Falling In Love Dengan Pemabuk

Falling In Love Dengan Pemabuk
Episode 42


__ADS_3

Semua keluarga Alfred beserta dengan Lily berkumpul untuk menikmati makan malam mereka. Jennifer sangat senang Lily bisa kembali hadir di tengah-tengah keluarganya.


Belum sempat Lily menghabiskan makanannya, dia mendapat panggilan dari Meghan. Dengan cepat Lily menjauh dari meja makan untuk menerima panggilan dari Meghan itu.


“Hallo … Lily kau dimana? Kenapa kau tidak datang untuk bekerja?” tanya Meghan.


“Astaga! Maaf Meghan. Aku lupa tidak memberi tahu. Sepertinya malam ini aku tidak bisa datang untuk bekerja.” kata Lily.


“Jika kau memang sudah tidak mau bekerja di sini, kau bilang saja! Jangan merepotkan seperti ini.”


“Maaf, Meghan. Baiklah aku akan datang besok.”


“Tidak perlu! Kau tidak dibutuhkan lagi di Dragon Kafe.”


Meghan langsung menutup teleponnya. Kemudian Lily kembali ke meja makan dengan wajah sedih.


“Siapa yang menghubungimu, Lily? Kenapa wajahmu jadi murung begitu?” tanya Alfred.


“Aku lupa memberi tahu Meghan jika aku tidak bisa datang untuk bekerja. Lalu dia marah padaku dan memberhentikanku.” jawab Lily.


“Memang kau bekerja di mana saat ini, Lily?” tanya Jennifer.


“Aku bekerja di Dragon Kafe, tapi sekarang managernya memberhentikanku.” jawab Lily.


“Kau jangan bersedih seperti itu, karir menyanyimu akan segera dimulai kan? Jadi kau jangan khawatir jika dia memberhentikanmu.” ucap Alfred.


Kemudian mereka semua melanjutkan makan malam mereka. Keluarga Alfred sangat menyukai Lily, Jennifer dan Daniel bahkan sudah menyiapkan rumah untuk Alfred dan Lily jika mereka sudah menikah nantinya.


Setelah selesai, mereka semua berkumpul di ruang keluarga untuk berbincang-bincang.


“Kenapa wajahmu murung seperti itu, Lily? Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Daniel.


“Ti … Tidak … Aku sedang tidak memikirkan apa-apa.” jawab Lily dengan terbata-bata.


“Jangan khawatir jika kau diberhentikan dari pekerjaanmu. Itu artinya kau tidak berjodoh dengan pekerjaan itu. Mungkin Tuhan sedang mempersiapkan yang terbaik untukmu.”


“Iya, Paman. Semoga saja.”


Daniel kemudian meninggalkan mereka karena ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan secepatnya.


“Lily … Alfred … Bagaimana jika kita mengadakan pesta perayaan pertunangan kalian akhir pekan ini?” tanya Jennifer.


“Tidak masalah, Ibu. Aku mengikuti saja. Bagaimana denganmu, Lily?” tanya Alfred.

__ADS_1


“Aku juga mengikuti saja.” jawab Lily.


“Baiklah kalau begitu, Ibu akan mulai mengundang beberapa teman dan kolega. Ibu sangat bersemangat sekali.”


Kemudian Jennifer pergi ke kamarnya. Di ruang keluarga hanya tersisa Alfred, Lily dan Elizabeth. Mereka memutuskan untuk menonton film horor.


Baru 30 menit menonton, Lily sudah merasa mengantuk.


“Alfred … Bagaimana jika kita pulang sekarang? Aku sudah mengantuk. Besok pagi kita harus pergi ke studio Jonathan. Kita tidak boleh terlambat.” kata Lily.


“Baiklah, aku memanggil Ayah dan Ibu dulu.” ucap Alfred.


Alfred kemudian pergi ke kamar orang tuanya untuk memberi tahu mereka jika dirinya dan Lily akan pulang ke rumah Lily.


“Kau mau rekaman ya?” tanya Elizabeth.


“Iya, Liz. Semoga saja semuanya berjalan dengan lancar.” jawab Lily.


“Aku doakan kau bisa sukses menjadi penyanyi terkenal. Aku bangga sekali padamu.”


“Terima kasih, Liz.”


Tak lama Alfred dan kedua orang tuanya datang, Lily kemudian berpamitan untuk pulang ke rumahnya bersama dengan Alfred.


