
Esok paginya, Lily terbangun karena mendengar suara ponselnya berdering. Lily meraih ponselnya dan mengangkat teleponnya sambil tetap memejamkan matanya.
"Hallo. Siapa ini?" tanya Lily.
"Hallo Lily, ini aku Lucas." jawab Lucas.
"Ada apa kau meneleponku pagi-pagi begini? Aku masih mengantuk, kau mengganggu tidurku saja."
"Semalam Jonathan mencarimu, apakah kau masih ingat dengannya?"
"Jonathan yang mana? Aku tidak ingat."
"Produser musik yang waktu lalu pernah datang ke Lion Kafe, yang memintamu datang ke studionya. Apa kau benar-benar tidak ingat?"
"Oh iya, aku mengingatnya sekarang. Ada apa dengannya?"
"Semalam dia mencarimu, kau pulang lebih awal semalam kan? Dia menanyakanmu kenapa kau belum juga datang ke studionya."
"Aku belum ada waktu saja untuk datang ke sana. Dia mengatakan apa lagi padamu?"
"Dia hanya menanyakan itu saja, dan juga kau diminta untuk menghubunginya."
"Itu saja?"
"Iya itu saja."
"Yasudah kalau begitu, aku ingin melanjutkan tidurku. Aku masih sangat mengantuk."
"Dasar kau ini pemalas sekali."
Lucas kemudian menutup teleponnya.
Lily kemudian bangun dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi. Lily membasuh wajahnya dengan air dan melihat dirinya di cermin. Matanya bengkak karena menangis semalam. Lily masih saja teringat-ingat kejadian semalam. Lliy terus menatap wajahnya di cermin.
"Apa aku sebaiknya pergi ke studio Jonathan saja ya?" batin Lily.
Di sela-sela lamunan Lily, ponselnya berdering ...
Lily segera mengambil ponselnya dan ternyata itu panggilan dari Ibunya.
"Hallo Ibu, ada apa?"
"Hallo Lily, kau sudah bangun ya? Ibu hanya ingin memberi tahu jika Ayahmu sudah bisa pulang besok sore. Kau bisa menjemput kami kan?"
"Baiklah Ibu, besok aku jemput. Bagaimana keadaan Ayah saat ini?"
"Ayahmu baik-baik saja, semuanya berjalan lancar. Maka dari itu Ayahmu bisa cepat pulang. Baiklah kalau begitu, Ibu tutup dulu ya teleponnya. Sampai jumpa besok."
Gwen kemudian menutup teleponnya.
"Perutku kenapa sakit sekali ya?" gumam Lily.
Lily berjalan ke dapur dan mencari makanan yang bisa dia makan. Lily hanya menemukan telur dan susu saja. Lily segera membuat omelet untuk dia makan karena dia tidak makan semalam.
Setelah matang, Lily segera memakannya. Di saat Lily sedang menikmati sarapan paginya, terdengar dari luar suara mobil yang terparkir.
Lily melihat dari jendela ternyata itu adalah mobil Alfred. Mengetahui Alfred datang, dia segera membereskan makannya dan dibawanya ke kamar.
Beberapa kali Alfred mengetuk pintu tapi Lily tidak mau membuka pintunya. Lily seperti ketakutan sendiri melihat Alfred datang, namun karena mengingat kejadian semalam akhirnya Lily memberanikan diri untuk menemui Alfred.
__ADS_1
Lily membuka pintu ...
"Kenapa kau lama sekali membuka pintunya?" tanya Alfred.
"Aku sedang makan tadi, ada keperluan apa kau datang kemari?"
"Aku ingin minta maaf padamu soal kemarin. Bolehkah akuĀ masuk?"
"Tidak boleh, sebaiknya kau pulang saja. Aku rasa hubungan kita cukup sampai di sini saja. Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi."
"Tolonglah Lily, kau jangan berbicara seperti itu padaku. Aku benar-benar menyesal atas kejadian semalam. Aku mohon maafkan aku."
"Aku tidak ingin lagi berhubungan denganmu, sudah cukup kau membuatkan seperti ini."
"Aku mohon padamu, aku berjanji padamu akan merubah sifat burukku. Tapi tolong berikan aku kesempatan."
"Kau tunggu di sini."
Lily menutup pintunya dan berjalan menuju ke kamar. Lily mengambil cincin yang diberikan Alfred padanya waktu itu.
Lily membuka pintu kembali dan terlihat Alfred sedang duduk menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ini cincin yang kau berikan padaku, aku kembalikan padamu." kata Lily
Alfred segera bangun dan menatap wajah Lily.
"Aku mohon padamu Lily, tolong jangan tinggalkan aku. Aku menyesal Lily, maafkan aku."
"Aku sudah membuat keputusan untuk mengakhiri hubungan kita, kuharap kau bisa menerima. Sekarang kau pulanglah dan jangan pernah menemuiku lagi."
"Apa kau benar-benar yakin dengan keputusanmu itu?"
