Falling In Love Dengan Pemabuk

Falling In Love Dengan Pemabuk
Episode 14


__ADS_3

Siang harinya, Alfred berencana untuk mengajak Lily jalan-jalan ke Mall.


“Lily … Bagaimana kalau kita pergi ke mall? Aku perlu membeli sesuatu.” ajak Alfred.


“Kau mau beli apa?”


“Nanti kau juga akan tahu. Ayo kita pergi sekarang.”


“Baiklah kau tunggu dulu, aku segera siap-siap.”


Sambil menunggu Lily bersiap-siap, Alfred menghubungi Ibunya.


“Hallo Ibu, kapan Ibu pulang?”


“Hallo Alfres, Ibu tidak bisa memastikan. Nanti akan Ibu kabari lagi. Apa ada hal penting?”


“Tidak ada, aku hanya bertanya saja. Baiklah Ibu jaga kesehatan ya. Sampai jumpa lagi.” ucap Alfred kemudian menutup teleponnya.


“Ayo kita berangkat sekarang.” kata Lily


“Kau sudah siap, baiklah kita pergi sekarang.”


Alfred dan Lily berpamitan pada orang tua Lily.


Sesampainya di mall, Alfred menuju toko pakaian pria.


“Aku beli baju dulu ya, kau mau memilihkan untukku?”


“Baiklah, akan kupilihkan. Kau harus suka ya apapun pilihanku hehehe.”


Lily memilihkan kaos hitam polos dan celana jeans biru untuk Alfred.


“Kau beli ini saja, aku suka kau memakai baju warna hitam. Kadar tampanmu langsung bertambah hehehe.”


“Kau ini bisa saja, aku sudah tampan dari lahir. Baju apapun yang kupakai pasti terlihat bagus.” jawab Alfred dengan percaya diri.


“Huuu dasar kau ini.”


Setelah membayar. Alfred kemudian langsung memakainya.


“Memang kau mau beli apa?”


“Sabarlah, nanti kau juga akan tahu.”


Alfred dan Lily kemudian berjalan menuju ke toko berlian. Pegawai toko berlian langsung menyambut mereka.


“Ada yang bisa saya bantu? Anda sedang mencari apa?” tanya pegawai toko itu.


“Kami mau membeli cincin.” jawab Alfred.


“Baiklah Tuan dan Nona, mari saya antar dan saya bantu pilihkan.”


Alfred dan Lily diantar menuju ke etalase bagian cincin.


“Perkenalkan nama saya Mike, saya yang akan membantu Tuan dan Nona siapa kalau boleh tahu?”

__ADS_1


“Saya Alfred dan ini kekasihku Lily, tolong bantu pilihkan beberapa cincin yang cocok untuknya.”


“Baik Tuan Alfred, saya akan pilihkan cincin yang paling laku di toko kami.”


Mike memilihkan 3 cincin terbaik di toko itu untuk Lily.


“Ini Nona Lily silahkan anda pilih yang mana yang anda suka.”


Setelah berdiskusi dengan Mike dan juga Alfred, Lily memilih cincin berlian putih.


“Pilihan yang bagus Nona. Berlian putih ini memang sering kali dipakai untuk cincin pernikahan. Kapan kalian akan menikah.”


“Segera.” jawab Alfred singkat.


Alfred lalu membayarnya dan segera pergi meninggalkan toko itu.


“Kita cari tempat makan ya, aku lapar. Kau mau makan apa?” tanya Alfred.


“Terserah kau saja. Alfred apa aku boleh bertanya padamu?”


“Tentu saja boleh, sudah kubilang padamu jika kau ingin menanyakan sesuatu padaku langsung saja kau tanyakan jangan meminta izin boleh bertanya atau tidak.”


“Iya maaf. Jadi sebenarnya kenapa kau membelikan cincin untukku?”


“Aku ingin melamarmu hehehe. Maaf ya aku tidak bisa memberimu kejutan seperti pria-pria lain. Aku ingin kau memilih sendiri cincinnya. Jika aku yang memilih, aku takut kau tak akan suka.”


“Melamarku? Jangan bercanda seperti itu. Kau serius ingin melamarku?”


“Tentu saja. Kau tidak yakin denganku? Ini pertama kalinya aku merasakan benar-benar jatuh cinta pada wanita.”


