Falling In Love Dengan Pemabuk

Falling In Love Dengan Pemabuk
Episode 27


__ADS_3

Hari ini Lily bersama dengan kedua orang tuanya pergi ke rumah sakit untuk melepas perban yang menutup mata Ayahnya paska operasi.


“Tuan Anderson apakah anda sudah siap?” tanya Dokter.


“Ya, saya sangat siap untuk hari ini. Saya sudah tidak sabar.” jawab Andy.


“Baiklah saya akan membuka perbannya sekarang.”


Dokter dibantu dengan seorang perawat mulai melepaskan perban yang menutup mata Andy. Samar-samar Andy melihat adanya cahaya. Perlahan Andy mulai membuka matanya. Pertama yang dia lihat adalah Lily yang memang berdiri di depannya.


“Lily … Anakku.” ucap Andy seraya memeluk Lily dengat erat.


Andy menangis terharu karena dia kembali dapat melihat. Begitu pula dengan Lily dan Gwen. Mereka kemudian saling berpelukan.


“Selamat Tuan Anderson, anda sudah dapat melihat kembali.” ucap Dokter.


“Terima kasih banyak Dokter. Saya benar-benar tidak menyangka jika saya dapat melihat kembali.” kata Andy.


Mereka kemudian segera pulang ke rumah.


“Alfred ada di mana? Ayah ingin sekali bertemu dengannya. Kau ajaklah dia datang ke rumah.” pinta Andy pada Lily.


“Alfred sedang sibuk Ayah, dia mendapatkan proyek baru.”


“Benarkah? Jika dia ada waktu luang ajaklah kemari.” ucap Andy.


“Baiklah Ayah, nanti aku akan bicara padanya.”


Ponsel Lily berdering …


“Hallo Lily, bagaimana kabarmu?” tanya Jonathan.


“Hallo, maaf ini siapa?” tanya Lily


“Ini aku Jonathan. Apa kau sedang sibuk?”


Lily kemudian masuk ke kamarnya untuk berbicara dengan Jonathan.


“Oh Jonathan. Aku tidak sibuk, ada apa?”


“Apakah kita bisa bertemu sore ini?”


“Untuk apa?”


“Kita berbincang saja, jika kau mau nanti sore kita bertemu di kedai kopi saja.”


“Baiklah kalau begitu, aku akan datang nanti sore.


“Bagus. Sampai jumpa nanti Lily.”


Jonathan kemudian menutup teleponnya dan lalu mengirimkan pesan pada Lily alamat kedai kopi tempat mereka akan bertemu nanti sore.

__ADS_1


Sore harinya …


Lily bersiap pergi ke kedai kopi untuk bertemu dengan Jonathan.


“Ayah … Ibu … Aku pamit pergi keluar sebentar. Aku akan menemui seorang produser musik. Dia menyukai suaraku, katanya dia akan membantuku untuk membuat demo rekaman menyanyi.” kata Lily.


“Benarkah? Ibu senang mendengarnya. Semoga sukses ya. Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.”


“Iya Ayah juga ikut senang mendengarnya. Pesan Ayah padamu tetap jaga dirimu baik-baik di mana pun kau berada.”


“Baiklah Ayah … Ibu … Aku pergi sekarang.”


“Hati-hati di jalan, setelah selesai cepatlah kau pulang.” kata Andy.


Lily kemudian pergi menuju ke kedai kopi. Hanya butuh 20 menit perjalanan, Lily sudah sampai. Terlihat Jonathan sudah duduk di area depan kedai kopi. Segera Lily menghampirinya.


“Hai Jonathan, apa kau sudah lama menungguku?” tanya Lily.


“Lily kau sudah datang, aku juga baru saja sampai. Kau mau pesan apa?”


“Cokelat panas saja jika ada.”


“Baiklah, kau duduk di sini saja. Aku akan ke dalam untuk memesan.”


Kemudian Jonathan memesan cokelat panas dan beberapa roti untuk camilan.


Mereka berdua membicarakan mengenai demo rekaman yang akan mereka kerjakan. Lily sangat antusias sekali, namun dia belum bisa memastikan kapan dia bisa datang ke studio milik Jonathan.


Sementara di bandara …


Setelah sampai, Alfred sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Lily. Dia tidak sanggup lagi menahan amarahnya.


“Kau bisa pulang sendiri kan?” tanya Alfred pada Natasha.


