
Keesokan harinya di Hotel Adlon Kempinski Berlin, Jerman …
Alfred terbangun pukul 7 pagi, melihat disampingnya Natasha masih tertidur. Alfred beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi untuk membasuh muka.
Setelah Alfred menyiapkan baju yang akan dipakai untuk bertemu dengan Ryan Jones nanti. Setelah itu dia membangunkan Natasha.
Alfred mengusap lembut rambut Natasha seraya memanggil namanya.
“Kau sudah bangun ya, bagaimana tidurmu? Nyenyak tidak?” tanya Natasha.
“Sangat nyenyak, cepatlah bangun dan mandi. Kita sarapan bersama.” ucap Alfred.
Natasha kemudian beranjak dari tempat tidur dan segera mandi. Di tengah Natasha sedang mandi, Alfred masuk ke kamar mandi dan mereka mandi bersama.
Setelah selesai berpakaian, mereka berdua turun ke restoran hotel untuk sarapan pagi.
“Dimana nanti kita akan bertemu dengan Tuan Jones?” tanya Alfred.
“Kita bertemu di kantornya, tak jauh dari sini. Setelah sarapan kita langsung saja pergi ke sana.” ucap Natasha.
“Baiklah, kau atur saja. Aku tinggal mengikuti. Lalu kapan kita akan kembali?”
“Besok penerbangan kita pukul 8 malam. Sepertinya pertemuan dengan Tuan Jones tak akan lama. Jadi kita punya kesempatan untuk jalan-jalan.”
Mereka berdua segera menyelesaikan sarapan paginya itu dan pergi menggunakan taksi untuk menemui Ryan Jones.
Setelah sampai di lokasi ternyata Ryan Jones sudah menunggu kedatangan mereka berdua.
“Maaf apakah kami terlambat?” tanya Alfred.
“Tidak, kalian tidak terlambat. Saya juga baru sampai.” ucap Ryan Jones.
Mereka bertiga kemudian memulai pembicaraan mereka dengan serius. Ryan Jones mengajak Alfred dan Natasha untuk mendatangi lokasi dimana hotelnya akan dibangun. Kurang lebih 4 jam pertemuan mereka sudah selesai.
Alfred dan Natasha berpamitan untuk kembali ke hotel. Di tengah perjalanan, Natasha meminta Alfred untuk menemaninya pergi ke bar yang tak jauh dari Hotel Adlon Kempinski. Alfred pun mengiyakan.
Sementara di rumah Lily …
Lily bersiap untuk berangkat kerja. Lily meminjam mobil Ayahnya untuk pergi ke Lion Kafe. Semakin sering Lily menyetir, traumanya perlahan sudah mulai hilang. Tak lupa Lily berpamitan dengan kedua orang tuanya.
“Lily sudah tidak takut lagi menyetir ya?” tanya Andy pada Gwen.
“Sepertinya sudah beberapa kali Lily menyetir sendiri. Ini lebih bagus kan? Lily sudah tidak trauma menyetir.” ucap Gwen.
Sesampainya di Lion Kafe, Lily berjalan dengan terburu-buru karena agak terlambat. Ketika akan memasuki ruang ganti, Frans mencegahnya.
“Frans … Kau mengagetkanku saja. Ada apa?” tanya Lily.
“Kau baru datang? Kau sudah terlambat berapa kali? Jika kau terus-terusan begini aku akan memberhentikanmu.” ucap Frans
“Maafkan aku Frans, tadi di jalan agak ramai. Aku tidak akan mengulanginya lagi.”
“Yasudah cepat kau siap-siap dan segera bekerja.”
__ADS_1
Frans kemudian meninggalkan Lily untuk bersiap-siap.
Lily mulai bernyanyi untuk menghibur pengunjung Lion Kafe. Walaupun sedang banyak pikiran, Lily tetap mencoba senyum ketika sedang bekerja.
Terlihat Jonathan produser musik itu duduk diantara para pengunjung. Dia terus memperhatikan Lily yang sedang bernyanyi. Menikmati setiap lagu yang dinyanyikan oleh Lily. Jonathan sangat berkeyakinan jika Lily akan bisa menjadi penyanyi yang sukses.
Jonathan menunggu hingga Lily selesai bekerja agar dirinya bisa berbincang dengan Lily. Tidak peduli malam semakin larut, Jonathan tetap setia menunggu Lily hingga selesai.
Setelah selesai Lily pergi menuju ke bar untuk menikmati jus jeruk kesukaannya yang sudah disiapkan oleh Lucas.
Jonathan yang melihat Lily sudah duduk di bar kemudian mendekati Lily dan duduk disampingnya.
“Hai Lily, apa kabar?” sapa Jonathan.
“Oh hai, kau Jonathan kan?” tanya Lily.
“Kupikir kau sudah melupakanku, aku menunggumu menghubungiku dan dan juga datang ke studioku. Kau sibuk sekali sepertinya sampai tak sempat.”
“Iya maafkan aku memang belakangan ini sedang sibuk, tapi aku berjanji akan kusempatkan datang ke studiomu.”
