Falling In Love Dengan Pemabuk

Falling In Love Dengan Pemabuk
Episode 39


__ADS_3

Sesampainya di rumah Lily, mereka segera menikmati makan malam mereka.


“Kau tidur di sini saja menemaniku.” pinta Lily.


“Baiklah, kau jangan terlalu memikirkan masalah tadi. Kau istirahat lah dulu. Aku berada di ruang tamu jika kau mencariku.” kata Alfred.


“Baiklah, aku tidur duluan ya.”


“ Iya, Lily. Selamat malam.”


Lily kemudian masuk ke kamar untuk tidur. Sementara Alfred duduk di ruang tamu untuk menonton acara televisi.


Sekita 1 jam menonton televisi, Alfred mulai merasa mengantuk dan merebahkan tubuhnya di sofa dan kemudian dia tertidur pulas.


Keesokan paginya, Lily terbangun dan merasa panik karena tidak ada Alfred di sampingnya. Segera dia keluar kamar dan mencari Alfred.


Terlihat Alfred sedang tertudur di sofa ruang tamu, perlahan Lily mendekati Alfred dan mencium keningnya. Kemudian Lily menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua.


Mencium aroma harumnya omelet, Alfred terbangun dari tidurnya. Segera dia menghampiri Lily yang tengah memasak di dapur.


“Kau sedang memasak apa?” tanya Alfred.”


“Kau sudah bangun ya? Ini aku buatkan omelet untuk sarapan kita berdua. Apa kau mau roti lapis juga? Jika iya akan kubuatkan.” ucap Lily.


“Boleh, aku tunggu di meja makan ya.”


“Iya, mungjin 10 menit lagi aku akan selesai.”


Tak sampai 10 menit, Lily sudah selesai menyiapkan sarapan pagi untuknya dan Alfred.


“Hari ini apakah kau ada acara?” tanya Alfred.


“Sepertinya tidak ada. Ada apa?” tanya Lily


“Jika kau tidak acara, bagaimana jika kita pergi melihat anjing. Nanti jika kau suka, aku akan membelikannya untukmu.”


“Ah tidak perlu, mempunyai seekor anjing itu butuh tanggung jawab yang besar. Sepertinya aku belum sanggup untuk itu.”


“Hmmm baiklah kalau begitu. Mungkin setelah ini aku akan pulang ke rumah. Kau mau ikut denganku?”


“Sepertinya tidak, aku di rumah saja.”


“Kau yakin?”


“Kenapa kau bertanya seperti itu, kau jadi membuatku panik saja.”


“Lily oh Lily, kau itu kenapa panik tanpa sebab? Lucu sekali kau ini.”


“Terus terang saja, aku masih memikirkan masalah kemarin. Aku hanya tidak ingin terjadi hal buruk padamu.”


“Harus kukatakan berapa kali padamu jika semuanya akan baik-baik saja. Percayalah padaku, kau tidak perlu memikirkan persoalan semalam.”


“Aku ingin bersamamu setiap saat, dengan begitu aku merasa tenang.”

__ADS_1


“Baiklah, aku tidak akan meninggalkanmu sendiri di sini. Biar aku menyuruh orang saja untuk membawakan baju untukku.”


“Kau tidak keberatan kan? Maaf ya jadi merepotkanmu.”


“Tidak masalah, kau tidak merepotkanku sama sekali. Selama itu membuatmu bahagia, aku akan melakukannya.”


Alfred kemudian berjalan ke taman belakang rumah untuk duduk sambil menikmati pemandangan kebun yang berada di belakang rumah Lily.


Sementara Lily kembali masuk ke dalam kamar untuk mandi. Lily sangat mencemaskan Alfred, dia takut jika Alfred akan masuk penjara karena beberapa polisi mencarinya kemarin.


“Mudah-mudahan saja apa yang aku pikirkan tidak terjadi. Aku tidak mau Alfred sampai masuk penjara.” batin Lily.


Lily kemudian menyelesaikan mandinya dengan tergesa-gesa dan segera menghampiri Alfred yang sedang duduk di taman belakang.


“Kau betah sekali duduk di sini, bagaimana kalau kita masuk saja?” ajak Lily.


“Aku merasa tenang di sini, rumahmu ini sangat nyaman. Bagaimana kalau aku tinggal di sini saja hehehe.” canda Alfred.


“Bukannya kau memang sudah tinggal di sini bersamaku?”


“Oh benarkah? Jadi kita sudah resmi tinggal bersama? Wah kita harus merayakannya.”


“Eh tunggu dulu. Kenapa harus dirayakan? Kau tinggal di sini kan karena aku ingin terus melihatmu.”


