GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2

GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2
CHAPTER 37


__ADS_3

"Tuan, apakah boleh aku pulang kembali ke Jakarta?" Tanya Starla.


"Kau bisa memanggilku kakak!"


"Tentu saja bisa," sahut Angga.


"Baiklah, kakak." Starla tersenyum.


Ia tak menyangka bahwa Angga sangat baik kepadanya, justru ia yang selalu berbuat jahat kepada Fira. Starla sangat menyesal telah menindas Fira selama ini.


"Jarvis, kau hubungi Rey untuk membawa helikopter kemari!" Titah Angga.


"Baiklah," Jarvis mengundurkan diri untuk menghubungi Rey pilot helikopter pribadi Angga.


"Makanlah, setelah itu kau boleh pulang." Ujar Angga diangguki Starla.


Beberapa menit berlalu, Starla telah selesai menyantap sarapannya. Dan diwaktu yang sama helikopter pribadi Angga tiba dihalaman Villa. Starla bergegas keluar disusul Angga, Starla sangat takjub melihat helikopter sedekat itu. Ia juga tak menyangka bahwa keluarga Fira sangat kaya raya.


"Wah... Fira sangat beruntung memiliki keluarga yang kaya!" Ucap Starla kagum.


"Tapi dia hanya merasakan keberuntungan itu sesaat," sahut Angga.


Starla menoleh kebelakang melihat Angga, "Sekali lagi, saya minta maaf. Saya menyesal telah berbuat jahat kepada Fira," ucap Starla.


Angga mengangguk kecil "Kau tidak akan melakukan itu jika bukan karena Shany!" Ujar Angga.


"Sekarang, pergilah. Ibumu pasti mencarimu!"


Starla mengangguk "Saya pamit pulang ya kak, anda jaga diri baik-baik!"


Starla berlari kearah helikopter lantas menaikinya, helikopter terbang menjauh dari Villa. Angga kembali masuk kedalam Villa menemui Shany.


"Apa kau sudah bangun?" Tanya Angga ketika melihat Shany yang tengah terduduk dengan wajah bingungnya.


"Kau... apa yang kau lakukan pada Starla?!" Bentak Shany.


"Dimana dia sekarang, katakan padaku!" Lanjutnya.


"Dimana pun dia berada, kau tidak akan bisa menemuinya!" Jawab Angga.


"Keterlaluan! Kau sangat keterlaluan! Jangan pernah sakiti Starla!" Ucap Shany dengan kemarahan yang menggebu-gebu.


"Sudahlah, tidak perlu berteriak seperti itu. Percuma!" Sahut Angga.


Angga berdiri kemudian pergi keluar dari kamae Shany.


"Hey kau! Katakan padaku dimana Starla! Apa yang kau lakukan padanya?" Teriak Shany.


"Jaga dia baik-baik sampai aku memerintahkanmu untuk melepaskannya!" Perintah Angga kepada penjaga diluar kamar Shany.


Angga kembali kehotel menemui adik serta calon istrinya, Angga mendapati keduanya tengah duduk bersama sambil tertawa ria di ruang bersantai.


"Sepertinya sangat menyenangkan sampai tertawa seperti itu," ucap Angga mengejutkan keduanya.


"Ah, tuan. Maafkan saya!" Sahut Fira diangguki Yunda.


"Saya juga minta maaf karena hanya duduk-duduk disini, tetapi saya sudah menyelesaikan semua tugas saya." Ujar Yunda, menunduk.


"Tidak masalah, hari ini kita akan pulang. Suruh semua orang bersiap-siap, sore nanti pesawat akan terbang menuju Jakarta!" Ucap Angga.


"Baik tuan, saya permisi memberitahu yang lain!" Fira pergi mengundurkan diri untuk memberitahu teman-temannya.


"Saya juga permisi memberitahu teman-teman yang lain," ucap Yunda sambil membungkuk.


Yunda hendak berbalik dan bersiap melangkah, namun Angga memeluknya dari belakang.


"Tuan... saya mohon jangan lakukan itu," pinta Yunda dengan lembut.


"Kenapa?" Tanya Angga singkat


Angga menempelkan dagunya dibahu Yunda sambil memejamkan kedua matanya.


"Orang lain melihatnya, saya malu." Jawab Yunda.


