GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2

GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2
CHAPTER 21


__ADS_3

Semua orang menatapnya, mereka terkejut melihat sosok Angga yang menatap dengan tatapan tajam.


"Kau siapa?" Tanya Ana yang tak mengenal Angga.


"Tuan Angga!" Sahut Starla dengan ekspresi wajah takut.


Angga melangkah masuk kedalam rumah Fira, Angga menggendong Fira. Fira terkejut dengan kedatangan Fira ditambah dengan Angga yang menggendongnya.


"Jika kau berani menindas gadis ini lagi, aku tidak akan segan-segan membunuh kalian semua!" Tegas Angga dengan tatapan membunuh.


"Angga? Siapa kamu?" Tanya Ana.


"Alsangga Gardiaz Sunjaya! Kau pasti mengenal keluarga Sunjaya bukan?" Jawab Angga dengan sedikit berlagak sombong.


"Sunjaya?" Pikir Ana.


Angga pergi dari kediaman Bagaskara, Fira menatap Angga dengan bingung.


"Sunjaya? Aku sepertinya pernah mendengar itu!" Ucap Fira dalam hati.


Angga membawa Fira kesebuah apartemen bernama Firlend Rest.


"Untuk sementara kau tinggal disini, aku memiliki kamar yang tak terpakai!" Ucap Angga sambil memberikan kunci kamarnya kepada Fira.


"Sementara? Kapan saya bisa kembali ke rumah?" Tanya Fira setelah menerima kuncinya.


"Secepatnya!" Jawab Angga singkat.


Fira mengangguk paham.


"Jika saja kau mengingat semuanya," gumam Angga.


"Maaf? Anda bilang apa barusan?" Tanya Fira sambil menatap heran Angga.


"Bukan apa-apa, tinggalah dengan baik disini!" Angga menjawab.


"Tentu, terima kasih banyak!" Sahut Fira dengan senyum tulus.


Angga tersenyum kecil, perlahan ia mendekati Fira. Angga menangkup pipi Fira kemudian mencium keningnya.


"Aku menyayangimu adikku tersayang," gumam Angga dalam hatinya dengan mata terpejam.


Fira terkejut, Angga menjauhkan dirinya kemudian pamit setelah memberi tahu nomor kamarnya. Fira menatap kepergian Angga sambil memegang dahinya.


"Kenapa dia peduli padaku?" Gumam Fira.


Angga masuk kedalam mobilnya, sesaat setelah memasang sabuk pengaman. Ponsel Angga berbunyi menampilkan nama dari si penelepon.


"Bos, dia sudah kami tangkap," ucapnya setelah berbasa-basi sedikit.


"Bagus! Tahan dia, jangan biarkan dia lolos!" Angga menjawab.


Setelahnya Angga mematikan sambungan telepon kemudian melajukan mobilnya menjauh dari apartemen.


....


"Apa?! Bagaimana bisa Fira dibawa pergi begitu saja?" Tanya Bagas dengan nada marah.


Bagaskara baru saja pulang dari perusahaannya, ia menanyakan keberadaan Fira namun sang istri menjawab bahwa Fira dibawa pergi oleh seseorang.


"Aku tidak tahu, sungguh!" Jawab Ana dengan bereksresi sedih yang dibuat-buat.


"Kenapa kau tidak mencegahnya?! Kenapa kau membiarkannya pergi?!" Bentak Bagas.


"Ayah! Kenapa ayah memarahi ibu?" Bela Starla yang tak terima bila sang ibu mendapat amarah dari Bagas.


Starla memegang bahu Ana seraya mengelusnya.


"Ini semua gara-gara gadis terbuang itu! Seandainya saja dia tidak ada, aku dan ibu pasti baik-baik saja tanpa merasa tersiksa!" Gumam Starla dalam hati.


"Katakan siapa yang membawa Fira pergi?" Tanya Bagas dengan suara lebih tenang.


"Alsangga!" Jawab Ana cepat.


Bagas mengernyitkan dahinya "Alsangga? Siapa dia?" Bagas bertanya.


"Dia Direktur utama perusahan AL Grup, Alsangga Gardiaz Sunjaya!" Jelas Starla.


"Apa? Sunjaya?!" Beo Bagas.


Sunjaya? Bagaimana mungkin Bagas tidak mengenal nama Sunjaya, keluarga ternama di Swiss dan sekarang banyak warga Jakarta yang membicarakan keluarga itu. Keluarga terbesar dengan kekayaan yang melimpah, bisa dibilang kerajaan dijaman modern. Sunjaya, kepala keluarga terdahulu yang hanya seorang penambang emas kini menjadi seorang pengusaha bahkan seorang penguasa Swiss.

