
Setelah mengantar Andy dan Gwen ke bandara, Lily ikut dengan Alfred dan kedua orang tua Alfred ke rumahnya.
Di dalam mobil, Alfred terus saja tersenyum karena dia bisa kembali bersama Lily.
“Kau kenapa senyum-senyum sendiri? Seperti orang gila saja.” kata Lily.
“Kau tidak tahu betapa senangnya aku bisa bersamamu lagi. Terima kasih, Lily.” ucap Afred.
“Kau jangan senang dulu. Awas saja kalau kau sampai bersikap kasar lagi padaku. Aku akan menghabisimu.”
“Akan kuserahkan tubuhku ini jika kau ingin menghajarku. Aku akan diam saja sambil menikmatinya.”
“Dasar gila kau ini.”
Alfred menggenggam tangan Lily selama perjalanan menuju ke rumah orang tuanya.
Lily tampak tersipu malu karena Alfred terus saja tersenyum. Karena merasa gemas, Lily menampar pipi Alfred dengan keras.
“Lily! Kenapa kau tiba-tiba menamparku.”
“Itu balasan untukmu karena telah menamparku di kedai kopi. Kau bilang kau akan terima jika aku menghajarmu?”
“Oh iya aku lupa. Yasudah aku akan diam saja. Pukul aku lagi saja.”
Lily kemudian tertawa melihat tingkah konyol Alfred. Alfred pun juga tertawa bahagia karena bisa melihat Lily tertawa.
“Setelah ini kau akan menghajarku di mana? Di kamar?” canda Alfred.
“Enak saja! Aku akan memukul kepalamu yang sekeras batu itu. Alfred, ada yang ingin kutanyakan padamu.”
“Apa itu? Tanyakan saja. Aku akan menjawabnya dengan jujur.”
“Apa benar wanita yang bersamamu itu hamil?”
“Iya benar, tapi aku tidak yakin jika itu adalah anakku.”
“Kenapa begitu?”
“Jujur saja aku hanya berhubungan badan dengannya 2 atau 3 kali saja. Tapi usia kandungannya sudah 5 bulan. Itu kan aneh.”
“Kau sudah berhubungan badan dengannya? Menjijikkan sekali kau ini.”
“Maaf, Lily. Aku sedang kalut saat itu. Pikiranku sangat kacau karena kau pergi meninggalkanku. Tapi sekarang ini aku akan bersamamu dan tak akan ada wanita lain yang bisa mengganggu hubungan kita.”
“Kau ini pandai berbicara. Bagaimana jika ternyata itu adalah anakmu?”
“Tidak mungkin. Aku yakin itu. Sudahlah Lily, kau jangan membicarakan wanita gila itu.”
__ADS_1
“Tapi aku perlu tahu seberapa jauh kau berhubungan dengannya.”
“Hanya itu saja. Aku jamin hanya ada kau di hatiku.”
“Dasar kau ini pandai merayu.”
Setelah perjalanan kurang lebih 1 jam, Lily dan Alfred sampai di rumah orang tua Alfred. Mereka kemudian duduk di ruang tamu dan berbincang dengan kedua orang tua Alfred.
“Lily, kami sudah lama rasanya sudah lama tidak bertemu denganmu. Kau masih cantik saja seperti pertama kali kami melihatmu.” ucap Jennifer.
“Tante bisa saja, terima kasih atas pujiannya. Tante juga sangat cantik.” balas Lily.
“Untuk kalian berdua, semoga hubungan kalian kedepannya semakin baik. Jika ada masalah diantara kalian sebaiknya diselesaikan dengan baik-baik pula. Khususnya kau Alfred, jaga emosimu dengan baik. Ayah tidak ingin kau menyakiti hati Lily.” kata Daniel.
“Iya, Ayah. Aku akan berusaha menjaga emosiku. Jadi kapan kira-kira pesta pernikahan kita? Aku sudah tidak sabar.” ucap Alfred.
“Pernikahan? Apa tidak terlalu cepat membicarakan pernikahan saat ini. Ayah dan Ibuku baru saja pergi.” kata Lily.
“Iya, lebih baik menunggu orang tua Lily. Kita juga perlu keputusan dari mereka.” ucap Jennifer.
“Baiklah kalau begitu, Ayah dan Ibu ke kamar dulu. Kalian bersantailah di sini.” kata Daniel.
Kemudian Daniel dan Jennifer pergi ke kamar mereka.
“Alfred, boleh tidak aku menumpang tidur? Aku masih mengantuk.” kata Lily.
“Tidak! Aku tidak mau tidur di kamarmu. Nanti kau berbuat macam-macam padaku!” gertak Lily.
