Falling In Love Dengan Pemabuk

Falling In Love Dengan Pemabuk
Episode 30


__ADS_3

Setelah Lily meninggalkan apartemennya, Alfred hanya bisa terdiam di kamarnya. Pikirannya sangat kalut sehingga melampiaskan dengan minum bir. Alfred tidak peduli berapa botol yang akan dia minum karena tidak ada lagi orang yang akan melarangnya. Emosinya mulai tidak terkendali, dia mulai menghancurkan barang-barang yang ada didekatnya.


"Baiklah kalau itu keputusanmu, Lily. Aku tidak pernah merasa sehancur ini sebelumnya. Kau membawaku terbang, kau juga yang membuatku terjatuh. Aku tidak akan menampakkan diriku lagi di hadapanmu. Semoga hidupmu tenang." gumam Alfred.


Alfred terpikir untuk pindah dari apartemennya saat ini, dia mulai menghubungi beberapa teman-temannya untuk membantunya mencarikan apartemen untuknya. Alfred kemudian pergi ke rumah orang tuanya dalam keadaan mabuk.


Karena orang tua dan adiknya sedang berada di Singapura, rumah tampak sepi. Alfred kemudian berjalan ke tepi kolam renang untuk melanjutkan minum bir yang dibawanya dari apartemen.


Di rumah Lily ...


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Lily mendapatkan undangan untuk makan malam bersama di rumah Shera dan David.


"Ayah ... Ibu ... Aku pergi dulu, aku sudah terlambat ini." ucap Lily.


"Kau mau kemana? Kenapa tergesa-gesa seperti itu?" tanya Gwen.


"Hari ini ulang tahun pernikahan Shera dan David, mereka mengundangku untuk makan malam bersama di rumahnya."


"Oh baiklah kalau begitu, sampaikan salam Ibu dan Ayah untuk mereka. Jika sudah selesai segeralah pulang."


"Ayah sudah lama tidak bertemu dengan Shera. Kapan-kapan kau juga ajaklah Shera kemari." kata Andy.


"Baiklah, aku pergi dulu."


"Hati-hati di jalan ya."


Lily mengendarai mobilnya dengan tergesa-gesa karena dia sudah terlambat. Dia tidak ingin membuat Shera, David dan teman-teman lainnya menunggu terlalu lama.


Sesampainya di rumah Shera dan David, Lily segera masuk dan ternyata semuanya sudah menunggu.


"Maafkan aku semuanya, aku terlambat." ucap Lily.


"Iya, tidak apa-apa Lily. Ayo duduklah di sampingku." kata Shera.


Mereka memulai acaranya dengan berdoa bersama kemudian dilanjut dengan makan malam. Mereka semua tampak menikmati hidangan makan malam yang sudah disajikan.


"Kau menginap saja di sini, ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu." bisik Shera kepada Lily.


"Soal apa?"


"Kau bisa menginap atau tidak."


"Baiklah, aku akan menginap di sini, aku tidak bisa menolak jika kau yang meminta hehehe."

__ADS_1


Setelah menyelesaikan makan malam, beberapa teman Shera dan David berpamitan untuk pulang.


Shera mengajak Lily untuk masuk ke dalam kamar karena tamu undangan yang tersisa hanya para pria saja.


"Lily, kabarnya kau diberhentikan dari Lion Kafe?" tanya Shera.


"Iya benar, itu karena Alfred. Aku mengakhiri hubungan kami tapi dia belum bisa menerimanya. Puncaknya amarahnya ketika dia melihatku bersama dengan Jonathan produser musik di kedai kopi. Dia mengira aku berhubungan dengan pria lain." jelas Lily panjang lebar.


"Lalu sekarang kau bekerja di mana?"


"Aku tidak bekerja sekarang, tapi aku melakukan demo rekaman di studio Jonathan pagi tadi. Semoga saja semua yang kukerjakan berjalan dengan lancar."


"Aku turut prihatin dengan kejadian yang menimpamu saat ini, tapi percayalah akan ada pelangi setelah hujan."


"Jika kau atau David mengetahui lowongan pekerjaan yang cocok untukku, tolong beri tahu aku."


"Kau tenang saja, aku akan memberi tahumu jika ada pekerjaan yang cocok untukmu."


"Baiklah, aku mengantuk sekali. Boleh tidak aku tidur dulu?"


"Tentu saja boleh."


Karena kelelahan, Lily tertidur dengan cepat. Sementara Shera keluar dari kamar dan bergabung dengan teman-teman lainnya yang sedang berbincang di teras rumahnya.