__ADS_1


"Apa mungkin dia tahu identitas Fira?" Pikir Bagas.


Bagas keluar dari rumahnya dengan tergesa-gesa meninggalkan istri serta anak kandungnya.


"Ibu, kenapa ayah selalu memperdulikan anak sampah itu dari pada aku?" Tanya Starla kesal.


"Ibu juga tidak mengerti, ayahmu itu seperti menyembunyikan sesuatu!" Jawab Ana.


"Jangan sampai dia tahu kebenarannya!" Gumam Bagas dalam hatinya ketika ia mengendarai mobilnya.


Malam tiba...


"Sayang, kamu dimana? Ayah mencarimu kemana-mana!" Tanya Bagas melalui sambungan telepon.


"Aku berada di Apartemen Firlend Rest," Fira menjawab.


"Firlend Rest? Baiklah, ayah pergi kesana menemuimu!" Ucap Bagas kemudian menutup sambungan telepon.


Bagas melajukan mobilnya menuju apartemen Fira, begitupun dengan Angga karena kebetulan ia membeli makanan untuk adik kesayangannya. Angga tak perlu lagi diam-diam mengamati Fira karena sekarang Fira berada dalam jangkauannya.


TING...


"Ayah, masuklah!" Sahut Fira sambil membuka pintu.


Bagas masuk kedalam kamar Fira, Bagas takjub melihat setiap ruangan yang tampak begitu mewah.


"Hah... tak dapat diduga, bahkan dia memberikan apartemen mewah ini kepada Fira," gumam Bagas menghela nafas panjang.


"Ayah, apa ayah mengatakan sesuatu?" Tanya Fira.


"Tidak ada," Bagas menjawab.


"Kenapa kamu bisa ada disini? Siapa yang membawamu?" Tanya Bagas.


Fira hendak menjawab pertanyaan Bagas namun Angga tiba dan menerobos masuk kedalam kamar Fira.


"Siapa kamu?" Tanya Bagas.


Angga melirik Bagas sekilas kemudian menatap Fira "Selamat malam Fira!" Sapa Angga yang mengabaikan Bagas.


"Ah iya, malam juga. Mari duduk tuan!" Jawab Fira.


Angga duduk disebuah sofa, Bagas ikut duduk didepan Angga. Sementara Fira pergi kedapur untuk membuat minuman, Angga meletakan makanan yang dibawanya diatas meja.


"Tidak apa, bukankah ayahmu disini untuk menemaniku?" Sahut Angga sambil melirik Bagas.


Bagas tersenyum canggung seraya mengangguk kecil.


"Ayah, tolong temani atasanku sebentar ya?" Pinta Fira.


"Tentu saja, kamu pergilah!" Jawab Bagas.


Fira pergi keluar dari kamarnya menuju minimarket yang berada didepan gedung apartemennya.


"Jadi, anda atasan putri saya?" Tanya Bagas.


Angga duduk santai diatas sofa empuknya dengan menumpangkan sebelah kakinya ke kaki yang lain.


Angga mengangkat sebelah alisnya "Benar, dan aku sama sekali tidak menyangka kau akan begitu mudah menyebut Fira itu putrimu!" Jawab Angga yang membuat Bagas tercengang.


"Tuan Bagaskara. Oh, atau lebih tepatnya Bryan Shanzoora!" Lanjut Angga yang kembali membuat Bagas tercengang.


"Kau, bagaimana bisa kau tahu?" Tanya Bagas sedikit syok mendengar ucapan dari Angga yang mengetahui identitas lamanya.


"Oh? Jadi benar kau Bryan Shanzoora? Padahal kau hanya menebak." Ucap Angga.


"Sial! Jadi dia tidak tahu? Dan aku malah memberitahunya, bodoh!" Batin Bagas.


"Ka-kau... kau siapa?" Bagas bertanya dengan tangan gemetar.


Angga mengangkat sebelah alisnya "Siapa aku?" Balik tanya Angga.


"Ya! Kau siapa?" Sahut Bagas.


"Alsangga Gardiaz Sunjaya! Itu namaku!" Jawab Angga sambil tersenyum puas melihat wajah Bagas yang pucat karena terkejut.


"Su-Sunjaya? Kau... kau putra Ardiaz?" Bagas kembali bertanya berusaha mempercayai keadaan yang ada.


"Ah... kau ini tidak tahu atau bodoh sih?" Gumam Angga sambil memijat dahinya.


"Kau terlalu banyak bertanya, bagaimana jika sekarang giliranku untuk bertanya?" Lanjut Angga setelah berhasil membuat Bagas terdiam.

__ADS_1


Bagas menajamkan tatapannya kepada Angga, Angga tersenyum 'Ramah' kepada Bagas.


