GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2

GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2
CHAPTER SPESIAL


__ADS_3

Angga mengantar Yunda pulang selepas dari rumah sakit, tampak Papa Yunda duduk diteras menunggu kedatangan putrinya.


Yunda dan Angga berjalan masuk kehalaman rumah Yunda, Papa Yunda memasang wajah datar ketika melihat Angga.


"Papa!" Ucap Yunda memeluk ayahnya.


"Sayang, dari mana saja kamu?" Tanya Papa Yunda.


"Aku...," Yunda bingung harus menjawab apa.


"Kau!" Papa Yunda menunjuk Angga.


"Ya, Pak?" Sahut Angga.


"Kemana kau membawa putriku?" Tanya Wijaya, Papa Yunda.


"Saya membawanya kerumah saya," jawab Angga tenang.


"Lalu? Apa kau melakukannya lagi? Membuat putriku hamil diluar nikah?" Tanya Wijaya marah.


"Papa, bagaimana bisa papa...," ucapan Yunda terhenti setelah melihat tatapan Wijaya.


"Papa menemukan ini!" Wijaya menunjukan tespack milik Yunda.


"Jawab!" Suruh Wijaya kepada Angga.


"Baiklah, 1 bulan yang lalu saya melakukannya terhadap putri anda. Dan benar, saya menghamilinya!" Jawab Angga masih tenang.


Wijaya menarik lengan Yunda kebelakang punggungnya.


"Kurang ajar! Beraninya kamu merampas kesucian putriku!" Wijaya berjalan maju, ia memukul wajah Angga.


Angga tetap bertahan meski sempat menoleh akibat dipukul.


"Papa! Hentikan!" Lerai Yunda.


"Diam kamu!" Tegas Wijaya.


"Apa kau pikir karena kau kaya jadi kau bisa melakukan apapun seenaknya?!" Bentak Wijaya.


"Bajing*n kau!" Wijaya terus memukul Angga hingga babak belur.


"Papa, aku mohon hentikan itu!" Ucap Yunda sambil menangis.


"Saya melakukannya bukan karena saya kaya, tetapi saya tidak sadar melakukannya. Dan saya kesini ingin melamar putri anda!" Ujar Angga dengan tegas.


"Oh? Melamar kamu bilang? Aku tidak setuju!" Sahut Wijaya.


"Baiklah, jika anda memang menginginkan putri anda hamil tanpa adanya seorang suami!" Ucap Angga.


Wijaya terdiam.


"Pak, saya tahu anda seorang TNI dinegara ini. Anda selalu meninggalkan Yunda, bagaimana nanti jika Yunda hamil tanpa seorang suami?"


"Siapa yang akan menafkahinya? Siapa yang akan menghidupi anaknya?" Lanjut Angga.


"Saya sangat mencintai putri bapak, saya menginginkan dia menjadi milik saya selamanya!"


"Saya mohon, restui kami dalam hubungan pernikahan!"


"Kenapa... kenapa kau tidak membalasku dengan pukulan?" Tanya Wijaya.


"Saya tidak mungkin menyakiti Papa Mertua!" Jawab Angga.


Yunda tersenyum menanggapi tindakan Angga yang tak memukul balik ayahnya.


Wijaya menghela nafas pasrah, "Baiklah, pergilah. Bawa putriku bersamamu, aku ingin menikmati masa tuaku!"


"Terima kasih, anda sungguh sangat mulia!" Sahut Angga dengan tulus.

__ADS_1


"Pulanglah, aku minta maaf telah melukaimu," ujar Wijaya.


"Saya mengerti mengapa anda melakukannya, karena anda sangat menyayangi putri anda!" Jawab Angga.


Wijaya mengangguk, ia sangat kagum dengan Angga yang pandai berbicara. Fisiknya juga kuat, Angga tidak tumbang meski Wijaya telah memukulnya.


"Saya pamit!" Angga menempelkan satu lengannya didada kanan, membungkuk memberi hormat


"Ya, pulanglah nak. Hati-hati dijalan!" Sahut Wijaya.


Yunda berjalan mendekat, "Al!" Panggilnya.