“Aku janji tidak akan berbuat macam-macam padamu. Kau bisa kunci saja pintunya dari dalam. Aku tak akan masuk.”
“Baiklah kalau begitu. Awas ya jangan sampai kau masuk ke dalam kamar.”
“Iya, kau tenang saja. Lagi pula kita ini kan akan menjadi suami istri. Kenapa kau takut sekali jika aku masuk ke dalam kamar?”
“Sudahlah jangan banyak bicara. Aku mengantuk sekali.”
Alfred kemudian mengantar Lily ke kamarnya dan membiarkan Lily untuk beristirahat. Sementara Alfred menuju ke taman untuk bermain dengan Molly anjing milik Elizabeth.
Elizabeth yang baru pulang dari mall mengetahui Alfred sedang bermain dengan Molly segera menghampiri Alfred.
“Kakak, kau sedang apa?” tanya Elizabeth.
“Ini bermain dengan Molly, Ayah dan Ibu sedang istirahat di kamar. Ada Lily juga yang sedang tidur di kamarku.” ucap Alfred.
“Benarkah? Kapan Lily datang?”
“Tadi aku bersama dengan Ayah dan Ibu mengantar orang tua Lily ke bandara. Mereka pergi ke London untuk urusan pekerjaan. Kau tahu, Ayah dan Ibu sudah melamar Lily untukku.”
__ADS_1
“Benarkah? Aku turut senang mendengarnya. Tak kusangka sebentar lagi Kakak akan menikah.”
“Iya, aku juga tidak menyangka. Kau dari mana, Liz?”
“Aku baru saja pulang dari mall membeli baju. Yasudah, aku ke kamar dulu ya. Nanti jika Lily sudah bangun tolong beri tahu aku.”
“Baiklah, istirahatlah kau pasti lelah berbelanja hehehe.”
”Kakak bisa saja, yasudah aku naik ke kamarku dulu. Molly baik-baik ya sama Alfred hehehe.”
Elizabeth kemudian naik ke atas menuju ke kamarnya untuk beristirahat. Sementara Alfred masih asyik bermain dengan Molly di dekat kolam renang.
Tak lama Lily terbangun dari tidurnya. Dia mencoba untuk berkeliling kamar Alfred. Lily menemukan cincin yang dulu diberikan kepadanya. Cincin itu tergeletak di meja dekat tempat tidur. Disampingnya juga ada jam tangan yang dulu dibeli olehnya untuk Alfred. Jam tangan itu sudah diperbaiki.
“Rasanya masih tidak menyangka aku bisa kembali lagi pada Alfred. Mungkin sebaiknya aku harus melupakan kesalahannya di masa lalu.” batin Lily.
Lily berjalan menuju ke balkon kamar Alfred. Dia melihat Alfred yang sedang bermain dengan seekor anjing. Karena melihat kelucuan anjing itu, Lily segera keluar kamar dan menghampiri Alfred.
“Lucu sekali anjing ini, siapa namanya?” tanya Lily.
“Lily, kau sudah bangun ya. Ini anjing milik Liz. Namanya Molly, lucu kan hehehe.” canda Alfeed.
“Iya lucu sekali Molly, aku baru tahu jika Liz mempunyai anjing selucu ini.”
“Tadi Liz menanyakanmu, dan dia berpesan jika kau sudah bangun aku diminta untuk memberi tahunya. Tapi sepertinya dia sedang beristirahat.”
“Yasudah biarkan saja dia beristirahat dulu. Apa aku boleh menggendong Molly?”
“Ya, tentu saja boleh. Coba kau gendong saja langsung, dia tidak menggigit tenang saja.”
Lily mulai menggendong Molly dan bermain bersamanya. Lily tampak begitu senang.
“Apa kau juga ingin memiliki seekor anjing? Akan kubelikan nanti untukmu.”
“Ah tidak perlu, mempunyai hewan peliharaan kan tidak mudah. Kita harus bertanggung jawab kepadanya. Sementara aku masih sibuk dengan diriku sendiri.”
“Nanti jika kita menikah dan punya anak, kira-kira kau ingin anak laki-laki atau perempuan?”
“Aku ingin mempunyai anak perempuan, biar aku bisa mendandaninya hehehe.”
“Pasti jika kita mempunyai anak perempuan, dia akan secantik dirimu.”
“Ah kau mulai membuatku besar kepala. Tapi jika anak laki-laki pasti juga setampan dirimu.”
“Itu sudah pasti. Ayahnya saja setampan ini hehehe.”
“Dasar kau ini.”
__ADS_1
Lily dan Alfred asyik sekali bermain dengan Molly sampai tak terasa hari sudah sore.