“Tentu saja aku akan pulang bersamamu. Jangan bilang kau akan meninggalkanku sendirian.” ucap Natasha.


“Yasudah kita pergi ke rumahmu dulu, aku akan menemanimu pulang.”


Mereka kemudian mencari taksi dan pergi menuju ke rumah Natasha. Di tengah perjalanan, Natasha meminta berhenti di kedai kopi terlebih dahulu sebelum sampai rumah.


“Permisi Pak, bisakah kita mampir sebentar ke kedai kopi di depan sana? Saya ingin membeli kopi.” ucap Natasha.


“Baik Nona.” jawab sopir taksi itu.


“Kau juga mau kopi atau tidak?” tanya Natasha pada Alfred.


“Kopi espresso panas saja.” jawab Alfred.


Begitu sampai di kedai kopi, Natasha turun sendiri sementara Alfred menunggu di dalam taksi.


Ketika sedang menunggu Natasha, Alfred melihat Lily sedang bersama seorang pria. Mereka terlihat sedang berbincang. Alfred semakin marah melihat Lily bersama dengan pria lain. Segera Alfred turun dari taksi dan mendekati Lily.

__ADS_1


“Lily! Sedang apa kau di sini? Siapa pria ini?” bentak Alfred.


Lily dan Jonathan terkejut melihat kedatangan Alfred yang langsung berteriak itu.


“Alfred! Apa-apaan kau ini! Kenapa kau teriak-teriak tidak jelas!” ucap Lily dengan nada kesal.


“Kau benar-benar wanita murahan!”


Alfred menampar Lily dengan keras. Jonathan yang tidak terima dengan perlakuan Alfred pada Lily segera mendorong Alfred menjauh dari Lily.


“Kau tak usah ikut campur! Dasar berengsek kau!”


Alfred memukul Jonathan hingga jatuh tersungkur. Lily kemudian membantu Jonathan untuk berdiri.


Melihat ada keributan di depan, Natasha segera memeriksanya.


“Alfred … Kau kenapa?” tanya Natasha sambil memegang tangan Alfred.


“Sudah cukup kau menyakiti perasaanku Lily, kau senang sekarang melihatku hancur seperti ini hah?” bentak Alfred.


“Terima kasih tamparanmu Alfred.” kata Lily sambil menarik tangan Jonathan untuk pergi meninggalkan kedai kopi itu.


“Siapa dia?” tanya Natasha pada Alfred.


“Diamlah kau jangan banyak bertanya. Cepat masuk ke dalam taksi. Kita pergi dari sini.”


Alfred menarik tangan Natasha dengan kasar. Kemudian Alfred meminta mengganti tujuan untuk langsung ke apartemennya saja.


Alfred langsung menghubungi Shemma untuk meminta melarang Lily bekerja di Lion Kafe lagi. Shema menuruti keinganan Alfred itu dengan terpaksa. Segera dia menghubungi Frans untuk memberi tahu Lily jika dia sudah tidak bisa lagi bekerja di Lion Kafe.


Sementara di dalam mobil Jonathan …


“Kau tidak apa-apa kan?” tanya Lily.


“Tenanglah, aku baik-baik saja. Sebenarnya siapa dia? Kenapa dia menamparmu seperti itu? Apakah terasa sakit?” tanya Jonathan.


“Pipiku tidak terasa sakit sama sekali. Tapi hatiku yang sakit. Aku tidak menyangka dia berbuat seperti ini padaku.” ucap Lily sambil menangis.


“Kau jangan menangis Lily, sebenarnya siapa pria itu?”


“Dia mantan kekasihku, aku sudah mengakhiri hubunganku dengannya. Dia masih saja tidak bisa menerima. Karena aku, kau jadi dipukul. Aku minta maaf.”


“Kau tidak perlu minta maaf, ini bukan kesalahanmu. Sudah kau jangan menangis. Apa kau mau kuantar pulang?”


“Jika tidak merepotkanmu.”


“Tentu saja tidak. Baiklah aku akan mengantarmu pulang sekarang. Tapi tolong berhentilah menangis.”


“Baiklah. Sekali lagi aku minta maaf padamu atas kejadian tadi. Kau jadi terkena imbas amarah pria gila itu.”


“Sudah jangan kau pikirkan, aku baik-baik saja. Tidak masalah.”

__ADS_1


Jonathan kemudian mengantar Lily pulang ke rumah.


__ADS_2