
"Ngomong-ngomong, apa yang kau katakan mengenai Darren itu benar!" Ucap Jarvis yang tiba-tiba teringat berita hangat mengenai perusahaan Darren.
"Kau selalu meragukanku!" Sahut Angga dengan tersenyum licik.
"Dia tidak akan selamanya sukses dengan sifatnya yang buruk!" Lanjutnya.
"Yah, aku harap kau tidak terlibat dengannya!" Sarkas Jarvis.
"Besok dia mengundangmu untuk minum bersama dikafe Aestherlia pukul 10.00 pagi!" Lanjut Jarvis.
Angga mengangguk.
"Kau boleh pulang!" Ucapnya.
Selepas Jarvis keluar dari ruangan Angga, Angga kembali termenung. Mungkin sudah menjadi hobinya untuk merenung, tak lama kemudian Angga keluar dari perusahaannya. Ketika ia keluar, seketika cuaca berubah mendung.
"Apakah cuaca disini selalu berubah-ubah dengan cepat?" Ucapnya dengan heran.
Angga hendak melangkahkan kakinya menuruni anak tangga, namun ia terhenti ketika melihat Yunda yang berdiri tak jauh darinya. Tampak Yunda bersidekap dengan tubuh gemetar. Angga menghampirinya, ia melepaskan jasnya lalu memakaikannya ketubuh Yunda.
Yunda terkejut, ia menatap Angga dengan heran.
"Tuan? Anda belum pulang?" Tanya Yunda canggung.
"Kau sendiri belum pulang?" Ucap Angga balik bertanya.
"Saya tengah menunggu hujan reda," jawab Yunda sambil menatap orang-orang kantor berlari menuju kendaraannya masing-masing.
Angga menyunggingkan senyum kecil, ia berjalan masuk kedalam perusahaan untuk mengambil payung. Setelahnya Angga kembali menemui Yunda.
"Pulang bersamaku!" Titahnya sambil memayungi Yunda.
"Eh? Tidak usah tuan, saya tidak ingin merepotkan anda!" Tolak Yunda dengan sopan.
"Kau menolakku?" Tanya Angga dengan kening berkerut.
"Sa-saya tidak bermaksud begitu tuan, tapi...," belum sempat Yunda menyelesaikan ucapannya, Angga lebih dulu menarik lengannya menuju mobilnya. Angga membukakan pintu mobil untuk Yunda, dengan terpaksa Yunda masuk. Keduanya pulang bersama dalam keadaan canggung.
Yunda mencuri-curi pandang kearah Angga.
"Ada apa?" Tanya Angga yang merasakan Yunda tengah menatapnya.
"Tidak tuan!" Jawab Yunda cepat dengan gugup.
Angga terkekeh pelan.
Sesampainya dirumah Yunda...
"Terima kasih tuan, anda sudah mengantar saya pulang!" Ucap Yunda sebelum turun.
__ADS_1
Angga terdiam, ia menatap lekat wajah Yunda.
"Tuan? Apa anda baik-baik saja?" Tanya Yunda yang keheranan.
"Kau cantik!" Tanpa sadar Angga mengungkapkan kekagumannya yang membuat wajah Yunda memerah.
Angga tersadar, ia berdehem untuk mencairkan suasana hatinya yang terlalu dalam mengagumi Yunda.
"Maksudku rumahmu cantik," alibi Angga.
Yunda menatap rumahnya.
"Be-benar, sa-saya permisi!" Ucap Yunda.
Angga menahan tangan Yunda yang ingin membuka pintu. Yunda menoleh, Angga mencium punggung tangan Yunda dan membuat Yunda tersipu.
"Sampai jumpa!" Ucap Angga.
Yunda mengangguk, dengan perasaan bercampur aduk Yunda keluar sambil berlari kecil. Angga tersenyum melihat Yunda yang tersipu.
Rasanya terlalu mendadak Angga jatuh hati pada Yunda. Tidak juga! Angga telah lama memikirkan hal itu.
"Siapa gadis ini?" Tanya Angga ketika melihat daftar pekerja yang diberikan Jarvis.
"Dia Ayunda Christina Denandra, satu-satunya putri keluarga Denandra. Dia lulusan Universitas terbaik di Indonesia dengan nilai tinggi!" Jawab Jarvis.
"Cantik!" Puji Angga dengan suara pelan namun didengar Jarvis yang duduk didepannya.
"Kau bisa saja menjadikan dia milikmu, kau berkuasa disini!" Lanjutnya.
"Aku tidak akan memaksa dia untuk jadi milikku, perlahan akan aku pastikan dia jatuh kedalam pelukanku!" Jawab Angga dengan tersenyum dingin.
