
"Ayah... ibu... kakak... to-tolong aku...," rintih seorang anak kecil.
"Uhuk... uhuk... ayah...,"
Kabut, banyak sekali kabut dengan api yang membara. Anak kecil itu tak dapat bangun dari tidurnya, meski kedua matanya dapat melihat kondisi kamarnya akan tetapi ia terlalu lemah untuk berdiri dan keluar dari ruangan itu. Kobaran api terus membara membakar semua barang-barang yang ada.
"Ka-kakak...," itulah kata-kata terakhir yang diucapkannya setelahnya kedua matanya terpejam. Samar-samar ia melihat sosok pria masuk kedalam ruangan lalu menyelamatkan anak tersebut.
"A-ayah? Bu-bukan ya...," batin anak tersebut.
Pagi tiba...
"Ugh... ada apa denganku? Apa aku menangis?" Ucap Fira yang terbangun dari tidurnya. Ia mengusap pipinya yang basah karena air matanya yang mengalir.
"Mimpi semalam... apakah anak kecil itu aku?" Batinnya mengingat-ngingat mimpi semalam.
Fira membuang nafasnya secara perlahan, lantas ia turun dari ranjangnya lalu bergegas membersihkan tubuhnya. Setelahnya ia keluar dari kamar dengan raut wajah menyedihkan. Starla menatapnya dengan tajam, ia mengingat kejadian semalam yang membuatnya mendapat amarah dari sang ayah.
"Enak banget ya kamu, bangun siang seperti ini. Berasa jadi tuan putri hm?" Sindir ibu Starla.
"Sudahlah, jangan memulai keributan dipagi hari!" Lerai Bagas.
"Kamu selalu membela anak itu!" Sungut Ibu Starla.
Bagas menggelengkan kepalanya, ia tak mengerti dengan sikap istrinya yang menolak keras kehadiran Fira dikeluarganya.
"Fira, kamu makan saja dulu baru setelah itu pergi bekerja!" Ucap Bagas.
"Tidak ayah, aku pergi sekarang takut terlambat." Tolak Fira.
"Baiklah, berhati-hatilah!" Sahut Bagas.
Fira mengangguk "Sampai jumpa!" Pamitnya lantas berjalan keluar dari rumahnya.
"Starla, bukankah kamu juga harus pergi?" Tanya Ibu Starla.
"Benar, aku pergi keperusahaan AL Grup. Kebetulan, kemarin aku diterima sebagai Brand Ambassador produk kecantikan mereka!" Jawab Starla menjelaskan.
"Oh itu hebat! Semangat ya, kamu harus bisa menjadi bintang besar!" Puji ibunya.
"Umm... ayah, apa kamu tidak memberiku ucapan selamat?" Tanya Starla yang melihat ayahnya terdiam tak memperhatikannya.
"Hm? Apa yang kau katakan tadi?" Bagas balik bertanya, ia melamun sehingga tidak mendengar cerita Starla.
"Kamu ini bagaimana sih, anak mu berhasil diterima di perusahaan AL Grup!" Jawab ibu Starla.
"Oh benarkah? Baguslah, teruslah berjuang!" Ucap Bagas ikut senang.
"Terima kasih ayah, aku berjanji akan berjuang menjadi bintang kelak!" Sahut Starla senang.
Disisi lain, Fira berjalan keluar dari kompleks perumahannya. Ia menunggu taksi lewat dipinggir jalan sambil memainkan ponselnya, sebuah mobil berhenti. Tanpa memperhatikan, Fira masuk begitu saja kedalam mobil tersebut.
"Nona, kamu ingin pergi kemana?" Tanya sang supir mobil.
"Ke HSE Pak!" Jawab Fira masih fokus dengan ponselnya.
Supir tersebut terkekeh pelan melihat Fira yang tak menyadari sekelilingnya.
Mobil melaju meninggalkan tempat tersebut.
"Nona, apakah ponsel itu lebih menarik perhatianmu dibandingkan sekelilingmu?" Tanya seorang pria yang duduk disebelah Fira.
__ADS_1
"Tunggu! Kenapa suara pria ini berbeda dari sebelumnya? Bukankah suara supir itu...," batin Fira. Fira mengalihkan pandangannya dari ponsel kesamping tempat ia duduk.
"Ah! Tu-tuan Angga?" Ucap Fira terkejut melihat Angga yang duduk disebelahnya. Lantas ia melihat kedepan, sosok supir yang menanyakan tempat tujuan Fira ternyata asisten dari Alsangga G Sunjaya.
"Ma-maafkan saya, sa-saya tidak memperhatikan anda. Sa-saya telah masuk kemobil anda tanpa sadar!" Ucap Fira meminta maaf sambil menunduk.
"Gadis bodoh! Seharusnya jika sedang menunggu taksi jangan berfokus pada ponselmu!" Sahut Angga menyentil jidat Fira.
"Ah! A-anda...," Fira terkejut dengan Angga yang menyentil jidatnya.
"Oh maaf!" Ucap Angga.
"Tuan, kita ke HSE atau AL Grup?" Tanya Jarvis.
"AL Grup!" Jawab Angga.
"Tu-tuan, tapi saya harus pergi ke HSE!" Ucap Fira.
"Ini mobilku, aku yang memutuskan pergi kemana!" Jawab Angga.
"Kalau begitu, tolong turunkan saya disini!" Pinta Fira.
Angga terdiam tak memperdulikan permintaan Fira. Mobil tersebut terus melaju keperusahaan Angga.