Alfred dan Lily sampai di restoran. Alfred memesan steak untuknya dan Lily. Tak lupa Alfred juga memesan champagne.


Setelah 20 menit menunggu, pesanan mereka datang.


“Aku sudah berbicara pada temanku, dia seorang produser musik. Aku merekomendasikanmu padanya. Semoga ini menjadi langkah awal kesuksesanmu.”


“Benarkah? Lalu apa katanya?”


“Dia ingin mendengarkan suaramu. Kapan-kapan buatlah demo kau menyanyi. Aku akan kirimkan padanya nanti.”


“Terima kasih ya, kau baik sekali. Entah bagaimana aku harus membalas kebaikanmu padaku.”


Alfred tersenyum manis pada Lily.


“Cukup kau temani aku saja sampai aku mati nanti.”


“Sssttt … jangan bicara soal mati begitu. Aku masih ingin bersamamu. Jangan bicara seperti itu lagi ya.”


Alfred lalu mengeluarkan cincin yang baru saja dibelinya itu dan meraih tangan Lily.


“Lily, seperti yang kukatakan tadi. Aku benar-benar jatuh cinta padamu. Aku ingin kau terus bersama denganku. Apakah kau mau menjadi istriku?”


Lily menganggukkan kepalanya dan tak terasa air matanya menetes.


“Tentu saja aku mau. Akan akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu.”

__ADS_1


Alfred kemudian mencium kening Lily. Lalu membuka champagne dan menuangkan ke gelas mereka berdua.


Sementara dari kejauhan Bianca bersama dengan teman-temannya memasuki restoran. Termasuk Julie juga datang bersama Bianca. Julie yang melihat Alfred langsung berjalan mendekati meja Alfred.


“Hai Alfred, kau ada di sini juga ternyata.” kata Julie.


Alfred melihat Julie dengan sinis. Bianca yang mengetahui ada Alfred di sana buru-buru menarik Julie untuk meninggalkan restoran itu.


“Apa-apaan kau ini? Kenapa menarik tanganku.” ucap Julie.


“Jangan kau ganggu mereka. Kita pindah ke restoran lain saja.” ucap Bianca.


Bianca bersama teman-temannya itu lalu pergi dan mencari restoran lainnya.


“Maaf ya ada gangguan sedikit. Ayo kita lanjutkan makan saja.”


“Iya tidak apa-apa.”


Alfred dan Lily lalu melanjutkan makan siangnya itu sambil berbincang banyak hal.


“Setelah ini kita mau kemana?”


“Kau mau kemana lagi kira-kira?”


“Aku ingin pulang saja, aku tak sabar ingin memberi tahu Ayah dan Ibuku.”


“Baiklah, kita pulang setelah ini. Oh ya, aku tadi menghubungi Ibuku. Rencananya aku akan membawa orang tuaku untuk datang ke rumahmu.”


“Benarkah? Kapan kau akan datang bersama mereka?”


“Aku masih menunggu kabar Ibuku, mereka masih berada di Jepang. Setelah mereka datang, aku akan mengajaknya ke rumahmu.”


“Semoga tidak pekan ini ya, karena Ayahku akan operasi mata. Aku takut jika mereka datang ketika Ayahku sedang di rumah sakit.


“Tenang saja jika mereka datang ketika Ayahmu masih di rumah sakit, aku akan meminta mereka menunggu.”


“Baiklah kau atur saja. Mengenai membuat demo lagu itu bagaimana ya? Aku harus bagaimana?”


”Nanti akan kubantu atur, tenang saja. Selama masih ada aku, masalahmu akan cepat teratasi hehehe.”


“Sekali lagi aku berterima kasih padamu karena banyak membantuku.”


“Iya sama-sama. Aku juga ingin berterima kasih padamu karena kau masih mau menerimaku.”


“Tapi kau juga harus ingat, kurangi minum bir. Jangan mudah marah. Aku sebenarnya sangat menyayangimu tapi ketika kau marah itu jadi membuatku takut padamu.”


“Jika aku sedang marah, kau sebaiknya meredam amarahku bagaimana pun caranya.”


“Tapi kau tidak perlu marah untuk hal-hal kecil. Kau harus jadi orang yang sabar.”


“Kau ini malah mengajariku.”


“Itu kan demi kebaikanmu juga.”


“Baiklah, aku akan coba menjadi lebih sabar dan tidak mudah marah.”

__ADS_1


__ADS_2