
Waktu menunjukkan pukul 5 pagi. Lily terbangun karena alarm ponselnya berbunyi. Lily melihat sekeliling namun tidak mendapati Alfred berada di kamar. Lily segera pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka. Setelahnya Lily keluar kamar untuk mencari Alfred.
Betapa terkejutnya Lily melihat Alfred tergeletak di depan pintu kamar dengan pecahan kaca botol masih ada di rambutnya dan juga pecahan vas yang berserakan di lantai.
“Alfred, bangunlah. Apa yang terjadi?”
Lily terus menggoyang-goyangkan tubuh Alfred agar Alfred cepat sadar. Lily mencoba mengambil segelas air lalu memercikkan ke wajah Alfred.
“Alfred, bangunlah. Tolong jangan membuatku khawatir seperti ini.”
Tak lama kemudian Alfred membuka matanya. Lily segera membantu membangunkan Alfred dan menggandeng Alfred duduk di sofa.
“Alfred, apa yang terjadi padamu semalam? Kenapa kau tergeletak di lantai?”
“Tenanglah Lily, mungkin karena aku terlalu banyak minum. Bisakah kau mengambilkan air minum untukku?”
Lily membawakan 1 botol air mineral untuk Alfred. Setelah meminum air, Alfred bangun dan langsung pergi ke kamar membaringkan tubuhnya. Diikuti dengan Lily yang langsung memeluk Alfred.
“Alfred, aku bantu ganti baju ya? Bajumu kotor.”
Alfred tidak menjawab karena kembali tidur. Lily mencari baju di lemari dan memilih kaos warna putih polos untuk Alfred. Lily membuka baju Alfred dengan susah payah karena badannya yang cukup besar.
Disaat akan memakaikan baju untuk Alfred, bel pintu berbunyi. Lily panik dan mencoba membangunkan Alfred. Namun Alfred tak kunjung bangun, sementara suara bel terus-terusan berbunyi. Akhirnya Lily memberanikan diri untuk membuka pintu.
Di balik pintu berdirilah seorang wanita cantik, tinggi dan berpakaian begitu elegan.
“Maaf, aku teman Alfred. Dia sedang mabuk dan masih tertidur. Kalau boleh tahu anda siapa?” tanya Lily dengan ketakutan.
Tanpa menjawab pertanyaan Lily, wanita itu langsung masuk dan menuju kamar Alfred. Lily mengikutinya dari belakang. Wanita itu membangunkan Alfred yang sedang tertidur.
“Ayo cepatlah bangun dasar pemalas.” kata wanita itu.
Alfred hanya menggeliat dan menutupi mukanya dengan bantal.
“Kakak, cepatlah bangun! Kau sudah berjanji akan menemaniku hari ini. Cepatlah bangun!”
Alfred terkejut mendengar seseorang memanggilnya kakak. Ternyata itu Elizabeth, adik Alfred. Seketika Alfred langsung bangun.
“Sedang apa kau di sini, Liz?” tanya Alfred.
“Kau kan sudah janji padaku akan menemaniku hari ini sebelum kau pergi lagi ke luar kota. Ayolah, aku sangat kesepian.” pinta Elizabeth.
Alfred melihat ke arah Lily yang sedang berada di depan pintu.
“Lily, kenapa kau berdiri di sana? Kemarilah, ini Liz adikku.”
“Hai, namaku Lily. Senang bertemu denganmu.”
“Hai, aku Elizabeth. Senang juga bertemu denganmu.”
__ADS_1
Mereka bertiga akhirnya berbicang bersama di ruang tamu sambil menonton film. Yang tadinya Lily merasa takut, akhirnya bisa mengimbangi obrolan kakak beradik itu.
Elizabeth wanita yang baik, ramah dan juga manja pada kakaknya. Karena terlalu sering ditinggal orang tuanya untuk bekerja, Elizabeth menjadi dekat dengan Alfred.
“Lily, berapa lama kau mengenal Kakakku?”
“Hmmm belum lama aku mengenalnya. Dia pria yang baik.”
“Hari ini aku dan Kakakku akan pergi ke gunung, apa kau mau ikut dengan kami?”
“Hmm sepertinya aku tidak bisa, aku harus pulang. Ayah dan Ibuku sudah menungguku.”
“Baiklah kalau begitu, Kakak antar Lily pulang dulu saja.”
“Baiklah, aku ganti baju dulu. Lily kau bersiap-siaplah. Aku akan mengantarmu pulang.”
Lily berpamitan pada Elizabeth untuk pulang ke rumah. Alfred merasa senang karena Elizabeth sangat ramah pada Lily. Itu di luar ekspektasinya.
Di perjalanan Alfred beberapa kali menguap. Alfred memang kurang tidur dan ditambah semalam dia minum bir terlalu banyak. Lily yang melihatnya terus-terusan menguap mencoba mengajak bicara Alfred agar tidak merasa mengantuk.
