GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2

GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2
CHAPTER 24


__ADS_3

**WARNING!!


Bagi yang masih dibawah umur tidak diperbolehkan membaca Chapter ini, silahkan skip saja.


Harap Bijak Memilih Bacaan🙏**


"Kakak, maafkan aku... aku tidak bermaksud untuk membuat kakak sedih," ujar Fira sambil berjalan maju lalu mengangkat lengan Starla seraya mengelus punggung lengannya.


"A-aku hanya ingin membuat kakak tidak dipermalukan disini karena aku memakai gaun kakak!" Lanjut Fira.


"Apa maksudmu? Aku tidak akan merasa seperti itu!" Jawab Starla.


"Kakak, gaun kakak itu sangat cantik dan ibu bilang gaun itu tidak cocok untukku. Aku membiarkan kakak memakainya agar kakak terlihat cantik dipesta!" Ucap Fira sambil tersenyum.


"Oh jadi begitu, ternyata Fira sangat memahami perasaan kakaknya!" Sahut tamu undangan.


"Huh! Aku kira dia selalu mengabaikan Starla!" Balas yang lain.


"Fira! Apa yang kamu katakan? Kamu itu adikku, tentu kamu juga harus terlihat cantik dipesta!" Ujar Starla.


Fira memasang wajah sedihnya "Tidak kak, ibu selalu bilang bahwa kakak itu yang terbaik. A-aku tidak pernah mendapat kasih sayang ibu...," Fira menjawab.


"Ibu... ibu juga sering memarahi dan memukulku, a-aku takut jika aku memakai gaun kakak mungkin nanti ibu akan memarahiku lagi...," lanjut Fira.


Semua tamu undangan yang mendengarnya terkejut.


"Apa? Yang benar saja, ternyata selama ini Fira selalu ditindas?" Ucap salah seorang tamu undangan.


"Benar! Tidak kusangka dia bernasib malang!" Jawab temannya.


Starla mengepalkan lengannya dengan tatapan marah. Bagaimana bisa Fira membalikan keadaan? Seharusnya dirinya yang dikasihani bukan Fira!


"Fira, apa yang kamu katakan? Itu tidak benar bukan?" Tanya Starla dengan senyum paksa.


"Kakak... aku tahu kakak sangat menyayangimu, maka dari itu aku tidak memberitahukannya padamu," jawab Fira.


"Sial! Kenapa wanita ini pandai berbicara?" Batin Starla kesal.


"Aku harus menemukan cara lain untuk mempermalukannya!" Lanjutnya sambil berpikir keras.


"Baiklah, kamu pasti sangat bersedih. Tunggu disini, aku akan mengambilkan minum untukmu!" Ucap Starla yang kemudian berjalan pergi dengan perasaan kesal.


Starla mengambil wine dari meja minuman, ia juga mencampurkan bubuk misterius kedalamnya.


"Hah! Untung aku sudah mempersiapkannya sebelum berangkat!" Gumam Starla dengan suara pelan.


Starla kembali kemeja Fira kemudian memberikan wine tersebut.


"Fira, minumlah ini!" Suruh Starla.


Fira memandangi gelas yang dipegang Starla, Fira mengambilnya.


"Terima kasih kak, tapi aku tidak terlalu haus." Sahut Fira.


"Ck! Sial, dia tidak meminumnya. Baiklah, aku akan menunggumu untuk meminumnya!" Ucap Starla dalam hati.


"Baiklah, kalau begitu aku kembali duduk. Bersenang-senanglah!" Ujar Starla kemudian pergi dari meja Fira.


Fira meletakan wine itu dimeja lalu Fira kembali duduk.


"Apa kamu akan meminumnya?" Tanya Nisa merasa curiga dengan minuman yang diberikan Starla.


"Tidak akan, aku tahu minuman itu berbahaya." Jawab Fira.


Yunda tiba dimejanya dengan jantung yang berdebar sangat hebat, Yunda tersipu malu saat Angga memeluknya. Sedari tadi ia menyembunyikan ekspresi wajahnya, Yunda tak dapat mengendalikan detak jantungnya yang terus berdebar kencang.


Yunda mengambil gelas yang diberikan Starla untuk Fira.


"Kak Yunda jangan diminum!" Cegah Fira namun terlambat, Yunda telah meminumnya hingga habis tak tersisa.


