Falling In Love Dengan Pemabuk

Falling In Love Dengan Pemabuk
Episode 36


__ADS_3

Keesokan harinya Lily bersiap untuk mengantar Ayah dan Ibunya ke bandara.


“Ayah … Ibu … Pukul berapa penerbangannya?” tanya Lily.


“Penerbangannya pukul 2 siang, tidak usah terburu-buru kita sarapan dulu saja.” kata Gwen.


“Baiklah kalau begitu Ibu. Ibu masak apa untuk sarapan pagi ini?”


“Ibu hanya membuat roti lapis dan susu, tidak apa-apa kan?


“Iya tidak apa-apa, Ibu.”


Kemudian mereka bertiga menikmati sarapan mereka pagi ini. Ditengah-tengah menikmati santap pagi mereka, tiba-tiba Lily menangis.


“Kau kenapa menangis, Lily?” tanya Andy.


“Tidak apa-apa, Ayah. Ini akan menjadi sarapan bersama kita terakhir sebelum Ayah dan Ibu pergi ke London.” jawab Lily.


Andy kemudian memegang erat tangan Lily. Sementara Gwen bangun dari tempat duduknya dan memeluk Lily.


“Kau jangan menangis seperti itu, Ibu jadi tidak tega meninggalkanmu sendiri di sini.” kata Gwen.


“Kita harus sering memberi kabar satu sama lain, semoga saja aku bisa kuat menjalani kehidupan tanpa Ayah dan Ibu di sini.” ucap Lily.


“Kau pasti kuat, Lily. Sebentar lagi kau kan akan menjadi penyanyi yang sukses. Iya kan?” ucap Andy.


Kemudian mereka tertawa bersama dan melanjutkan menikmati sarapan paginya itu.


Terdengar suara pintu diketuk …


“Siapa yang pagi-pagi begini datang? Biar aku saja yang membuka pintunya.” kata Lily.


Betapa terkejutnya Lily karena melihat Alfred datang ke rumahnya sepagi ini.


“Ada urusan apa kau kemari?” tanya Lily dengan ketus.


“Siapa yang datang, Lily?” teriak Gwen dari kejauhan.


“Sebaiknya kau pergi saja dari sini. Cepatlah pergi.” kata Lily pada Alfred.


Kenapa kau tak membiarkan aku masuk?”


“Untuk apa? Sudah pergilah saja sekarang.”


Alfred tidak memperdulikan larangan Lily, dia kemudian masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan orang tua Lily.


“Hallo Om dan Tante.” sapa Alfred.


”Alfred … Kau datang pagi-pagi begini. Ayo ikut sarapan dengan kami.” ucap Gwen.


Lily terheran karena Ibunya malah mempersilahkan Alfred untuk sarapan bersama.


“Kau duduk sebentar di sini, akan kuambilkan segelas susu untukmu.” kata Gwen.


“Terima kasih, Tante. Maaf jika merepotkan.” ucap Alfred.

__ADS_1


“Tentu saja tidak merepotkan. Malah kami senang kau datang kemari.” tambah Gwen.


“Alfred … Jika tidak merepotkanmu, aku ingin meminta tolong padamu.” kata Andy.


“Minta tolong soal apa, Om?” tanya Alfred.


“Aku dan istriku akan pergi ke London karena ada panggilan tugas di militer angkatan udara. Sedangkan Lily terpaksa tidak bisa ikut dengan kami. Maukah kau membantu kami untuk menjaga Lily?” pinta Andy.


“Ayah! Aku kan sudah besar. Aku bisa menjaga diriku sendiri.” kata Lily.


“Tentu saja aku bisa, Om. Bahkan jika 24 jam aku harus menjaganya, aku pun sanggup.” ucap Alfred.


“Kau tidak usah berlebihan seperti itu! Kau pikir aku ini bayi yang harus kau jaga seharian!” gerutu Lily.


“Sudah sudah jangan berdebat seperti itu. Ayo nikmati dulu sarapan paginya.” kata Gwen.


Setelah selesai menikmati sarapan pagi, Lily dibantu oleh Alfred mencuci alat makan yang sudah digunakan.


“Kau ini jangan mencari muka di hadapan orang tuaku!” ucap Lily dengan nada kesal.


“Aku tidak mencari muka. Aku sudah diberi pesan untuk menjagamu jadi aku akan bersamamu terus menerus.” kata Alfred dengan tersenyum.


“Kau ini menyebalkan sekali. Kau pikir aku senang jika kau terus mengawasiku seperti itu? Aku ingatkan padamu ya, jangan pernah menggangguku lagi.”


“Tenang saja, sekarang aku ini kan pengawal pribadimu. Jadi jika ada yang macam-macam denganmu, akan aku habisi.”


“Kau sudah gila ya?”


“Iya memang aku sudah gila. Aku tergila-gila padamu hehehe.”


“Kau ini jangan tertawa! Aku bicara serius.”


“Berlebihan sekali kau ini.”


Mereka kemudian selesai mencuci peralatan makannya dan kembali menuju ke ruang tamu dimana Gwen dan Andy sudah duduk menunggu mereka.


“Kalian sudah selesai?” tanya Gwen.


“Iya, Tante. Kami sudah selesai hehehe.” jawab Alfred.


“Tante senang melihat kalian akur begini.”


“Aku yang tidak senang ada dia di sinu, Ibu!” ucap Lily.


“Jika masih ada waktu, bolehkah Ayah dan Ibuku datang kemari? Mereka ingin sekali bertemu dengan Om dan Tante.” kata Alfred.