Jarvis menggelengkan kepalanya. Semenjak itu, Angga selalu memperhatikan Yunda tanpa diketahui Yunda sendiri.
....
Angga terdiam didalam mobilnya, beberapa saat yang lalu Yunda telah keluar dari mobilnya. Angga tetap terdiam didalam mobil, Angga mengeluarkan sebuah amplop dengan lembaga tes DNA.
"Apakah aku harus mengatakannya?" Gumamnya.
Angga menatap rumah Yunda lalu melajukan mobilnya menjauh dari rumah Yunda. Hujan turun dengan deras, Fira bergegas masuk kedalam rumahnya setelah Dimas mengantarnya pulang.
"Ibu! Lihatlah, majalahku terbit hari ini. Aku tampak cantik bukan?" Ucap Starla sambil memperlihatkan majalah AL Grup.
"Cantik sekali! Putri ibu memang paling cantik!" Puji Ana.
"Fira, kamu sudah pulang?" Sambut Bagas yang melihat kedatangan Fira
Fira tersenyum.
__ADS_1
"Ya, ayah. Aku pulang!" Jawab Fira.
Ana dan Starla tak memperdulikan kedatangan Fira, keduanya sibuk memperhatikan foto-foto Starla yang tertera dimajalah.
"Pergi mandi lalu kita makan malam!" Ucap Bagas.
Fira mengangguk, ia kembali berjalan menuju kamarnya. Sesampainya dikamar, Fira masuk kedalam kamar mandinya untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, Fira turun kebawah untuk makan malam bersama keluarganya.
"Starla, kamu itu kan cantik. Kenapa kamu tidak mendekati saja bos mu itu?" Usul Ana.
"Ide yang bagus! Aku akan mencoba mendekatinya!" Jawab Starla dengan semangat.
Tentu Starla mau mendekati Angga yang sangat kaya dan juga tampan pastinya. Fira yang mendengar hal itu menjadi murung, entah apa yang terjadi padanya. Fira merasa marah mendengar Starla yang akan mencoba mendekati Angga.
Fira menarik kursinya lalu duduk, ia membalikan piringnya kemudian memulai aktivitas makan malam.
"Apa yang terjadi denganku?" Gumam Fira ketika ia berada didalam kamarnya selepas makan malam.
Fira merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk miliknya, Fira menatap kalung yang ia kenakan.
"Kenapa aku tidak mengingat apapun?" Tanyanya sambil menatap lekat liontin tersebut.
Perlahan kedua matanya terpejam, Fira tertidur lelap.
....
"Ada apa?" Tanya Angga ketika ia menjawab panggilan telpon dari Ardiaz.
"Apa kau sudah menemukan Senna?" Tanya Ardiaz.
"Hmm... apa aku harus memberitahumu?" Tanya balik Angga.
"Apa yang kau katakan? Sudah seharusnya kau memberitahuku!" ucap Ardiaz dengan marah.
"Iyaz... apa yang kau bicarakan?" tanya Gaby yang terdengar dari ponsel Angga.
"Bukan apa-apa, kembalilah tidur!" jawab Ardiaz.
Angga tersenyum dingin mendengar percakapan kedua orang tuanya. Ia tahu Ardiaz tidak ingin membuat luka Gaby kembali tergores. Angga juga tak tega bila melihat ibunya menangis.
"Apapun yang terjadi, katakanlah padaku! Aku ini ayahmu!" ucap Ardiaz setelah menyuruh Gaby kembali tidur.
"Aku tahu, jaga ibuku!" Jawab Angga yang kemudian menutup sambungan telpon tanpa mendengarkan Ardiaz yang masih ingin berbicara dengannya.
"Bagaskara alias Bryan Shanzoora!" Ucap Angga setelah ia melihat foto ayah dari Fira.
"Sepintar apapun kau menyembunyikannya, aku tetap bisa menemukannya!" Lanjutnya dengan tersenyum penuh kebencian.
Beberapa waktu yang lalu, sebelum Angga ke Indonesia. Ardiaz memberitahunya mengenai Bryan dan Shany. Shany selalu membenci Gaby, ia akan melakukan apapun untuk menghancurkan kehidupan Gaby. Salah satunya, membunuh cahaya kebahagiannya. Ardiaz memberikan foto Bryan dan Shany kepada Angga agar ia dapat mencari tahu mengenainya.
__ADS_1
Ardiaz mencurigai Shany yang telah membuat putrinya menghilang, dan kini Angga telah membuat kesimpulan bahwa memang Shany yang melakukannya. Namun, dimana Shany sekarang?