Falling In Love Dengan Pemabuk

Falling In Love Dengan Pemabuk
Episode 8


__ADS_3

Di dalam kamar, Gwen mencoba menenangkan Lily.


“Ibu aku benar-benar hancur sekarang. 2 pria terpenting di dalam hidupku harus rela aku lepaskan salah satunya.” ucap Lily sambil masih terisak isak menangis.


“Lily, kau masih ingat kalung yang Ibu berikan saat di rumah sakit?”


“Iya Ibu, aku masih menyimpannya dengan baik.”


“Dulu, Nenekmu menentang hubungan Ibu dan Ayahmu hanya karena Ayahmu seorang anggota militer.”


Lily seketika berhenti menangis dan penasaran dengan cerita Ibunya.


“Lalu bagaimana Ibu meyakinkan Nenek?”


“Ketika Ayahmu mendapatkan libur, Ayahmu selalu menyempatkan untuk datang ke rumah. Orang yang pertama Ayahmu temui adalah Nenek.”


Lily sangat antusias mendengar cerita cinta Ayah dan Ibunya dulu. Lily seakan mendapatkan semangat lagi karena cerita masa lalu orang tuanya itu.


Sorenya Lily bersiap pergi menuju apartemen Alfred.


“Sebaiknya aku berangkat lebih awal ke apartemen Alfred, agar aku tidak terlambat bekerja.” gumam Lily.


Di perjalanan Lily sangat cemas dengan apa yang akan terjadi nanti padanya. Sesampainya di apartemen Alfred, Lily bertemu dengan Elizabeth di lobi.


“Hai Liz, apa kabar?” tanya Lily.


“Oh hai Lily aku baik, kau ingin bertemu Kakakku?” tanya Elizabeth.


“Iya, apa dia ada?”


“Ya dia ada di atas, kau naik saja. Aku buru-buru sekarang, sampai jumpa lagi.”


Elizabeth kemudian meninggalkan Lily dengan tergesa-gesa.


Sampai di depan pintu, Lily tidak langsung memencet bel. Lily masih ragu dan juga takut. Saat sedang bingung, pintu tiba-tiba terbuka. Lily pun terkejut melihat Alfred.


“Lily… kau sudah datang? Ayo masuklah.” kata Alfred.


Lily kemudian masuk ke dalam diikuti dengan Alfred yang berjalan di belakang Lily.


“Duduklah dulu, aku akan pergi ke bawah sebentar untuk membeli bir. Kau tunggu di sini.”


“Alfred, aku tidak akan lama. Bisakah kau membeli bir nanti saja?”


“Kenapa kau sangat terburu-buru? Kau mau kemana?”


“Aku akan pergi memperbaiki ponselku dan kemudian ke Lion Kafe.”


“Kau tidak perlu memperbaiki ponsel rusakmu itu.”


Alfred kemudian berjalan menuju ke kamarnya. Alfred memberikan ponsel baru untuk Lily.


“Ini kau pakai saja. Aku sudah membeli ponsel baru untukmu.”


“Tidak … Tidak perlu. Aku perbaiki saja ponselku yang rusak ini.”


“Aku membelikan ini untukmu, kau pakai saja. Jangan menolak ini perintah!”


“Alfred tolong jangan mengaturku, aku bisa memperbaiki ponselku!”


Alfred kemudian terdiam mendengar Lily membentaknya.


“Maaf kalau aku menyinggung perasaanmu. Aku hanya tidak ingin merepotkanmu saja.” kata Lily


“Apa kau sudah makan?”


“Belum, aku lapar. Ayo Alfred kita makan di luar.”


“Kau mau makan apa?”


“Apa saja asal bersamamu.”

__ADS_1


Lily dan Alfred kemudian pergi meninggalkan apartemen Alfred untuk mencari makan.


“Bagaimana kalau kita makan sushi? Apa kau suka?” tanya Lily.


“Hmmm baiklah.”


Lily menunjukkan restoran sushi favoritnya.


“Baiklah, kita sudah sampai Lily.”


“Izinkan aku mentraktirmu kali ini.”


“Wah, ada acara apa memangnya Lily?”


“Tidak ada acara apa-apa, aku hanya ingin mentraktirmu saja. Memangnya harus ada acara baru aku boleh mentraktirmu?”


“Bukan begitu, yasudah ayo kita masuk.”


Lily memesan makanan favoritnya untuk Alfred dan dirinya. Setelah makanan siap, mereka langsung menikmati makanan itu.


“Bagaimana rasanya? Enakkan?” tanya Lily


“Iya enak. Kau pintar juga memilih makanan enak.”


“Tentu saja hehehe.”


Mereka kemudian melanjutkan menikmati makanannya hingga habis.


“Lily, tolong terimalah ponsel pemberianku. Ponselmu rusak karena aku. Jadi itu tanggung jawabku untuk menggantinya. Aku mohon padamu jangan menolak pemberianku.”


Setelah berpikir-pikir, Lily pun setuju menerima ponsel pemberian Alfred.


“Aku minta maaf karena aku sudah merusak ponselmu. Aku tidak tahu apa salahku padamu. Aku bekerja tidak merasa tenang karena tidak mengetahui kabarmu.”


Kemudian Lily menggenggam tangan Alfred.


“Aku yang seharusnya meminta maaf padamu, beberapa hari ini aku sedang banyak pikiran. Aku mengirim pesan padamu tapi kau tidak membalasnya.”


“Lily, kau harus mengerti. Aku bekerja dan bertemu dengan klienku. Terkadang aku memang mematikan ponselku karena aku tidak ingin ada yang mengganggu pertemuanku dengan mereka. Aku harap kau memahamiku.”


