GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2

GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2
CHAPTER 30 (GABY DEBBARA SUNJAYA)


__ADS_3

Seorang wanita paruh baya duduk disebuah kursi diteras, tampak ia tengah memandangi sebuah foto.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Ardiaz, ketika dirinya pulang setelah bekerja seharian.


"Aku tengah memandangi foto anak-anak kita," jawab Gaby dengan tersenyum.


Ardiaz ikut duduk dikursi disamping Gaby, Ardiaz menatap istrinya yang telah rapuh dimakan usia. Begitupun dirinya, masa mudanya telah hilang. Kini wajahnya dipenuhi keriput yang sangat menyebalkan baginya. Keriput-keriput itu tak lagi menampakan wajah tampannya.


"Tak terasa sudah 14 tahun lamanya...," gumam Ardiaz.


Gaby menoleh, mengangkat alisnya meminta penjelasan Ardiaz.


"Kita kehilangan Senna," lanjut Ardiaz yang mengerti dengan kebingungan Gaby.


Gaby membuang nafas panjang sambil menyandarkan punggungnya.


"Kau benar, seperti apa wajah Senna sekarang? Jika saja ia masih hidup, pasti dia sangat cantik!" Ucap Gaby dengan tersenyum kecil.


"Andaikan kau tahu, bahwa putri kita masih hidup. Kau tidak akan merasa sedih seperti ini." Gumam Ardiaz dalam hatinya.


"Maafkan aku karena harus menyembunyikan hal ini,"


"Ada apa? Kenapa kau terdiam?" Tanya Gaby yang melihat Ardiaz melamun.


Ardiaz tersenyum, "Aku hanya tengah mengingat masa kecil Senna," jawab Ardiaz.


"Ah iya, dulu dia sangat menggemaskan. Aku ingat dia sangat menyukai kamera, dia pandai sekali memotret gambar." Sahut Gaby senang.


"Aku juga ingat ketika dia menunjukan foto Angga yang sedang mengupil. Sangat lucu hingga aku tak berhenti tertawa," Gaby kembali ceria mengingat kenangannya bersama Senna.


Ardiaz ikut tersenyum mendengar cerita istrinya, Ardiaz meraih lengan Gaby dan menggenggamnya dengan erat.


"Aku mencintaimu!" Ucap Ardiaz.


"Ck! Kau ini sudah tua, sudah tidak pantas bermesraan seperti ini!" Sahut Gaby sambil tertawa kecil.


"Yaahh... itu tidak masalah, selagi kau tidak keberatan." Jawab Ardiaz, menempelkan lengan Gaby kepipinya.


Gaby tersenyum, tangannya meraih rambut Ardiaz kemudian membelainya dengan lembut.


"Aku sama sekali tidak keberatan, terima kasih karena telah menemani hidupku selama ini!" Ucap Gaby dengan tulus.


"Begitupun aku, aku sangat berterima kasih karena kau telah membuat hidupku berwarna!" Jawab Ardiaz.


Gaby tersenyum, ia kembali menatap foto Senna dan Angga.

__ADS_1


"Oh ya, hari ini hari memperingati kematian Senna." Ucap Gaby.


"Bagaimana kalau kita pergi kepemakaman? Aku ingin menemui Senna," lanjutnya.


Ardiaz tersenyum pilu, bagaimana bisa istrinya menganggap Senna telah tiada dengan begitu mudahnya. Padahal ia sendiri yakin bahwa Senna masih hidup sejak lama.


Ardiaz mengangguk, "Baiklah, mari kita pergi!" Jawabnya.


Gaby tampak sangat senang, ia berjalan masuk kedalam rumahnya hendak bersiap-siap. Setelahnya, Ardiaz mengendarai mobilnya menuju pemakaman tempat Senna dimakamkan.


"Aku sangat merindukan Angga, bagaimana keadaannya di Indonesia?" Tanya Gaby ditengah perjalanan.


"Terakhir yang aku tahu, dia baik-baik saja. Yah... mungkin dia sangat sibuk, jadi tidak memberi kabar." Jawab Ardiaz dengan pandangan berfokus pada jalanan.


Gaby mengangguk paham, "Kapan-kapan kita pergi temui dia ya?" Pintanya.


"Baiklah, lain kali kita ke Indonesia!" Jawab Ardiaz.


Tak lama setelah menempuh perjalanan, akhirnya Ardiaz dan Gaby tiba dipemakaman umum. Gaby membawa sebuket bunga dan keranjang berisi kelopak bunga, Gaby berjalan menuju Senna dimakamkan. Gaby berlutut disamping makam Senna lalu menaburkan bunga diatasnya. Gaby juga meletakan buket bunga diatas makam Senna.


