GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2

GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2
CHAPTER 13


__ADS_3

Angga melihat bingkai foto yang ada dimejanya, kala itu ia pergi kerumah sakit tempat Senna dirawat. Angga melihat rekaman CCTV bahwa ada seseorang dengan baju hitam, topi hitam dan memakai masker menjaga jarak serta menjauhi kerumunan... sksksk bercanda:)


Sosok itu menumpahkan cairan yang diduga bahan bakar, kemudian sosok itu menyalakan api lalu membuangnya kelantai. Api merambat dengan sangat cepat. Tak lama setelah sosok itu pergi, muncul seorang pria dengan pakaian yang menyerupai perawat membawa brankar. Pria itu membuka kain penutup brankar, terlihatlah seorang anak kecil yang telah tewas.


Pria itu masuk kedalam kamar, ia kembali keluar dengan membawa Senna lalu kabur pergi meninggalkan ruangan sebelum Gaby dan yang lainnya datang.


Itulah alasan mengapa Angga sangat percaya jika adiknya masih hidup, Angga terus berkelana mencari keberadaan Senna. Dari mulai mencarinya diintenet atau bahkan mengunjungi sebuah negara secara langsung untuk mencari Senna.


Sampai pada akhirnya ia menemukan adik kecilnya di Indonesia, Alfira.


Angga tersenyum menatap foto adiknya, seseorang mengetuk pintu dan tampaklah Jarvis masuk kedalam ruangan.


"Apa kau masih memikirkannya?" Tanya Jarvis sambil duduk disofa, meregangkan tubuhnya yang terasa pegal.


Angga terdiam, ia hanya melihat Jarvis sekilas lalu kembali menatap foto Senna.


Jarvis menatap Angga "Bukankah kau percaya jika gadis itu adikmu? Lalu kenapa kau masih berwajah masam?" Tanyanya kembali.


Angga menaikan sebelah alisnya.


"Bukan urusanmu kan?" Ucapnya ketus.


Jarvis berdecak kesal.


"Aku masih belum yakin jika gadis itu adikmu!" Ucap Jarvis menatap serius kearah temannya.


"Bagaimana kau bisa sangat yakin?" Tanyanya.


"Aku merasakan aliran darah yang sama mengalir ditubuhnya, aku merasakan ikatan batin dengannya. Dan juga, dia ingin mencari keluarganya yang sesungguhnya. Bagaimana bisa aku tidak yakin?" Jawab Angga dengan seksama.


Jarvis mengangguk paham, ia mengerti dengan alasan Angga yang tampak begitu yakin. Jarvis tertawa kecil, Angga mengkerutkan keningnya keheranan melihat ekspresi temannya yang tiba-tiba tertawa.


"Ada apa denganmu?" Tanya Angga.


"Apa kau ingat dulu sejak kau mendengar berita adikmu kau memukul seseorang di Akademi?" Ucap Jarvis menghentikan tawanya.


"Apa yang lucu dari itu?" Ketus Angga.


"Tentu saja itu lucu, orang yang kau pukul adalah musuh bebuyutanmu. Dia ingin mengalahkanmu!" Jawab Jarvis.


Ekspresinya berubah menjadi lebih serius.


"Oh aku ingat!"


Angga menaikan satu alisnya pertanda bahwa ia penasaran.


"Namanya Darren bukan? Dia salah satu pengusaha yang terkenal sebelum kau disini!" Jelas Jarvis.


Angga menganggukan kepalanya.


"Aku rasa dia akan membalaskan dendamnya padamu, dilihat dari segi mana pun caranya menjalankan perusahaan hampir sama dengan caramu!" Lanjutnya.


"Aku tak mempermasalahkan hal itu, biar saja dia meniru caraku menjalan perusahaan. Dia tidak akan bisa mengalahkan seorang Sunjaya!" Jawab Angga dengan yakin bahwa dia bisa.

__ADS_1


Jarvis menatap Angga dengan tatapan menyelidik.


"Apa kau yakin?" Tanyanya.


"Kenapa? Apa kau tidak percaya?" Ucap Angga.


"Kau tunggu saja, 1 atau 2 hari dia akan mengalami masalah dalam perusahaannya!" Lanjut Angga dengan tersenyum licik.


"Hey! Apa kau berbuat sesuatu dengannya?" Tanya Jarvis dengan agak kesal.


Angga selalu berbuat ulah jika ada seseorang yang ingin mengalahkannya, Jarvis lelah harus membereskan masalah yang dibuat Angga.


"Apa? Aku tidak melakukan apapun, semua itu diluar kemampuanku!" Jawab Angga dengan tersenyum.


Jarvis menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana bisa aku bertahan dengan pria licik sepertimu," gumamnya.


"Aku dengar itu!" Jarvis gelagapan mendengar ucapan Angga dengan tatapan tajamnya.


"A-ahaha... a-apa yang kau dengar?" Ucap Jarvis canggung.


"A-aku akan kembali bekerja, sampai jumpa!" Lanjutnya bergegas pergi meninggalkan ruangan Angga sebelum sebuah benda terbang kearahnya.