Lily dan Alfred kemudian pulang kembali ke apartemen Alfred.


“Mana ponselmu yang rusak? Biar aku bantu memindahkan kartumu.”


Lily membuka tasnya dan mencari ponsel rusaknya itu.


“Ini ponselnya.”


Kemudian Alfred memindahkan kartu milik Lily ke ponsel barunya.


“Ini sudah selesai, kau gunakan baik-baik ya ponsel ini.”


“Tentu saja, ini kan darimu.”


Di restoran tadi kau bilang kau sedang banyak pikiran, kau memikirkan apa?”


“Hmmm tidak apa-apa, tidak begitu penting untuk dibicarakan.”


“Lily, bicaralah padaku. Apa kau masih marah?”


“Tidak … Aku hanya sedang tidak ingin membicarakannya saat ini.”


Di sela-sela percakapan Alfred dan Lily, ponsel Alfred berdering.


“Hallo Ibu, ada apa?” tanya Alfred.


“Alfred jangan lupa makan malam di rumah malam ini. Apakah Liz sudah bilang padamu?” tanya Jennifer.


“Iya Ibu, Liz tadi kemari dan sudah bilang padaku. Aku akan datang.”


“Bagus, sampai jumpa nanti malam.” kata Jennifer dan langsung menutup teleponnya.

__ADS_1


“Barusan tadi Ibuku, kau jangan cemburu.” canda Alfred.


“Ti … Tidak aku tidak cemburu. Ahhh hampir aku lupa, siapa wanita yang bersamamu di festival?”


Alfred tidak menjawab pertanyaan Lily dan tertawa terbahak-bahak.


“Kau cemburu kan dengannya? Jangan bohong. Ketahuan kan sekarang kau cemburu.”


“Iya aku memang cemburu pada wanita yang bersamamu di festival! Kau tidak membalas pesanku seharian pula! Aku kesal padamu, makanya aku memblokir nomormu!”


“Semua orang yang bersamaku di festival itu sepupuku yang baru datang dari Canada. Makanya nanti malam Ibuku mengadakan makan malam bersama di rumah. Kau bisa ikut kan?”


“Maaf Alfred aku harus bekerja.”


“Tenanglah, aku sudah menghubungi Lion Kafe kalau kau izin tidak bekerja malam ini.”


“Hah??? Kau serius? Bagaimana bisa? Manager Lion Kafe itu sangat galak.”


“Aku langsung berbicara dengan pemilik Lion Kaffe. Kau juga akan bertemu dengannya nanti malam.”


“Itu berarti pemilik Lion Kafe adalah sepupumu?”


“Iya betul kau pintar sekali anak manis, sekarang ayo siap-siap.”


“Kita akan pergi kemana Alfred?”


“Nanti kau juga akan tahu.”


Alfred membawa Lily ke suatu tempat yang masih dirahasiakan olehnya. Diajaklah Lily pergi ke butik ternama di kota itu. Dengan sigap Alfred memilihkan gaun untuk dicoba oleh Lily.


Ada 2 gaun pilihan Alfred, pertama gaun berwarna merah maroon berbahan satin dengan belahan dada rendah berlengan pendek.


Kedua gaun panjang berwarna hitam berbahan suede dengan potongan square neck berlengan panjang dan ada belahan di bagian paha.


“Lily kau cobalah 2 gaun ini, aku akan melihat mana yang cocok untuk acara nanti malam.”


“Baiklah akan kucoba.”


Lily mencoba gaun yang pertama, Lily terlihat begitu cantik, seksi dan elegan. Kemudian Alfred mengambil ponselnya dan memotret Lily.


“Sekarang kau coba gaun yang lainnya, aku akan bandingkan.”


Lily berganti mencoba gaun yang kedua. Begitu Lily membuka tirainya, Alfred begitu terpesona melihat kecantikan Lily. Lily terlihat sangat cantik dan anggun.


“Oke baiklah, kau pakai gaun yang ini saja.”


Alfred membayar gaun tersebut dan mereka berdua pergi menuju salon kecantikan favorit Jeniffer.


“Ibuku biasa kemari, jadi aku hafal dengan tempat ini.” jelas Alfred.


Sebelum Lily berpikiran negatif, Alfred langsung menjelaskan.


“Oh ya? Apakah Elizabeth juga kemari?”


“Mungkin saja, aku tidak tahu.”


Hanya 30 menit saja mereka merias wajah Lily dan menata rambutnya. Lily sangat senang melihat penampilannya di cermin. Lily dan Alfred segera meninggalkan tempat itu dan pergi ke rumah orang tua Alfred.


Di perjalanan Lily begitu gugup karena akan bertemu dengan keluarga besar Alfred.


“Kau kenapa Lily? Kenapa wajahmu seperti itu?”


“Ti … Tidak aku hanya gugup saja. Kau jangan jauh-jauh dariku ya nanti.”


“Jangan gugup sayang, aku akan selalu berada di sampingmu.”


Ini pertama kali Alfred memanggil Lily dengan sebutan “sayang”. Alfred benar-benar jatuh cinta pada Lily.


“Lily, bagaimana kalau kau berhenti bekerja di Lion Kafe?”


“Lalu aku bekerja dimana? Kau ini ada-ada saja.”

__ADS_1


“Bekerja bersamaku, mau kan?” canda Alfred.


Selama perjalanan mereka banyak berbincang. Alfred menceritakan semua anggota keluarga besarnya yang akan ikut makan malam bersama nanti.


__ADS_2