
"Apa yang kamu dapat?" Tanya Dimas setelah ia membuka paper bag pemberian Angga.
"A-aku mendapat alat-alat kecantikan!" Jawab Fira dengan gugup karena takjub.
"Hebat, mereka sampai memberi kita hadiah seperti ini!" Dimas ikut senang dengan apa yang dia dapat.
"Oh ya, malam ini kamu sibuk tidak?" Tanya Dimas.
"Tidak, kenapa?" Jawab Fira.
"Aku hanya ingin membawamu pergi makan malam, apakah kamu setuju?" Ucap Dimas mengutarakan maksudnya.
"Baiklah, hari ini kita sudah cukup bekerja keras. Mari nikmati malam yang tenang bersama!" Fira sangat bersemangat setelah selesai wawancara dengan Angga.
"Bagaimana bisa dia begitu cantik!" Pujinya dalam hati.
Dimas terus menatap Fira yang tersenyum lebar, sorot matanya yang indah, bibir mungilnya berwarna merah muda. Bulu mata lentik, dan yah hidung kecil nan mancung. Sangat cantik, bahkan para model pun kalah dengannya.
"Hey! Kenapa menatapku terus?" Tanya Fira mengejutkan Dimas.
"Ah ya? Si-siapa yang menatapmu!" Dimas beralasan.
Fira terkekeh pelan melihat ekspresi Dimas.
Beberapa menit kemudian, keduanya tiba dikantor tempat mereka bekerja. Sepulang dari perusahaan Angga keduanya lantas kembali bekerja menyiapkan laporan wawancara tadi.
"Hey! Apa kamu membutuhkan bantuan?" Tawar Dimas kepada Fira.
"Umm...," Fira berpikir sejenak.
"Ah ya! Buatkan aku kopi americano!" Lanjutnya sambil tersenyum manis.
"Haah... baiklah, akan aku buatkan!" Jawab Dimas dengan pasrah.
Dimas berjalan menuju dapur, ia menghampiri sebuah mesin kopi. Lantas menekan tombol kopi americano untuk Fira dan tombol kopi cappucino untuknya. Setelah kopi selesai, Dimas membawanya menuju tempat Fira bekerja.
"Baiklah nona, ini pesanan anda!" Ucap Dimas berlagak seperti seorang pelayan.
"Hahaha! Kamu lucu sekali, sama persis seperti seorang pelayan!" Tawa Fira.
Dimas tersenyum melihat tawa Fira yang tampak sangat senang.
"Oh ya! Bagaimana dengan laporan mu?" Tanya Fira.
"Hampir selesai!" Jawan Dimas setelah ia meneguk kopinya.
"Cepat juga, beruntung aku memiliki rekan kerja sepertimu!" Sahut Fira menyanjung Dimas.
"Kamu jangan menyanjungku, katakan apa mau mu!" Jawabnya.
"Hehe... seperti biasa kamu memang selalu tahu apa yang aku inginkan!" Fira menyeringai.
"Aku tahu jika kamu sudah memujiku seperti itu, cepat katakan!" Suruhnya.
__ADS_1
"Emm... apa kau bisa membantuku menemukan keluargaku?" Tanya Fira.
"Aku bisa saja membantumu, tapi apa kamu memiliki sebuah petunjuk mengenai keluargamu?" Ucap Dimas balik bertanya sambil duduk dikursinya kembali.
"Ugh! Itu dia masalahnya, semalam aku bermimpi. Didalam mimpiku ada seorang pria muda memanggilku...," sahut Fira terhenti, ia berpikir mengingat kembali nama panggilan yang ada didalam mimpinya.
"Apa? Dia memanggilmu apa?" Tanya Dimas penasaran.
"Ugh! Aku lupa, aku hanya ingat kata 'Na' saja!" Jawab Fira sambil menenggelamkan kepalanya ditumpuan kedua lengannya yang ditaruh diatas meja.
"Apa mungkin namamu Anna?" Sahut Dimas.
"Umm... tidak, bukan itu!" Jawab Fira.
"Aku seperti mengingatnya, tapi tidak bisa menyebutkannya. Ugh! Bodohnya aku!" Lanjutnya.
"Baiklah, kamu ingat secara perlahan jangan sampai kepalamu kembali sakit!" Ucap Dimas sambil mengelus kepala Fira.
"Huuff... iya tentu saja!" Jawab Fira dengan semangat.
