
Lily meminta Alfred untuk mengantarnya pulang karena malam ini dia harus bekerja. Lily berpamitan kepada orang tua Alfred dan juga Elizabeth.
Sebelum mengantar Lily pulang, Alfred menyempatkan untuk mampir ke toko bunga. Dia membeli seikat bunga mawar hias untuk Lily.
“Ini untukmu, kau simpan di kamarmu ya. Agar kau terus mengingatku.” kata Alfred.
“Kenapa kau jadi berubah romantis seperti ini? Kau sedang kerasukan atau bagaimana?” canda Lily.
“Aku akan berusaha menyenangkan hatimu. Walaupun hanya seikat bunga, ini menandakan bentuk perhatianku padamu.”
“Terima kasih, Alfred. Maaf jadi merepotkanmu.”
“Kau sama sekali tidak merepotkanku. Aku hanya ingin membuatmu bahagia. Kalau kau mengizinkan aku akan mengantar lalu menjemputmu bekerja. Bagaimana?”
“Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri.”
“Tapi aku khawatir jika kau pulang malam sendirian. Aku antar lalu setelah selesai aku jemput ya? Tolong jangan menolak.”
“Baiklah kalau begitu jika kau memaksa hehehe.”
Setelah sampai di rumah Lily, Alfred langsung pergi ke dapur membuat teh hangat untuknya dan juga Lily. Sementara Lily mandi, Alfred menunggu sambil menikmati teh hangat dan menonton acara televisi.
Saat tengah menunggu Lily yang sedang mandi, Alfred menerima panggilan dari nomor tidak dikenal.
“Hallo selamat sore, apakah betul dengan Tuan Hernandez?” tanya seseorang
“Selamat sore, iya betul. Dari mana ini?” tanya Alfred.”
“Perkenalkan saya petugas Hans Parker dari kepolisian. Apakah anda mengenal Nona Natasha Smith?”
“Iya saya mengenalnya, ada apa?”
“Saat ini beliau sedang berada di rumah sakit pusat. Kami sedang mencari beberapa orang yang kamu curigai atas tindak kejahatan yang menyebabkan Nona Smith terluka parah. Apakah kami bisa bertemu dengan anda untuk kami mintai keterangan?”
“Apa yang terjadi padanya? Lalu apa hubungannya dengan saya?”
“Tolong beri tahu kami lokasi anda saat ini, kami akan datang untuk menjelaskan dan juga meminta keterangan dari anda.”
“Baiklah, saya akan kirim lokasi saya saat ini.”
“Baik, terima kasih Tuan Hernandez.”
Alfred kemudian mengirimkan lokasinya kepada petugas polisi itu. Alfred masuk ke kamar Lily untuk memberi tahu jika ada polisi yang menghubunginya.
“Lily, apakah kau masih lama? Aku ingin berbicara denganmu. Cepatlah sedikit.” ucap Alfred.
“Baiklah tunggu sebentar, aku hampir selesai.”
__ADS_1
“Jika kau sudah selesai temui aku di ruang tamu.”
“Iya.”
5 menit kemudian Lily selesai mandi dan segera menemui Alfred di ruang tamu.
“Kau ingin bicara apa? Kenapa wajahmu tegang seperti itu?” tanya Lily.
“Tadi aku mendapat telepon dari kepolisian. Natasha berada di rumah sakit dan mereka ingin meminta keterangan dariku. Aku tidak tahu apa yang terjadi.” jelas Alfred.
“Sepertinya serius sekali, aku jadi takut.”
“Entahlah, semoga semuanya baik-baik saja.”
20 menit kemudian, para petugas kepolisian itu sampai di rumah Lily. Alfred mempersilahkan mereka masuk dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.”
“Jadi begini, Nona Smith dibawa ke rumah sakit karena mengalami keadaan yang cukup serius. Kepalanya akibat benturan dan ternyata Nona Smith juga mengalami keguguran. Apakah anda berada bersama dengan Nona Smith kemarin?” tanya salah seorang petugas polisi.
“Kemarin saya meninggalkannya di apartemen pribadi saya. Setelah itu sampai dengan sekarang saya belum bertemu lagi dengannya.” jawab Alfred.
“Kemarin ada beberapa pria paruh baya yang terpantau dari kamera pengawas rumah sakit mengantar Nona Smith ke rumah sakit. Ini fotonya, apakah anda mengenal salah satu diantara mereka?”
Alfred melihat dengan seksama foto yang diberikan petugas polisi itu. Dia mengenali satu diantara mereka.
