
Julie yang masih menyimpan perasaan pada Alfred merasa tidak puas hanya melihat Alfred sebentar saja. Diam-diam Julie mendatangi apartemen Alfred sendirian tanpa sepengetahuan Binca.
Julie yang juga gemar sekali meminum bir tidak lupa membeli beberapa botol bir sebelum dia datang ke apartemen Alfred.
“Kali ini kau tidak akan bisa lolos dariku Alfred. Kau pasti akan kembali lagi ke pelukanku. Tak akan kubiarkan penyanyi murahan itu mendapatkanmu.” gumam Julie.
Julie sudah sampai di depan pintu apartemen Alfred dan menekan bel pintu. Alfred yang terganggu karena suara bel pintu yang terus menerus berbunyi, akhirnya keluar dari kamarnya.
Begitu Alfred membuka pintu, Julie langsung masuk begitu saja. Julie meletakkan beberapa botol bir yang dibawanya itu di meja kemudian duduk dengan santai.
“Apa-apaan kau ini? Ada urusan apa kau kemari?”
“Aku hanya mampir, kebetulan aku tadi berada di dekat sini kemudian teringat padamu. Aku juga sudah membeli beberapa botol bir kesukaanmu. Ayo kita minum bersama.”
Alfred hanya berdiri dan memperhatikan Julie dengan sinis. Julie kemudian menarik tangan Alfred untuk duduk disampingnya.
“Kemarilah duduk disampingku, kau tak usah malu-malu seperti itu.”
Kemudian Julie membuka 2 botol bir untuknya dan Alfred.
Alfred langsung meminum bir itu dan menghabiskannya.
Julie memutar lagu kesukaan mereka berdua ketika mereka masih bersama dulu.
Melihat Alfred sudah menghabiskan 1 botol birnya, Julie membukakan 1 botol lagi dan diberikan pada Alfred.
Julie memang berencana untuk membuat Alfred mabuk agar dia bisa berlama-lama dengan Alfred di apartemen Alfred.
Karena sedari kemarin Alfred belum minum bir, dia terus-terusan membuka botol demi botol bir hingga tak terasa sudah menghabiskan 9 botol.
“Sepertinya kau kena jebakanku.” gumam Julie sambil tersenyum.
Alfred sudah mulai mabuk. Dia membaringkan tubuhnya di sofa dan memejamkan matanya. Wajahnya sudah memerah pertanda memang Alfred sudah mabuk berat.
Melihat Alfred terbaring di sofa, Julie mendekati Alfred untuk memastikan Alfred masih sadar atau tidak. Julie kemudian mengusap lembut pipi Alfred dan mencium bibirnya.
“Alfred … Alfred …” panggil Julie.
Karena tidak ada jawaban dari Alfred, Julie segera membuka kaos yang dikenakan Alfred.
Tak lupa Julie juga menghabiskan sisa bir miliknya. Lalu dia kembali mendekati Alfred yang terbaring di sofa. Julie mencium dada Alfred hingga ke bibirnya.
__ADS_1
Julie menduduki tubuh Alfred dan kembali mencium dada hingga bibir Alfred.
Alfred kemudian menggeliat dan mereka berdua jatuh ke lantai. Karena sudah terlalu mabuk, Alfred mengira wanita yang di depannya itu adalah Lily.
Alfred mencium Julie dan memeluknya sambil memanggil nama Lily.
“Lily … Lily … Tetaplah di sini bersamaku. Kau jangan pergi kemana-mana. Di sini saja bersamaku.”
Julie yang mendengar Alfred memanggil nama Lily sedikit merasa kesal. Tapi Julie tidak peduli, saat ini dia bersama Alfred itu sudah cukup membuatnya senang.
Dengan susah payah Julie membaringkan tubuh Alfred kembali ke sofa. Alfred masih tidak sadarkan diri.
Ponsel Alfred berbunyi dan buru-buru Julie mengambil ponsel itu. Terlihat itu panggilan dari Lily.
“Hallo Alfred, apa kau sudang bangun?” tanya Lily.
“Aku sudah bilang padamu kan? Jangan pernah kau dekati Alfred lagi. Saat ini dia sedang bersamaku di apartemennya. Kuingatkan padamu sekali lagi, jangan pernah menghubungi Alfred lagi!” ucap Julie lalu menutup teleponnya.