"Kak Yunda!" Seru Nisa dan Fira bersamaan.


"Ada apa?" Tanya Yunda heran.

__ADS_1


Yunda merasakan rasa sakit dibagian kepalanya, pandangan Yunda terlihat kabur dan berputar-putar.


"A-apa yang terjadi?" Tanya Yunda dengan suara lirih.


Yunda mulai meracau tak jelas, Fira panik tak tahu harus berbuat apa. Begitupun dengan Nisa, tak lama setelahnya Jarvis dan Lia tiba mereka keheranan dengan Yunda yang meracau.


"Apa yang terjadi padanya?" Tanya Jarvis sambil memegang kedua bahu Yunda.


Fira menjelaskan kejadian saat Starla memberinya minuman yang kemudian diminum Yunda.


Jarvis mengambil ponselnya dari dalam saku celananya kemudian mendudukan Yunda dikursi, Lia berusaha menyadarkan Yunda sementara Fira memegang kedua bahu Yunda.


*"Ada apa?*" sahut Angga dari seberang telepon.


Jarvis menelepon Angga untuk membawa Yunda pulang dan membantunya.


"Yunda mabuk, kau bantulah dia!" Ucap Jarvis.


*"Apa?! Bagaimana bisa?"* tanya Angga panik.


Angga bergegas kembali keaula utama, Angga melihat Yunda yang meracau tak jelas disampingnya terdapat Fira.


"Aku tidak mungkin pergi kesana jika ada Fira!" Batin Angga.


"Bawa Fira pulang, aku akan membawa Yunda pulang!" Suruh Angga kepada Jarvis.


*"Baiklah,"* jawab Jarvis.


Jarvis memutus sambungan telepon.


"Fira, Lia ayo kita pulang!" Ucap Jarvis.


"Jarvis, bagaimana dengan kak Yunda?" Tanya Lia khawatir.


"Seseorang akan menjemputnya, ayo pulang!" Jawab Jarvis.


"Anda pulang duluan bersama Lia, saya akan menemani kak Yunda hingga orang yang menjemputnya tiba!" Ucap Fira tanpa menatap Jarvis.


"Ini perintah presdir, anda harus pulang nona!" Sahut Jarvis tanpa sadar berbicara formal dengan Fira.


Fira menurut kemudian ia menitipkan Yunda kepada Nisa, Jarvis membawa Lia dan Nisa pulang kerumah. Setelah Fira berjalan menjauh dari Yunda barulah Angga menghampirinya.


"Yunda, apa kau baik-baik saja?" Tanya Angga sambil merangkul Yunda kemudian menggendongnya.


"Tuan, kak Yunda akan dijemput seseorang anda tidak boleh membawanya!" Cegah Nisa.


"Akulah orangnya! Dia wanitaku, kau jangan beritahu hal ini pada orang lain. Mengerti?!" Ucap Angga.


Nisa terkejut namun dengan cepat ia mengangguk paham.


Angga membawa Yunda pergi sebelum orang-orang melihat Yunda mabuk dan membuat keributan.


Angga memasukan Yunda kedalam mobilnya.


"Aarggh... kenapa kamu begitu jahat?" Ucap Yunda dengan lirih.


Angga menatapnya "Hey, Yunda siapa yang kau bicarakan?" Tanya Angga sambil mengendarai mobilnya.


"Tentu saja kamu, siapa lagi?!" Jawab Yunda dengan marah.


Terlihat wajah Yunda memerah karena mabuk, Angga tertawa kecil mendengarnya.


"Oh ya? Kenapa aku bisa jahat?" Tanya Angga sengaja menjahili Yunda.


"Kamu menculikku! Padahal akan ada orang yang menjemputku!" Jawab Yunda sambil mengerucutkan bibirnya.


Angga terpana melihat ekspresi wajah Yunda yang menggemaskan.


"Kamu jahat... tapi aku menyukaimu!" Ucap Yunda sambil tertawa kecil.


"Tapi...," Angga menoleh menatap Yunda yang tiba-tiba menangis.


"Tapi kamu selalu bersamanya... aku sangat sedih...," lanjut Yunda sambil menangis.

__ADS_1


"Jahat! Kamu memang jahat!"


