
Suasana sore hari yang begitu sejuk, sangat cocok bagi anak-anak bermain.
"Aku menang!" Ucap salah seorang anak kecil dengan gembira.
"Kakak curang, seharusnya aku yang menang!" Sahut anak kecil lainnya dengan wajah cemberut.
"Hahaha... ayolah, mana ada aku curang Senna!" Jawab anak laki-laki tersebut.
"Aku melihatnya dengan jelas, kakak curang!" Bantah Senna.
Klasenna Glorya Sunjaya, anak kedua dari Gaby dan Ardiaz. Sementara anak laki-laki yang bermain dengannya adalah Alsangga. Perbedaan usia keduanya tidak terlalu jauh, selisih 4 tahun.
Saat ini keduanya tengah bermain kartu dirumah pohon, Senna terus cemberut karena ia kalah dari Angga. Senna tahu bahwa Angga telah berbuat curang.
"Baiklah, bagaimana kalau kita tanding ulang? Siapa yang lebih dulu sampai dirumah dia pemenangnya dan dapat jatah cemilan sore yang kalah!" Usul Senna.
"Siapa takut," jawab Angga dengan berlagak sombong.
Angga dan Senna turun dari rumah pohon, keduanya bersiap untuk memulai lomba lari.
"Satu... dua... lari....," Senna lari terlebih dahulu sebelum hitungan selesai.
"Senna kau curang!" Teriak Angga menyusul Senna.
Senna tertawa puas melihat Angga yang kesal terhadapnya. Meskipun Senna lari lebih dulu tetapi Angga jauh lebih cepat dari pada Senna.
"Ayo kejar aku!" Ucap Angga sambil menjulurkan lidahnya meledek Senna.
Senna mengerucutkan bibirnya, ia terus berlari sekuat tenaga. Angga berlari sangat cepat, Senna tidak dapat menyusul Angga. Dan akhirnya, Angga-lah pemenangnya.
"Aku menang!" Ucap Angga dengan bangga.
"Cih! Kakak curang, tidak adil!" Sahut Senna tidak terima.
"Eh? Kenapa aku yang disalahkan? Bukankah kau yang curang?" Bantah Angga.
"Tuan muda, nona muda silahkan dimakan cemilannya!" Ucap Berta pelayan pribadi Angga dan Senna.
Berta meletakan nampan diatas meja, Senna sangat kecewa pada dirinya ia duduk diatas tangga teras. Angga tersenyum kecil, ia mengambil nampan yang diletakan berta. Kemudian ia membawanya dan menyodorkannya kehadapan Senna. Senna mengangkat wajahnya, menatap Angga dengan bingung.
"Ambil ini," ucap Angga.
"Tapi, bukankah kakak yang menang? Aku tidak bisa bertingkah egois!" Sahut Senna.
"Kau kan tahu aku tidak terlalu suka coklat," ucap Angga.
Senyum manis nan imut terukir diwajah Senna, ia sangat senang dapat memakan kue coklat kegemarannya.
"Ambil punyaku juga, tapi jangan jus jeruknya!" Sahut Angga meletakan nampan tersebut disamping Senna.
Lantas, Angga ikut duduk disamping Senna dengan nampan sebagai pembatas. Angga mengambil jus jeruk miliknya lalu meneguknya sampai habis.
"Kakak, ayo cobalah kue ini!" Ucap Senna menyodorkan kue yang telah disendoknya kemulut Angga.
"Tidak, aku tidak suka coklat!" Tolak Angga memundurkan wajahnya.
"Ayolah, kue ini enak kok!" Paksa Senna.
__ADS_1
"Aku bilang aku ti-" ucapan Angga terpotong, Senna lebih dulu memasukan kue coklat tersebut kemulut Angga.
Angga terpaksa mengunyah dan menelan kue yang sudah terlanjur masuk kedalam mulutnya.
"Itu kakak suka," sahut Senna senang.
"Kau yang memaksaku memakannya!" Tegas Angga kesal.
"Hahaha... tenang saja, kue ini tidak beracun kok!" Senna tertawa terbahak-bahak.
Angga menatapnya dengan senyum kecil diwajahnya, adik kecil yang dulu ia jaga sekarang sudah besar. Angga sangat bahagia memiliki adik perempuan seperti Senna. Meskipun Senna selalu menjahilinya, ia tetap menyayanginya.
"Kakak!" Panggil Senna sambil menundukan kepalanya
"Kenapa?" Tanya Angga.
"Kakak berjanjilah tidak akan meninggalkan aku!" Ucap Senna menatap sendu Angga.
Angga merasa tersentak, ia berusaha tersenyum demi membuat Senna senang. Angga menyingkirkan nampan kemudian memeluk erat Senna.
"Memangnya aku akan pergi kemana?" Sahut Angga dengan lembut.