Lily terkejut kenapa bisa Alfred bersama dengan Julie di apartemennya. Lily benar-benar marah dan kecewa pada Alfred.
Tak lama ponselnya berbunyi. Julie mengirimkan foto Alfred yang sedang tertidur di sofa melalui ponsel milik Alfred. Lily melihat foto itu seakan tak percaya. Alfred telanjang dada dan tertidur di sofa membuat Lily berpikir macam-macam.
Setelah mengirimkan foto Alfred kepada Lily, Julie segera menghapus pesannya itu tak lupa log panggilan dari Lily juga dihapus.
Julie kemudian meninggalkan apartemen Alfred begitu saja.
Malam harinya Lily berangkat kerja seperti biasanya. Dia berangkat bersama dengan David menuju Lion Kafe.
Perasaan Lily benar-benar kacau malam ini.
“Kenapa kau diam saja?” tanya David.
“Ah tidak, tidak apa-apa. Aku hanya sedang melamun saja.” jawab Lily
“Kau pasti sedang memikirkan sesuatu, bicaralah ada apa? Apa yang sedang kau pikirkan?”
“Aku sedang tidak memikirkan apapun, percayalah padaku.”
“Baiklah jika kau tidak ingin mengatakannya padaku saat ini, jika kau merasa butuh teman untuk bercerita aku akan ada untukmu.”
Berulang kali Lily mengecek ponselnya berharap ada panggilan atau pesan dari Alfred. Hingga dia sampai di Lion Kafe, ponselnya tidak berbunyi sama sekali.
__ADS_1
Ketika Lily sedang bernyanyi, ada salah seorang pengunjung yang meminta Lily menyanyikan lagu “Boulevard” milik Dan Byrd.
“Nona sementara kau menyanyikan lagu itu apakah aku boleh merekammu?” tanya pengunjung itu.
“Iya silahkan saja, semoga anda menyukainya.” kata Lily.
Lily kemudian menyanyikan lagu itu dan begitu menghayatinya. Sampai tak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya.
Setelah menyelesaikan lagu itu, semua pengunjung bertepuk tangan untuk menyemangati Lily yang terlihat menangis.
Lily kemudian beristirahat sebentar dan menuju ke bar. Melihat Lily berjalan ke arah bar, pengunjung yang tadi meminta Lily menyanyikan lagu itu berjalan mengikuti Lily.
“Nona … Anda bernyanyi dengan sangat bagus tadi, suaramu indah sekali. Kalau boleh aku tahu siapa nama anda?” tanya pengunjung itu.
“Terima kasih, nama saya Lily Anderson. Saya senang jika anda menyukai suara saya.”
“Perkenalkan nama saya Jonathan Mills. Saya produser musik. Kebetulan saya sedang mencari penyanyi yang ingin saya orbitkan. Ini kartu nama saya, jika ada waktu datanglah ke studio saya.” ucap Jonathan.
Lily kemudian menerima kartu nama itu.
“Senang sekali bertemu dengan anda, nanti jika ada waktu saya akan datang ke studio anda.”
“Panggil saja Jonathan.”
“Baik terima kasih banyak Jonathan.”
Jonathan kemudian pergi meninggalkan Lion Kafe.
Lucas yang mendengar percakapan mereka turut senang.
“Ini kesempatan yang bagus untukmu Lily. Kusarankan kau datang saja ke studio miliknya. Kalau bisa secepatnya.” kata Lucas.
“Ya benar, semoga ini menjadi langkah awal yang baik untuk karir menyanyiku. Terima kasih banyak Lucas kau telah menjadi penyemangatku hehehe.”
“Semoga kau bisa menjadi penyanyi yang sukses, tapi jika kau sudah sukses jangan lupa padaku.”
“Tentu saja tidak, aku tidak akan melupakanmu atau teman-teman yang lainnya. Aku akan selalu mengingat kalian semua.”
“Ini sudah kusiapkan jus jeruk kesukaanmu, kau minumlah dulu.”
“Terima kasih Lucas, bagaimana aku bisa melupakanmu sementara kau sangat baik padaku.”
__ADS_1
Setelah menghabiskan jus jeruknya, Lily kembali lagi ke panggung untuk bernyanyi menghibur pengunjung Lion Kafe.