Falling In Love Dengan Pemabuk

Falling In Love Dengan Pemabuk
Episode 12


__ADS_3

Malam harinya, Lily pergi ke Lion Kafe sendirian. Lily ingin melampiaskan amarah dan kekecewaannya dengan minum bir.


Setelah sampai di Lion Kafe, Lily langsung menuju ke bar. Wajahnya tampak murung dan tidak ceria.


“Hai Lucas, bisa kau ambilkan aku sebotol bir?” pinta Lily.


“Lily, kenapa kau datang kemari? Bukannya hari ini kau libur?”


“Iya hari ini aku libur, aku kemari untuk minum bir. Bisakah kau ambilkan sebotol bir untukku?”


“Baiklah tunggu sebentar.”


Lucas mengambil sebotol bir dingin untuk Lily.


”Ini birmu, ada apa denganmu Lily?”


“Aku sudah berhenti berhubungan dengan Alfred.”


Lucas terkejut mendengar apa yang baru saja Lily katakan. Pasalnya Alfred dan Lily terlihat baik-baik saja kemarin.


“Apa dia menyakitimu?”


“Tidak, aku hanya merasa bodoh karena tidak mendengarkan Ayahku. Ayahku tidak menyukai hubunganku dengan Alfred. Tapi aku tetap saja melanjutkannya.”


“Lalu bagaimana? Apa yang terjadi?”


“Sudahlah jangan membahasnya. Aku sudah muak dengannya.”


Lily kemudian menghabiskan sebotol bir dengan cepat hingga membuat Lucas terkejut.


“Lucas, tolong ambilkan lagi.”


“Jika kau ada masalah, jangan seperti ini Lily. Meminum bir tidak akan menyelesaikan masalahmu.”


“Sudahlah, berikan saja sebotol lagi.”


Lucas tidak bisa menolak permintaan Lily. Dia kembali mengambilkan sebotol bir untuknya.


Lily sungguh kacau malam ini. Beberapa kali dia meminta Lucas mengambilkan bir untuknya. Hingga tak terasa Lily sudah menghabiskan lima botol bir.


Lily sepertinya sudah mabuk hingga dia hampir jatuh dari kursi. Lucas membantu Lily untuk duduk kembali. Lily kemudian meletakkan kepalanya di meja bar.


Dari kejauhan Lucas melihat Alfred yang datang sendirian. Alfred menuju ke bar dan memesan beberapa botol bir untuknya.


Alfred langsung asyik meminum bir yang dipesannya itu sambil sesekali mengecek ponselnya.


“Apa kau sedang menunggu seseorang?” tanya Lucas.


“Ah tidak, aku sedang tidak menunggu siapa-siapa. Kenapa dengan wanita ini? Apa dia mabuk?” tanya Alfred.


“Kau tidak mengenalinya? Kau ini sungguh payah sekali. Itu Lily. Dia sudah menghabiskan 5 botol bir dan sekarang lihatlah dia.”


Alfred terkejut karena ternyata wanita yang mabuk itu adalah Lily. Alfred langsung membangunkan Lily.


“Lily … Lily … Bangunlah. Ayo kuantar kau pulang.” kata Alfred.


Lily tidak merespon karena sudah terlalu mabuk.


“Lucas, aku akan mengantar Lily pulang. Terima kasih telah menjaganya.”


Setelah membayar minumannya dan Lily. Alfred segera menggendong Lily menuju ke mobilnya.


Alfred membawa Lily ke apartemennya. Dia membaringkan Lily ke tempat tidur dan membiarkan Lily istirahat. Alfred kemudian berbaring di samping Lily sambil mengusap-usap rambutnya.


“Lily … Lily … Bangunlah.” kata Alfed sambil mengusap pipi Lily.

__ADS_1


Lily menggeliat dan membuka matanya. Lily terkejut karena melihat Alfred sudah berada di sampingnya. Seketika Lily langsung bangun dan duduk.


“Kenapa kau ada di sini? Dimana aku sekarang?”


“Kau ada di apartemenku sekarang, tadi kau mabuk di Lion Kafe dan aku membawamu kemari.”


“Siapa suruh kau membawaku kemari!” bentak Lily.


“Tenanglah dulu. Aku ambilkan air untukmu. Tunggulah di sini.”


“Kau tidak usah berlagak peduli padaku! Aku ingatkan padamu jangan pernah muncul di hadapanku lagi!”


“Kemarilah duduk di sampingku.”


“Kau ini sudah tidak waras atau bagaimana? Berlagak seperti tidak terjadi apa-apa!”


“Sekali lagi aku minta kau duduk di sampingku. Sebelum kesabaranku habis.”


“Aku tidak peduli kesabaranmu habis atau bagaimana, aku tidak ingin bertemu denganmu lagi!”


Alfred kemudian berdiri serta meraih tangan Lily dengan kasar dan menyeretnya keluar kamar. Alfred mendorong Lily ke lantai sehingga kepala Lily terbentur.


“Aku sudah cukup sabar menghadapi perilakumu yang tidak jelas. Sekarang kau mau berbuat apa itu terserah padamu.”


Lily kemudian bangun dan memukul dada Alfred dengan kedua tangannya.