Setelah kurang lebih 45 menit perjalanan, Alfred dan Lily sudah sampai di rumah Lily. Alfred kemudian membangunkan Lily dari tidurnya.


“Lily … Lily … Bangunlah. Kita sudah sampai.” ucap Alfred seraya mengusap lembut pipi Lily.


Sepertinya Lily terlalu lelap sehingga Alfred harus menggendongnya menuju ke kamar. Dengan sabar Alfred melepas sepatu Lily dan menutup tubuh Lily dengan selimut.


Sementara Lily tertidur, Alfred pergi ke mini market untuk membeli beberapa bir untuknya. Setelah itu Alfred kembali ke rumah Lily.


Sesampainya di rumah Lily, Alfred terkejut karena Lily sudah berada di ruang tamu.


“Kau dari mana saja?” tanya Lily dengan nada ketus.


“Aku membeli bir di mini market, kenapa kau terbangun?” tanya Alfred balik.


“Siapa yang menyuruhmu membeli bir? Kau ini!”


Alfred kemudian meletakkan birnya di atas meja dan duduk di samping Lily. Alfred mencoba untuk menenangkan Lily agar tidak marah padanya.


“Beberapa hari ini aku tidak minum bir, sesekali boleh kan?” rayu Alfred.

__ADS_1


“Kenapa kau tidak bilang dulu padaku?” tanya Lily dengan nada marah.


“Sudah jangan marah seperti itu, kecantikanmu bisa hilang jika kau marah. Maaf ya sayang.”


“Lain kali kau harus bilang padaku jika kau ingin membeli bir!”


“Baiklah, lain kali aku akan bilang padamu jika aku ingin membeli bir. Tapi sekarang tersenyumlah dulu. Jangan marah padaku ya, besok kan kau harus latihan bernyanyi.”


“Apa urusannya marah dengan latihan bernyanyi?”


“Jika kau marah nanti suara indahmu itu bisa hilang. Sekarang cobalah tersenyum manis padaku.”


“Kau ini seperti berbicara dengan anak kecil saja. Yasudah aku mau kembali tidur. Kau tidak boleh menghabiskan semua bir ini. Simpan sisanya. Awas saja jika kau menghabiskan semuanya.”


“Siap Tuan Puteri. Akan saya simpan beberapa botol birnya. Silahkan Tuan Puteri tidur dulu.”


Lily tersenyum karena melihat tingkah konyol Alfred yang terus merayunya itu. Kemudian dia masuk ke dalam kamar dan tidur.


Sementara Alfred duduk di ruang tamu dan menikmati bir yang baru saja dibelinya itu. Dia hanya meminum 3 botol saja, 7 botol lainnya dia simpan di lemari pendingin.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 1 malam, Alfred mulai merasa mengantuk dan kemudian dia menyusul Lily ke kamar.


Dia berbaring di samping Lily dan melihat Lily yang sedang tertidur. Alfred mengusap lembut rambut Lily dan memegang tangannya.


Alfred memejamkan matanya dan tertidur di samping Lily sambil menggenggam tangan Lily.


Keesokan paginya, Lily terbangun dan terkejut melihat Alfred tertidur di sampingnya.


“Kenapa dia bisa berada di sampingku?” batin Lily.


Lily kemudian keluar dari kamar dan menyiapkan susu beserta roti lapis untuk sarapan pagi mereka berdua.


Sekitar 10 menit kemudian, makanan sudah siap. Lily masuk ke dalam kamarnya untuk membangunkan Alfred.


“Alfred … Alfred … Bangunlah. Sarapan sudah siap. Ayo kita makan dulu.” ucap Lily sambil menepuk badan Alfred.


Alfred mulai membuka matanya perlahan, kemudian dia menarik tangan Lily hingga Lily terjatuh di tempat tidur. Alfred memeluk Lily dengan erat dan mencium keningnya.


“Ayo cepatlah bangun, sarapan sudah siap. Setelah itu kita harus bersiap untuk pergi ke studio Jonathan.” kata Lily.


“Baiklah, aku akan mencuci muka terlebih dahulu.”


Lily kemudian keluar dari kamar dan duduk menunggu Alfred di ruang makan, sementara Alfred ke kamar mandi untuk mencuci muka.

__ADS_1


Setelah selesai, Alfred segera menyusul Lily yang sudah menunggunya. Kemudian mereka berdua menikmati sarapan pagi yang sudah disiapkan oleh Lily itu.


__ADS_2