Falling In Love Dengan Pemabuk

Falling In Love Dengan Pemabuk
Episode 28


__ADS_3

Tiba di rumah Lily …


“Sudah sampai, ini rumahmu?” tanya Jonathan.


“Iya benar ini rumahku. Kau mau mampir?”


“Kapan-kapan saja Lily, aku langsung pulang saja.”


“Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan. Terima kasih sudah mengantarku pulang.”


“Sama-sama. Baiklah aku jalan dulu. Sampai jumpa lagi.”


Jonathan pergi meninggalkan rumah Lily.


Lily berjalan masuk ke dalam rumah, terlihat Ayahnya sedang menonton acara televisi.


“Aku pulang, Ayah sedang apa?” tanya Lily


“Sudah lama rasanya Ayah tidak menonton televisi. Bagaimana pertemuanmu dengan produser musik itu? Apakah semua berjalan lancar?” tanya Andy


“Semuanya berjalan lancar Ayah, aku senang Ayah sudah dapat melihat kembali. Entah bagaimana rasa senang ini bisa kuungkapkan.”


“Kita harus berterima kasih kepada keluarga Alfred. Ayah ingin sekali bertemu dengan mereka.”


“Mereka orang sibuk Ayah, tidak mudah bertemu dengan mereka.”


“Kau bicara saja dengan Alfred, kita pergi ke rumahnya.”


Lily kemudian duduk di samping Ayahnya.


“Ayah, sepertinya kita tidak akan bisa bertemu dengan keluarga Alfred. Beberapa hari lalu aku mengakhiri hubunganku dengannya.”


“Benarkah? Ada apa dengan kalian? Apa ini karena Ayah?”


“Tidak, ini bukan karena Ayah. Maaf aku tidak bisa menjelaskan alasannya. Tapi ini semua bukan karena Ayah.”


“Maafkan Ayah yang dulu terlalu keras padamu hingga melarang hubunganmu dengannya.”


“Ayah tidak perlu meminta maaf seperti itu. Sudah kubilang ini semua tidak ada sangkut pautnya dengan Ayah. Anggap saja aku tidak berjodoh dengannya.”


Andy memeluk Lily dengan erat. Air mata Lily tak bisa tertahan. Lily menangis di pelukan Ayahnya.


Ponsel Lily berdering …


Lily melepaskan pelukan Ayahnya dan meraih ponselnya untuk menjawab panggilan yang masuk.


“Hallo Lily.” sapa Frans


“Hallo Frans, ada apa kau menghubungiku?” tanya Lily.


“Aku ingin mengatakan padamu jika kau sudah tidak bisa bekerja lagi di Lion Kafe. Malam ini kau tidak usah datang lagi.”


“Tapi kenapa? Apa alasannya?”


“Aku tidak bisa menjelaskan, intinya pemilik Lion Kafe ingin kau berhenti bekerja di Lion Kafe.”


“Pemilik Lion Kafe? Baiklah aku mengerti sekarang. Terima kasih kau sudah memberi tahu Frans.”


Lily langsung menutup teleponnya dan pergi ke kamar.

__ADS_1


“Pasti karena Alfred. Baiklah kalau begitu. Tidak salah keputusanku untuk mengakhiri hubunganku denganmu.” batin Lily.


Di apartemen Alfred …


Begitu sampai, Alfred langsung membanting beberapa barang yang ada di apartemennya itu. Natasha yang melihat Alfred bertingkah seperti itu membuat dirinya takut.


Alfred berteriak menyebut nama Lily. Sungguh keadaannya sangat kacau sekali. Melihat Natasha yang sedang berdiri ketakutan di depan pintu, Alfred melampiaskan emosinya pada Natasha. Dia menyeret tangan Natasha dan membawanya ke kamar dan mendorong Natasha hinggal terjatuh di tempat tidur.


Natasha sangat ketakutan melihat Alfred menjadi seperti ini.


“Dia yang seharusnya ada di sini. Di tempat tidur ini. Bukannya kau!” bentak Alfred.


Natasha hanya bisa terdiam dan ketakutan.


Alfred teringat dengan jam tangan pemberian Lily yang dia hancurkan. Segera dia mencari jam tangan itu.


Alfred memotret jam tangan itu dan mengirimkan gambarnya pada Lily.


“Kau lihat jam tangan itu, seperti itulah hancurnya hatiku. Kau benar-benar tega padaku Lily.” tulis Alfred


Lily yang menerima pesan dari Alfred hanya bisa memandangi gambar jam tangan pemberiannya yang sudah hancur itu.


“Andai kau tahu hatiku juga hancur sekarang ini. Kau juga tega memperlakukan aku dengan sangat kejam.” batin Lily.


Lily kemudian mengirimkan pesan kepada Jonathan.


“Bisakah aku melakukan demo rekaman besok? Aku kehilangan pekerjaan sekarang.” tulis Lily.