“Aku memintamu datang ke rumah untuk bertemu Ayahku kenapa kau tidak mau datang!”


Alfred kemudian menahan tangan Lily. Lily menangis terisak-isak.


“Kau sudah terlalu mengecewakan aku dan keluargaku. Aku sudah tidak mau lagi berhubungan denganmu.” kata Lily sambil terus menangis.


“Berhentilah menangis! Kau jangan egois Lily! Kau tahu tidak bagaimana perasaanku sekarang ini?”


“Tenanglah dulu. Aku akan buatkan kau teh hangat.”


Di saat Alfred sedang membuatkan teh hangat untuk Lily, Lily berjalan ke arah balkon. Dia terduduk sambil terus menangis. Tak lama Alfred datang menghampirinya.


“Ini minumlah dulu agar kau merasa tenang.”


Lily kemudian meminum teh buatan Alfred itu.


“Lily, apa kau masih menyayangiku?”


Lily diam saja tidak menjawab. Lily memandangi lampu-lampu kota di hadapannya dan masih meneteskan air matanya.


“Andai saja aku tidak bertemu denganmu malam itu, mungkin hidupku tak akan serumit seperti sekarang ini.”


“Maaf … Aku tidak akan menganggumu lagi. Semoga setelah ini kau bisa menjalani hidupmu dengan tenang.”


Lily kemudian menatap wajah Alfred dan mengusap lembut rambutnya.


“Kau mau kuantar pulang sekarang?”


Lily diam tak menjawab.


“Jangan diam saja seperti ini. Aku bukan cenayang yang bisa mengetahui isi hatimu. Jika ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, kau bisa berbagi denganku. Jangan seperti ini.”


Lily tetap saja masih diam.


“Kalau kau sudah tidak ingin bicara padaku yasudah, aku tidak akan memaksamu. Aku akan masuk ke kamar, jika kau butuh sesuatu panggil saja aku.”


Alfred kemudian masuk ke dalam kamarnya. Alfred melepaskan kaos yang dipakainya dan membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


Ponsel Alfred berdering …

__ADS_1


“Hallo ada apa Bi?” tanya Alfred.


“Kau ada di apartemen kan? Aku dan Julie hampir sampai di apartemenmu. Kau jangan kemana-mana ya.” kata Bianca.


Bianca langsung menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Alfred.


Alfred panik karena Bianca dan Julie akan datang. Julie adalah mantan kekasih Alfred.


Tidak ingin Lily berpikiran macam-macam, Alfred segera menghampiri Lily yang masih terduduk di balkon.


“Lily, apa kau sudah merasa tenang? Aku ingin bicara padamu. Bisakah kita masuk ke dalam?”


“Ya, aku sudah merasa lebih baik sekarang. Kau ingin bicara apa?”


“Lily aku mohon padamu kau jangan marah, Bianca baru saja menghubungiku. Dia akan datang kemari.”


“Lalu?”


“Hmmm … Bianca akan datang bersama Julie. Julie itu mantan kekasihku. Aku mohon kau jangan marah padaku, aku belum sempat berbicara tapi Bianca sudah menutup teleponnya.”


“Baiklah, aku akan pamit sekarang. Aku tidak ingin mengganggu kalian.”


“Lily jangan pergi. Kau di sini saja.”


Kemudian terdengar bel pintu berbunyi.


“Itu pasti mereka.” ucap Lily.


Segera Alfred membuka pintu.


“Hai Alfred apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu? Apa kita boleh masuk?” tanya Julie.


“Ya ya, silahkan masuk.” jawab Alfred.


Julie dan Bianca kemudian masuk ke dalam diikuti dengan Alfred.


“Wah sepertinya kita datang di saat yang tidak tepat ya.” sindir Julie.


Lily terkejut karena melihat wanita yang datang bersama Bianca adalah orang yang mendatangi rumahnya dan memintanya untuk menjauhi Alfred.


“Lily … ternyata ada kau di sini. Maaf ya jadi mengganggu kalian.” kata Bianca.


“Tidak … Tidak. Kau tidak menganggu kami sama sekali. Lagi pula aku juga sudah mau pulang.” ucap Lily.


“Kalian ada perlu apa datang kemari malam-malam begini?” tanya Alfred.


“Oh maaf ya Alfred kami jadi menggangumu. Aku hanya ingin mampir saja untuk melihatmu. Kita kan sudah lama tidak bertemu.” kata Julie.


Alfred kemudian mengajak Lily untuk masuk ke kamar.


“Lily tolong kali ini dengarkan aku, aku mohon padamu. Kau jangan pulang dulu, aku akan bicara dengan mereka.”


“Baik. Aku akan tunggu di sini.”


“Aku akan segera kembali, aku menyayangimu.”


Alfred kemudian keluar dari kamar.


“Alfred sebaiknya kami pulang saja ya, maaf jadi menggangu kalian.” kata Bianca.


“Tidak masalah, lain kali saja kau datang.” ucap Alfred.


“Lama tidak bertemu seleramu jadi berubah ya.” kata Julie.


Alfred tidak menjawab dan langsung membukakan pintu untuk mereka. Bianca menarik tangan Julie untuk keluar dari apartemen Alfred.

__ADS_1


__ADS_2