“Saya rasa saya mengenal salah satunya, dia adalah Tuan Ryan Jones pemilik salah satu hotel bintang 5 di kota ini. Natasha sendiri merupakan asisten pribadinya.”
“Benarkah? Lalu selain hubungan kerja, apakah anda menjalin hubungan lain dengan Nona Smith?”
“Baiklah kalau begitu, saya rasa keterangan dari anda sudah cukup. Terima kasih banyak atas waktu yang anda berikan Tuan Hernandez. Kami pamit.”
Alfred kemudian mengantar petugas kepolisian itu keluar. Lily tampak tegang dan ketakutan.
“Alfred, sebenarnya apa yang terjadi?”
“Aku juga tidak tahu, sudahlah lupakan saja.”
“Petugas polisi itu bilang jika Natasha keguguran.”
“Lily, aku yakin itu bukan anakku. Percayalah.”
“Sebaiknya kau berhati-hati sekarang, aku benar-benar takut jika terjadi apa-apa denganmu.”
Alfred memeluk Lily untuk menenangkannya. Di pelukan Alfred, Lily menangis karena takut jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Sudah kau jangan takut, aku tidak melakukan kejahatan apa pun. Kau tenang saja.” ucap Alfred.
“Aku jadi tidak tenang jika seperti ini. Bagaimana kalau kau menunggu aku bekerja? Aku tidak mau jika aku sedang bekerja nanti, ada sesuatu hal terjadi padamu.”
__ADS_1
“Iya, aku akan menunggumu di tempat kerjamu. Sudah berhentilah menangis. Semuanya akan baik-baik saja. Aku jamin.”
Alfred kemudian mengambilkan teh hangat yang tadi sudah dibuatnya untuk diberikan kepada Lily.
“Ini kau minumlah dulu supaya kau merasa tenang. Kau jangan terlalu memikirkan hal ini nanti kau bisa tidak fokus bekerja.”
Lily langsung menghabiskan segelas teh hangat buatan Alfred itu. Lily merasa sangat panik dan tidak tenang karena takut jika terjadi hal buruk pada Alfred.
“Aku baru saja kembali bersamamu, aku tidak ingin kita berpisah lagi.” ucap Lily.
“Kita tidak akan berpisah lagi, kau tenanglah jangan seperti ini.”
“Aku tidak bisa tenang sekarang.”
“Lalu aku harus bagaimana?”
“Bagaimana kalau besok kita pergi menjenguk Natasha?”
“Untuk apa, Lily? Sudah biarkan saja. Ini bukan urusan kita.
Alfred kemudian mengajak Lily untuk pergi ke kamarnya. Alfred memutar musik untuk membuat Lily lebih tenang.
“Kau dengarkan musik ini saja agar kau tidak terlalu panik.” kata Alfred.
Lily kemudian membaringkan tubuhnya di tempat tidur sementara Alfred duduk di kursi samping tempat tidur Lily.
“Kalau memang tidak memungkinkan untukmu pergi bekerja, sebaiknya kau beri tahu manager di sana.”
“Tidak perlu, aku akan tetap bekerja malam ini. Kau temani aku ya.”
“Baiklah kalau kau tetap ingin pergi bekerja. Aku tak bisa melarangmu.”
Sekitar pukul 7 malam, Lily diantar oleh Alfred pergi ke Dragon Kafe untuk bekerja. Sementara Lily bekerja, Alfred menunggu Lily sambil memesan beberapa makanan dan minuman.
Lily tak melepaskan pandangannya dari Alfred. Dia masih merasa takut jika Alfred di bawa ke kantor polisi untuk ditahan.
5 jam sudah Lily bekerja ditemani oleh Alfred yang tak bosan menunggunya.
“Aku sudah selesai sekarang, ayo kita pulang.” ajak Lily.
“Aku lapar sekarang, bagaimana kalau kita pergi mencari makan malam?” pinta Alfred.
“Kita makan di restoran cepat saji saja ya? Bagaimana? Kau suka tidak?”
“Baiklah, kita makan di restoran cepat saji saja.”
“Kita bawa pulang saja makanannya nanti. Kita makan di rumah saja.”
__ADS_1
“Baiklah, yasudah ayo kita pergi mencari restoran cepat saji.”
Alfred dan Lily kemudian meninggalkan Dragon Kafe untuk mencari restoran cepat saji yang mereka inginkan. Setelahnya mereka berdua pulang ke rumah Lily untuk menikmati makan malamnya itu.