sudah berada di bandara sekarang. Kami akan berada di Jepang untuk beberapa minggu ke depan.”
“Baiklah, semoga perjalanan Ibu menyenangkan.”
Alfred kemudian menutup teleponnya. Dia membaca pesan dari Lily. Amarah dan kekecewaannya pada Lily belum hilang. Alfred hanya membaca pesan dari Lily tanpa membalasnya.
Tepat pukul 1 siang, Lily terbangun dari tidurnya. Lily buru-buru mencari ponselnya untuk mengecek apakah ada balasan pesan dari Alfred. Namun lagi-lagi tidak ada balasan. Lily mencoba untuk menghubungi Alfred kembali. Tapi kali ini Alfred tidak menjawab.
Lily kemudian keluar kamar dan mencium aroma masakan. Lily berjalan menuju ke dapur dan melihat Ibunya sedang sibuk memasak.
“Ibu sedang memasak apa?”
“Lily, kau sudah bangun ya. Ibu memasak ayam kecap. Semoga Alfred suka ya. Kira-kira jam berapa Alfred akan datang?”
“Hmmm mungkin nanti sore.” jawab Lily kebingungan.
Lily kemudian kembali masuk ke dalam kamar.
“Ibu sudah memasak untuk Alfred, tapi dia belum juga ada kabar. Bagaimana ini, kenapa Alfred belum juga merespon.” batin Lily
Lily kembali mencoba untuk menghubungi Alfred.
“Hallo Alfred. Kau ada dimana sekarang?”
“Aku di apartemen. Ada apa kau meneleponku?” tanya Alfred dengan ketus.
“Kau pasti sudah membaca pesanku kan? Ibuku sudah memasak ayam kecap untukmu. Jam berapa kau akan datang?”
“Aku tidak akan datang.”
Alfred menutup teleponnya dan mematikan ponselnya.
Lily yang mendengar Alfred tidak akan datang langsung duduk terdiam. Kali ini Lily benar-benar sangat marah dan kecewa pada Alfred.
Lily keluar kamar dan menghampiri Ibunya di dapur.
“Ibu, apakah masakannya sudah matang?”
“Sudah Lily, Ibu simpan dulu ya. Tunggu Alfred datang.”
“Kita makan sekarang saja, Alfred tidak akan datang.”
Andy yang mendengar Alfred tidak akan datang merasa sedih. Dia berpikir pasti karena sifat kerasnya yang membuat Alfred tidak mau datang.
“Ayo Ayah kita makan siang, Ibu sudah masak ayam kecap untuk kita. Sudah lama aku tidak makan ayam kecap buatan Ibu.”
Lily makan dengan lahapnya. Sekuat tenaga Lily menahan air mata nya agar tidak menetes. Namun apalah daya, air mata nya tidak terbendung dan menetes ke pipinya. Gwen yang melihat Lily menangis hanya bisa terdiam saja.
“Aku sudah selesai, Ayah … Ibu … Aku kenyang sekali. Karena terlalu kenyang jadi membuatku mengantuk. Aku masuk ke kamar dulu.”
Di dalam kamar Lily kembali menangis terisak-isak.
“Kau dengar itu kan?” tanya Gwen pada Andy.
__ADS_1
“Iya aku mendengarnya.”
“Andai saja kau tidak terlalu keras padanya. Hal ini mungkin tidak akan terjadi.” ucap Gwen seraya meninggalkan Andy sendiri.