
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Lily sudah bersiap-siap untuk pergi ke studio milik Jonathan, begitu pula dengan Alfred. Melihat Alfred yang sedang berdiri di depan cermin, Lily segera memeluknya dari belakang.
"Lihatlah dirimu, kau tampan sekali." puji Lily.
Dengan tersenyum manis Alfred menjawab "Aku memang sudah tampan sejak lahir hehehe. Kau juga tampak cantik."
"Aku juga sudah cantik sejak lahir." Lily membalas Alfred dengan candaan yang sama.
"Baiklah aku sudah siap, kita berangkat sekarang?"
"Iya, sebaiknya kita berangkat lebih awal saja. Aku juga tadi sudah mengirim pesan kepada Jonathan jika aku akan datang lebih awal."
"Baiklah, ayo kita berangkat sekarang."
Alfred membawa 1 botol bir tanpa sepengetahuan Lily. Kemudian mereka masuk ke dalam mobil untuk segera menuju ke studio milik Jonathan.
Pagi ini jalanan tidak begitu ramai dan cuaca agak sedikit mendung.
"Apa kau membawa jaket tebal? Sepertinya akan turun hujan." kata Alfred.
"Aku tidak membawa, semoga saja tidak turun hujan." ucap Lily.
Setelah 20 menit perjalanan, mereka berdua sampai di studio Jonathan. Mereka langsung disambut oleh Jonathan dan juga rekan-rekannya. Lily kemudian diarahkan menuju ke ruang rekaman sementara Alfred menunggu di lobi atas perintah Jonathan.
"Di mana Alfred?" tanya Lily pada Jonathan.
"Lebih baik dia menunggu saja di luar, aku ingin kau lebih fokus. Kau ingin menjadi penyanyi yang sukses kan? Kau turuti saja instruksi dariku." ucap Jonathan.
Dengan berat hati, Lily menuruti apa kata Jonathan. Dia memulai menyanyikan beberapa lagu milik penyanyi terkenal yang dia suka.
Alfred yang bosan hanya menunggu, kemudian dia pergi keluar dan masuk ke dalam mobilnya. Dia mengeluarkan bir yang dibawanya itu, dan meminumnya sambil. Alfred menyalakan mobilnya dan berjalan mengitari kawasan studio Jonathan itu.
__ADS_1
Alfred melihat ada bar di sekitar sana, dia segera memberhentikan mobilnya dan masuk ke dalam bar. Alfred mulai memesan bir untuknya. Cukup lama dia berada di bar itu sampai tak sadar sudah menghabiskan 10 botol bir di sana.
Kembali ke studio Jonathan ...
"Baiklah, Lily. Kau bernyanyi dengan sangat baik seperti biasanya. Setelah ini dengarkan dan pelajari lagu yang sudah diciptakan Sean untukmu." ucap Jonathan.
"Terima kasih Jonathan dan rekan-rekan lainnya. Aku akan mencoba mempelajari lagu itu di rumah. Sekarang aku pamit dulu." kata Lily.
"Terima kasih untuk hari ini, Lily. Lusa kau datanglah lagi untuk berlatih. Sampai jumpa."
Lily keluar dari studio rekaman dan segera mencari Alfred yang menunggu di lobi, namun dia terkejut karena tidak melihat Alfred di sana. Kemudian Lily keluar, dia juga tidak melihat mobil milik Alfred. Lily segera mengambil ponselnya dan menghubungi Alfred.
"Hallo, Alfred. Kau di mana?" tanya Lily dengan panik.
"Kau sudah selesai ya? Baiklah, aku akan menjemputmu. Tunggu aku, kau jangan kemana-mana." jawab Alfred dengan santai.
Pada saat Lily sedang menunggu Alfred menjemputnya, Jonathan yang juga akan meninggalkan studio terheran karena melihat Lily masih berada di sana.
"Belum, aku sedang menunggu Alfred datang menjemputku." jawab Lily.
"Bukannya tadi dia menunggumu di lobi?"
"Katamu dia boleh menemaniku? Kenapa tadi kau melarangnya dan malah meminta dia menunggu di lobi?" tanya Lily dengan sedikit kesal.