Angga mengelus kepala Yunda lalu memberi kecupan dipuncak kepalanya.


"Aku pergi, jaga dirimu!" Ucap Angga diangguki Yunda.


"Untuk selanjutnya, panggil aku Papa Mertua!" Teriak Wijaya setelah Angga tiba disamping mobilnya.


Angga mengangguk, kemudian mengendarai mobilnya menjauh dari rumah Yunda.


....


Baiklah, kini tiba diacara pernikahan Angga dan Yunda. Berikut beberapa persiapan pernikahan:



Dekorasi Pernikahan





Gaun pengantin








Cincin Pernikahan





...


Para tamu undangan telah hadir menempati kursi mereka, pengantin pria telah siap berdiri diatas pelaminan. Pengantin wanita tiba didampingi oleh ibu dari pengantin pria.


"Bisa kita mulai?" Tanya pendeta setelah pengantin wanita tiba.


"Tentu!" Jawab keduanya.


Upacara pernikahan dimulai, janji suci diucapkan masing-masing pengantin. Cincin pernikahan dipasangkan kejari manis masing-masing.


Angga mencium sekilas bibir Yunda, sorak sorai tamu undangan dan tepuk tangan bergemuruh mengisi gedung pernikahan tersebut.


Angga tersenyum bahagia, begitupun Yunda. Dan tentu saja, calon anak keduanya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu!" Bisik Angga.


"Aku juga mencintaimu!" Balas Yunda.


...


9 bulan kemudian...


"Selamat tuan, nyonya, kalian mendapati bayi laki-laki kembar!" Ucap dokter sambil membawa box bayi kehadapan semua orang.


"Waahh sangat tampan!" Ucap Senna yang saat ini tengah mengandung 6 bulan.


"Kamu benar, mereka terlihat mirip Angga!" Sahut Lia yang juga tengah mengandung 3 bulan.


Yah, sepertinya Nisa masih harus bersabar menemukan seorang pria.


"Bayi kita!" Ucap Yunda senang.


Yunda menggendong putranya, begitupun Angga.


"Dokter, siapa kakaknya?" Tanya Yunda.


"Yang sedang anda pegang nyonya!" Jawab dokter dengan ramah.


Semua anggota keluarga tersenyum bahagia.


"Akan aku beri nama Xander Vicktor Sunjaya, dan Xavier Vijendra Sunjaya!" Ujar Angga tersenyum.



"Nama yang bagus!" Sahut Ardiaz.


"Ya, nama yang bagus!" Ucap Wijaya menatap Ardiaz.


Keduanya saling melempar senyuman, keluarga Sunjaya pada akhirnya bahagia.


Bagaimana dengan Bagas? Oh benar, Bagas menghubungi Ana. Dia meminta maaf atas kesalahan yang dulu ia perbuat. Gaby juga telah mengetahui bahwa Bagas adalah Bryan yang menjaga dan merawat Senna.


Ana dan Starla memaafkan Bagas, kemudian keduanya meminta Bagas untuk tinggal di Paris karena Starla masih harus belajar.


Begitulah akhir kisah yang cukup panjang ini, semoga bahagia selalu untuk keluarga Sunjaya dan Bagaskara. Dan untuk keluarga para pembaca juga, terima kasih sudah membaca kisah ini sampai akhir.


Sampai jumpa dicerita yang lain.


Oh ya! Mungkin author tidak akan membuat cerita di lapak ini, tapi dilapak sebelah dengan ikon orange bertuliskan huruf 'W'.


Akhir kata, wassalamu'alaikum... Sayonaraa, Aishiteruu❤


Qoutes:




Terkadang perasaan nyaman itu bukan karena kita mencintainya, tapi karena kita menyayanginya.




Mencoba menerima kenyataan memang sangat sulit, tapi itulah kehidupan. Balas dendam juga tidak akan mengembalikan dia yang telah tiada.




Jadilah dirimu sendiri, jangan iri pada orang lain. Kamu memiliki kelebihan tersendiri, banggalah pada dirimu, cintai dirimu dahulu sebelum mencintai orang lain.


__ADS_1



__ADS_2