“Baiklah kalau begitu, aku akan mengingat janjimu padaku ini. Apa kau masih menyimpan kartu namaku?”
“Ya, aku masih menyimpannya. Sini berikan ponselmu, aku akan mencatat nomor ponselku. Jika kau rasa aku terlalu lama untuk datang ke studiomu, kau bisa mengirim pesan padaku.”
Jonathan menyerahkan ponselnya pada Lily dan Lily segera mencatat nomornya.
“Kuharap kau bisa datang di minggu-minggu ini, aku benar-benar menaruh keyakinan besar padamu. Percayalah kau akan menjadi penyanyi yang sukses.”
“Kau bisa saja membuatku besar kepala hehehe.”
“Hallo Alfred, kau dimana sekarang?” tanya Shemma
“Aku sedang ada di Jerman, ada apa kau menelepon?”
“Sedang apa kau di sana?”
“Aku mendapatkan proyek baru, klien memintaku datang ke Jerman. Ada apa Shemma?”
“Aku berada di Lion Kafe sekarang. Aku melihat Lily sedang bersama dengan seorang pria. Apa kau tahu pria itu?”
“Benarkah? Dia bersama seorang pria? Keterlaluan sekali dia.”
“Maaf aku tidak bermaksud mengadu padamu, kupikir kau tahu.”
“Tidak, aku tidak tahu. Baiklah terima kasih Shemma kau sudah memberi tahu aku tentang Lily.”
Alfred kemudian menutup teleponnya.
Alfred sangat marah mengetahui Lily bersama dengan pria lain.
“Siapa yang menghubungimu? Dan siapa Lily?” tanya Natasha.
“Apa kita bisa pulang sekarang?”
__ADS_1
“Pulang ke mana? Ke hotel?”
“Tidak, jika kau bisa mengubah jadwal penerbanganku tolong ubahlah. Aku ingin pulang secepatnya.”
“Ada masalah apa?”
“Sudahlah jangan banyak bertanya! Lakukan saja!” bentak Alfred.
Natasha merasa kebingungan dengan perubahan sikap Alfred. Mereka berdua kembali ke hotel dan Alfred langsung mengemasi barang bawaannya.
“Paling cepat penerbangan besok pagi, kau mau aku mengubahnya?” tanya Natasha.
“Tidak ada yang lebih cepat?”
“Tidak ada. Tunggulah sampai besok pagi.”
“Yasudah tolong ubah penerbanganku menjadi besok pagi, kau ikut pulang denganku atau tidak. Jika iya kau juga rubahlah penerbanganmu.”
Karena tidak ingin berada di Jerman sendirian, Natasha pun ikut mengubah jadwal penerbangannya.
“Aku sudah mengubah jadwal penerbangan kita besok pagi pukul 7. Kita harus bangun pagi-pagi sekali.”
“Tidak masalah, yang terpenting aku bisa cepat pulang. Kau segera kemasi barang-barang bawaanmu setelah itu tidurlah.”
Natasha agak terkejut dengan sikap Alfred ini. Sembari mengemasi barang-barangnya, Natasha menangis sesenggukan.
“Kenapa kau menangis?” tanya Alfred.
“Entahlah. Kau tiba-tiba saja berubah setelah tadi kau menerima telepon. Kau membentakku berulang kali. Aku tidak tahu apa kesalahanku.”
“Sudahlah kau jangan terlalu drama seperti itu. Begitu saja kau sudah menangis. Bagaimana kau bisa tinggal denganku kalau baru seperti ini saja kau sudah menangis.”
Natasha tak menjawab dan melanjutkan mengemasi barang-barang bawaannya. Setelah selesai, dia langsung berbaring di tempat tidur. Sementara Alfred menonton acara televisi.
Alfred tidak sabar untuk bertemu dengan Lily. Kemarahan Alfred sudah benar-benar di puncaknya. Dia tidak akan membiarkan ada pria lain yang mendekati Lily.
Setelah beberapa saat, Alfred sudah merasa agak tenang. Dia menghampiri Natasha yang sudah tertidur. Alfred berbaring di samping Natasha dan memeluknya dengan erat.
Keesokan paginya …
Alarm ponsel Alfred berbunyi. Segera Alfred dan Natasha pun terbangun karena terganggu dengan kerasnya bunyi alarm.
Natasha menyingkirkan tangan Alfred yang masih memeluknya itu. Kemudian dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Alfred menyusul Natasha yang sedang berada di kamar mandi. Dia memeluk pinggang Natasha dan mencium rambutnya.
“Maaf atas sikapku semalam, kau mau kan memaafkanku?” tanya Alfred.
Natasha memandang wajah Alfred yang sedang berdiri di belakangnya melalui cermin.
“Aku tidak suka kau membentakku seperti itu. Aku takut.” ucap Natasha.
Alfred kemudian teringat pada ucapan Lily yang sama persis dengan yang baru saja Natasha katakan.
__ADS_1
Alfred tertunduk dan memeluk Natasha sangat erat. Mereka kemudian bersiap untuk meninggalkan hotel dan menuju ke bandara.