"Senna sayang, bagaimana kabarmu? Maafkan ibu karena baru kali ini ibu menjengukmu." Ucap Gaby.


"Senna, kamu baik-baik disana ya... jangan lupakan ibu," lanjutnya sambil mengusap nisan Senna.


Ardiaz berdiri disamping Gaby, menatap sendu Gaby. Ia tak tega bila harus terus membohongi Gaby, namun ia tak punya pilihan lain. Ia harus terus menyembunyikan kebenenaran sebelum Fira mengingat masa lalunya.


"Sayang... ayo kita pulang, biarkan Senna tenang dialam sana!" Ujar Ardiaz.


Gaby membuang nafas panjang, kemudian ia berdiri diikuti Ardiaz.


"Baiklah, aku juga sudah selesai disini." Jawab Gaby menatap sendu makam Senna.


Sesampainya dirumah...


"Iyaz, aku ingin menghubungi Angga. Ponselku rusak," ucap Gaby.


"Sejak kapan? Kenapa kau tidak memberi tahuku?" Tanya Ardiaz sambil merogoh saku jasnya, Ardiaz memberikan ponselnya pada Gaby.


"Kemarin malam, kau terlalu sibuk jadi aku lupa memberitahumu!" Jawab Gaby.


*"Ada apa?"* tanya Angga diseberang telepon.


"Angga, ini ibu sayang." Ucap Gaby.


*"Ibu? Ada apa? Apa ibu sakit?"* tanya Angga tampak cemas.

__ADS_1


"Tidak sayang, ibu merindukanmu. Bagaimana kabarmu?" Sahut Gaby.


*"Kabarku baik bu, bagaimana dengan ibu?"* jawab Angga.


"Ibu juga baik sayang, ibu sangat ingin bertemu denganmu. Kapan kau pulang?"


*"Ibu, aku sangat sibuk disini jadi tidak bisa pulang. Mungkin lain kali, bu"* jawab Angga.


"Kau ini sama saja seperti ayahmu, selalu memikirkan pekerjaan!" Gerutu Gaby.


*"Ibu, jangan samakan aku dengan ayah. Aku ini berbeda!"* jawab Angga kesal.


"Anak ini, kenapa kau sangat membenci ayahmu?" Tanya Gaby.


*"Aku tidak membencinya, siapa yang bilang aku membencinya?"* jawab Angga.


"Sudahlah, ngomong-ngomong apa kau mempunyai wanita yang kau suka sayang?" Tanya Gaby.


*"Emm... tentu saja aku punya, nanti aku akan memperkenalkannya pada ibu!"* jawab Angga dengan ragu.


"Benarkah? Ibu sangat tidak sabar ingin segera melihatnya!" Ucap Gaby senang.


"Sayang apa kau sudah selesai?" Tanya Ardiaz yang baru saja selesai mandi.


Gaby mengalihkan pandangannya pada Ardiaz.


"Tunggu sebentar!" Jawab Gaby.


Ardiaz menggelengkan kepalanya lalu berjalan menuju sofa kemudian duduk diatasnya.


*"Ibu, ibu jaga kesehatan jangan memikirkan banyak hal. Ingat pesanku jangan membantah, perhatikan makanan juga!"* pesan Angga dengan tegas.


"Iya, baiklah. Ibu akan selalu menjaga kesehatan, begitupun dirimu. Kau juga harus tetap menjaga kesehatan, jangan sampai kau sakit!" Jawab Gaby.


Gaby dan Angga terus mengobrol hingga malam, Ardiaz mendengarkan percakapan keduanya dengan tenang tanpa mengganggu. Ia sangat tahu bahwa Gaby merindukan Angga, apalagi selama ini Gaby selalu sendirian tanpa adanya teman. Vio tak pernah selalu ada dirumah, ia juga harus mengurusi perusahaannya peninggalan kakeknya dulu.


Ardiaz juga selalu sibuk bekerja, Gaby tinggal dirumah sendiri bersama para pekerja rumah. Mungkin tidak ada teman mengobrol untuk Gaby. Ardiaz telah lama memikirkan untuk pensiun dan menyerahkan perusahaannya kepada Angga.


"Baiklah, kau beristirahatlah. Ibu juga harus mengurusi ayahmu," ucap Gaby mengakhiri percakapannya dengan Angga.


Gaby duduk disamping Ardiaz, ia menyerahkan kembali ponsel Ardiaz.


"Apa kau senang?" Tanya Angga sambil membelai lembut kepala Gaby.


Gaby mengangguk, "Aku sangat senang, kau tahu bukan betapa aku sangat merindukan Angga?" Jawab Gaby.

__ADS_1


Ardiaz tersenyum, "Aku ikut senang jika kau senang, sekarang sudah malam mari kita tidur!" Ucap Ardiaz.


__ADS_2