Tatapan Angga berubah ketika Jarvis pergi, sebuah senyum terukir diwajah Angga. Jika dihitung mungkin itu senyumannya yang ketiga dengan ekspresi wajah senang.


"Fir! Kamu kenapa?" Tanya Lia saat ia melihat Fira terdiam.


"Hm? Aku?" Fira menunjuk dirinya sendiri, Lia mengangguk.


"Aku tidak apa-apa, hanya sedang memikirkan suatu hal." Jawab Fira.


Nisa duduk disamping Fira, ia tampak mengerutkan keningnya berpikir apa yang terjadi pada Fira sebelumnya.


"Apa kamu punya masalah?" Tanya Nisa.


"Sejujurnya, aku ingin mencari keberadaan keluarga kandungku!" Jawab Fira dengan wajah sedih.


"Jadi, selama ini kamu bukan putri kandung keluarga Bagaskara?" Tanya Lia terkejut.


"Benar, aku bukan putri kandung mereka!" Jawab Fira.


"Yah, tidak salah sih. Kamu memiliki wajah yang berbeda dari Starla," ucap Lia.


Nisa mengelus lembut punggung Fira, bermaksud memberikannya semangat dan dukungan.


"Jika diperhatikan, sepertinya kamu berasal dari luar negeri. Bukankah begitu?" Tanya Nisa setelah memperhatikan warna rambut, tekstur kulit, juga kornea mata Fira.


"Kamu benar, Fira seperti orang luar negeri. Dilihat dari tekstur kulitnya yang berbeda dengan orang Indonesia!" Sahut Lia mengiyakan.


"Aku hanya ingat ayah pernah bilang bahwa aku ditemukannya di Swiss!" Jawab Fira.


"Apa kamu berniat mencari ke Swiss?" Tanya Lia.

__ADS_1


"Benar, aku sedang mengumpulkan uang untuk pergi kesana!" Jawab Fira dengan semangat.


Fira melihat seorang perempuan yang bergandengan tangan dengan Andri, perempuan itu tampak cantik dengan rambut hitam lurus hingga kepunggungnya, berbalut dress cantik selutut. Sangat cantik dan tampak serasi berada didekat Andri.


"Ngomong-ngomong, siapa perempuan yang bersama Andri?" Tanya Fira kepada Lia dan Nisa.


Keduanya menoleh kearah Andri, terlihat sosok perempuan yang dimaksud Fira.


"Namanya Mia, dia tunangan Andri. 2 Minggu lagi acara pernikahannya!" Jawab Nisa diangguki Lia.


"Wah! Keduanya tampak serasi!" Puji Fira.


"Kamu benar," ucap Lia.


Hari berlalu, sore hari waktunya para pekerja untuk pulang. Fira menyempatkan dirinya untuk berkeliling gedung perusahaan, ia memotret gedung tersebut dengan objek lainnya seperti pohon, bunga, kantin, dan banyak lagi.


Angga berdiri dibelakang Fira, memperhatikannya dengan seksama. Ia tersenyum bahagia melihat adik kesayangannya tumbuh dengan baik, rasanya ia ingin berterima kasih kepada orang yang telah merawat adiknya. Angga berjalan perlahan mendekat kearah Fira. Tanpa disadari Fira, sebuah dahan yang cukup besar terjatuh dari pohonnya dan akan menimpa Fira.


Angga menarik lengan Fira masuk kedalam pelukannya sebelum dahan pohon itu menimpanya.


BUUGGHH...


Fira terkejut melihat dahan itu terjatuh, ia mendongakan kepalanya menatap Angga. Tatapan keduanya bertemu, perasaan Angga sangat lega melihat adiknya selamat. Berbeda dengan Fira, ia merasa jantungnya berdegub sangat kencang. Seorang pria menyelamatkannya, apakah itu cinta sejatinya? Pikir Fira.


Angga melepaskan Fira, berdehem mencairkan suasana.


"Lain kali berhati-hatilah!" Ucapnya.


Fira mengangguk, wajahnya memerah karena kejadian tadi.


"Te-terima kasih sudah menolong saya!" Sahut Fira.


"Apa kau mau pulang?" Tanya Angga.


"Benar, saya hendak pulang!" Jawab Fira.


"Aku akan mengantarmu!" Ucap Angga menawarkan tumpangan.


"Tidak, tidak usah. Saya sudah ada yang menjemput!" Tolak Fira dengan sopan.


"Dimas?" Tanya Angga.


"Anda mengenalnya?" Fira balik bertanya dengan kerutan dikeningnya.


Angga mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Tidak, hanya menebak!" Jawabnya dengan datar.


Fira menatap Angga dengan tatapan menyelidik, ia penasaran bagaimana bisa dia tahu bahwa Dimas akan menjemputnya. Sebelum itu, Angga juga tahu mengenai ia yang membutuhkan uang.


Fira membuang nafas gusar, ia menyingkirkan pikiran negatifnya mengenai Angga.


"Kalau begitu, saya pamit pulang!" Pamit Fira.

__ADS_1


Angga mengangguk kecil, Fira berjalan melewatinya. Angga menatap Fira hingga ia masuk kedalam mobil Dimas yang telah menunggunya.


"Apa kau sungguh tidak mengingatku?" Gumam Angga.


__ADS_2