GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2

GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2
CHAPTER 25


__ADS_3

Pagi tiba, Angga membuka matanya kemudian menatap Yunda yang masih tertidur. Angga bangun dari tidurnya duduk disamping Yunda, Angga membelai lembut pipi Yunda.


Angga meraih laci yang berada disamping kanannya, Angga membuka laci itu lalu mengambil kotak cincin. Angga membuka kotak itu mengambil cincinnya kemudian meletakan kembali kotak cincinnya kedalam laci.


Angga meraih lengan Yunda lalu memasangkan cincin itu dijari manis Yunda, Angga mencium punggung tangan Yunda dengan memejamkan matanya.


"Aku mencintaimu," gumam Angga.


Angga melihat pergerakan mata Yunda dengan cepat Angga kembali berbaring dan berpura-pura masih tertidur.


"Uugh... kepalaku sakit sekali," rintih Yunda sambil membuka matanya secara perlahan. Yunda memegang kepalanya seraya memijitnya dengan pelan.


Yunda mengedarkan pandangannya melihat langit-langit kamar yang ia tempati. Yunda mengkerutkan keningnya, sementara Angga mengintip Yunda.


"Dimana aku?" Gumam Yunda.


Yunda menatap kearah samping, Yunda terkejut ketika ia melihat Angga yang tidur disampingnya.


Angga membuka matanya "Selamat pagi!" Sapa Angga


"AAAA!!" Yunda berteriak sambil bangun duduk diatas kasur.


Angga terkekeh pelan kemudian ikut duduk.


"Anda! Mengapa anda disini? Dan saya...," oceh Yunda yang kemudian menatap tubuhnya yang hanya berbalut selimut tanpa pakaian.


"Apa yang anda lakukan pada saya?!" Tanya Yunda dengan marah.


Angga memiringkan kepalanya "Kenapa? Kau yang memintanya bukan?" Sahut Angga.


"Apa?! Mana mungkin! Anda berbohong!" Bantah Yunda.


"Saya tahu anda atasan saya, tetapi tidak seharusnya anda melakukan ini pada saya! Saya bisa saja melaporkan anda!" Ceracau Yunda.


"Anda telah melecehkan saya... kenapa? Kenapa anda melakukan itu kepada saya...," Yunda menangis sedih.


Harta yang paling berharga hilang dalam semalam, harta yang kelak akan ia berikan pada suaminya kini telah tiada. Yunda menangis menyesali perbuatannya, ia sangat kecewa pada Angga yang telah merampas hartanya.


"Kenapa? Apakah... apakah tidak ada wanita lain lagi?"


Angga tersenyum kecil kemudian memeluk Yunda.


"Jangan sentuh saya! Lepaskan!" Ucap Yunda sambil berusaha melepaskan pelukan Angga.


"Suuttt... diam! Jangan berbicara lagi dan dengarkan aku!" Tegas Angga.


Yunda menurut meski ia harus terisak.


"Apa kau lupa? Semalam siapa yang menggodaku untuk melakukannya?" Tanya Angga dengan suara lembut.


"Apa kau ingat siapa yang mengatakan 'Panas... panas sekali... aku butuh es krim' sambil menciumku?" Lanjut Angga.


Telinga Yunda memerah, Yunda berusaha mengingat kejadian semalam. Perlahan gambaran mengenai ia mabuk dan Angga membawanya pulang, Yunda kini telah mengingatnya. Semalam Yunda terus meracau tak jelas hingga akhirnya kejadian tak terduga itu terjadi.


"Es krim stroberry," bisik Angga ketelinga Yunda.


Wajah Yunda memerah, Yunda mendorong tubuh Angga "A-aku permisi!" Ucapnya sambil berlalu pergi masuk kedalam kamar mandi.

__ADS_1


Angga tertawa kecil "Lucu sekali, dia begitu malu sampai tak sadar bahwah dia berlari tanpa busana...,"


"Meskipun aku sudah pernah melihatnya," gumam Angga.


Angga mengambil handuk kimono miliknya yang tergantung ditepi ranjang, Angga memakainya kemudian berjalan menuju pakaian yang berserakan.


Angga mengambil gaun Yunda yang terlihat sobek dibagian dadanya.


"Gaun ini tidak bisa dipakai lagi," gumam Angga yang kemudian kembali meletakan gaun itu dilantai.


"Hmm... aku terlalu kasar kemarin sampai merobek pakaiannya. Mungkin ada beberapa pakaian yang ditinggalkan ibu dikamarnya," pikirnya.


Angga berjalan keluar dari kamarnya menuju kamar sebelah, kamar itu dulunya ditinggali Gaby dan Ardiaz ketika keduanya tengah berlibur. Angga masuk kedalam kamar, pandangannya tertuju pada sebuah lemari besar. Angga membuka lemari itu kemudin mengambil salah satu gaun Gaby.


"Gaun ini terlihat pas jika dikenakan Yunda," gumamnya sambil memperhatikan gaun itu.


Gaun berwarna biru langit dengan pita dibagian pinggang kirinya, gaun yang terbuat dari kain sutra lembut edisi terbatas keluaran AL Grup pada tahun 1998.


Angga meletakan gaun itu diatas kasur, kemudian dirinya melangkahkan kaki menuju kamar mandi.


Yunda keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk kimono, Yunda menggosok-gosok rambutnya menggunakan handuk kecil. Yunda mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Angga, Yunda berjalan kearah pakaiannya yang tergeletak dilantai. Yunda memungutnya kemudian mengamati gaun itu.


"Hmm... kalau rusak begini aku mau pakai pakaian apa?" Gumam Yunda kesal sambil melempar pakaian itu kembali kelantai.