Tak lama Jonathan membalas pesan dari Lily itu.


“Baiklah, kau datang saja besok pagi pukul 10. Aku akan menunggumu di studioku.” balas Jonathan.


Di apartemen Alfred …


“Apa kau sudah merasa tenang sekarang?” tanya Natasha.


“Ya. Maafkan sikapku tadi.” ucap Alfred.


Natasha mencoba membangunkan Alfred yang sedang duduk dan mengajaknya masuk ke dalam kamar.


Alfred membaringkan tubuhnya di tempat tidur dan memejamkan matanya. Sementara Natasha berbaring persis di sebelah Alfred.


“Jadi wanita di kedai kopi tadi kekasihmu?” tanya Natasha.


“Iya, dia mengakhiri hubungan kami secara sepihak. Padahal aku sudah melamarnya. Kau tidak akan tahu betapa sakitnya hatiku saat ini.”


“Kau marah melihatnya dia bersama pria lain?”


“Tentu saja, dia satu-satunya wanita yang aku cintai. Aku tidak rela melihat dia bersama pria lain.”


“Lalu kau menganggapku apa?”


“Kau datang padaku tanpa aku memintamu, lalu kenapa kau mempermasalahkan itu sekarang?”


“Tak bisakah kau membuka hatimu untukku?”


“Tidak! Lily yang akan selalu berada dihatiku. Dan tidak akan ada seorangpun yang bisa menggantikannya.”


“Seberapa hebat wanita itu hingga membuatmu jadi seperti ini?”

__ADS_1


“Dia sangat hebat. Hingga dia mampu membuatku hancur seperti sekarang ini.”


Natasha kemudian beranjak dari tempat tidur dan pergi ke balkon. Dia menyalakan korek api dan membakar rokoknya.


“Kau mau kuantar pulang sekarang?” tanya Alfred yang tiba-tiba muncul di belakang Natasha.


“Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri nanti. Izinkan aku menghabiskan rokokku dulu.”


Alfred merebut rokok Natasha dan membuangnya. Alfred mulai memeluk dan mencium Natasha.


“Kau hanya ingin tubuhku saja?” tanya Natasha.


“Kenapa kau berkata seperti itu?”


“Kau melakukannya denganku bukan karena kau menyukaiku, kau hanya menjadikanku sebagai pelampiasanmu saja.”


“Jika iya, apakah sekarang kau tidak mau berhubungan denganku lagi?”


Natasha mengajak Alfred untuk masuk ke dalam kamar, mereka berdua kemudian melakukan hubungan badan lagi.


“Aku tidak peduli dihatimu hanya ada wanita lain. Aku tetap akan bersamamu. Dan aku tidak akan pernah mau melepaskanmu.” batin Natasha.


Setelah melakukannya, Alfred tertidur karena kelelahan. Melihat Alfred tertidur pulas, Natasha membersihkan diri dan segera meninggalkan apartemen Alfred.


Di Lion Kafe …


Lucas mencari Lily yang tidak terlihat bersama Davud dan teman-teman lainnya.


“Dimana Lily, kenapa dia tidak datang.” batin Lucas.


Frans mendekat ke bar. Dia meminta Lucas untuk mengantarkan minuman ke kantornya.


Setelah selesai menyiapkan pesanan Frans, Lucas pergi menuju kantor Frans untuk mengantarkan pesanannya.


“Frans, apa Lily izin tidak masuk kerja?” tanya Lucas.


“Lily sudah tidak bekerja di sini lagi.” jawab Frans.


“Benarkah? Apa ada masalah?”


“Aku tidak tahu, yang jelas dia sudah tidak bekerja di sini lagi. Sudah sana kau kembali bekerja.”


Lucas merasa ada yang aneh dengan Lily. Dia mencoba menghubungi Lily.


“Hallo Lily, apa benar kau sudah tidak bekerja lagi di Lion Kafe? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Lucas.


“Aku tidak tahu, mereka memberhentikanku atas perintah pemilik Lion Kafe.”


“Benarkah? Kenapa bisa begitu? Apa kau tidak menanyakan alasannya?”


“Pemilik Lion Kafe itu kan sepupu Alfred. Mungkin Alfred memintanya untuk memberhentikanku. Tapi tidak apa-apa, besok aku akan bertemu dengan Jonathan untuk demo rekaman. Doakan aku ya, semoga semuanya berjalan dengan lancar.”


“Kenapa Alfred bisa setega itu padamu? Aku tidak habis pikir. Jika kau besok akan melakukan demo rekaman itu jangan lupa berlatih dulu. Jangan sampai kau mengecewakan Jonathan.”


“Iya, aku akan berlatih. Yasudah aku tutup dulu ya.”


“Baiklah, kau harus semangat ya. Sampai jumpa lagi.”


Lily menutup teleponnya dan segera tidur karena besok pagi harus pergi ke studio Jonathan.

__ADS_1


__ADS_2