Alfred memegang wajah Lily dan menatap matanya. Terlihat Alfred meneteskan air mata. Dalam hati ingin rasanya Lily menangis, tapi dia harus menahan agar terlihat tegar. Kemudian Lily melepaskan tangan Alfred dan masuk ke dalam rumah.
Dari luar Alfred terus menerus mengetuk pintu tapi Lily tidak menanggapi. Setelah sekitar 10 menit, sudah tidak terdengar lagi suara ketukan pintu. Lily keluar dari kamarnya untuk memastikan apakah Alfred sudah pergi. Lily yang sedari tadi menahan tangisnya akhirnya pecah juga.
Sore harinya di apartemen Alfred ...
Alfred masih ingin mempertahankan hubungannya dengan Lily, maka dari itu dia berencana ke Lion Kafe untuk bertemu dengan Lily. Jam tangan pemberian Lily terus saja dipakainya. Alfred benar-benar merasa hancur karena keputusan Lily yang mengakhiri hubungan mereka berdua.
"Aku tidak akan mungkin bisa hidup tanpamu Lily, aku benar-benar menyanyangi sepenuh hatiku. Aku rela berbuat apa saja asalkan kau kembali padaku." gumam Alfred sambil memandang jam tangan pemberian Lily.
Alfred segera memacu mobilnya ke Lion Kafe dengan harapan dia bisa bertemu dengan Lily. Tak sampai 30 menit, Alfred sudah tiba di Lion Kafe. Alfred berjalan menuju ke bar untuk menemui Lucas.
"Hai Lucas, apa kabar?" tanya Alfred.
"Hai Alfred, ada apa denganmu? Kau tampak kacau sekali." ucap Lucas.
"Lily mengakhiri hubunganku dengannya. Aku benar-benar hancur sekarang."
"Tenanglah, sebenarnya apa masalah kalian berdua?"
"Entahlah, aku bersalah padanya."
Alfred kemudian hanya bisa tertunduk lemas. Lucas yang tidak tega melihat kondisi Alfred mencoba menghubungi Lily.
"Hallo Lily, kau ada di mana sekarang?"
"Aku di rumah, ada apa Lucas?"
__ADS_1
"Bisakah kau kemari sekarang?"
"Memangnya ada masalah apa?"
"Alfred datang mencarimu, dia ingin bertemu denganmu."
"Apa? Dia ada di sana sekarang?"
"Iya, dia bercerita jika kau mengakhiri hubungan kalian berdua. Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian?"
"Tidak terjadi apa-apa, Lucas bisakah kau menyuruhnya untuk pulang?"
"Dia terlihat kacau sekarang, apa tidak sebaiknya kau menemuinya terlebih dahulu?"
"Pria itu selalu saja membuat hidupku susah. Yasudah aku akan ke sana sekarang."
Lily kemudian datang ke Lion Kafe untuk bertemu dengan Alfred atas permintaan Lucas.
Sesampainya di Lion Kafe ...
Lily berjalan ke bar dan melihat Alfred sedang duduk di sana. Lily agak ragu-ragu untuk mendekati Alfred karena dia takut jika Alfred akan marah padanya. Lily hanya tidak ingin membuat keributan di tempatnya bekerja. Dengan penuh keyakinan, Lily menghampiri Alfred.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Lily.
Alfred yang melihat kedatangan Lily langsung mempersilahkan Lily duduk di sampingnya.
"Lihatlah Lily aku memakai jam tangan pemberianmu, aku suka sekali. Terima kasih banyak hadiahnya."
"Alfred, seperti yang kusampaikan padamu. Aku tetap ingin berpisah denganmu. Aku mohon jangan menggangguku lagi. Berhentilah menemuiku. Hubungan kita sudah berakhir."
"Apa kau tidak kasihan padaku? Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku sangat menyayangimu Lily."
"Jika boleh jujur, aku pun juga menyayangimu tapi itu saja tidak cukup dalam sebuah hubungan."
"Aku ingin bertanya padamu untuk terakhir kalinya, apakah kita masih bisa melanjutkan hubungan kita?"
"Aku rasa tidak bisa."
"Baiklah kalau begitu, maaf aku sudah mengganggu waktumu."
Alfred kemudian pergi begitu saja. Lily terlihat berusaha menahan tangisnya.
"Lily, apakah kau baik-baik saja?" tanya Lucas.
"Ya,, aku baik-baik saja Lucas. Apakah kau melihat Frans?"
"Sepertinya belum datang. Ada apa kau menanyakannya?"
"Apa aku bisa meminta tolong padamu?"
"Minta tolong apa?"
"Jika kau melihat Frans, tolong sampaikan padanya aku tidak bekerja hari ini. Bilang saja aku sedang tidak enak badan."
"Baiklah kalau begitu, nanti akan kusampaikan. Sebaiknya kau pulang sekarang, jangan terlalu banyak pikiran nanti kau bisa sakit. Jaga kondisimu."
"Terima kasih Lucas, baiklah aku pulang dulu ya. Sampai jumpa lagi."
Lily meninggalkan Lion Kafe.
__ADS_1