"Dimana Shany Shanzoora?" Tanya Angga.


Bagas terkejut.


"Bahkan dia tahu mengenai Shany? Apa dia mencari Shany untuk menangkapnya atas kejadian 14 tahun yang lalu?" Pikir Bagas.


"Kau tidak mendengarku ya?" Ucap Angga.


Bagas tersadar dari lamunannya, ia kembali menatap Angga.


"A-aku tidak tahu, aku tidak tahu dia dimana!" Jawab Bagas berbohong.


"Oh sayang sekali, padahal aku ingin membuat kesepakatan dengannya!" Kata Angga.


Bagas mengernyitkan dahinya "Kesepakatan? Apa itu?" Tanyanya.


CEKLEEKK...


Pintu terbuka menampakan Fira yang menenteng sebuah kantong plastik, Angga tersenyum melihat kedatangan Fira yang tepat pada waktunya sebelum ia menjelaskan secara rinci mengenai kesepakatan yang akan ia buat bersama Shany.


"Maaf, apakah aku terlalu lama?" Tanya Fira yang merasa sedikit bersalah.


Fira harus mengantri diminimarket, entah hari ini hari apa yang pasti minimarket itu sangat padat sehingga ia harus menunggu lebih lama lagi untuk melakukan pembayaran.


"Tidak masalah, aku senang dapat berbincang dengan ayahmu!" Sahut Angga.


Fira tersenyum lega.


"Oh, aku harus kembali. Jarvis meneleponku, dia bilang aku harus menemui beberapa klien!" Ucap Angga.


Bagas terdiam memikirkan semua percakapannya dengan Angga. Alsangga Sunjaya berhasil membuat Bagas terdiam tak berkutik setelah mengungkap segala yang ia tahu.


"Benarkah? Jika begitu, berhati-hatilah dijalan tuan!" Sahut Fira.


Angga mengangguk kemudian berjalan keluar dari kamar Fira.


....


"Kau yakin Angga tidak ada hubungan apapun dengan yang kau lakukan?" Tanya Darren saat ia menginterogasi sekertarisnya Alex.


"Benar tuan, Direktur muda Sunjaya tidak melakukan apapun. Saya sendiri yang berinisiatif melakukannya!" Jawab Alex dengan tangan dan kaki terikat dikursi.


"Meski begitu, kenapa dia tahu kau melakukan itu?" Tanya Darren.


"Karena... Direktur muda Sunjaya mendengar percakapan saya dengan seseorang saat saya sedang memata-matai perusahaannya!" Jawab Alex ragu.


Angga tahu jika Alex mata-mata yang dikirim Darren ke perusahaannya, Angga juga tahu tentang tindakan korupsi Alex. Namun, Angga hanya diam dan tidak memperdulikannya walaupun ia mempergoki Alex.


"Hmm... jadi, dia hanya berniat baik. Tapi kenapa dia memukulku lalu mempermalukanku waktu itu?" Gumam Darren.


"Itu karena kau menyinggung perasaannya!" Jawab seorang pria dibelakang Darren.


Sontak semua mata memandangnya termasuk Darren.


"Jarvis? Kenapa kau ada disini?" Tanya Darren.


"Aku diperintahkan Angga untuk memberikan ini kepadamu!" Jawab Jarvis sambil menyerahkan sebuah koper.


Darren mengernyitkan dahinya "Apa maksudnya memberikan ini kepadaku?" Tanya Darren.


"Itu karena Angga memintaku untuk menyita rumahnya dan mengembalikan uang perusahaan milikmu! Yah, asistenmu itu sangat tidak berguna. Kenapa kau tidak mencari yang baru?" Jarvis menjawab.


Darren mengangguk kecil seraya tersenyum jahil.


"Kau benar juga, kenapa kau saja yang menggantikannya?" Ucap Darren.


"Tidak! Aku setia pada Angga, lagi pula siapa yang mau bekerja bersamamu?" Jawab Jarvis berlagak sombong.


"Sombong sekali kau! Kenapa Angga begitu baik?" Tanya Darren.


"Dia ingin kau menjadi sekutunya, dia sangat membutuhkan bantuanmu!" Jawab Jarvis dengan ekspresi wajah serius.


"Hm? Apa itu?" Tanya Darren dengan kening berkerut.


Jarvis menjelaskan masalah yang dialami oleh Angga, Jarvis juga menjelaskan bantuan apa yang harus diberikan Darren.


"Hah... rupanya seorang Sunjaya juga membutuhkan bantuan itu!" Ucap Darren sedikit merendahkan Angga.


"Cih! Apa kau juga tidak mampu hah?!" Tanya Jarvis yang kesal.

__ADS_1


Darren tertawa begitupun Jarvis.


__ADS_2