Angga terdiam, Yunda benar dirinya memang jahat karena menyakiti hati Yunda. Jika saja Angga memberi tahu identitas Fira, mungkin Yunda tidak akan seperti ini.


...


"Terima kasih tuan Jarvis, anda sudah mengantar saya!" Ucap Fira dengan tulus.


"Ya, tidak masalah. Kami pamit!" Jawab Jarvis kemudian kembali melajukan mobilnya.


Fira masuk kedalam rumahnya, Starla melihat kedatangan Fira dengan ekspresi wajah terkejut.


"Bagaimana bisa dia baik-baik saja?" Pikirnya.


Starla pulang lebih dulu karena Ana mencemaskan dirinya. Starla sedikit menyesal karena pulang awal, Ia ingin sekali melihat Fira mabuk dan menjadi liar dipesta. Pada momen itu Starla akan memotretnya kemudian menyebarkannya.


Starla menghampiri Fira.


"Kenapa kamu baik-baik saja?" Tanya Starla dengan nada sedikit kesal.


"Memangnya aku kenapa?" Balik tanya Fira.


"Seharusnya kamu mabuk dan menjadi liar!" Jawab Starla tanpa sengaja mengucapkannya.


"Oh, jadi kamu sengaja memberiku minuman itu agar aku mabuk?" Ujar Fira.


Starla terkejut, ia kemudian beralasan "Tidak, mana mungkin!" Jawabnya.


Fira berjalan menuju kamarnya mengabaikan Starla.


....


Angga tiba dirumahnya, Angga menggendong Yunda masuk kedalam kamarnya. Angga membaringkan tubuh Yunda secara perlahan, kemudian ia menarik selimut. Angga hendak beranjak pergi namun Yunda mencegahnya dengan memegang lengannya.


Angga menoleh menatap Yunda, Yunda membuka matanya yang semula tertidur. Yunda bangun duduk diatas ranjang, Angga ikut duduk ditepi ranjang menatap Yunda.


Yunda menatap Angga ekspresi wajah sedih.


"Kamu mau kemana? Apa kamu mau meninggalkan aku lagi?" Tanya Yunda dengan suara bergetar.


"Jangan!" Lanjut Yunda sambil menggelengkan kepalanya.


Yunda mendekatkan wajahnya ke wajah Angga, kemudian ia mencium bibir Angga. Yunda tersenyum menampilkan gigi putih bersihnya.


"Manis... seperti stroberry, kamu es krim terbaik!" Ucap Yunda dengan tertawa kecil.


Angga menarik sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman.


"Tidurlah, waktu makan es krim sudah habis!" Ujar Angga sambil merebahkan kepala Yunda.


Yunda menggeleng "Aku mau es krim! Kamu es krim terbaik, aku menginginkannya! Berikan padaku!" Ucap Yunda merajuk.


"Tidurlah, kau akan jauh lebih baik setelah tidur!" Suruh Angga.


"Tidak! Aku mau kamu!" Tolak Yunda.


Seluruh tubuh Yunda terasa panas, Yunda mengipas-ngipas wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.


"Huh... panas..., aku butuh es krim...," ucapnya.


"Apa yang terjadi?" Angga menempelkan telapak tangannya kedahi Yunda.


"Dingin... aahh... dingin sekali... aku menyukainya," ujar Yunda dengan berkeringat dan wajah memerah.


Lengan baju Yunda sedikit terbuka menampilakan bahu putih Yunda yang tampak mulus lembut. Angga menelan salivanya menatap bahu Yunda dengan ekspresi wajah Yunda yang menggoda.


"Tidur ya!" Angga berusaha membujuk Yunda untuk tidur.


Yunda menarik lengan Angga hingga Angga terjatuh diatas badan Yunda dengan menopang tubuhnya pada kasur.


"Panas... bantu aku... aku mohon...," pinta Yunda.


Angga kembali menyunggingkan senyumannya.

__ADS_1


"Baiklah, kau yang memaksaku melakukannya dan kelak jangan menyesalinya!" Jawab Angga sambil melepas kancing kemeja atasnya.


Angga kembali menindih tubuh Yunda dari samping, Angga membelai wajah cantik Yunda dengan lembut. Yunda terlihat cantik dan menggoda, Angga mencium bibir Yunda sambil membuka tali gaun Yunda.


__ADS_2