“Ah sudahlah Lily, kita rayakan saja berdua. Hari ini resmi kita tinggal bersama. Kau setuju kan? Harus setuju. Ayo kita pergi keluar membeli sesuatu untuk perayaan.”


“Kau berlebihan sekali. Tapi … Idemu bagus juga. Ayo kita membeli kue dan beberapa minuman soda.”


Alfred dan Lily kemudian pergi ke mall untuk membeli beberapa keperluan untuk perayaan kecil-kecilan itu.


“Kira-kira seperti ini jika kita sudah menikah, belanja bersama hehehe.” canda Alfred.


“Belum lagi jika kita sudah mempunyai anak, pasti akan sedikit merepotkan.”


“Merepotkan katamu? Tidak juga. Justru itu akan membuat kita lebih semangat lagi.”


“Sepertinya jika dilihat-lihat kau ini suka sekali dengan anak kecil. Benar tidak?”


“Ya, aku suka dengan anak kecil. Apalagi jika anakku sendiri. Aku akan memanjakannya hehehe.”


Telepon Alfred berdering …


“Hallo Tuan Hernandez, kami dari kepolisian yang kemarin bertemu dengan anda. Apakah anda bisa datang ke kantor polosi sekarang?” kata petugas polisi.


“Ada masalah apa lagi?” tanya Alfred.


“Kami ingin meminta keterangan lanjutan dari anda. Dan kami juga ingin mengabarkan jika Nona Smith meninggal dunia.”


“Apa? Meninggal dunia? Baiklah kalau begitu, saya akan segera ke sana.”


“Baik. Terima kasih atas kerja sama anda. Kami tunggu anda di kantor.”


“Baiklah, terima kasih kembali.”

__ADS_1


Alfred kemudian menutup teleponnya.


“Siapa yang meninggal dunia?” tanya Lily penasaran.


“Petugas kepolisian yang kemarin memintaku untuk datang ke kantor polisi untuk memberi keterangan lanjutan. Dia juga mengabarkan jika Natasha meninggal dunia.”


“Benarkah?”


“Iya, bagaimana kalau aku mengantarmu pulang sekarang?”


“Tidak! Aku tidak mau pulang. Aku ingin ikut denganmu ke kantor polisi.”


“Apa kau yakin?”


“Aku yakin. Aku harus ikut. Aku tidak mau kau datang ke sana sendirian. Aku harus memastikan jika kau baik-baik saja.”


“Baiklah kalau begitu, apa belanjaan kita sudah semua?”


“Sudah. Kita tidak usah membeli kue. Kita segera pergi saja ke kantor polisi.”


Mereka berdua kemudian pergi ke kantor polisi. Sesampainya di sana, Alfred segera diminta untuk masuk ke ruangan sementara Lily menunggu di lobi.


Setelah hampir 2 jam, Alfred terlihat keluar dari ruangan dan segera menghampiri Lily yang sedang menunggunya di lobi.


“Kau sudah selesai? Kenapa lama sekali?” tanya Lily.


“Ayo kita pulang sekarang. Urusanku di sini sudah selesai.”


“Kau tidak ditahan kan?”


“Tentu saja tidak. Aku hanya dimintai keterangan saja. Kau mulai panik begini, itu yang aku tidak mau ini terjadi. Kau panik berlebihan.”


“Iya, maafkan aku. Ayo kita pulang sekarang. Aku takut berada di kantor polisi.”


Alfred dan Lily kemudian pulang menuju ke rumah Lily. Sekitar 45 menit perjalanan, mereka berdua sampai di rumah Lily.


“Aku akan menyimpan barang belanjaan kita, jika kau lelah istirahat saja lah.” kata Lily.


“Aku tidak lelah. Aku lapar sekarang.” ucap Alfred.


“Kau mau makan apa? Biar aku buatkan. Atau kau mau memesan makanan?”


“Kau masak saja sebisamu. Kita kan akan merayakan peresmian tinggal bersama kita. Apa kau lupa?”


“Kau ini kenapa masih memikirkan perayaan? Apa kau tidak ingin hadir ke pemakaman Natasha?”


“Kurasa tidak perlu. Sebaiknya aku tidak terlalu ikut campur. Itu lebih baik.”


“Yasudah jika kau tidak mau. Aku buatkan ayam kecap saja bagaimana?”


“Apa kau bisa memasak ayam kecap?”


“Kau meragukanku? Kau tunggu saja. Awas jangan sampai nanti kau ketagihan.”

__ADS_1


“Baiklah. Jika ketagihan, aku akan meminta terus padamu untuk memasak ayam kecap hehehe.”


Lily kemudian bersiap untuk memasak. Sementara Alfred masuk ke kamar Lily. Alfred berbaring di atas tempat tidur dan memutar musik sambil menunggu Lily selesai memasak.


__ADS_2