"Kenapa harus malu? Bukankah aku terlihat tampan dan cocok bersamamu?" Tanya Angga lagi tanpa memperdulikan tatapan orang-orang yang lewat.


"Bukan begitu, tapi...," Yunda tak melanjutkan ucapannya karena ia merasa Angga begitu lelah dan ingin beristirahat dengan cara memeluknya.

__ADS_1


"Tuan?" Panggil Yunda.


"Hmm?" Sahut Angga.


"Saya...,"


"Ada apa? Apa kau sakit?" Tanya Angga mulai khawatir.


"Tidak bukan begitu, saya hanya..."


"Tuan!" Panggil Jarvis menyela ucapan Yunda.


Angga menoleh dan melepaskan pelukannya, Angga merangkul pinggang ramping Yunda dan menempelkannya disisinya.


"Kenapa kau menggangguku?" Tanya Angga kesal.


"Yaah... aku minta maaf, aku sudah mengurus semuanya untuk kepulangan kita malam ini!" Ucap Jarvis dengan sedikit memperlihatkan barisan giginya.


"Lalu?" Tanya Angga jengkel.


"Tidak ada, hanya itu." Jawab Jarvis.


"Apa harus aku katakan padanya sekarang? Atau menunggu waktu lebih lama lagi?" Pikir Yunda yang tak menyimak percakapan Angga dengan Jarvis.


Angga menatap Yunda yang tengah melamun, Angga membelai rambut Yunda dengan penuh kasih sayang.


"Katakanlah, apa yang mau kau katakan tadi!" Ujar Angga lembut.


Yunda menggeleng, Jarvis menatap Yunda dengan curiga.


"Baiklah, tetapi jika kau mempunyai masalah jangan sungkan-sungkan untuk menceritakannya padaku!" Angga mencium puncak kepala Yunda.


....


Jakarta, 10.30 WIB


"Ibu aku pulang!" Ucap Starla dengan senang.


Ana berlari menuruni anak tangga untuk menyambut kepulangan putri tercintanya itu ketika ia mendengar suara Starla.


"Sayang, anakku!" Ana berlari memeluk Starla melepas kerinduannya.


"Ibu, bertanyalah satu-satu. Jangan membuatku bingung," sahut Starla dengan tersenyum.


"Hufff... baiklah, bagaimana kabarmu? Kenapa tidak menjawab telepon ibu?" Tanya Ana lagi dengan sedikit lebih tenang.


"Aku baik-baik saja ibu, dan untuk soal aku tidak menjawab telepon ibu karena aku sangat sibuk." Jawab Starla.


Baru saja Ana akan berbicara kembali, Bagas tiba dan mendahulinya.


"Starla!" Panggil Bagas dengan suara lantang.


Starla menatap Bagas dengan malas dan kesal, saat ini ia sangat membenci Bagas.


"Dimana Fira?" Tanya Bagas.


"Bagas, kenapa kamu menanyakan anak itu sementara Starla baru saja pulang? Kamu seharusnya menyambutnya dengan hangat!" Ujar Ana kesal.


"Apa kamu pernah menyambut Fira dengan hangat ketika ia pulang?" Tanya Bagas dengan melotot.


"Kenapa kamu selalu membanggakan anak itu? Kenapa kamu begitu perhatian terhadapnya?" Ana bertanya dengan nada marah, ia sangat jengkel dengan sikap Bagas terhadap putri kandungnya sendiri.


"Karena dia masih mencintai ibu Fira!" Sahut Starla membuat orang tuanya tercengang.


"Apa yang kamu katakan tadi?" Tanya Ana.


"Bicara apa kau?!" Bentak Bagas.


"Kenapa? Aku benar bukan? Ayah masih mencintai bibi Gaby?" Ucap Starla.


"Omong kosong!"


PLAAKK...


Bagas menampar wajah Starla dengan keras, Starla sedikit terdorong kesamping namun Ana memeluknya dan menahan tubuhnya agar tak terjatuh.


"Bagas apa yang kamu lakukan pada putriku?!" Ujar Ana marah.

__ADS_1


"Lihat dia! Bagaimana selama ini kau mengajari putrimu ini hingga berani melawanku?!" Bentak Bagas.


"Kenapa kamu menyalahkan aku? Apa kanu tidak pernah berpikir dia seperti ini karenamu?" Balas Ana.