Yunda menaruh handuk kecil yang dibawanya tadi kesebuah kursi.


"Omong-omong, dimana tuan Angga? Apa dia pergi meninggalkan aku disini?" Ucapnya dengan suara pelan.


Angga tersenyum mendengar ucapan Yunda, Angga berjalan pelan tanpa menimbulkan suara sepatunya. Angga menghampiri Yunda kemudian memeluknya dari belakang. Yunda tersentak kaget, sontak Yunda menoleh kesamping agak keatas untuk menatap sosok yang memeluknya.


"Tuan Angga?"


Angga menciun rambut Yunda yang sedikit basah.


"Kamar mandi," jawab singkat Angga.


Yunda memutar kepalanya menatap jendela kamar Angga.


"Kau sangat cantik!" Puji Angga.


Wajah Yunda merah merona "Be-benarkah?" Ucapnya malu.


Angga memberi kecupan kecil dipipi Yunda, ekspresi wajah Yunda yang kembali tersipu terlihat sangat imut.


Angga melepaskan pelukannya kemudian mengambil gaun yang ia ambil dari kamar Gaby dan memberikannya kepada Yunda.


"Pakai ini, setelah itu turunlah kebawah untuk sarapan!" Ucapnya sambil menyodorkan pakaian yang dibawanya.


Yunda menerimanya, "I-ini gaun siapa?" Yunda bertanya.


"Ibuku!" Jawab Angga singkat kemudian berjalan keluar dari kamar.


Yunda memiringkan kepalanya menatap serta meniliti gaun yang dibawa Angga, Yunda belum pernah melihat gaun itu dipasaran ataupun ditoko-toko yang sering ia kunjungi.


Yunda lekas memakai gaun itu lalu berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan.


Sebuah meja panjang dengan beberapa kursi terpampang diruangan besar yang terhubung dengan dapur, seorang pria muda bertubuh kekar dengan sorot mata yang begitu dingin dan menusuk duduk dengan tenang disalah satu kursi utama. Pria itu menatap kedatangan Yunda dengan tersenyum kecil.

__ADS_1


"Duduklah, setelah kau makan aku akan mengantarmu pulang." Ucapnya.


Yunda duduk disebelah Angga, Angga mengangkat tangannya kemudian melambaikannya memanggil para pelayannya. Beberapa pelayan berjalan kearah meja makan sambil menenteng nampan yang berisi makanan kemudian mereka menatanya dengan rapi diatas meja makan.


"Banyak sekali, padahal kita hanya berdua saja." Gumam Yunda dalam hati.


Angga mengambil piring yang telah disiapkan pelayannya kemudian mengambil beberapa lauk dan kentang. Sementara Yunda mengambil satu sendok nasi dengan sepotong ayam, Yunda tak tahu makanan apa yang tersedia diatas meja. Semuanya nampak asing dilihat, Angga menatap Yunda yang tampak bingung memilih makanan.


"Apa yang kau suka?" Tanya Angga sambil meletakan alat makannya.


"Um? Saya suka makan ayam kecap," jawab Yunda.


Angga memanggil salah satu pelayan kemudian membisikkan nama makanan yang disebutkan Yunda, pelayan itu terlihat mengangguk setelah Angga membisikannya. Dengan segera pelayan itu berjalan menuju dapur, beberapa saat kemudian satu porsi ayam kecap siap. Seorang pelayan mengantarkannya kemeja makan tepat didepan Yunda.


"Makanlah, makanan ini berasal dari Swiss kau tidak akan terbiasa dengan makananya." Jelas Angga.


"Terima kasih tuan!" Sahut Yunda.


Yunda menyantap sarapan paginya dengan tenang tanpa terburu-buru. Angga tersenyum melihat Yunda makan dengan lahap.


Ting...


Sebuah pesan singkat masuk keponsel Yunda.


Angga mengambil ponsel Yunda yang berada disebelahnya, Angga menyimpan ponsel Yunda didalam sakunya. Angga berniat mengembalikannya setelah makan pagi sehingga ia sengaja meletakannya diatas meja.


Angga membaca pesan tersebut.


"Nona, anda dimana? Tuan besar mencari anda," isi pesan tersebut.


"Hm? Tuan besar? Apakah dia ayah Yunda?" Pikir Angga.


Yunda mengangkat kepalanya menatap Angga, Yunda terkejut melihat Angga menggenggam ponselnya.


"Tuan, itu ponsel saya." Ucap Yunda.


Angga menatap Yunda, "Benar, aku berniat mengembalikannya setelah makan pagi. Tapi, sepertinya ayahmu mencarimu." Angga menjelaskan.


"Ayah? Apakah ayah sudah pulang?" Yunda bertanya dengan wajah senang.


"Benar, cepat habiskan makananmu setelah itu aku akan mengantarmu pulang!"


....


"Bagaimana ini? Semalam kak Yunda bersama tuan Angga, apa aku sanggup merahasiakannya dari Fira?" Pikir Nisa ketika ia berjalan masuk kedalam ruang studio.


"Nisa!" Panggil Fira.


Nisa menoleh dan membalas sapaan Fira.


"Hai Fira, ada apa?"


"Hmm... soal semalam, bagaimana dengan kak Yunda?" Tanya Fira setelah ia berada sejajar dengan Nisa.


"I-itu... umm... se-seseorang menjemputnya, la-lalu membawanya pulang...," jawab Nisa gugup.


"Kamu kenapa? Apakah terjadi sesuatu?" Tanya Fira khawatir melihat tangan Nisa yang gemetar.

__ADS_1


"Ti-tidak ada... a-aku baik-baik saja...," jawab Nisa yang kemudian tertawa canggung.


__ADS_2