
Dokter dan Ardiaz tiba, mereka ikut terkejut melihat asap tebal yang memenuhi kamar rawat Senna. Tak lama setelah itu, patugas yang menangani kebakaran tiba kemudian masuk.
"Maaf tuan, apakah anak yang berada didalam kamar ini adalah putri anda?" Tanya petugas tersebut.
"Benar," jawab Ardiaz dengan lemas.
"Kondisi putri anda sudah tidak bernyawa, maafkan kami telah terlambat menangani hal ini. Kami akan melakukan otopsi guna mengatahui DNA putri anda!" Ucap petugas.
Hasil otopsi menunjukan bahwa jasad tersebut adalah Senna, Gaby begitu terpuruk mengetahui putri tercintanya telah meminggal.
"Dia masih terlalu muda untuk pergi, kenapa dia pergi dariku?" Ucap Gaby seusai proses pemakaman.
Ardiaz memeluk Gaby dengan erat, ia juga meras bersalah karena telah meninggalkan Senna sendiri. Sementara Angga yang mendengar kabar duka tersebut begitu marah, ia bahkan sampai melukai teman sekelasnya.
"Aku tidak percaya jika Senna sudah meninggal!" Ucapnya dengan marah sambil mengurung diri didalam kamar asramanya.
14 tahun kemudian...
"Gara-gara wanita itu, aku jadi terlambat masuk kantor! Menyebalkan!" Ucap seorang wanita sambil memeriksa tas nya.
Wanita tersebut hendak menyebrang jalan, namun tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kencang lalu menabrak wanita tersebut.
BRRAKKK...
"Sial!" Umpat pengemudi yang menyetir mobil.
Wanita tersebut terduduk dijalan, ia meringis menahan rasa sakit. Mobil yang menabraknya berjalan kearah sambil dan berhenti didepannya. Sementara wanita yang ia tabrak melongo melihat kamera miliknya hancur terlindas ban mobil.
Seorang pria turun dari mobilnya, ia berjalan kearah wanita yang ditabraknya.
"Duh, bisa tidak jika mengendarai mobil itu fokus kejalanan?" Tegas wanita tersebut marah sambil menatap tajam pria yang kini berada didepannya.
Pria tersebut hanya mengangkat sebelah alisnya, kemudian ia mengulurkan tangannya hendak membantu wanita tersebut berdiri. Meski marah dan kesal wanita tersebut tetap menyambut uluran pria yang telah menabraknya.
Pria tersebut menuntun wanita itu ketepi jalan, ia mendudukan wanita tersebut disebuah batu besar.
"Siapa dia? Kenapa dia membantuku, biasanya orang kaya akan marah padahal dia yang salah!" Batin wanita tersebut.
Alsangga Gardiaz Sunjaya, berusia 23 tahun ia baru saja pindah dari negerinya ke Indonesia untuk menjalankan bisnis keluarga. Angga tengah menerima panggilan telpon dari Gaby, sehingga ia tidak melihat adanya seorang wanita yang hendak menyebrang.
Angga melihat lutut wanita tersebut, lantas ia berjalan kembali kemobilnya mengambil barang. Setelahnya Angga kembali menghampiri wanita tersebut. Ia berjongkok didepannya kemudian mengobati luka wanita tersebut.
"Te-terima kasih," ucap wanita tersebut sambil menunduk.
__ADS_1
Angga tak menghiraukan ucapannya, sehingga membuat wanita tersebut kesal.
Setelah selesai mengobati luka wanita yang ditabraknya, Angga berjalan kembali kemobilnya. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat pecahan kamera yang berantakan. Angga berbalik menatap wanita yang ia tabrak, lalu ia mengeluarkan buku cek. Ia menuliskan jumlah uang dan menandatangani selembar cek tersebut. Angga berjalan menghampiri wanita itu kemudian memberikan selembar cek tersebut.
"Cukup?" Tanya Angga.
Wanita tersebut mengambil selembar cek lantas melihat jumlahnya.
"20 juta? Yang benar saja, ini lebih dari cukup!" Batinnya.
"Aku pergi!" Ucap Angga bergegas pergi menuju mobilnya.
Wanita tersebut menengadah melihat kepergian pria yang menabraknya.
"Ck, dingin sekali. Bilang maaf 'kan tidak sulit!" Gerutu wanita tersebut.
Lantas ia memungut pecahan kameranya.
"Syukurlah, semua foto sudah aku pindahkan jadi laporanku akan tetap aman!" Ucapnya senang.
Wanita tersebut pergi menuju bank untuk menukarkan cek yang diberikan oleh Angga, lalu wanita tersebut pergi kesebuah toko ia membeli kamera baru.
Ia bergegas melanjutkan perjalanannya menuju tempat ia bekerja. Setibanya ia ditempatnya bekerja, seorang wanita berada tepat didepannya sambil bertolak pinggang.
"Bagus, ya. Jam berapa sekarang?! Kenapa kamu terlambat?!" Ucapnya dengan marah.