"Pokoknya berjanji!" Tegas Senna.
"Iya-iya aku berjanji!" Jawab Angga.
Malam harinya...
Angga masuk kedalam kamar Senna, ia berniat mengajak Senna untuk bermain tetapi Angga mengurungkan niatnya setelah ia melihat Senna yang sudah tertidur. Angga berjalan mendekat kearah ranjang Senna, lalu ia membelai lembut rambut Senna. Senna membuka matanya.
"Tidak! Kakak, tidurlah bersamaku!" Sahut Senna.
Angga tersenyum, ia mengangkat selimut lalu membaringkan tubuhnya disamping Senna. Angga memeluk erat tubuh kecil Senna, tak lama kemudian keduanya tertidur dengan sangat pulas.
Pagi harinya...
"Selamat pagi, sayang!" Sapa Ardiaz sambil memeluk Gaby dari belakang.
Gaby yang tengah memasak, menoleh kearah Ardiaz sambil tersenyum.
"Pagi juga, anak-anak sudah bangun belum?" Sahut Gaby.
"Sepertinya belum, biarkan saja. Agar tidak ada yang mengganggu!" Jawab Ardiaz.
"Iisshh... jangan begitu!" Tegas Gaby.
Ardiaz tersenyum kemudian menenggalamkan wajahnya dibahu Gaby, sedangkan Gaby kembali fokus memasak.
"Ibu, ayah!" Teriak Senna sambil menuruni anak tangga.
"Iya Senna, sayang?" Jawab Gaby.
"Ayah, ayah kenapa peluk ibu seperti itu?" Tanya Senna.
"Dia lagi manja!" Jawab Angga sambil duduk dikursi dengan wajah datar.
"Hush! Anak kecil tidak boleh bicara seperti itu!" Tegas Gaby.
__ADS_1
Angga memutar bola matanya.
Gaby selesai memasak, ia meletakan seluruh makanan diatas meja makan. Kemudian ia bersama keluarganya makan bersama. Selesai makan, Senna pergi bermain bersama Vio. Sementara Angga duduk diruang keluarga mengobrol bersama kedua orang tuanya.
"Apa kau serius akan pergi?" Tanya Gaby dengan ekspresi cemas.
"Hal ini sangat aku tunggu ibu, toh aku juga pasti akan menjadi pewaris keluarga ini. Aku harus mendapatkan ilmu yang sangat banyak dari sekolah luar!" Jawab Angga.
"Kau tidak perlu memaksakan diri, jika tidak mau sekolah saja disini!" Ucap Ardiaz.
"Aku tetap akan pergi!" Jawab Angga dengan yakin.
"Ayah, ibu, kakak lihat ini!" Teriak Senna berlari menghampiri ketiganya.
Senna kemudian duduk ditengah-tengah Ardiaz dan Gaby, ia menunjukan sebuah foto yang ia ambil sendiri.
"Cantik bukan?" Tanya Senna dengan wajah gembira.
"Cantik sekali, kamu pintar sekali memotret!" Puji Gaby.
Senna tersenyum, kemudian ia berjalan kearah Angga dan duduk dipangkuannya.
"Kakak, mau aku foto juga?" Tanya Senna.
"Tidak, nanti hasilnya jadi jelek!" Jawab Angga.
"Tidak mungkin, lihat aku memotret dengan sangat baik!" Bantah Senna sambil menunjukan hasil jepretannya.
"Jelek sekali, gambarnya burem!" Ucap Angga setelah melihat hasil jepretan Senna.
"Tidak, ini sangat cantik!" Sahut Senna.
Keduanya bertengkar hanya karena sebuah foto, Gaby melerainya dan menyuruh keduanya untuk bermain.
Malam harinya, Angga tertidur lelap dikamarnya sementara Senna masih bermain dengan kameranya. Gaby masuk kedalam kamar Senna, menemuinya lalu menyuruhnya untuk tidur.
"Senna, apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Gaby duduk ditepi ranjang.
"Aku sedang menempelkan foto-foto ini kedalam buku album!" Jawab Senna dengan pandangan terarah pada buku album.
"Eh? Ini kan foto Angga yang sedang mengupil," ucap Gaby mengambil foto tersebut lalu tertawa.
Senna ikut melihatnya, lantas ia juga ikut tertawa.
"Lucu sekali!" Sahut Gaby.
"Hahaha... aku berhasil mendapatkan objek untuk mengejek kakak!" Ucap Senna dengan senang.
Senna mengambil foto tersebut kemudian menempelkannya dibuku album.
"Sekarang sudah malam, ayo tidur!" Tegas Gaby.
Senna mengangguk, ia kemudian menyimpan buku album serta kameranya. Lantas ia membaringkan tubuhnya, Gaby menemani Senna hingga tertidur lelap.
KLASENNA GLORYA SUNJAYA
__ADS_1