“Benarkah? Ajak saja mereka kemari. Kami sangat senang jika memang orang tuamu bisa datang.” ucap Gwen.


“Iya benar, lagi pula penerbangan kami pukul 2 siang. Jadi masih ada waktu untuk bertemu dengan orang tuamu. Khususnya aku, aku ingin berterima kasih kepada mereka.” ucap Andy.


“Baiklah kalau begitu, aku akan menghubungi Ibuku untuk datang kemari.” kata Alfred.


Alfred segera menghubungi Ibunya untuk meminta datang ke rumah Lily.


“Hallo Ibu, Ayah dan Ibu apakah masih di rumah?” tanya Alfred.

__ADS_1


“Ya, kami di rumah. Ada apa?”


“Aku ingin Ayah dan Ibu datang ke rumah Lily. Orang tua Lily ingin bertemu dengan Ayah dan Ibu sebelum pergi ke London.”


“Pergi ke London? Ada acara apa mereka?”


“Ada tugas. Cepatlah Ibu dan Ayah datang. Aku akan mengirim lokasi rumah Lily.”


“Baiklah, Ibu dan Ayahmu akan segera ke sana.”


“Terima kasih, Ibu. Hati-hati di jalan ya. Sampai jumpa.”


Alfred kemudian menutup teleponnya.


“Kita tunggu orang tuaku datang hehehe.” ucap Alfred dengan tersenyum senang.


“Kenapa harus mengundang orang tua Alfred untuk datang kemari, menyusahkanku saja.” batin Lily.


Selang 40 menit, orang tua Alfred sampai di rumah Lily. Mereka langsung disambut hangat oleh Gwen dan Andy.


“Mari silahkan duduk, terima kasih sudah mau mampir ke rumah kami.” kata Gwen.


“Iya, kami juga berterima kasih sudah diundang kemari.” ucap Jennifer.


Lily terlihat agak canggung bertemu dengan orang tua Alfred, terlebih setelah berbagai masalahnya dengan Alfred.


Mereka kemudian asyik berbincang membahas tentang donor mata dan juga hubungan anak-anak mereka. Sementara Alfred dan Lily hanya terdiam mendengar orang tua mereka berbincang.


Alfred mengirim pesan kepada Ibunya untuk melamar Lily. Jennifer agak terkejut karena dia tidak mempunyai persiapan apapun. Namun Alfred terus mendesak Ibunya karena tidak ada kesempatan seperti ini lagi.


“Tuan dan Nyonya Anderson, saya sangat berterima kasih dan bersyukur bisa bertemu dengan keluarga kalian. Saya sudah bertemu dengan Lily sebelumnya dan saya rasa Lily wanita yang baik. Maka dari itu saya ingin mewakili Alfred untuk melamar Lily untuk menjadi istrinya. Apakah kalian setuju?”


Lily langsung tersentak kaget. Dia tidak menyangka jika Jennifer akan berkata seperti itu.


“Terima kasih atas lamarannya Tuan dan Nyonya Hernandez. Saya mungkin akan menyerahkan jawabannya kepada Lily. Bagaimana Lily?” tanya Andy.


“Hmmm … Jujur saja saya tidak tahu harus berkata apa. Mungkin saya perlu waktu untuk memikirkannya.” jawab Lily.


“Nak, Ibu dan Ayah akan segera pergi. Tidak ada waktu lagi untuk memikirkan, Ibu juga belum mempercayai siapa pun untuk menjagamu kecuali Alfred. Kau mungkin bisa pikirkan sekarang.” ucap Gwen.


Lily melihat ke arah Alfred yang sedang tersenyum kepadanya. Dia bingung harus bagaimana. Dia mencoba mengingat-ingat kembali kenangan manisnya bersama dengan Alfred.


“Lily, dulu aku sudah pernah memintamu untuk menjadi istriku. Aku juga dulu berjanji akan membawa orang tuaku untuk bertemu dengan orang tuamu. Hari ini mereka datang, aku menepati janjiku padamu. Aku mohon terimalah lamaranku ini. Kita bisa memperbaiki kembali hubungan kita. Aku janji padamu akan terus berubah menjadi yang terbaik untukmu.” ucap Alfred panjang lebar.


Karena merasa tak enak dengan Jennifer dan Daniel yang sudah datang ke rumahnya, Lily kemudian menerima lamarannya itu.


Alfred tampak begitu senang dan tak menyangka jika Lily akan menerima lamarannya ini. Lily mengajak Alfred untuk berbicara di teras luar rumah.


“Kau jangan senang dulu. Ini karena aku merasa tidak enak pada orang tuamu yang sudah datang kemari.” ucap Lily.


“Kau sudah menerima lamaranku artinya kau kembali menjadi milikku. Aku berjanji padamu akan menjadi pria terbaik yang pernah kau temui. Aku senang sekali. Terima kasih.” kata Alfred sambil mencium tangan Lily.


Lily tak kuasa menahan tawanya karena melihat tingkah Alfred yang seperti anak kecil.


“Yasudah ayo kita masuk.” ajak Lily.

__ADS_1


Mereka kemudian melanjutkan pembicaraan mengenai beberapa hal. Sampai tak sadar jika waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang.


Mereka semua mengantar Andy dan Gwen ke bandara. Walaupun sedih karena harus berpisah dengan kedua orang tuanya, Lily merasa bahagia Alfred kembali padanya. Bahkan hubungannya menjadi lebih serius.


__ADS_2