"Tuan, mengapa anda membawa saya kesini?" Tanya Fira setelah tiba dan turun dari mobil Angga.
"Karena kau telah naik mobilku, maka kau karus ikuti perintahku!" Jawab Angga.
Angga berjalan masuk keperusahaannya, banyak para pegawai yang menyambut kedatangannya sambil membungkuk. Mereka juga terheran-heran dengan kedatangan Fira dibelakang Angga.
"Siapa wanita itu? Kenapa dia bersama tuan Angga?" Bisik salah seorang pegawai.
"Entahlah, setelah dilihat sepertinya dia bukan dari golongan atas!" Jawab yang lain.
Jarvis menatap ketiganya dengan sorot mata tajam.
"Beraninya mereka membicarakan hal yang buruk tentang Fira!" Batin Jarvis.
Setibanya didepan ruang kerja Angga...
"Tuan, anda harus bergegas karena hari ini ada rapat penting!" Ucap Yunda menghampiri Angga.
"Hm... baiklah," jawabnya.
Angga melirik Fira yang terdiam tanpa bicara mengikuti kemana pun Angga pergi.
"Kau masuklah dan tunggu aku, aku akan segera kembali!" Suruhnya diangguki Fira.
"Mari tuan!" Ucap Yunda.
"Siapa wanita itu? Dia terlihat sangat cantik!" Puji Fira ketika Angga, Jarvis dan Yunda pergi meninggalkannya.
Fira masuk kedalam ruang kerja Angga, Fira terkagum melihat ruang kerja Angga yang begitu rapi dan mewah. Seperti bukan ruang kerja melainkan kamar pribadi. Langkah Fira berhenti didepan jendela besar yang menampakkan pemandangan Jakarta dari atas gedung tinggi.
"Wahh! Cantik sekali! Jadi seperti ini pemandangan Jakarta dari ketinggian?" Pujinya.
Fira mengalihkan pandangannya, ia duduk disebuah sofa menunggu Angga kembali.
30 menit kemudian...
"Lama sekali, aku mulai bosan!" Ucap Fira sembari meletakan kameranya dimeja.
__ADS_1
Ia melihat seisi ruangan tersebut, sebuah foto yang terpampag dimeja kerja Angga membuatnya penasaran akan hal itu. Fira berdiri dan menghampiri meja kerja Angga, tangannya hendak meraih bingkai foto tersebut. Ketika jarinya hendak menyentuh ujung bingkai, dengan cepat seseorang mengambilnya membuat Fira terkejut. Ia membalikan badannya dan menatap sosok Angga yang berdiri didepannya.
"Kenapa kau disini?" Tanyanya.
"Maaf tuan, saya hanya penasaran dengan foto itu!" Jawab Fira dengan menunduk.
Angga berjalan kearah kursinya kemudian duduk, ia juga mempersilahkan Fira untuk duduk.
"Aku dengar kau membutuhkan banyak uang, apa itu benar?" Tanya Angga setelah meletakan kembali bingkai foto itu.
"Ya, anda benar!" Jawab Fira.
"Aku menawarimu untuk bekerja disini sebagai fotografer, apa kau bersedia?" Tawar Angga.
"Tapi saya masih bekerja di HSE, saya harus mengurus surat pengunduran diri!" Ucap Fira.
"Jika kau bekerja disini, kau akan mendapatkan gaji 30 juta perbulan. Bagaimana?" Angga kembali mengajukan penawaran yang sangat fantastis.
"30 juta? Gajiku ketika bekerja di HSE hanya 5 juta perbulan. Jika aku bekerja disini, kemungkinan aku bisa menabung dan aku juga pasti bisa memperoleh uang 2 Miliar!" Batin Fira menimbang-nimbang.
"Baiklah, saya tertarik untuk bekerja disini!" Jawab Fira.
"Bagus!"
"Jarvis, keruanganku segera!" Ucap Angga menelpon Jarvis.
TOK... TOK... TOK
"Masuklah!" Sahut Angga membiarkan Jarvis masuk.
"Anda memanggil saya tuan?" Tanya Jarvis.
"Ya, kau pergi ke HSE urus surat pengunduran diri atas nama Alfira!" Jawab Angga sekaligus perintah untuk Jarvis.
"Tuan, saya masih harus memberikan laporan terakhir saya ke HSE!" Ucap Fira.
"Serahkan padanya!" Jawab Angga menunjuk Jarvis.
Jarvis mengangguk, Fira memberika laporan pekerjaannya mengenai wawancara Angga tempo hari. Lantas Jarvis undur diri pergi ke HSE untuk mengurusi surat pengunduran diri Fira.
"Kau pergilah temui Ayunda, minta tugas yang harus kau kerjakan. Katakan padanya, aku yang menyuruhmu!" Suruh Angga.
"Baik, saya pamit pergi!" Pamit Fira.
Setelah Fira keluar dari ruangannya, Angga bernafas lega.
"Aku berhasil menahan rasa ingin memeluknya, Klasenna!" Ucapnya lirih.
....
"Permisi, apakah anda nona Ayunda?" Tanya Fira dengan sopan kepada Yunda yang tengah berdiri didepan meja seorang karyawan.
Yunda membalikan badannya, menatap Fira dengan tatapan sinis. Fira terkejut dengan tatapan Yunda yang seolah-olah menghinanya karena tampilannya.
Hai readers, saya kembali membawakan episode yang seru kali ini. Menurut kalian, Yunda tokoh antagonis atau protagonis nih? Jawab di kolom komentar ya!!
AYUNDA CRISTHINA DENANDRA
__ADS_1