Lantas keduanya kembali bekerja. Hari semakin larut, keduanya bergegas membereskan barang-barang masing-masing kemudian pergi meninggalkan kantor tempat mereka bekerja.
"Biar aku mengantarmu!" Ucap Dimas.
"Hmm... baiklah, lagi pula sekarang sudah malam!" Jawab Fira.
Dimas tersenyum, ia membukakan pintu mobilnya kemudian melajukannya menuju rumah Fira.
"Hey gadis tidak berguna!" Panggil Starla sambil bertolak pinggang.
Fira menoleh menatap Starla yang memanggilnya.
"Enak banget ya kamu, pulang sampai larut malam! Sana setrika bajuku!" Ucapnya dengan nada tinggi.
"Aku baru saja tiba, apakah tidak bisa jika kamu yang melakukannya terlebih dahulu setelah itu aku yang akan melanjutkannya!" Sahut Fira.
"Berani ya! Siapa yang mengajari kamu untuk menolak perintahku hah?!" Bentak Starla.
Ia berjalan mendekat kearah Fira lantas menjambak rambutnya.
"Aah... Starla lepaskan!" Ucap Fira merintih sakit.
"Tidak akan! Ini hukuman karena kamu berani membantah!" Jawabnya.
Starla terus menjambak rambut Fira sampai akhirnya Bagaskara datang. Ia bergegas berlari menghampiri keduanya.
"Starla apa yang kau lakukan?!" Bentaknya sambil melepaskan jambakan Starla.
"Tentu karena dia berani melawanku!" Jawab Starla.
"Jika Fira melawan apakah kau harus menjambaknya?!" Bagaskara menatap tajam anak kandungnya sendiri.
"Ayah, apa yang kamu bicarakan? Starla ini putrimu, tidak seharusnya kamu membentaknya dan membela anak pungut itu!" Sahut ibu Starla yang baru saja tiba setelah mendengar keributan.
__ADS_1
"Aku pikir terjadi sesuatu hingga membuat Bagas marah, ternyata hanya karena anak pungut ini." Batin Ibu Starla.
"Aku membentak Starla karena dia salah!" Jawab Bagas.
Bagas menarik lengan Fira membawanya ke kamar Fira.
"Masuklah dan beristirahat, jika Starla mengganggumu lagi katakan pada ayah!" Ucap Bagas sembari mengelus kepala Fira.
"Ayah, apa aku boleh bertanya?" Sahut Fira ragu.
"Tanyakanlah!" Jawab Bagas.
"Siapa namaku sebenarnya?" Tanya Fira.
Sontak saja Bagas membulatkan kedua matanya terkejut mendengar pertanyaan Fira.
"Kenapa dia tiba-tiba bertanya seperti itu?" Batinnya.
"Ayah tidak tahu, ayah hanya menemukanmu dipantai. Tidak ada nama ataupun alamat yang tertera!" Jawab Bagas.
"Ah! Benarkah begitu?" Fira meragukan jawaban dari Bagas.
"Tentu saja!" Jawabnya sambil tersenyum meyakinkan Fira.
"Baiklah, aku masuk dulu. Selamat beristirahat, ayah!" Pamit Fira.
Bagas mengangguk kemudian berjalan menuruni tangga. Sementara Fira masuk kedalam kamarnya, lalu membaringkan tubuhnya diatas kasur.
"Ayah... apakah kamu berbohong?" Ucapnya pelan.
Sementara itu....
"Apa kau tidak ingin pulang lagi?" Tanya Jarvis yang melihat Angga masih setia menatap layar laptopnya.
"Ya!" Jawabnya singkat.
"Huuff... pikirkanlah kesehatanmu, jika kau sakit tidak akan ada yang merawatmu!" Ucap Jarvis mengeluh.
"Aku tidak akan sakit, pergilah jika tidak ada urusan lain!" Jawan Angga sekaligus mengusir Jarvis.
"Kau... kenapa kau tega mengusirku...," sahut Jarvis memulai dramanya.
Angga memijat pangkal hidungnya, ia sungguh jengkel dengan tingkah Jarvis yang kekanak-kanakan. Angga mengabaikan Jarvis yang terus mengoceh, ia berjalan kearah jendela melihat pemandangan Jakarta ketika malam hari.
"Jakarta... sangat berbeda dengan negaraku!" Ucap Angga.
Angga mengambil sebuah kalung liontin dari dalam saku jas nya.
"Adikku tersayang, semoga kau baik-baik saja!"
STARLA PUTRI BAGASKARA
__ADS_1