"Aku pikir sebaiknya memang begitu kan? Itu agar kau fokus saja. Kau harus lebih profesional nantinya."
Tak lama Alfred sampai di studio Jonathan. Dari dalam mobil, dia melihat Lily sedang berbincang dengan Jonathan. Dia mulai kesal dengan Jonathan yang sepertinya tidak menyukai kehadirannya.
"Kau sengaja menyuruhku menunggu di lobi karena kau ingin mendekati Lily kan? Dasar berengsek!" batin Alfred.
Alfred keluar dari mobil dan langsung menarik tangan Lily untuk masuk ke dalam mobilnya. Lily sepertinya tahu jika Alfred sedang marah, maka dari itu dia hanya bisa diam saja.
__ADS_1
"Kau dari mana saja tadi? Aku minta maaf padamu jika Jonathan tidak mengizinkanmu menemaniku selama berlatih tadi. Tapi aku sudah menegurnya. Tolong kau jangan marah." kata Lily dengan memelas.
"Sepertinya memang dia sudah merencanakannya. Dia mungkin masih dendam padaku karena aku telah memukulnya di kedai kopi waktu itu." ucap Alfred.
"Sudahlah, lebih baik kau lupakan saja tentang itu. Aku akan bilangnya padanya jika nantinya aku berlatih, kau harus berada di sampingku."
"Tidak perlu seperti itu, aku juga tidak sudi menginjakkan kakiku di tempatnya lagi. Aku akan mengantarmu lalu kembali pulang. Setelah selesai baru aku akan menjemputmu."
"Baiklah kalau begitu, tapi kau jangan marah padaku. Hadaplah kemari dan tersenyum padaku."
Alfred memberikan senyuman kepada Lily dan mencium tangannya. Lily merasa lega karena Alfred sedikit bisa mengendalikan amarahnya.
"Bagaimana kalau kita pergi ke rumah orang tuamu?" pinta Lily.
"Untuk apa? Sudahlah kita pulang ke rumahmu saja. Aku sangat mengantuk, aku ingin tidur." jawab Alfred.
"Baiklah kalau begitu."
Sampai di rumah Lily. Alfred langsung masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Alfred tak kuasa menahan rasa kantuknya karena telah banyak minum bir tadi.
Setelah melihat Alfred tertidur pulas, Lily berbaring di samping Alfred dan mengusap-usap rambut Alfred. Lily mencium bau alkohol di badan Alfred
"Sepertinya memang dia merasa kesal karena dilarang Jonathan untuk menemaniku. Tapi tidak seharusnya kau pergi minum bir." batin Lily sambil terus mengusap rambut Alfred.
Lily kemudian memeluk Alfred dengan erat. Dia merasakan cintanya pada Alfred semakin bertambah karena perubahan sikap Alfred padanya. Terlebih mereka akan segera bertunangan, Lily merasa sangat bahagia. Walaupun kedua orangtuanya berada di negara lain, Lily merasa mendapatkan keluarga baru. Dia diperlakukan dengan baik oleh keluarga Alfred.
"Banyak hal yang sudah kita lalui bersama. Sedih, bahagia, susah dan senang semua kita lalui. Aku harap kita akan bisa terus bersama hingga kita tua nanti." batin Lily sambil menatap wajah Alfred yang sedang tertidur pulas.
Lily beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamarnya. Dia pergi ke arah dapur karena merasa sangat haus. Lily melihat ada beberapa botol bir milik Alfred di sana. Dia mengambil 1 botol bir itu lalu menikmatinya di taman belakang. Pikirannya tidak karuan karena perlakuan Jonathan pada Alfred ketika di studio tadi.
"Jika memang dia tidak mengizinkan Alfred menemaniku, maka aku tidak akan melanjutkan untuk berlatih dengannya. Aku tidak mau Alfred merasa tidak senang karena perlakuannya itu." gumam Lily
__ADS_1
Lily segera menghabiskan birnya dan kembali ke dalam kamar. Kepalanya agak sedikit pusing karena memang dia tidak terbiasa minum bir. Lily berbaring di tempat tidur tepat di sebelah Alfred, dia memeluk Alfred kemudian memejamkan matanya. Tak butuh waktu lama, Lily sudah tertidur pulas.