"Apa? Karenaku? Apa salahku hingga membuatnya seperti ini, hah?"


"Karena selama ini kamu tidak pernah membela Starla, karena kamu kini mengabaikannya!" Jawab Ana dengan meneriakan kata terakhirnya.


Starla hany menunduk menahan kesedihannya.


"Beraninya kau!" Bagas melayangkan kembali lengannya, namun Starla bersuara dan menghentikannya.


"Hentikan ayah!"


Bagas menatap tajam Starla, Starla mengangkat wajahnya membalas tatapan tajam Bagas dengan tatapan keberaniannya.


"Aku akui, selama ini aku dan ibu memperlakukan Fira dengan tidak baik." Ucap Starla membuat Ana menatapnya heran.


"Apa ayah tahu kenapa aku dan ibu melakukannya?" Tanya Starla.


Bagas menggeleng bingung.


"Karena ayah membawa Fira dan menjauhkannya dari ibunya!" Lanjutnya.


Bagas terkejut, bagaimana bisa Starla mengetahuinya. Ana ikut terkejut pula mendengar ucapan Starla.


"Ayah terkejut bukan?"


"Ba-bagaimana bisa kau tahu semua itu?" Tanya Bagas.


"Ayah bertanya bagaimana bisa aku mengetahuinya?" Balik tanya Starla dengan nada mengejek.


"Apa ayah pikir aku ini bodoh? Apa ayah pikir aku akan diam saja tanpa mengetahui hal yang sebenarnya?" Lanjutnya.


Bagas terdiam, ia terpojok tak tahu harus berkata apa lagi.


"Sampai kapan ayah akan merahasiakannya dari Fira?"


"Maksudku... Klasenna," ujar Starla.


"Kau... katakan padaku, dari mana kau mengetahuinya?" Titah Bagas.


"Ayah tidak perlu tahu, intinya ayah harus ingat. Sepandai-pandainya ayah menyembunyikan rahasia ini, Fira pasti akan mengetahuinya!" Sahut Starla.


Ana menepuk pundak Starla meminta penjelasan mengenai ucapannya.


"Sayang, apa yang kamu katakan?" Tanya Ana lirih.


Starla tersenyum, "Ibu, mulai hari ini aku akan pergi jauh untuk sekolah. Ibu ikut bersamaku ya?" Ucap Starla memegang kedua lengan ibunya.


"Tapi...," Ana menoleh kearah Bagas.


"Kita tinggalkan ayah, selagi masih ada waktu untuk pergi!" Jawab Starla yang mengerti perasaan ibunya.


Ana menghembuskan nafas nya yang berat, ia juga merasa lelah hidup seperti dikekang oleh Bagas. Ia sangat lelah menghadapi masalah keluarganya.


"Baiklah, ibu ikut bersamamu." Ucap Ana menyetujui permintaan Starla.


Starla tersenyum senang, "Ibu, ayo kita berangkat sekarang!"


Starla menarik lengan ibunya keluar dari rumah, Bagas menghentikannya dengan menghadang pintu keluar.


"Tunggu! Kenapa kalian pergi? Apa kalian sudah tidak peduli lagi padaku?" Tanya Bagas.


"Ayah... apa kamu bercanda?" Ujar Starla.


"Ayah dari dulu telah memutuskan untuk pergi dari kami bahkan mengabaikan kami berdua, sekarang ayah melarang kami pergi? Bukankah kepergian kami membuatmu bahagia?"


Bagas menggelengkan kepalanya "Tidak, kalian tidak boleh pergi!"


Starla kembali berjalan menerobos Bagas yang menghalangi jalan keluar.


"Starla, tunggu sebentar ibu belum mengemas barang-barang ibu." Ujar Ana sambil menoleh kebelakang.


"Tidak perlu ibu, aku mempunyai uang banyak nanti kita bisa membeli yang baru!" Jawab Starla.


Starla masuk kedalam mobil yang diperintahkan Angga untuk mengantar Starla selepas tiba di bandara. Starla juga sudah meminta ijin Angga untuk membawa Ana bersamanya.

__ADS_1


"Sayang, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Ana yang masih kebingungan.


Starla tersenyum kearah Ana, "Akan aku ceritakan semuanya padamu bu...,"


__ADS_2