“Kau sepertinya kurang tidur.”
“Ya sepertinya begitu, tapi Liz menungguku.”
“Temanilah dia, kau kan sudah berjanji padanya.”
“Ya aku tahu, aku tetap akan menemani Liz.”
“Lily, kau sudah datang.” ucap Gwen.
“Iya Ibu, perkenalkan dia Alfred teman dekatku.” kata Lily.
“Hai Tante, saya Alfred. Senang bertemu dengan anda.” sapa Alfred.
“Hai Alfred, senang juga bertemu denganmu. Maaf Tante harus buru-buru pergi belanja.”
“Iya silahkan Tante, hati-hati di jalan.”
Alfred kemudian berpamitan pada Lily untuk segera pulang. Lily berjalan masuk ke dalam rumah.
Lily melihat Ayahnya yang sedang duduk di kamar Lily.
“Ayah sedang apa di sini?” tanya Lily.
“Ayah menunggumu pulang, kau darimana saja?” Andy bertanya balik.
“Maaf membuat Ayah menunggu, aku menginap di rumah teman semalam. Apa Ayah sudah sarapan?”
“Sudah, Ibumu membuatkan roti panggang tadi.”
__ADS_1
Kemudian Andy beranjak dari tempat tidur Lily dan menuju ke kamarnya. Tak lama kemudian Lily menyusul Ayahnya ke kamar.
“Ayah, aku ingin bercerita.”
“Soal apa Lily?”
“Aku sedang dekat dengan seorang pria, tapi mungkin Ayah tidak akan menyukainya.”
“Memangnya kenapa? Ada apa dengan pria itu?”
“Hmmmm namanya Alfred, dia sebenarnya pria yang baik cuman dia mempunyai kebiasaan buruk.”
“Kebiasaan buruk apa?”
“Alfred sangat suka meminum bir terkadang hingga mabuk. Tolong Ayah jangan marah padaku, aku sungguh menyukainya.”
Andy langsung terdiam mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Lily.
“Ayah, apa Ayah marah padaku? Kenapa Ayah diam saja?”
“Lily, kau sudah dewasa dan bisa memutuskan mana yang baik dan mana yang buruk. Pesan Ayah untukmu, janganlah kau salah melangkah. Lingkunganmu akan mempengaruhi pribadimu.”
“Jika ada waktu aku akan mengajak Alfred untuk bertemu dengan Ayah dan Ibu.”
“Baiklah Lily, kau atur saja.”
Alfred mengirimkan pesan pada Lily jika dia pergi bersama adiknya. Lily yang sangat lelah hanya sempat membaca pesan yang dikirimkan oleh Alfred tanpa membalasnya.
Lily memejamkan matanya dan tertidur dengan cepat. Beberapa kali Alfred sempat menelepon karena Lily tidak membalas pesannya.
Sore harinya, Lily terbangun dari tidur panjangnya itu. Lily melihat ponselnya dan begitu kaget karena ada puluhan pesan dan panggilan dari Alfred. Lily membaca semua pesan yang dikirimkan oleh Alfred.
Alfred begitu marah padanya sehingga banyak kata-kata kasar. Lily langsung menghubungi Alfred tak lama setelah membaca semua pesan yang dikirim oleh Alfred. Namun sepertinya ponsel milik Alfred mati sehingga panggilan Lily tidak dapat tersambung.
“Kacau, pasti dia marah besar padaku. Bagaimana ini?” gumam Lily.
Lily beranjak dari tempat tidurnya dan segera mandi. Samar-samar Lily mendengar pintu kamarnya diketuk. Lily bergegas menyelesaikan mandinya. Setelah selesai Lily keluar dan menuju ke ruang tamu, ternyata ada Alfred di sana sedang berbincang dengan Ayah dan Ibunya.
“Alfred, kapan kau datang?”
“Sekitar 10 menit yang lalu, apa kau baik-baik saja? Kenapa tidak menjawab teleponku?”
“Hmmm maaf tadi aku tertidur, ketika bangun aku mencoba menghubungimu tapi sepertinya ponselmu mati.”
Gwen kemudian mengajak Andy untuk masuk ke kamar dan meninggalkan Lily dan Alfred.
“Aku minta maaf, aku benar-benar lelah sampai tertidur. Itu sebabnya aku tidak membalas pesanmu dan mengangkat teleponmu.”
“Kali ini kau kumaafkan, tapi jangan pernah kau ulangi lagi. Aku sudah lega melihatmu baik-baik saja, sekarang aku akan pamit pulang. Tolong sampaikan salamku untuk kedua orang tua mu.”
__ADS_1
“Baiklah akan kusampaikan, hati-hati di jalan ya. Kabari aku jika kau sudah sampai.”