"Jack ... Jack ... Kemarilah." teriak Alfred memanggil penjaga rumah.


Tak lama Jack datang menghampiri Alfred yang terbaring di lantai.


"Ada apa Tuan Alfred? Apakah anda baik-baik saja?"


"Tolong besok bawakan semua barang-barangku yang ada di apartemen. Sementara aku akan tinggal di sini sebelum aku menemukan apartemen yang baru."


"Baik Tuan Alfred. Ada lagi yang bisa saya bantu?"


"Sementara cukup itu saja."


Alfred bangun dan berjalan ke kamarnya.


"Rasanya sudah lama sekali aku meninggalkan rumah ini, semua masih tertata rapi dan masih berada persis ketika aku akan pergi." batin Alfred.


Ponsel Alfred berdering ...


"Hallo Alfred, kau ada di mana?" tanya Natasha.

__ADS_1


"Aku ada di rumah, ada apa?"


"Aku sudah berada di depan apartemenmu. Aku menekan bel pintu dari tadi. Apa kau tidak mendengar?"


"Aku sedang berada di rumah orang tuaku. Ada hal penting apa?"


"Aku sudah membawa beberapa barangku. Kau bilang kita akan tinggal bersama kan?"


"Lupakan tentang itu, aku juga berencana untuk pindah dari apartemen itu."


"Lalu bagaimana denganku?"


"Kau kan punya rumah, tinggalah di rumahmu sendiri."


Alfred menutup teleponnya.


"Dasar berengsek! Berani-beraninya kau mempermainkan aku. Lihat saja, kau akan tahu akibatnya karena telah mempermainkanku" gerutu Natasha.


Dengan kesal Natasha kembali ke rumahnya. Setibanya di rumah, Natasha merasa mual. Dia teringat jika dia belum datang bulan. Segera dia pergi ke apotek untuk membeli alat pendeteksi kehamilan.


"Gawat ... Bagaimana kalau ternyata aku hamil. Ini tidak bisa dibiarkan." gumam Natasha.


Setelah mendapatkan alat pendeteksi kehamilan, Natasha segera mengecek untuk memastikan dia hamil atau tidak.


"Mudah-mudahan hasilnya negatif, aku tidak ingin hamil. Karirku bisa hancur jika aku hamil." batin Natasha.


Setelah beberapa saat, ternyata hasil menunjukkan bahwa Natasha positif hamil. Dia benar-benar kebingungan saat ini. Dia mengingat-ingat berhubungan badan dengan Alfred hanya beberapa hari lalu, tidak mungkin jika dia hamil. Natasha mencoba terus mengingat dengan siapa saja dia melakukan hubungan badan.


"Ah ... Tidak mungkin! Aku tidak mungkin mengandung anak dari Ryan Jones. Bagaimana dia seceroboh itu! Dasar pria tua tidak tahu diri!" gerutu Natasha.


Natasha ingin menghubungi Ryan Jones untuk mengabarkan jika dia hamil, tapi Natasha mempunyai rencana lain. Dia mengambil gambar hasil dari alat pendeteksi kehamilannya itu lalu dikirimkan kepada Alfred.


"Alfred, sepulang dari apartemenmu aku merasa mual. Dan kau lihat sendiri hasilnya. Ada anakmu di dalam perutku. Kau harus bertanggung jawab." tulis Natasha.


Natasha menunggu balasan pesan dari Alfred dengan tidak sabar. Dia menyimpan hasil tes kehamilannya agar bisa ditunjukkan kepada Alfred secara langsung.


"Dengan begini kau tidak akan bisa pergi dariku. Dari pada aku harus bersama tua bangka itu, lebih baik aku bersama dengan Alfred." gumam Natasha.


Sementara Alfred yang menerima pesan gambar dari Natasha sangat terkejut mengetahui jika Natasha hamil. Pikirannya bertambah kacau. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Kepalanya seperti akan pecah. Banyak permasalahan yang datang silih berganti.


"Besok datanglah ke apartemenku pukul 1 siang. Aku akan bicara padamu." Alfred membalas pesan Natasha.


Natasha sangat kegirangan karena tidak lama lagi dia akan memiliki Alfred seutuhnya.

__ADS_1


"Sudah kubilang, jangan pernah kau mempermainkanku. Kau lihat bagaimana jika kau berurusan dengan orang yang salah. Wanita itu tidak akan pernah mau kembali lagi padamu jika mengetahui aku mengandung anak dari mantan kekasihnya itu. Hanya aku yang boleh memilikimu, tidak ada juga yang pantas berada di sampingmu selain aku." batin Natasha.


__ADS_2