"Aah! Alasan! Sudah, sekarang juga kamu pergi ke AL Gruop bersama Dimas!" Suruhnya.
"Ba-baik bu," jawab wanita tersebut. Ia menghela nafas lega.
"Kenapa kamu bisa terlambat?" Tanya seorang pria ketika keduanya berada diparkiran.
"Kalau saja ibu tidak menyuruhku aku akan datang tepat waktu, lalu ditengah perjalanan aku malah tertabrak!" Jawabnya dengan menggerutu.
"Ya ampun, Fira. Apa kamu terluka?" Seketika pria tersebut panik, ia memeriksa kondisi wanita yang ia panggil 'Fira' tersebut.
Alfira Sheria Bagaskara, seorang juru kamera dari perusahaan Gosip Entertainment. Saat ini usianya menginjak 19 tahun. Sedangkan pria yang bersamanya bernama Dimas Edwindra, ia rekan kerja Fira.
"Aku baik-baik saja, lagi pula pria itu sudah mengobati lukaku. Dia juga memberikan uang kompensasinya!" Jawab Fira sambil menggelengkan kepalanya.
"Syukurlah, ayo naik. Nanti kita terlambat!" Ucap Dimas membukakan pintu mobil untuk Fira.
Sementara itu.
__ADS_1
"Kau dari mana saja, acara sudah mau dimulai!" Sahut seseorang sambil memarahi pria didepannya.
"Sudah jangan banyak bicara, kalau terlambat bisa cepat masuk kan? Tidak usah banyak omong!" Jawab pria tersebut berjalan melewati pria yang memarahinya.
"Untung saja belum dimulai, cepat kita harus segera masuk!" Ucap Dimas keluar dari mobilnya disusul oleh Fira. Keduanya bergegas masuk kesebuah gedung, hari ini mereka akan meliput acara Konperensi Pers mengenai direktur baru perusahaan terkenal.
"Mari kita sambut direktur utama perusahaan AL Group, Alsangga G Sunjaya!" Sambut pembawa acara.
Tepuk tangan para tamu undangan memenuhi ruangan, Angga naik keatas panggung memberikan sambutan hangat.
"Acaranya sudah mau dimulai, Dimas kamu berdiri disebelah sana agar aku dapat mengambil gambarmu dan juga direktur baru itu!" Suruh Fira menunjuk tempat yang harus ditempati Dimas.
Dimas mengangguk, keduanya memulai pekerjaannya. Fira fokus merekam serta mengambil gambar Dimas dan juga Angga.
"Perkenalkan, saya Alsangga G Sunjaya yang kelak akan mengurusi dan memimpin perusahaan AL Group. Mohon kerja samanya!" Ucap Angga memperkenalkan dirinya.
"Sebagai pemimpin perusahaan saya akan bekerja dengan baik sehingga kelak tidak akan merepotkan banyak karyawan, untuk bisnis yang kami buat yaitu fashion, makanan, serta produk kecantikan. Baru-baru ini kami membuat produk kecantikan terbaru yaitu Klasenna Glow!" Lanjutnya.
"Klasenna Glow adalah serum wajah yang dapat mencerahkan serta menghaluskan kulit wajah...," ucapan Angga terhenti, ia menundukan kepalanya kemudian kembali menatap kearah tamu undangan.
"Kami telah menguji produk tersebut dan dijamin tidak akan merusak kulit!" Lanjut Angga.
Setelah begitu banyak produk yang dikenalkan Angga, maka acara pun selesai. Fira pergi menuju kantin untuk membeli makanan, sementara Dimas menunggu diluar gedung. Fira menyempatkan diri untuk memotret, ia tak sengaja memotret salah seorang pria yang tengah berdiri dengan senyum tipisnya. Fira menatap hasil jepretannya tersebut, kemudian ia ikut tersenyum.
"Bagus!" Puji seorang pria dibelakang Fira.
Fira melonjak kaget mendengar ucapan tersebut, ia menoleh kebelakang. Seorang pria muda nan tampan tersenyum kecil kearahnya.
"Ka-kamu?" Ucap Fira sambil menunjuk pria tersebut.
"Ya? Saya kenapa?" Tanya pria tersebut.
"Ke-kenapa dia bisa ada disini? Apa mungkin dia tamu undangan yang hadir itu yah?" Batin Fira.
"Tidak kusangka kau pandai memotret!" Pujinya lagi.
"Tidak terlalu, aku tidak melihatmu didalam sebelumnya. Apakah kamu tamu undangan atau temannya Pak Angga?" Tanya Fira.
Angga menahan tawanya, kemudian ia menjawab pertanyaan Fira.
"Tidak, saya bukan tamu ataupun temannya Pak Angga itu. Tapi saya adalah orang yang anda sebutkan tadi!" Jawabnya.
"Apa?!" Fira terkejut bukan main, orang yang ia kira sebagai temannya Angga justru ia adalah Alsangga sendiri. Wajah Fira memerah, ia menunduk menahan rasa malu.
__ADS_1
*ALSANGGA GARDIAZ SUNJAYA